'
| | 358 kali dibaca

Hajarullah : Stop Dakwah Memprovokasi Dan Memecah Belah

Ustad Hajarullah Aswad.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Serangkaian aksi teror oleh teroris yang menelan korban jiwa mendapat kecaman dan keprihatinan mendalam dari sejumlah tokoh. Salah satu Ustad Hajarullah Aswad yang menyatakan sangat prihatin, kecewa dan emosi dengan kejadian bom di Surabaya.

Menurut Hajarullah, didalam Islam Rasulullah SAW sangat tegas dan jelas, sekalipun dalam keadaan perang kita dilarang keras menghancurkan rumah-rumah ibadah, menyerang masyarakat awam yang sedang ibadah, membunuh anak-anak, para lansia, merusak tanam2an/menebang pohon, membunuh hewan dan melakukan perampasan hak milik rakyat biasa.”Kita bangsa Indonesia penting untuk meningkatkan persatuan dan persaudaraan bersama menghadapi teroris ini.”tegasnya.

Pemerintah Polisi, TNI, BIN dan Densus 88 menurut Hajarullah tidak akan mampu melawan atau menghilangkan bibit-bibit radikalisme yang tumbuh di masyarakat. Perselisihan di level elit dan perbedaan pilihan politik jangn sampai dikait2kan dengan kasus teror ini dengan tujuan untuk menguntungkan kawan dan menjatuhkan lawan.”Dapat dipastikann keyakinan dan faham radikal yang sangat sadis ini bukan ajaran Islam, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya berjihad (berjuang/berperang) dengan cara-cara membabibuta dan serampangan, apalagi dengan motif balas dendam.”paparnya.

Ditambahkan Hajarullah.”Saya menghimbau para ustadz dan tokoh agama, marilah kita berdakwah dengan mengedepankan bahasa yang santun, menyejukan, mencerdaskan dan membumi. Tinggalkanlah bahasa-bahasa yang provokatif, tendensius, negatif thinking dan permusuhan. Karena bahasa dakwah seperti ini akan membentuk opini, sikap dan bibit-bibit anti pati/emosi/radikal di tengah jemaah yang msh awam dalam pengetahuan agama.”terangnya.

Di Indonesia, lanjut Hajarullah, para ustsdz/ulama adalah orang-orang yang sangat didengar oleh masyarakat. Berdakwah dengan tegas bukan berarti kasar, berdakwah keras bukan berarti memecah belah dan berdakwah lantang bukan berarti mengumbar tantangan.”Sudah saatnya pemerintah lebih fokus kepada pembangunan pendidikan pondok pesantren/madrasah2. Bangun pondok pesantren itu dengan semegah-megahnya, modernkan, lengkapkan fasilitas sesuai zaman. Karena selama ini pondok pesantren terbiarkan dibandingkan dengan sekolah2 umum.”harapnya.

Karena, lanjut Hajarullah, dengan pondok pesantren yang megah dan konsep pendidikannya modern ditambah dengan para guru/ustadz yang mumpuni cepat atau lambat bibit2 radikalisme yang dilatarbelakangi pemahaman agama yang keliru akan dapat dihapuskan atau berkurang dengan sendirinya.”Saya merasankan selama belajar di Pesantren, saya tidak pernah mendapatkan pendapat-pendapat nyeleneh dan pemahaman radikal.”pungkasnya.(irfan)

Ditulis Oleh Pada Sen 14 Mei 2018. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek