; charset=UTF-8" /> Khianat | ';

| | 762 kali dibaca

Khianat

Oleh : Irfan Antontrick

Pemimpin Redaksi SKM Radar Kepri

Sore itu, jarum jam yang pendek menunjukkan angka 6, sedangkan jarum jam yang panjang menunjuk angka 5 yang berarti pukul 18 25 Wib. Jibun pulang dengan wajah kusut dan kelam, segelap mendung di ufuk Barat. Tanpa melepas sepatunya, Jibun langsung masuk rumah tanpa mengucap sepatah kata-pun. Tubuh tambun Jibun langsung terhenyak di sofa yang terbuat dari kayu jati yang dibelinya ketika ke Jogjakarta dua tahun silam.”Penipu, pengkhiaaanaaat.”guman Jibun setengah berteriak.

Kiah sang istri yang dinikahinya 20 tahun lalu paham sekali tabiat lakinya.”Pasti ada masalah serius yang membuat abang terlihat emosi dan kusut begitu.”batin Kiah melihat polah lakinya yang uring-uringan. Tidak ada satupu yang berani mendekati Jibun kalau sudah seperti itu.

Meskipun rumah Jibun ber-AC dan angin sepoi-sepoi yang  masuk dari ventilasi diatas jendela, namun hati Jibun yang sedang dilanda emosi itu tak mampu menghentikan peluh yang mengucur deras di pori-porinya. “Ambil air putih yang dingin.”teriak Jibun. Kontan saja teriakan Jibun yang menggelegar itu  membuat tiga orang anaknya terkejut begitu juga para pembatunya, kaget bukan kepalang. Tergopoh-gopoh, Inem, salah seorang pembatu Jibun berlari menuju kulkas mengambil air es menuangkan ke gelas yang biasa dipakai Jibun. Menunggu Inem datang mengantarkan air dingin, Jibun membuka kemejanya yang mulai basah oleh keringat. Gleeek..gleeek..gleeek, hanya dengan tiga kali tegukan, air dingin sajian Inem amblas ditenggorakn Jibun.

Usai menenggak air putih dingin, nafas Jibun terlihat lebih teratur dengan langkah lemas, Jibun melangkah gontai menuju biliknya. Kepalanya berdenyut, pusing. Kiah, sang istri kemudian baru berani mendekat dan mulai memijit-mijit pundak dan pangkal lengan Jibun. Setelah merasa yakin Jibun tenang, Kiah mulai basa-basi mangajak suamin bicara.”Abah, abah darimana tadi, kok kelihatanya letih sekali?”.tanya Kiah dengan nada pelan yang memanggil lakinya dengan Abah tersebut.

Jibun terdiam sejenak, kemadian berkata.”Rapat partai.”jawab Jibun singkat.”Kalau rapat partai, ngapa pulak abah marah-marah pulangnya. Kami ni hamper kena serangan jantung”kelakar  Kiah mencoba menurunkan tensi suaminya. Jibun terdiam sejenak, kemudian mengambil sebatang rokok Malboro kegemarannya. Memang, sejak menjadi wali rakyat di kampung kami, Jibun yang biasa merokok kretek beralih ke rokok filter.”Itulah. Dari rapat partai itu, anggota kita menyebutkan putri pemangku negeri ini akan maju dalam pilihan raya untuk pemangku negeri”celoteh Jibun pada bininya.

Kiah yang belum juga maksud ocehanya hanya terdiam dan menggangguk-angguk, pura-pura paham. Jibun kemudian bercerita.”Kiah… awak ingat tak, lima tahun lalu saye mundur dari pilihan raya Pemangku Negeri. Padahal seluruh ketua dusun dari partai kita mendukung bulat, agar saye maju dipilihan raya.”sergah Jibun pada bininya.

Kening Kiah terlihat berkerinyit.”Kiah ingat ..bah, tapi ngape pulak waktu tu abah setuju mundur.”heran Kiah sambil terus mengurut kepala suaminya. Jibun menghisap dalam-dalam rokok Malboronya.”Saye bukan mundur begitu je, ade syarat-syaratnya.”ujar Jibun berteka-teki. Tentu saja Kiah makin bingung, mundur kok pakai syarat, tanya Kiah dalam hati. Belum sempat pertanyaan itu terlontar dari mulut Kiah. Jibun terlihat sudah mendengkur, tertidur lelap.

Kiah hanya tertegun memandang suaminya yang tertidur.”Kasian abah, letih betol nampaknya.”guman Kiah dalam hati. Perlahan Kiah beringsut dari tempat tidur, pintu kamar ditutupnya dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara yang dapat menggangu tidur suaminya.

Diluar kamar, Kiah memanggil anaknya  dan pembatunya agar jangan bising selama Jibun tertidur. Kiah juga berpesan pada ajudan lakinya untuk menunda tamu-tamu yang ingin berjumpa Jibun.

Dalam mimpinya, Jibun seperti melihat video empat tahun silam. Waktu itu, partainya sedang menentukan pemilihan  calon yang akan di usung untuk bertarung memperbutkan kursi Pemangku Negeri. Empat kepala partai pimpinan Jibun  tingkat dusun, kompak mencalonkan Jibun bertarung memperebutkan kursi pemangku negeri. Namun partai bukanlah milik Jibun, meskipun dirinya menduduki posisi penting ditingkat atas pada partainya. Ternyata keinginan empat kepala dusun mengusung Jibun jadi Pemangku Negeri kandas di-veto utusan tertinggi partainya. Jibun awalnya melawan, namun setelah sesepuh partai menasehati agar Jibun bersabar dulu.”Bun, awak masih mude, sabar lah dulu, lima tahun lagi awak dah matang. Baru awak fight merebut kursi Pemangku Negeri.”nasehat seorang petinggi partai dari pusat membujuk Jibun agar mengurungkan niatnya menjadi pemangku adat.

Sebenarnya utusan partai Jibun dari pusat sudah mengantongi nama Puan Sri Mayang untuk dijagokan sebagai pemangku negeri. Dikampung kami, Puan Sri Mayang merupakan tokoh dan saat itu menduduki pemangku negeri. Mengetahui ambisinya akan terganjal. Jibun pantang mundur, darah muda disokong empat dukungan pimpinan partainya tingkat dusun, membuat Jibun makin yakin akan maju memperebutkan kursi Pemangku Negeri. Namun setelah dijanjikan akan didukung lima tahun lagi oleh Puan Sri Mayang ditambah janji-janji akan dibantu modal serta lain-lainya. Jibun akhirnya luluh dan bersedia melepas kesempatanya merebut jabatan Pemangku Negeri tersebut. Kecewa dan sedih berkecamuk dalam hati Jibun kala itu. Namun berkat dukungan, nasehat dan wejangan rekan separtai dan sesepuh partai Jibun legowo mundur.”Biarlah mundur selangkah untuk maju tiga langkah.”bisik Jibun kepada empat pimpinan partai tingkat dusun yang mengusungnya.

Jibun legowo.  Dan mendapat mandat untuk memenangkan Puan Sri Mayang menjadi pemangku negeri. Jerih payah dan pengorbanan Jibun terobati dengan suksesnya Puan Sri Mayang menjabat Pemangku Negeri untuk kedua kalinya.

Waktu berlau lalu, tak terasa sudah empat tahun Puan Sri Mayang bertahta. Jibun hakkul yakin akan janji politik Puan Mayang empat tahun silam yang menyatakan akan mendukung Jibun untuk maju merebut pemangku Negeri. Meskipun jabatan Puan Sri Mayang masih setahun lagi, namun gerilya para kandidat pemanku adat sudah mulai dirasakan warga kampung kami. Para kandidat pemangku negeri mulai rajin turun kemasyarakat berbagai dalih dipakai, mulai dari silaturhami hingga menabur bantuan.

Warga kampung yang mulai melek dan merasa suara mereka dibutuhkan oleh para kandidat tentu saja memanfaatkan momentum lima tahun sekali ini. Organisasi kemasyarakatan, majelis taklim, perkumpulan nelayan maupun ikatan pedagang, persatuan tukang. Mulai dari tukang ojek, tukang sampan, tukang batu, tukang catut dan tukang-tukangan. Bermunculan ibarat cendawan dimusim hujan yang pada umumnya meminta perhatian para calon Pemangku Negeri, dan Ujung-Ujungnya Duit alias UUD.

Sekitar enam bulan lalu, Jibun yang sedang memimpin rapat di partainya mendapat laporan dari anggotanya.”Dengaaa-denga, Puan Sri Mayang menjagokan putrinya, Girin Mayang untuk menggantikan posisinya sebagai Pemangku Negeri.”celoteh Wak Atan yang memang menjabat kepala mata-mata di partai pimpinan Jibun.

Mendengar laporan Wak Atan itu,  Jibun kaget, darah Jibun mendidih, mukanya langsung memerah dan memerintahkan anak buahnya mencari kebenaran celoteh Wak Atan tersebut. Belum lagi usai rapat digelar, tiba-tiba  Wak Atan mengeluarkan beberapa lembar surat dan foto  yang berisi kemunculan Girin Mayang dalam beberapa acara yang dilakukan Puan Sri Mayang.”Bawa kesini surat-surat  dan foto tu.”perintah Jibun pada Wak Atan yang ketakutan.

Dengan langkah sigap, Wak Atan segera menyerahkan data yang dikumpulkanya. Selembar demi selembar kertas berisi kegiatan Puan Sri Mayang didampingi putrinya Girin Mayang dipolototi Jibun. Braaaak…kumpulan kertas dari Wak Atan itu dibanting Jibun,  saking kerasnya bantingan itu., Meja kerja Jibun dikantor partainya hampir saja bekecai jadi dua.”Kurang ajar, pengkhianaaaaat.”teriak Jibun. Para pengurus partai dan anak buah Jibun hanya tertegun dan diam seribu bahasa, tidak ada satu orangpun yang berani buka suara. Keheningan melanda rapat partai yang sedianya akan membahas pencalonan Jibun menjadi Pemangku Negeri.

Dengan nafas masih tersengal menahan emosi, Jibun kemudian menutup rapat tersebut dan bergegas menuju mobilnya.”Keman pak ?,”tanya ajudan Jibun yang juga supir pribadinya.”Pulang.”teriak Jibun.

Bah…abah, bangun. Sayup-sayup terdengar suara Kiah menggema di telinga Jibun.”Sudah azan subuh bah, mari kita sholat bersama.”bisik Kiah membangunkan lakinya. Jibun tersentak bangun. Ooo..tadi aku mimpi rupanya, guman Jibun beringsut dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi.

Satu persatu pakaian yang lengket ditubuhnya dilepas, Jibun mandi. Usai mandi dan mengambil wudhu, Jibun mulai berkemas untuk melaksanakan sholat subuh bersama istrinya. Terasa ada ketenangan dan damai dihati Jibun usai menunaikan Sholat subuh bersama istri tercinta yang telah mendampinginya hampir 20 tahun lamanya.

Jibun berdoa agar dirinya diberi kekuatan, Rahmat dan kesabaran sehingga tidak salah dalam melangkah dan bertindak menghadapi pengkhiatan tersebut. Niat Jibun untuk membangun Kampung dengan menjadi Pemangku Negeri tak kendur. Rekan-rekan dan sanak saudaranya juga terus mendukungnya.”Jibun, awak mesti sabar dan tetap semangat. Kalau rejeki dan ada retak tangan, awak pasti jadi pemangku negeri.”hibur para sesepuh di partai Jibun.

Dalam hati, meskipun terasa sakit, Jibun berusaha tegar dan tetap menjalin silaturahmi dengan Puan Sri Mayang.”Jabatan itu hanyalah amanah, kalau memang saye dapat amanah dari warga kampung. Tentu saja akan saye jalankan amanah tersebut sebaiknyanya.”guman Jibun dalam hati.

Meskipun pilihan raya untuk posisi Pemangku Negeri masih hampir 8 bulan lagi, Jibun yang mendapat dukungan dari partai dan simpatisannya tetap rajin sosialisasi dan turun langsung kelapangan ketika warganya membutuhkannya.”Biarlah masyarakat yang menilai dan memilih siapa yang mereka anggap layak untuk memimpin kampung kite ni.”sebut Jibun pada ajudannya.

Menurut Jibun, masyarakat kampung  sudah cerdas dan melek, jadi mereka tahu siapa calon Pemangku Negeri yang telah berbuat dan terus berjuang untuk kepentingan mereka. Terhadap para calon pemangku negeri yang mengandalkan materi alias uang, Jibun berpesan pada warganya. Ambil uangnya, jangan pilih orangnya.

 

 

 

Sei Jang,  20 Oktober 2011

Ditulis Oleh Pada Sen 11 Feb 2013. Kategory Cerpen/Opini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek