| | 606 kali dibaca

Jibun Galau

Oleh : Irfan Atatrik ST.

Ditabrak hingga masuk bilik bomoh membuat Jibun galau dan gamang. Pertempuran batin antara harga diri sebagai suami dengan gengsi untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya terus berkecamuk.

Berpisah atau bertahan demi nama baik dan menampilkan citra baik, seolah-olah tak tak ada masalah keluarga. Itulah dilema dan beban pikiran Jibun sejak masuk dan dirawat di bilik bomoh 3 hari lalu.

Memikirkan peliknya penyelesain bahtera rumah tangga itu, ditambah cueknya Kiah, sang istri yang disibukkan dengan tugas sebagai timbalan datok bandar mewakili datok bandar yang sedang pelesiran ke pusat kerajaan negeri Antah Berantah. Membuat Jibun makin terpuruk, nafsu makannya berkurang, daging dibadannya mulai menyusut.

Sakit dipinggul akibat ditabrak mobil yang dikemudikan Kiah usai begaduh belum sembuh menambah beban Jibun. Merana, nelangsa sendiri memikirkan putusan dan sikap yang akan diambilnya membuat Jibun hampir tiap malam susah tidur. Obat penenang dan anti sakit yang diberikan tok bomoh sudah tak mempan, Jibun tetap susah tidur.

Beberapa rekan seprofesi Jibun datang menghibur dan berbasa-basi mengucapkan simpati tanpa memberikan solusi membuat Jibun makin frustasi.”Sabar ya bang, abang yang kuat dan cepat sembuh.”hibur pembezuk berbasi-basi yang dijawab senyuman dan ucapan terimakasih dari Jibun.

Kiah, sang istri hanya sekali datang, itupun kena halau karena sakit yang tengah diderita Jibun. Jibun masih marah dan teringat dirinya hampir saja menjadi almarhum gara-gara kebrutalan Kiah.

Jibun semakin terpuruk dalam kesendirian, beberapa kerabat yang datang hanya bisa menemani tanpa berani memberi solusi. Tak heran, karena, kerabat Jibun ini rata-rata sekolah hanya tamat SMA sedangkan Jibun sarjana.”Ape nak jadi.”keluh Jibun dalam kesendirian.

Dosa masa lalu berupa perselingkuhan dengan Dara yang bercerai dengan suaminya karena janji Jibun akan menikahinya terus mengejarnya. Masa-masa indah bersama Dara yang menuntutnya untuk dinikahi menari-nari dialam pikiran Jibun.

Janji yang diucapkan Jibun pada Dara seperti duri dalam daging yang terus menggerus dan menggerogoti keutuhan biduk rumah tangganya. Satu-satunya alasan Jibun masih bertahan dan mencoba tegar, mungkin karena faktor dua buah hatinya dengan Kiah yang masih dalam masa remaja. Berpisah tentu akan memberi dampak batin dan mental bagi kedua buah hatinya.

Mengingat buah hatinya, Jibun kembali terenyuh. Namun tiba-tiba dibenaknya berkelebat bayangan putri mungil yang diklaim Dara anak Jibun. Jibun semakin galau dan gundah lagi dengan klaim Dara itu.”Bagaimana kalau Dara melakukan tes DNA dan terbukti itu darah dagingku, makin runyam nih urusannya.”batin Jibun.

Kalau Kiah tahu, tentu akan marah besar lagi.”Kalau kemarin hanya ditabrak tapi tak mati, besok-besok mungkin diracun.”guman Jibun sendirian, cemas.

Dua pelayan tok bomoh yang selalu memperhatikan Jibun terlihat senyam-senyum melihat Jibun ngoceh sendiri.”Dah mulai gini.”celoteh seorang pelayan tok bomoh sembari menyilangkan telunjuknya di kening. Si pelayan tok Bomoh wajar menyimpulkan begitu, dua malam dirawat, mereka mengamati kelakuan Jibun yang kadang-kadang senyum dan ngoceh sendiri.

Jibun terus bergulat dengan pikiran dan hati nuraninya, belum ada keputusan diambilnya, bertahan atau bubar. Jibun galau, terombang-ambing diantara ombak bencana yang diciptakannya. Perlahan Jibun berucap.”Ternyata perempuan bisa memaafkan, tapi tidak melupakan.”ucap Jibun dalam hati sambil menarik selimut memaksakan diri untuk tidur.(irfan)

Ditulis Oleh Pada Rab 30 Jan 2019. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

1 Comment for “Jibun Galau”

  1. ada dara ada bomo muda 😂

Komentar Anda

Radar Kepri Indek