; charset=UTF-8" /> Membangun Kemitraan Indonesia-Malaysia Dalam Komunitas ASEAN - | ';

| | 118 kali dibaca

Membangun Kemitraan Indonesia-Malaysia Dalam Komunitas ASEAN

oleh: Hasrul Sani Siregar, MA.
Alumni IKMAS, UKM, Malaysia

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim telah disambut hangat dan menjadi kunjungan pertama beliau setelah di lantik sebagai Perdana Menteri Malaysia ke 10 oleh Raja Malaysia, Sultan Abdullah setelah menggelar sidang dengan Raja-raja Melayu dari 9 negara bagian untuk memecah kebuntuan setelah pemilu ke-15. Dalam kunjungan pertama tersebut, Datuk Seri Anwar Ibrahim melakukan serangkaian pertemuan dengan Presiden Joko Widodo menyangkut hubungan ke-2 negara, khususnya mengenai investasi Malaysia di Indonesia dan masalah ekonomi dan bisnis. Pembicaraan juga mengenai investasi Malaysia di kawasan Ibu Kota Baru (IKN) Nusantara.
Sepanjang beberapa dekade, hubungan Indonesia-Malaysia selalu mengalami pasang
surut khususnya dalam masalah perbatasan dan Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Malaysia. Diharapkan dengan kunjungan Perdana Menteri Baru Malaysia akan meningkatkan hubungan bilaterial dan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan di kedua Negara Indonesia-
Malaysia. Indonesia dan Malaysia berkontribusi besar dalam pembentukan ASEAN tahun 1967
yang menjadi organisasi regional di kawasan Asia Tenggara.
Indonesia dan Malaysia memiliki peran yang cukup strategis dalam membangun kerjasama regional di kawasan Asia Tenggara. Indonesia dan Malaysia saling mendukung terwujudnya ASEAN Economic Community tahun 2025. Sebagai negara terbesar dan memiliki
jumlah penduduk yang besar, Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki peran dan kedudukan yang penting dalam ASEAN. Indonesia dan Malaysia dalam lingkup ASEAN telah bersepakat dan berkontribusi dalam penyelesaian masalah politik dan konflik etnik khususnya masalah Rohingya dengan pendekatan kemanusian dan mengedepankan Hak Asasi Manusia (HAM).
Dalam Hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia tidak terlepas juga menyangkut
masalah nelayan kedua negara yang masing masing melanggar zona kedaulatan negara. Namun sebagai negara yang bertetangga masalah tersebut dapat diselesaikan dengan mengedepankan hubungan yang saling memahami dan saling menghormati kedaulatan masing masing negara.
Dalam masalah nelayan Malaysia yang memasuki wilayah kedaulatan Indonesia, pemerintah Malaysia meminta nelayannya untuk tidak menangkap ikan di perairan Indonesia secara illegal dan begitu juga nelayan Indonesia yang memasuki wilayah Malaysia. Tentunya, Malaysia menghormati kedaulatan wilayah Indonesia dan begitu juga Indonesia menghormati kedaulatan Malaysia.
Oleh Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim masalah penanganan
Tenaga Kerja Indonesia akan diselesaikan dengan baik dalam sesi tanya jawab dalam CT Corp Leadership Forum.
Tentu hubungan antara Indonesia dan Malaysia yang mengalami pasang surut tersebut
tidak terlepas dari kedekatan dan hubungan sosial-budaya yang telah lama terjadi diantara kedua negara. Jika terjadi persoalan diantara kedua negara, tentu harus diselesaikan dengan
mengedepankan hubungan yang saling menghormati atas kedaulatan masing-masing negara.
Dalam dinamika hubungan bilateral kedua negara, praktis tidak ada isu yang menyebabkan ketegangan diantara kedua negara. Masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia hingga saat ini masih menjadi permasalahan yang terus menjadi perhatian oleh kedua negara.
Dalam persoalan perbatasan wilayah, Indonesia dan Malaysia masih memiliki persoalan
yang belum terselesaikan hingga saat ini. Masalah Pulau Ambalat dan Ambalat Timur di
Kalimantan (Borneo) hingga kini masih dalam tahap perundingan oleh ke-2 negara. Sengketa
pulau Ambalat dan Ambalat Timur harus menjadi prioritas utama dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Perundingan secara bilateral antara Indonesia dan Malaysia mengenai pulau tersebut perlu diintensifkan lagi mengingat isu tersebut akan menjadi isu yang perlu penanganan yang serius. Isu pulau Ambalat dan Ambalat Timur ini pernah dilakukan di masa pemerintahan SBY-Boediono, namun belum menemukan kesepakatan diantara kedua negara.
Ke depannya di harapkan persoalan pulau Ambalat dan Ambalat Timur dapat
diselesaikan oleh ke-2 negara.
Dalam persoalan Pulau Sipadan-Ligitan, kedua negara sudah dapat menyelesaikannya
dengan melibatkan Mahkamah Internasional yang mana kedua negara yaitu Indonesia dan
Malaysia dapat menyelesaikan dengan baik yang pada akhirnya Malaysia memiliki ke-2 pulau tersebut. Kedua negara telah bersepakat membawa masalah tersebut ke Mahkamah Internasional.
Perbedaan sudut pandang dan kepemilikan data diantara kedua negara menjadi faktor utama mengapa masalah tersebut yang akhirnya di bawa ke Mahkamah Internasional.
Dan akhirnya Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia atas kepemilikan kedua pulau tersebut.
Persoalan kepemilikan pulau Sipadan-Ligitan tersebut pada akhirnya dapat
diselesaikan yang tidak mengganggu hubungan bilateral ke-2 negara, Indonesia dan Malaysia.
Dan juga masalah Sipadan-Ligitan tersebut tidak menjadikan hubungan antara kedua negara terganggu. Komitmen ke-2 negara dalam komunitas ASEAN perlu menjadi apresiasi oleh
negara-negara ASEAN lainnya yang juga berkonflik dengan Cina di kawasan Laut Cina Selatan.
Sebagai Negara Kepulauan (archipelagic state) yang sudah diakui oleh dunia internasional dan memiliki wilayah yang cukup luas dan berpotensi menjadi sengketa dengan
negara-negara lainnya, Indonesia perlu memperkuat infrastruktur dan segala potensi yang ada didalamnya. Kalau itu tidak dikelola secara baik dan profesional, akan berdampak kepada hilangnya pulau-pulau lainnya. Tidak hanya sengketa pulau-pulau di perbatasan kedua Negara,
Indonesia-Malaysia, juga dengan Negara-negara lainnya dalam komunitas ASEAN. Ke depannya, kemitraan antara negara-negara ASEAN terus ditingkatkan menuju satu komunitas dan satu tujuan.
Ditulis Oleh Pada Sel 31 Jan 2023. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek