; charset=UTF-8" /> MENYINGKAP KECEMERLANG KONSEP PEMIKIRAN KOMJEN POL. DRS. DHARMA PONGREKUN,M.M.,M.H. DALAM BUKUNYA “INDONESIA DALAM REKAYASA KEHIDUPAN” (PART 1) - | ';

| | 736 kali dibaca

MENYINGKAP KECEMERLANG KONSEP PEMIKIRAN KOMJEN POL. DRS. DHARMA PONGREKUN,M.M.,M.H. DALAM BUKUNYA “INDONESIA DALAM REKAYASA KEHIDUPAN” (PART 1)

Oleh : H Iwan Kurniawan SH MH MSI.

A. PENGANTAR

Dalam beberapa waktu belakangan ini, kita dibuat terkesima dengan terbitnya sebuah buku berjudul “INDONESIA DALAM REKAYASA KEHIDUPA N”, karya cipta Komjen Pol Drs. Dharma Pongrekun M .M.,M.H. Buku tersebut, merupakan hasil renungan dan pemikiran cerdas dari sang penulis, yang pada pokoknya mengangkat isu kajian tentang kondisi dan situasi Indonesia di era globalisasi. Buku dengan tulisan kalimat yang sederhana, sistematis, terstruktur, dan mudah dipahami tersebutd diterbitkan oleh Penerbit Grasindo, Jakarta, dan telah dicetak sebanyak 3 kali, terakhir pada bulan Juni 2021, dan merupakan salah satu buku dengan predikat BEST SELLER.

Saya merupakan salah seorang yang diberi anugrah oleh Allah SWT/Tuhan YME dan kesempatan oleh Sang Jendral, untuk dapat bertemu sua sekaligus berbincang-bincang singkat dengannya dan teristimewa diberikan pula sebuah cendramata “BUKU” yang sangat berharga itu langsung dari tangan beliau. Seketika saya tertegun sesaat bertemu dengannya, yang mana sikap dan tutur katanya sangatlah ramah dan sopan bahkan terkesan begitu hangat dan akrab, meski baru pertama kali bertemu dengannya.

Saya langsung berpikir, “Ooohhh, ternyata masih ada juga seorang pejabat Kepolisian R.I., yang menyandang pangkat Komisaris Jendral (Bintang Tiga) baik hati dan tidak sombong, bahkan sangat peduli serta menghargai orang awam seperti saya”. Singkat cerita obrolan santai yang diiringi
sikap saling harga menghargai dan terkesan sangat peduli antar sesama, mengalir dengan lancar ibarataliran air anak sungai nan bening tanpa secuil noda apapun. Sungguh saya teramat sangat terkesan atas sambutan beliau sehingga serasa “terhipnotis”, dibuatnya.
Adapun pertemuan singkat tersebut, adalah bagian dari salah satu agenda saya untuk memperkenalkan buku karya cipta dengan judul “HUKUM PERUSAHAAN INDONESIA” (Teori dan Praktik Berdasarkan UU
No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan PP Terbaru Tahun 2021), yang diterimanya dengan suka cita. Seingat saya, ketika itu beliau mengatakan , “Sebagai manusia ciptaan Tuhan dan anak bangsa,
berikan dan/atau sumbangkan-lah pemikiran yang baik dan bermanfaat untuk masyarakat, bangsa dan Negara ini”. Kemudian beliau juga mengungkapkan bahwa buku INDONESIA DALAM REKAYASA KEHIDUPAN, (Sebuah perenungan anak bangsa menghadapi Globalisasi), merupakan hasil daripemikiran original yang dituangkan dalam sebuah karya tulis “Buku”, agar dapat terus diingat dan tidak hilang dalam ide-nya. Dengan niat tulus dan keiklhasannya tersebut akhirnya buku itu dapat diterima
oleh khalayak ramai dengan predikat “Best Seller”. Beliau juga mengatakan buku tersebut dibuat bukan maksud untuk diperjual-belikan dengan tujuan mendapatkan royalty (keuntungan materi saja) tetapi lebih jauh dari itu, buku ini dipersembahkan sebagai sumbangan pengetahuan buat bangsa Indonesia
dalam menghadapi era GLOBALISASI, saat ini dan kemudian hari.
Sebagai seorang praktisi, Dosen, dan penulis, secara pribadi saya sangat terharu, salut dan begitu terkesan dengan personality yang tampil dari seorang Jendral “Komjen Polisi” seperti beliau. Dan saya juga meyakini bahwa di Negara yang kita cintai, kiranya masih terdapat banyak pejabat-pejabat di
Lembaga Kepolisian R.I. lainnya, memiliki kepribadian “karakteristik” terpuji seperti beliau. Aamiin.
B. URAIAN SINGKAT TENTANG POKOK-POKOK PIKIRAN YANG TERKANDUNG DALAM BUKU“INDONESIA DALAM REKAYASA KEHIDUPAN”
Buku dengan tulisan setebal 152 halaman namun disetiap lembarannya memuat materi ilmu pengetahuan berkualitas, sehingga dalam tulisan ringkas ini tidak mungkin bagi penulis untuk dapatmengungkapkan secara sempurna seluruh materi yang terkandung didalamnya. Pada kesempatan ini
penulis hanya mengangkat beberapa intisari tulisan dalam buku tersebut, sebagai berikut.
1. Memperkenalkan istilah NUSWANTARA bukan NUSANTARA. Pada saat penulis membuka lembaran muka buku tersebut, penulis sudah disuguhkan suatu
pengetahuan baru tentang istilah Nuswantara. Menurut Komjen. Pol. Drs. Dharma Pongrekun dalambukunya Indonesia Dalam Rekayasa Kehidupan, istilah yang tepat untuk menyebut Nusantara adalah Nuswantara. Beliau mengungkapkan bahwa pengertian Nusantara berbeda dengan Nuswantara.
Adapun istilah Nuswantara sudah dikemukakan oleh beliau dalam Pengantar pada lembaran pertama kalimat terakhir, sebagai berikut, “….. Bangsa kita dibuat terpecah belah. Bahasa dan perilaku radikal
mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Ditambah lagi dengan maraknya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial yang semakin menggoyahkan rasa persatuan. Padahal kita adalah bangsa yang mewarisi nilai-nilai luhur nenek moyang kita Nuswantara”. (Vide : Hal ix dalam Pengantar, 2021).
Penggunaan istilah Nuswantara dalam buku tersebut, memicu minat saya untuk sedikit mengetahui artiNuswantara, sebab kata Nuswantara belum familiar dibanding dengan kata Nusantara. Istilah Nusantara
pada umumnya sudah kita kenal sejak dibangku Sekolah Dasar sampailah ditingkat Perguruan Tinggi,dalam mata pelajaran sejarah Indonesia, kewiraan, dan sebagainya.
Dari hasil berselancar didunia maya, saya mendapat beberapa rekomendasi yang menulis kata Nuswantara, antara lain tulisan yang mengemukakan, “Pengertian Nusantara yang diusulkan oleh Dr. Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian (Nuswantara) zaman Majapahit. Pada masa Majapahit,
Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (“Antara” dalam bahasa Sanskerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada
tertulis “Lamun huwus kalah nuswantara, isun amukti palapa…..”.
Adapun kalimat utuh dari Sumpah Amukti Palapa yang diikrarkan oleh Patih Gajah Mada tersebut, berbunyi, “Lamun huwus kalah Nuswantara isun amukti palapa, lamun kalah Gurun, ring Seram,
Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Terkait dengan aneksasi kerajaan Majapahit pada ring Pahang dan Tumasik, dalam buku karangan H.Iwan Kurniawan,S.H.,M.H.,M.Si, Hukum Perusahaan Indonesia (1090 : 2021), dikemukakan, “….. maka
apabila dapat ia jalan yang belot di dalam negeri Singapura (Temasek) itu, maka raja Majapahit-pun datanglah melanggar Singapura ini. Maka Singapurapun alahlah (kalah) karena rakyat Jawa yang datang
itu terlalu banyak sekira-kira dua keti. Maka larilah raja Iskandar syah itu membawa dirinya sampai ke Malaka. ….. raja Sri Tribuana merupakan raja kerajaan Sriwijaya yang lari menyelamatkan diri karena
diserang oleh kerajaan Singasari yang dilanjutkan dengan serangan kerajaan Majapahit abad XIII.
Terlepas dari tulisan sejarah atas pengimplementasian Sumpah Palapa oleh Maha Patih Gajah Mada, sebagaimana uraian singkat di atas, menurut Komjen.Pol. Dharma Pongrekun, M.M.,M.H., (x :2021), pengertian Nuswantara tidak sama dengan Nusantara. Nusantara tidak hanya berarti “pulau
antara” atau wilayah kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dan berada di antara dua benua, sebagaimana dikenal umum sebagai arti dari kata “Nusantara”. Dalam bahasa Sanskerta kuno,
Nuswantara memiliki makna lebih dalam dari pada itu. Nuswantara berasal dari Nuswantara yang berarti“makhluk, Swa artinya ‘mandiri’, Anta artinya ‘menuju’. Dan Ra berarti ‘Tuhan’. Dengan demikian Nuswantara dapat diartikan sebagai ‘manusia mandiri menuju fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan’
yang menempati “tempat yang dapat dihuni dan terletak di jagad raya”, di mana wilayahnya terhampar
di seantero alam raya. Antara dunia manusia dan keabadian. Sebesar dan seagung itulah Nuswantara yang sesungguhnya.
Terjemahan arti kata Nuswantara sebagaimana dikemukakan oleh Komjen.Pol. Drs. Dharma di atas, dapatlah kiranya kita terima dalam suatu hipotesa bahwa bangsa Nuswantara merupakan bangsa besar
dengan tingkat peradaban sangat maju di era kejayaan kerajaan-kerajaan Nuswantara ketika itu.

Wangsa Nuswantara merupakan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersandar pada ajaran Agama dan keyakinan yang dianutnya, sehingga bangsa Nuswantara menjadi suatu bangsa yang dihormati oleh bangsa-bangsa lainnya.
Saat ini, kegalauan beliau terhadap bangsa Indonesia di era globalisasi, berangkat dari tidak terbendung dan tak tersaringnya dengan baik perkembangan pesat TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang masuk ke Indonesia, sehingga dikuatirkan akan menggeser mind set dan prilaku
manusia Indonesia yang pada awalnya menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan ajaran-ajaran Agama, beralih pada mendewakan sarana TIK dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, melalui tulisan
tangannya beliau ingin mengingatkan kita, agar tidak terjerumus dengan kemajuan TIK yang maha dahsyat perkembangannya tersebut, sebagaimana beliau katakan sebagai berikut :

“Arus globalisasi telah membawa bangsa kita, ke dalam system dunia yang lebih besar dan tidak terbatas. Diawali keterlibatan Indonesia dalam proses perdagangan bebas, maka bersamaan dengan itu, bangsa ini masuk ke dalam jaringan system budaya, system ekonomi, system pasar, system
komunikasi, dan system pendidikan bersifat global. Masyarakat Indonesia kini tidak dapat menghindar dari derasnya arus kompleksitas perubahan (inovasi) sebagai akibat kecanggihan TIK yang kian berkembang. …..Namun dalam kenyataannya perkembangan globalisasi telah membuat cita-cita dan tujuan bernegara yang telah dicanangkan para founding father mengalami penyimpangan”.
(Komjen.Pol. Drs. Dharma Pongrekun,M.M.,M.H., 37 : 2021).
Berpijak dari latar belakang sejarah peradaban bangsa Nuswantara, Komjen. Pol. Drs. Dharma bermaksud mengetuk jiwa dan semangat kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar dan akan
kembali menjadi bangsa yang maju peradabannya apabila bangsa ini memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu lompatan besar dalam melakukan suatu perubahan dengan tetap berpegang pada
nilai-nilai falsafah Pancasila dan ajaran Agama serta keyakinan yang dianut oleh masing-masing individu bangsa Nuswantara.
Komjen. Pol. Drs. Dharma Pongrekun M.M., M.H., (2021 : 150-151) mengemukakan, “Untuk itulah, sebagai tindak lanjut dari Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi agar seluruh masyarakat Indonesia berorientasi pada kemajuan bersama, saya menawarkan gagasan lompatan kualitas hidup bagi bangsa ini. Indonesia harus melompat ! Indonesia harus menghindari dan melampaui berbagai rekayasa kehidupan yang membuat kita tercerabut dari keluhuran jati diri bangsa
kita. Indonesia harus melompat dari serangan gencar globalisasi yang tidak hanya menghantam pertahanan ekonomi, politik, sosial dan budaya, tetapi juga telah melumpuhkan center of gravity bangsa
kita, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Tanjungpinang, 18 November 2021.

BERSAMBUNG

Ditulis Oleh Pada Kam 18 Nov 2021. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

1 Comment for “MENYINGKAP KECEMERLANG KONSEP PEMIKIRAN KOMJEN POL. DRS. DHARMA PONGREKUN,M.M.,M.H. DALAM BUKUNYA “INDONESIA DALAM REKAYASA KEHIDUPAN” (PART 1)”

  1. Selamat Pak iwan, maju terus👍👍👍👍👍👍👍👍

Komentar Anda

Radar Kepri Indek