; charset=UTF-8" /> UAS SANG FENOMENAL - | ';

| | 220 kali dibaca

UAS SANG FENOMENAL


Oleh : H. IWAN KURNIAWAN,S.H.,M.H.,M.Si

Harus diyakini bahwa Allah SWT, setiap saat akan menurunkan manusia-manusia pilihan di muka bumi tak terkecuali di Indonesia di semua lini kehidupan termasuk di bidang ke-agamaan. Oleh karenanya tidaklah heran, apabila para manusia pilihan itu selalu mengisi dan mewarnai sendi-sendi kehidupan manusia ditiap-tiap bangsa, negara bahkan daerah dari semua aspek yang meliputi politik, ekonomi, hukum, kebudayaan, sejarah, seni, olah raga, ilmu pengetahuan, agama, dan sebagainya-sebagainya.
Para manusia pilihan dengan latar belakang kualitas yang dianugrahi itu, kehadiran
mereka merupakan suatu ketetapan dari Allah SWT dan tidak ada satu manusiapun yang dapat menolak, walau dengan berbagai macam cara apapun. Bahkan Syaitan sekalipun tidak dapat menahan ketika Allah SWT menetapkan kelahiran Adam berikut dengan anak, cucu, cicit, dan seterusnya sampai hari ini menuju ke akhir zaman.
Tidak bermaksud memperbandingkan antara manusia biasa dengan para manusia pilihan
Allah SWT yaitu para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk baginda yang teramat mulia
Muhammad SAW, sebagai pembawa risalah Islam. Para wali-Allah itu juga selalu
mendapat berbagai macam ujian dalam menyampaikan dakwah “ajaran tauhid”, walaupun akhirnya segala cobaan itu dapat diatasi dengan baik, berkat kesabaran, ketabahan, perjuangan dan keyakinannya kepada Allah SWT.
Dalam firman Allah SWT, terdapat beberapa kisah tentang berbagai macam ujian yang
pernah dihadapi dan diterima oleh para Nabi dan para Rasul-Nya sesuai dengan era
(zamannya) masing-masing. Di dalam ajaran Islam, kita juga diberikan pengetahuan
tentang Nabi dan Rasul yang disebut Ulul Azmi yaitu Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa
AS, dan Muhammad SAW, yang patut kita teladani, berkat keimanan para wali Allah yang begitu kuat meskipun menghadapi berbagai macam ujian yang datang pada mereka.
Di luar kajian para Nabi dan Rasul sebagai utusan Allah SWT, dalam kesempatan ini, kita juga dapat memberikan beberapa contoh manusia – manusia biasa pilihan-Nya yang
mengisi berbagai aspek kehidupan dari masa ke masa sehingga nama-nama merekasampai hari ini terus diabadikan oleh umat atau setidak-tidaknya oleh bangsa dan negara dimana mereka berasal, meskipun mereka harus menjalani hukuman dan penghinaan antara lain sebagai berikut :

• Tokoh filsafat dan ilmu pengetahuan, seperti Socrates ia dihukum minum racun,
sehingga membawa kematian atas dirinya. Sementara Galileo Galelei juga pernah
dihukum penjara seumur hidup sampai meninggal dunia, Albert Einstein
mendapat cacian dan penghinaan oleh orang-orang Jerman sehingga ia pindah ke
Amerika, begitu juga dengan Copernicus, dan sebagainya.
• Tokoh agama a.l., seperti ; Imam Abu Hanafiah, Imam Malik, Imam Ahmad bin
Hanbal, Imam Syafe’i, Ibnu Taimiyah, Said Bin Zubair, Said Bin Musyayab, Imam
Bukhari, Imam Nawawi (Ulama besar Islam) pernah dipenjara bahkan dihukum cambuk. Di Indonesia a.l., seperti Syahril, M. Natsir, Hamka pernah pernah pula di-sel-kan dan sebagainya.• Negarawan, a.l., seperti : Mahatma Gandhi (India), Soekarno – Hatta (Indonesia), Nelson Mandela (Afrika Selatan), Benazir Butto (Pakistan), pernah dipenjara dan sebagainya.

Terlepas kisah perjalanan para Nabi dan Rasul serta tokoh-tokoh di atas dengan segala
macam ujian yang dialaminya, beberapa hari terakhir bangsa Indonesia dikejutkan
dengan peristiwa ditolaknya UAS (Ustad Abdul Somad) oleh imigrasi Singapura ketika
ingin berlibur di negara Singa Laut (Merlion) tersebut, sehingga UAS berikut keluarganya
dipulangkan kembali ke Indonesia dihari yang sama tanggal 16 Mei 2022, dengan alasan tidak memenuhi syarat (eligible) yang ditetapkan oleh ICA Singapura sehingga ia dan rombongan (keluarganya) tidak bisa masuk ke Singapura (Not to Land).
Berita pen-deportasian UAS tersebut akhirnya dalam masa 2 – 3 hari tersebar luas ke publik sehingga menimbulkan pro kontra dikalangan masyarakat mulai dari politikus,
pakar hukum Internasional, Ulama, para tokoh masyarakat, dan tentunya para simpatisan UAS yang loyal terhadapnya. Bahkan hampir seluruh media live streaming (on-line) maupun off line memuat berita-nya setiap hari sampailah dibuatnya tulisan ini.
Tak cukup hanya diranah wacana, analisa, dan debat di media saja, bahkan para
pendukung dan simpatisannya ternyata beramai-ramai melakukan action dengan
mendatangani Kantor Kedubes dan Konsulat Singapura baik di pusat maupun di daerah,
dengan mengangkat isu pokok a.l., agar pemerintah Singapura menyatakan secara resmi permohonan maaf kepada UAS bahkan meminta pemerintah R.I., memutuskan hubungan diplomatik dengan Singapura dan lain-lainnya.

Terlepas dari persoalan UAS sebagai tokoh agama Islam dan pendidik (Dosen) yang
dideportasi dari Singapura, peristiwa yang dialami oleh UAS, tidak dapat dianggap biasa-
biasa saja, sebab UAS bukanlah seorang Ustad dan Dosen biasa di Indonesia, tetapi UAS merupakan simbol kejujuran yang mensiarkan kebenaran ajaran tauhid “Islam”
dengan bersahaja (sederhana) dan terbebas dari kepentingan kekuasaan, politik, apalagi ekonomi (mencari dan mengumpulkan kekayaan).

UAS bukan tokoh agama yang memegang jabatan penting (strategis) baik di pemerintahan maupun di badan-badan resmi negara, beliau juga tidak memiliki gedung– gedung pesantren megah nan luas dengan sekian ribu santri di dalamnya, dan tidak juga memiliki aset maupun harta kekayaan yang berlimpah ruah. Ia hanya seorang pengajar dan pendakwah yang murni mengajarkan ajaran Islam kepada umat tanpa pamrih yang berlebihan dengan gaya apa adanya sehingga ia dapat diterima dengan baik oleh umat muslim Indonesia. Bahkan hasil dakwah yang diterima olehnya, sebagian disedekahkan olehnya buat umat yang memang sangat memerlukan.
Penulis ibaratkan UAS merupakan sebuah oase di padang pasir bagi umat Islam
Indonesia, kehadirannya sangat diharapkan karena mengisi relung-relung dahaga yang
memberi energi dan gelombang magnetik sehingga umat tercerahkan dari pengetahuan
yang disampaikan. Ia bukan tokoh maupun ilmuwan yang berangkat dari keinginan
pencitraan agar dianggap manusia super.
UAS hanya menyampaikan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan pengetahuan yang
diperoleh olehnya. Oleh karenanya sangatlah keliru apabila dakwah UAS dianggap oleh
sebagian kecil umat berbau radikal dan/atau berbahaya / mengancam suatu bangsa dan
negara.
Dengan anugrah (amanah) keluasan ilmu pengetahuan agama yang dimilikinya dari hasil menimba ilmu pengetahuan di luar negeri, ia didekasikan seluruh pengetahuannya kepada umat tanpa embel-embel pamrih, walaupun pengundangnya untuk berceramah dan mengajar itu institusi – institusi resmi negara, universitas / sekolah-sekolah dari dalam negeri maupun luar negeri, badan-badan swasta, tokoh-tokoh bangsa, organisasi- organisasi masyarakat, sampailah majelis-majelis taklim berskala nasional, daerah, bahkan para pengurus mushola sekalipun. Semuanya beliau layani dengan ikhlas dengan segala keterbatasan yang ada.
Oleh karenanya, tidaklah terlalu berlebihan apabila dalam tulisan singkat nan sederhana
ini, penulis memberitakan “UAS SANG FENOMENAL”. Karena Sang fenomenal itu
melakukan ibadah dan pekerjaannya dengan ikhlas, sesungguhnya ia mengerti bahwa apa yang dikerjakan dan segala sesuatu yang akan dan sudah diterimanya, adalah atas
kehendak Allah SWT. Wallahu’alam.
Akhir dari penutup tulisan ini, penulis mengutip firman Allah SWT yang artinya :
Dan Katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang
telah kamu kerjakan. (Q.S. At-Taubah ayat 105)”.

Kijanglama-TPI, 21-05-2022, selamat membaca “Salam Perjuangan buat UAS dan umat
muslim”.

Ditulis Oleh Pada Sab 21 Mei 2022. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek