| | 2.824 kali dibaca

MENJADI PEMIMPIN YANG DICINTAI RAKYAT

20140823-02406

Oleh: H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa Abu Bakar, saat menjabat sebagai khalifah, biasa keluar setiap pagi bersamaan dengan terbitnya matahari ke rumah tenda di pinggiran kota Madinah, lalu menemui wanita-wanita jompo, buta, lemah dan miskin. Ia menyapu rumah, membuat makanan, dan memerah susu untuk mereka. Bila telah selesai, maka ia pun pulang kembali ke Madinah.

Pada suatu pagi, Umar bin Khattab  mengikuti kepergian Abu Bakar tanpa sepengatahuan khalifah umat Islam yang pertama itu. Umar bin Khattab ingin tahu apa sebenarnya yang dilakukan oleh Abu Bakar. Ternyata ia dapati Abu Bakar pergi ke sebuah tenda di pinggir kota Madinah. Setelah Abu Bakar kembali pulang, Umar bin Khattab pun pergi ke tenda tersebut dan bertanya kepada seorang wanita, Sebenarnya, siapakah Anda?Perempuan tua tersebut menjawab, “Aku seorang wanita buta, lemah dan miskin. Suamiku telah tiada sejak beberapa waktu yang lalu dan aku tidak mempunyai keluarga sesudah Allah kecuali orang tadi yang biasa menemuiku.”

Umar bin Khattab bertanya, “Apakah kamu mengenalnya?” Ia menjawab, Demi Allah, aku tidak mengenalnya. Umar bin Khattab bertanya,Apa yang dia lakukan?” Wanita tua renta itu menjawab, Ia menyapu rumah, memerah susu untuk kami, membuat makanan untuk kami.” Mendengar hal tersebut, Umar bin Khattab pun terduduk dan menangis. Umar bin Khattab menangis karena terharu dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar. Abu Bakar, seorang pemimpin negara (khalifah, presiden) mau menyapu, memasak, memerah susu untuk rakyatnya. Suatu hal yang susah dicari dan didapat di zaman sekarang.

Dalam riwayat lain dikisahkan, sepulang dari pembebasan Yaman, tentara Muslim membawa sejumlah ghanimah (rampasan perang) ke Madinah dan langsung menyerahkannya kepada Umar bin Khattab yang pada waktu itu menjabat sebagai khalifah. Umar bin Khattab lalu membagikan sehelai pakaian hasil rampasan perang itu kepada setiap penduduk Madinah. Setelah dibagi rata, Umar bin Khattab kebagian sehelai pakaian. Karena kekecilan, pakaian itu hanya sampai menutupi pahanya. Ia kemudian meminta putranya, Abdullah, untuk memberikan pakaian jatahnya. Umar bin Khattab pun mempermak kedua pakaian itu, hingga menutup di atas mata kakinya. Ia lalu naik ke mimbar dan berpidato, “Wahai kalian semua, dengarlah apa yang akan kusampaikan.…” Tiba-tiba, Salman Al-Farisi menginterupsi, “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak akan mendengar dan mematuhi kata-katamu!” Karena heran  Umar bin Khattab lalu bertanya, “Mengapa begitu?” Salman Al-Farisi menjawab, “Engkau mengenakan dua helai pakaian, sementara kami hanya satu pakaian. Di mana letak keadilanmu? Engaku telah berlaku zalim kepada rakyatmu?” Mendengar kritik Salman, Umar bin Khattab tidak marah. Ia hanya tersenyum simpul dan berkata, “Hai Abdullah, berdirilah dan jelaskan duduk persoalannya kepada mereka.” Abdullah lalu berkata, “Postur tubuh ayahku itu tinggi. Pakaian jatahnya tidak cukup, lalu jatahku kuberikan kepadanya. Ia lalu menyambungkannya agar bisa menutupi auratnya.” Mendengar penjelasan Abdullah, semua sahabat terdiam. Salman kemudian kembali berkata, “Kalau begitu, sampaikanlah pesan-pesanmu wahai Amirul Mukminin, kami akan mendengarnya. Instruksimu akan kami laksanakan.”

Dikisahkan pula suatu ketika Umar bin Abdul Aziz (cucunya Umar bin Khattab) berada di suatu majelis. Ketika tiba siang hari, ia gelisah dan merasa bosan. Ia lalu berkata kepada yang hadir, “Kalian tetap di tempat sampai saya kembali.” Ia lantas masuk ke peraduannya untuk beristirahat. Tiba-tiba anaknya, Abdul Malik, mengingatkannya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang menyebabkan engkau masuk kamar?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Saya ingin beristirahat sejenak.” Putranya kemudian bertanya lagi, “Yakinkah engkau bahwa setiap kematian akan datang, sedangkan rakyatmu menunggu di depan pintumu, sementara engkau tidak melayani mereka?” Sang Khalifah pun terkejut. “Engkau benar, wahai anakku.” Ia lalu bangun dan menemui rakyat yang sedang menunggunya.

Kisah-kisah di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak kisah kepemimpinan Islam yang membuat kita berdecak kagum dan rindu akan pemimpin-pemimpin seperti itu.  Harus diakui memang bahwa mencari pemimpin yang memiliki kualifikasi seperti Rasulullah saw, para khulafaur rasyidin, tabi’in, tidaklah mudah dan tidaklah seperti bermain sulap, namun membutuhkan proses kaderisasi yang panjang. Salah satu kelebihan para pemimpin tersebut, seperti dikemukakan Burhanuddin (2012), adalah ketakwaan mereka  kepada Allah SWT. Bertakwa berarti taat menjalankan perintah Allah SWT,  dan menjauhi larangan-Nya. Sifat-sifat ketakwaan akan menurunkan berbagai sifat yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin.

Di antara sifat-sifat tersebut adalah sebagaimana diuraikan sebagai berikut. Pertama, sifat adil. Sifat ini perlu dimiliki oleh setiap pemimpin. Sifat adil adalah tidak membeda-bedakan terhadap siapapun dalam berbagai hal. Misalnya adalam dalam penegakan hukum. Siapapun bersalah harus ditindak sesuai dengan tingkat kesalahannya. Kedua, berilmu. Setiap pemimpin perlu memiliki ilmu pengetahuan dan kapasitas intelektual yang mumpuni, sehingga dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi rakyatnya, serta mencari solusi terbaik terhadap persoalan-persoalan tersebut. Ketiga, melaksanakan hukum Allah SWT.
Pemimpin mempunyai kewajiban melaksanakan dan memerintahkan rakyatnya melaksanakan hukum Allah SWT. Negeri yang dipimpin orang menegakkan hukum Allah SWT akan diberkahi, diberi rezeki oleh Allah SWT. Sebaliknya, negeri yang dipimpin orang khianat, kufur terhadap Allah SWT, akan selalu dilaknat, dan diberi musibah silih berganti. Keempat, tidak berlaku zalim.
Pemimpin yang baik, adalah mengayomi rakyatnya, menyayangi rakyat, membela rakyatnya, serta tidak berbuat zalim kepada siapapun. Para pemimpin seharusnya takut berbuat zalim kepada rakyatnya. Ibnu Abbas meriwayatkan, Nabi saw mengutus Mu’adz ke Yaman dan beliau berkata kepadanya, “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi (teraniaya) karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kelima, sifat rendah hati. Setiap orang Islam berkewajiban untuk menghiasi diri dengan sifat rendah hati atau tawadhu, terutama bagi pemimpin, karena kepemimpinan dan kekuasaan yang berada di tangannya seringkali mendorong dirinya untuk bersikap sombong. Oleh karena itu, ia harus senantiasa mengontrol dan mengevaluasi diri agar tetap bersifat rendah hati, karena kerendahan hati inilah yang akan melanggengkan kepemimpinan dan karier politiknya, bahkan mengantarkannya ke puncak pencapaian duniawi sebagaimana janji Rasulullah, “Barangsiapa berendah hati karena Allah maka Allah akan meninggikannya” (H.R. Ahmad dan Al-Bazzar).

Ada beberapa keutamaan sifat rendah hati bagi seorang pemimpin (Fakhruddin Nursyam, 2008). Pertama, meraih kecintaan Allah. Seorang pemimpin yang rendah hati akan dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Wahai, Aisyah, bersikaplah rendah hati, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong” (H.R. Abu Syaikh dan Ad-Dailami). Kecintaan Allah kepada dirinya akan mengundang kecintaan dan simpati manusia kepada dirinya serta lebih melanggengkan eksistensi dan peran kepemimpinannya.

Kedua, meraih derajat yang tinggi di akhirat. Kerendahan hati seorang pemimpin akan mengantarkannya kepada derajat yang tinggi di surga. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berendah hati satu derajat karena Allah, maka Allah akan meninggikannya satu derajat bahkan menjadikannya berada pada posisi orang-orang yang paling tinggi. Barangsiapa menyombongkan diri satu derajat di hadapan Allah, maka Allah akan menjatuhkannya satu dejarat bahkan menjadikannya terperosok di posisi paling rendah” (H.R. Ahmad).

Ketiga, menjadikannya sebagai pemimpin yang cerdik dan bijak. Seorang pemimpin harus cerdik dan bijak dalam mengelola pemerintahan sehingga dia dapat meraih ridha Allah SWT dengan mewujudkan kemaslahatan untuk rakyatnya. Sifat cerdik dan bijak ini dapat ia raih dengan bersifat rendah hati kepada orang lain. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang manusia melainkan di kepalanya terdapat hikmah yang dipegang malaikat. Jika bersikap rendah hati maka dikatakan kepada malaikat, Tinggikan hikmahnya. Jika menyombongkan diri maka dikatakan kepada malaikat, Rendahkan hikmahnya” (H.R. Thabrani).

Keempat, menjadikannya pemimpin yang bersih. Seorang pemimpin harus bersih dari tindakan korupsi, manipulasi, pungli dan berbagai tindakan kriminal lain yang seringkali diakibatkan kecintaan yang berlebihan terhadap harta dan kemewahan dunia. Hal itu dapat diwujudkan dengan senantiasa bersikap zuhud terhadap dunia, dan salah satu sarana untuk menumbuhkembangkan sikap zuhud ini adalah dengan membudayakan sifat rendah hati kepada orang lain. Rasulullah saw bersabda, “Kamu tidak akan menjadi orang yang zuhud sehingga kamu menjadi orang yang rendah hati” (H.R. Thabrani).

Kelima, amal ibadahnya semakin diterima oleh Allah dan mendapatkan pahala yang sangat besar. Di antara orang-orang yang ibadahnya diterima dengan mudah oleh Allah SWT adalah seorang pemimpin yang rendah hati. Rasulullah saw bersabda, “Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman, Sesungguhnya Aku hanya menerima shalat dari orang-orang yang rendah hati terhadap keagungan-Ku, tidak menyombongkan diri di depan makhluk-Ku, tidak terus-menerus melakukan maksiat terhadap-Ku, menghabiskan siang malamnya dalam berzikir kepada-Ku, menyayangi orang miskin, ibnu sabil, janda dan orang-orang yang tertimpa musibah” (H.R. Al-Bazzar). Di samping mudah diterima, amal ibadahnya akan diberi pahala yang sangat besar. Rasulullah saw bersabda, “Pemimpin yang adil dan rendah hati adalah naungan Allah dan tombak-Nya di muka bumi. Diangkat setiap siang dan malam untuk seorang pemimpin yang adil dan rendah hati  amal enam puluh orang shiddiq. Setiap orang dari mereka adalah ahli ibadah yang bersungguh-sungguh” (H.R. Abu Syaikh dan Ibnu Abi Syaibah).

Ada beberapa bentuk kerendahan hati seorang pemimpin (Fakhruddin Nursyam, 2008). Pertama, sederhana dalam berpenampilan. Seorang pemimpin tidak sepatutnya berpenampilan mewah dan glamour bagaikan artis dan selebritis. Seorang pemimpin hendaknya berpenampilan sederhana, karena dengan kesederhanaan inilah ia akan dimuliakan oleh Allah SWT dan dicintai rakyatnya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa enggan memakai baju yang indah sedang ia mampu melakukannya, maka (pada hari kiamat nanti) Allah akan memberikan kepadanya pakaian kemuliaan” (H.R. Abu Dawud). Kedua, sederhana dalam penyelenggaraan forum-forum pertemuan. Di samping kesederhanaan dalam berpakaian dan berpenampilan, seorang pemimpin hendaknya bersikap sederhana dalam penyelenggaraan berbagai forum pertemuan, rapat, dan upacara kenegaraan. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya di antara bentuk rendah hati kepada Allah adalah sikap ridha terhadap forum yang jauh dari kesan mulia” (H.R. Thabrani).

Ketiga, mengerjakan sendiri tugas yang menjadi tanggung jawabnya selama ia mampu mengerjakannya. Seorang pemimpin hendaknya bersikap rendah hati dengan melakukan sendiri tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya selama ia mampu melakukannya sendiri. Jangan sampai seorang pemimpin berlaku seperti raja yang selalu meminta untuk dilayani dan diperhatikan orang lain. Kisah berikut patut menjadi teladan bagi para pemimpin. Dikisahkan, suatu ketika Madinah diserang musim dingin, Abu Bakar sendiri membagikan selimut tebal kepada penduduk Madinah dengan ditemani oleh Umar bin Khattab. Ketika satu keluarga yang membutuhkan bantuan logistik dari baitul mal, Umar bin Khattab mengambil sendiri dan memanggulnya sendiri di atas pundaknya untuk diberikan kepada penduduk yang membutuhkan tersebut. Keempat, tidak merasa malu untuk melakukan aktivitas ringan yang secara rutin telah dilakukannya sebelum menjadi pemimpin untuk memenuhi keperluan diri dan keluarganya. Seorang tabi’in berkata, Aku melihat Ali bin Abi Thalib membeli kurma dengan harga satu Dirham, lalu beliau memasukkan ke dalam jaketnya, kemudian ada seseorang berkata, “Wahai, Amirul Mukminin, maukah engkau jika aku yang membawakan kurma ini untukmu?” Beliau menjawab, “Pemimpin keluarga lebih patut membawanya” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir).

Kerendahan hati akan mengundang pahala dan keutamaan yang besar apabila memenuhi syarat-syaratnya. Di antara syarat-syarat itu adalah sebagai berikut (Fakhruddin Nursyam, 2008). Pertama, kerendahan hati itu didasari oleh niat meraih pahala dari Allah SWT. Kerendahan hati seorang pemimpin  hendaknya didasari keikhlasan untuk meraih pahala dari Allah SWT, bukan untuk kepentingan duniawi dan kemaslahatan pribadi. Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang pun yang berendah hati karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya” (H.R. Muslim). Kedua, tidak sampai menghinakan diri sendiri. Sikap rendah hati tidak sampai mengurangi kewibawaan dirinya sebagai pemimpin di depan para staf dan bawahannya. Kadang ada sebagian pemimpin yang banyak bercanda, berpenampilan ala kadarnya dan bersikap terlalu familiar kepada bawahannya sehingga ia mungkin menjadi pemimpin yang dicintai, tetapi sama sekali tidak disegani. Akibatnya, ia tidak mampu menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan baik dan efektif. Oleh karena itu, kerendahan hati seorang pemimpin hendaknya tetap diiringi dengan profesionalisme dan kedisiplinan yang tidak sampai menurunkan citra dan kehormatannya sebagai pemimpin. Rasulullah saw bersabda, “Berbahagialah orang yang bersikap rendah hati tanpa menghinakan diri sendiri” (H.R. Thabrani).

Ketiga, tidak melanggar ketetapan syariat dan tuntunan agama. Keinginan untuk bersikap rendah hati jangan sampai melanggar ketentuan Al-Qur’an dan sunnah. Apabila bertentangan dengan keduanya maka kita harus mengamalkan apa yang menjadi tuntunan Al-Qur’an dan sunnah serta mengabaikan apa yang kita anggap sebagai suatu sikap rendah hati jika jelas-jelas bertentangan dengan kedua sumber utama hukum Islam tersebut. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menghadap Ibnu Abbas seraya berkata, “Sesungguhnnya mantan budakmu ketika bersujud ia meletakkan kening, kedua tangan, dan dadanya di bumi.” Ibnu Abbas pun berkata kepada, “Apa yang mendorongmu melakukan apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab, “Karena rendah hati.” Ibnu Abbas berkata, “Sujud seperti itu adalah seperti menunggingnya seekor anjing. Sungguh aku melihat Nabi saw ketika bersujud terlihat putih kedua ketiak beliau” (H.R. Ahmad). Keempat, kesesuaian antara lahir dan batin. Sikap rendah hati tidak hanya diekspresikan dengan penampilan lahiriah yang sederhana dan bersaja, tapi betul-betul muncul dari lubuk hati yang paling dalam sehingga ada ada kesesuaian antara lahir dan batinnya. Jika seseorang berpenampilan sederhana dan bersahaja dengan maksud berendah hati, tapi dalam hatinya ia merasa bangga dan kagum pada penampilannya, maka itu bukanlah sikap rendah hati yang hakiki. Bahkan Umar bin Khattab mencela orang-orang seperti ini seraya berkata, “Sungguh di antara manusia ada sekelompok orang yang mengenakan pakaian dan kain shuf dengan maksud berendah hati, sedang hatinya dipenuhi dengan sikap ujub dan sombong” (Diriwayatkan oleh Ad-Dainuri). Kelima, memberikan keteladanan bagi pemimpin sesudahnya. Seorang pemimpin hendaknya mampu mewariskan sesuatu yang berharga kepada para pemimpin yang menggantikannya. Di antara warisan berharga yang patut diwariskan kepada mereka adalah sikap rendah hati. Zaid bin Wahab menuturkan bahwa Ali bin Abi Thalib keluar menemui kami dengan baju dan sarung sobek yang ditambalnya dengan kain tambal. Ketika ada yang bertanya mengenai hal itu, beliau menjawab, “Sesungguhnya aku memakai kedua pakaian ini agar aku semakin jauh dari kesombongan, semakin baik bagiku dalam shalatku, dan agar menjadi teladan bagi kaum mukminin” (Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mubarak).

Inilah sifat rendah hati yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin agar dicintai Allah dan para hamba-Nya. Jika setiap pemimpin berhasil menghiasi dirinya dengan sifat rendah hati ini maka dia akan menjadi pribadi yang penuh pesona dan mengundang decak kagum semuanya. Rasulullah saw bersabda, “Ada empat perkara yang tidak diraih kecuali secara mengagumkan yaitu kesabaran yang merupakan landasan awal ibadah, rendah hati, zikrullah dan (qana’ah dengan) sesuatu yang sedikit” (H.R. Thabrani).

Sebagai penutup tulisan ini, mari kita simak kata-kata Umar bin Abdul Aziz berikut ini. Sesungguhnya Allah telah menjadikan para imam (pemimpin) yang adil itu adalah perbaikan kepada kerusakan, pembetul kepada penyelewengan, pemusnah kepada kezaliman dan pembela kepada yang lemah, pembantu kepada yang dizalimi. Dialah yang melaksanakan hak-hak Allah kepada hamba-Nya, mendengar ayat-ayat Allah dan memperdengarkannya kepada rakyatnya, melihat tanda kekuasaaan-Nya dan memperlihatkannya kepada mereka, berjalan di atas tali Allah dan mengajak manusia bersamanya. Dia umpama seorang hamba kepada para rakyatnya, menjaga harta dan juga keluarga tuannya, tidak sekali-kali menghukum dengan cara jahiliah dan mengikut hawa nafsu mereka, tidak menyelusuri jalan orang-orang yang zalim, tidak bersifat dengan golongan pembesar mustakbirin dalam menindas golongan lemah. Dialah penjaga anak yatim, pembantu kepada orang-orang miskin, mendidik anak-anak mereka dan menjaga kaum tua mereka.”

Semoga bermanfaat.***


          *H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP, adalah Narasumber Dialog Interaktif Agama Islam (LIVE) Indahnya Pagi TVRI Nasional, Penceramah Damai Indonesiaku TVOne, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Imam Besar Masjid Agung Natuna dan Widyaiswara Muda pada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau.

Ditulis Oleh Pada Sen 03 Nov 2014. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda