; charset=UTF-8" /> PRAHARA DI BULAN SUCI RAMADHAN - | ';

| | 195 kali dibaca

PRAHARA DI BULAN SUCI RAMADHAN

OLEH : H. IWAN KURNIAWAN.SH.,M.H.,M.Si.

Selingkuh, kata sederhana yang mengandung multi tafsir ini memang sakti mandraguna. Karena ber-selingkuh, kehidupan rumah tangga yang telah dibina sekian tahun lamanya hancur berantakan seperti dikisahkan dalam cerita Oga, Nahsa dan Syahwa.
Akibat ber-selingkuh, berdampak pula putusnya hubungan keluarga yang sudah terjalin sekian ratus tahun lamanya antara Tok Uten, Kremia dan Ukra, sehingga memantik terjadinya peperangan yang meluluh lantakkan segala keagungan peradaban umat manusia di sana.

Dan dari hubungan perselingkuhan melahirkan pula benih-benih permusuhan, yang mengarah terjadinya peristiwa pembunuhan, penghancuran, dan pemusnahan sebuah keluarga bahkan Negara yang sampai detik ini masih terjadi, dikala umat muslim seluruh dunia sedang menunaikan ibadah puasa bulan suci ramadhan 2022 Masehi / 1443 Hijriah, sebagaimana terjadi dalam peperangan Rusia vs Ukrania berikut dengan para pendukung / sekutu dari masing-masing Negara tersebut, bahkan lebih jauh telah melibatkan campur tangan PBB.
Belajar dari peristiwa di atas, di sinilah ajaran tentang keimanan, kesetiaan, kesabaran, dan kesederhanaan setiap insan diperlukan. Sebaliknya ajaran tentang penghianatan, kesombongan, keserakahan, dan kekuasaan yang tak terbatas perlu disingkirkan, agar kedamaian dan keharmonisan dalam suatu rumah tangga dalam ruang lingkupnya yang tak terbatas dapat diwujudkan. Begitulah sesungguhnya hakekat kemanusiaan dalam kehidupan manusia, sebagaimana diajarkan oleh agama.

Hakekat Puasa

Puasa merupakan salah satu rukun Islam, dari ke-lima rukun yang diwajibkan dalam ajarannya. Di dalam keyakinan agama samawi (agama langit) ajaran berpuasa pada umatnya dianjurkan untuk dilaksanakan, seperti diajarkan oleh agama Nasrani dan Yahudi.
Kemudian ajaran puasa (upawasa – bhs.Hindu) juga diajarkan oleh agama Bhumi (agama Ardhy) seperti Buddha, Khonghucu dan Hindu, serta ajaran kepercayaan yang terdapat di muka Bumi termasuk di Indonesia, sebagaimana dapat kita lihat pada ritual meditasi dan nyepi pada ajaran Buddha dan Hindu serta ritual pertapaan dan puasa mutih (tirakat kejawen) pada ajaran keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang kesemuanya itu mengarah pada keimanan manusia kepada Sang Pencipta langit dan Bumi berikut alam semesta dan se-isinya atau dikenal dengan istilah Brahman (Buddha), Shang Hyang Widi (Hindu) dan Sangkan Paraning Dumadi (Kejawen) dan dalam bahasa jawa disebut Gusti Pangeran.
Bahkan ajaran Islam mewajibkan umat Muslim untuk menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, agar kaum mukmin dilimpahkan ganjaran pahala dari Allah SWT, yang akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan di alam barzah sampai ke alam akhirat nantinya.
Kandungan perbuatan puasa secara universal, merupakan suatu perbuatan mulia yang bertujuan untuk kebaikan (kemaslahatan) manusia baik selaku individu maupun sebagai mahluk sosial. Pemaknaan puasa tidak saja dibatasi dari perbuatan menahan keinginan untuk makan dan minum, membatasi hubungan badan suami isteri di siang hari, menjaga segala macam nafsu seperti ammarah dan syahwat saja. Lebih jauh makna puasa mengandung pengertian menahan dan/atau menjaga dari segala perbuatan mudharat (buruk) setiap insan yang seyogianya secara alamiah memang terdapat dalam diri tiap -tiap manusia tanpa terkecuali, sebagai mahluk yang tak terlepas dari perbuatan silaf dan salah.
Hakekat kemuliaan manusia di hadapan makhluk ciptaan Allah SWT / Tuhan Yang Maha Esa lainnya sebagaimana diketahui terletak dari kemampuan manusia mengatasi segala macam godaan Syaitan dan /atau terhindar dari segala sifat yang terdapat pada Syaitan karena kutukan Allah SWT kepadanya, yang disebabkan oleh pengkhianatan/peng-ingkaran Syaitan kepada-Nya.

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Maidah (5) ayat 51, artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
Secara literlek, fadilah ayat di atas menurut hemat penulis, antara lain mengandung makna bahwa orang – orang yang beriman (mukmin) diwajibkan untuk taat kepada Alllah dan Rasul, serta Ulil Amri (pemimpin umat) “yang ta’at kepada Allah”. Kemudian jika terdapat perbedaan pendapat tentang sesuatu “ide, pendapat, keyakinan dan perbuatan” maka kembalilah kepada Al Qur’an dan Sunnah.
Kewajiban untuk ta’at kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan Ulil Amri inilah yang diingkari oleh Syaitan, yangmana Syaitan tidak mau mengikuti perintah Allah SWT agar ia (iblis) tunduk dan sujud kepada Adam ketika Allah menciptakan manusia pertama tersebut.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Thaha (20) : 116, artinya :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada Malaikat : Sujudlah “hormatlah” kamu kepada Adam, maka mereka sujud kecuali Iblis. Ia membangkang”.

Pembangkangan dan kesombongan Syaitan itu hanya disebabkan oleh 1 hal saja yaitu terkait asal-usul penciptaannya. Di mana Iblis diciptakan dari Api dan Adam dicipta dari tanah.
Firman Allah dalam Q.S. Al-A’Raf : 12, artinya : “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu ?, Menjawab Iblis, “Aku lebih baik daripadanya : Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.
Tidak hanya enggan untuk tunduk dan sujud kepada manusia, bahkan Iblis ketika itu meminta kepada Allah SWT untuk dapat memujuk dan menggoda Adam-Hawa beserta anak cucu-nya menjadi pengikutnya sampai di hari kemudian (kiamat). Terkait dengan kemampuan Syaitan menggoda manusia dan menjadi pengikutnya, telah diungkapkan dalam firman Allah SWT Q.S. Mujaddilah (58) ayat 19, artinya :
“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah, mereka itulah, golongan syaitan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”.
Agar bani Adam dapat terhindar dari godaaan Syaitan yang terkutuk, maka salah satu caranya yaitu melaksanakan puasa sunnah dan puasa wajib di bulan suci Ramadhan disamping melaksanakan seluruh rukun lainnya. Dengan melaksanakan Ibadah puasa maka diharapkan keimanan kaum mukmin semakin menebal dan terhindar dari segala godaan maupun perbuatan Syaitan tersebut.
Kewajiban Berpuasa
Islam mengajarkan tentang “Ahkamul Khomsah” yaitu 5 dasar hukum dalam Islam, terdiri dari ; Wajib, Sunnah, Haram, Mubah, dan Makruh.
Wajib adalah sesuatu perbuatan yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan akan diberi sanksi (hukuman) dan dosa. Adapun hukum wajib contohnya Sholat lima waktu, Puasa di bulan suci Ramadhan, dan Zakat.
Hukum Wajib menurut ajaran Islam terdiri dari 10 pecahan yaitu Syar’i, Aqli, Kifayah, Muayyan (muhaddad), Mukhayyar (Ghairu Muhaddad), Mutlak, Aqli Nadzari, Aqli Dharuri, dan Muqayyad.
Sedangkan Puasa hukumnya Wajib Syar’i dan dapat juga berlaku Wajib Mukhayyar (Ghairu Muhaddad), yaitu kewajiban seseorang yang dapat memilih dari beberapa kewajiban yang telah ditetapkan. Misalnya ; orang tua yang tidak sanggup menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, maka kepadanya diwajibkan untuk membayar fidyah.
Sebagaimana diketahui bahwa kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, dinyatakan dalam firman Allah SWT pada Q.S. Al-Baqarah : 183, yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Momentum Puasa Untuk Perdamaian

Dari berbagai fakta yang dapat kita saksikan dibeberapa media massa, baik yang berskala local/ daerah, nasional maupun internasional, saat ini masih banyak timbul berbagai macam gejolak dan konflik bahkan di Eropah masih terjadi peperangan antara Rusia vs Ukrania yang nyata-nyata telah menimbulkan matinya ribuan manusia, musnah dan hancurnya berbagai macam fasilitas bangunan, jalan, jembatan, bandara, pelabuhan, dan sebagainya, yang sudah dibangun sejak 100 tahun bahkan ribuan tahun yang lalu hanya dengan sekelep mata.
Sementara di Jakarta dan dibeberapa daerah, dalam suasana puasa Ramadhan, para mahasiswa melakukan demonstrasi dan turun ke jalan menyuarakan agenda menolak “Penundaan Pemilu dan perrpanjangan masa jabatan Presiden 3 Periode” + Persoalan kenaikan harga bahan pokok, yang mengarah turunnya perekonomian Nasional.
Sebagai info, perceraian di Indonesia yang rata-rata mencapai 300 s/d 400 ribu per/tahun salah satu penyebabnya yaitu terjadinya perselisihan terus menerus sehingga tidak mungkin untuk dipersatukan kembali, pada umumnya berpunca pada “kasus selingkuh”.
Kembali pada wacana di awal kalimat pembuka di atas, terjadinya perceraian, rusaknya hubungan keluarga dan persahabatan, terciptanya permusuhan dan pertengkaran, korupsi dan gratifikasi, bahkan pecahnya peperangan, awal mula terjadinya dipicu oleh factor “SELINGKUH”.
Selingkuh menurut beberapa defenisi dapat diartikan sebagai perbuatan : “Suka menyeleweng, suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong, suka menggelapkan uang, dan korup”.
Semua perbuatan tersebut bertentangan dengan ajaran agama dan merupakan bagian dari perbuatan Syaitan sebagaimana disinggung di atas.

Dengan kemampuan yang teramat sangat terbatas, melalui tulisan sederhana ini, penulis menyampaikan pesan untuk perdamaian atau setidak-tidaknya berdamai untuk diri sendiri dalam menghadapi berbagaimacam persoalan kehidupan ini, yang memang sejatinya sedang dalam kondisi sulit disebabkan oleh terjadinya Invlasi global maupun Nasional saat ini.
Sebagai penutup penulis kemukakan firman Allah SWT Q.S. Ali Imran (3) ayat 159, artinya :
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertakwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”

Kijanglama-Tg.Pinang, 10-04-2022, selamat membaca, “Salam Ramadhan untuk perdamaian”.

Ditulis Oleh Pada Ming 10 Apr 2022. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek