| | 2.021 kali dibaca

DAHAN PATAH

Oleh H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP

Oleh : H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP

Pagi-pagi buta. Kokok ayam memecah langit. Warna putih perak matahari bercampur kuning keemasan menyibak kegelapan. Seorang laki-laki paruh baya berkumis tebal, berpeci putih durian dan berbaju koko putih bersih berpadu celana gelap, tergopoh-gopoh meninggalkan pintu belakang rumah mewah di sebuah perumahan elit. Tampaknya dia sangat terburu-buru. Tanpa menoleh kiri-kanan dia terus berjalan menuju sebuah kebun dengan beraneka tanaman. Sebuah kursi sudah disiapkan di bawah sebatang pohon nangka yang berdiri kokoh di sana. Seutas tali seukuran jempol kaki orang dewasa sudah siap digunakan menggelantung di sepotong dahan pohon itu.

Sesampai di kaki pohon, laki-laki itu berdiri sejenak, menatap kursi dan seutas tali. Kemudian dia menaiki kursi dan mengalungkan tali ke lehernya. Sejenak kemudian dia tampak termenung. Lalu dia berkeluh kesah, “Aku harus mengakhiri hidupku. Aku sudah tidak sanggup lagi melanjutkan hidup ini. Terlalu berat beban yang harus kupikul. Hutang sepuluh miliar kepada rentenir sungguh tak mampu kubayar. Uangnya sudah habis kugunakan untuk biaya kampanye pilkada bupati. Belum lagi hutang bukan dalam bentuk uang. Biaya pesan sepanduk, biaya iklan di TV dan radio. Semua belum kubayar. Apalagi hutang sembako di kedai Aceng dan Asiang yang sudah menumpuk sejak awal sosialisasi calon dulu. Ya, Allah. Bagaimana aku harus membayar semua itu? Sungguh tega penduduk di kota ini. Mereka munafik semua. Di depan mataku mereka siap memilihku menjadi bupati. Tapi, kenyataannya, sekarang aku harus menanggung beban kekalahan ini sendirian. Calon wakilku? Dia hanya numpang nama dan numpang selamat saja.”

Setelah menelan air liur beberapa kali dan mengusap wajahnya yang muram lagi suram, laki-laki yang kesehariannya dikenal dermawan itu kembali mengenang masa-masa awal saat dia hendak dicalonkan sebagai bupati.

“Pak Saddam, kami siap mendukung Bapak dalam pilkada tahun depan. Kami siap untuk berkorban apa saja untuk memenangkan Bapak dalam pilkada tersebut. Asal saja Bapak juga siap berkorban untuk rakyat, baik sebelum pilkada maupun usai pilkada,” ujar Sardiman, laki-laki sedikit lebih muda dari Saddam. Sardiman,  kesehariannya bekerja sebagai pengurus salah satu partai politik terbesar di Kabupaten Gulung-gulung, Provinsi Ombak Laut. Nama partainya, Partai Rakyat Berkuasa atau PRB. Menurut cerita, besarnya partai politik itu bukan karena visi dan misi yang diusungnya, tapi lebih karena sosok Saddam yang sangat disegani masyarakat. Di samping dermawan, Saddam juga dikenal sebagai dukun besar. Jarang orang di kota itu tidak kenal dengan sosok laki-laki beristeri dua bernama Saddam. Kalau tidak kenal Saddam karena uangnya yang entah datangnya dari mana, mereka pasti kenal Saddam karena dia berhasil mengobati sakit yang mereka derita dengan berbekal tiupan beberapa untai kalimat jampi ke segelas air putih. Saddam tidak menerima bayaran atas jasa pengobatan yang diberikannya. Dia hanya berharap mereka ingat dengan nama dan wajahnya ketika pilkada. Dan tentunya, karena itu,  mereka memilihnya sebagai bupati.

Saddam kemudian meluluskan keinginan pengurus teras partainya itu. Dia pun menyiapkan uang yang tidak sedikit. Sepuluh miliar uang tunai! Uang itu dipinjam dari beberapa rentenir dengan bunga yang berlipat-lipat. Uang itu digunakan untuk keperluan sosialisasi dirinya sebagai calon bupati ke beberapa daerah padat pemilih potensial. Daerah yang tidak padat pemilih potensial apalagi daerah yang sudah diduga menjadi pendukung fanatis calon bupati lainnya, dikunjungi kemudian atau tak dikunjungi sama sekali. Tempat-tempat yang dikunjungi juga dipilih, seperti masjid, mushala, gedung olah raga, gedung kesenian, pasar tradisional. Karena di sana, umumnya banyak masyarakat pemilih berkumpul. Sekolah menengah atas juga tidak luput mendapat kunjungan dari Saddam dan tim suksesnya, karena di sanalah tempat berkumpulnya para pemilih pemula.

Dalam sosialisasi itu, Saddam dan kroninya membagikan oleh-oleh yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat pemilih tempat yang dikunjungi. Untuk masjid, Saddam menyumbang uang untuk renovasi dan pemeliharaan serta kesejahteraan para petugas masjid. Demikian juga dengan mushala. Di gedung olah raga, Saddam menyumbang alat-alat olah raga dan uang pembinaan. Di gedung kesenian, Saddam menyumbang alat-alat kesenian dan juga uang pembinaan. Di pasar tradisional, dia menyumbang mesin es untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan. Di sekolah menengah atas, dia juga menyumbang alat-alat bantu pembelajaran berupa komputer,  laptop, infocus dan buku-buku bahan ajar. Di sana juga dia memberikan santunan kepada para siswa yang tidak mampu. Di sekolah juga, Saddam memberikan sumbangan baju seragam siswa dan baju dinas guru dan tata usaha.

Pada peringatan hari-hari besar Islam, Saddam sering mengundang para mubalig dan pemandu zikir dari ibu kota. Biaya yang besar untuk mendatangkan para mubalig dan pemandu zikir itu tidak menjadi masalah buat Saddam. Buat saja proposal. Berapa pun jumlah dana yang diminta pasti dikabulkan. Untuk para mubalig, sebelum tampil, mereka diberi pesan khusus oleh Saddam, agar lebih banyak memujinya dalam ceramah yang akan disampaikan. Untuk para pemandu zikir, Saddam juga berpesan agar memperbanyak zikir untuk melunakkan hati masyarakat supaya mereka berkenan memilihnya dalam pilkada. Jadilah para mubalig pesanan itu berceramah sesuai pesan sponsor. Jadilah pemandu zikir pesanan itu memandu zikir sesuai arahan sponsor. Ceramah hari besar Islam yang seharusnya dijadikan peluang untuk mencerdaskan emosi dan spiritualitas umat, justru dijadikan sebagai ajang kampanye. Zikir yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, justru dijadikan media untuk memberikan dukungan kekuatan spiritual untuk calon bupati. Salahkah?

Tidak! Begitu menurut Saddam. Media apa pun boleh digunakan untuk meraih simpati masyarakat pemilih. Apa pun bisa dilakukan demi meraih simpati mereka. Caranya? Tergantung situasi. Kepada para pemilih yang fanatisme agamanya tinggi, seorang calon bupati boleh menggunakan media-media agama untuk menarik dukungan dari mereka. Menurut Saddam, tidak ada ayat dan hadis yang secara terang-terangan melarang rumah ibadah dijadikan sebagai tempat kampanye. Baginya, boleh berkampanye di tempat ibadah, asal apa yang disampaikan para jurkam tidak berisi ajakan  kepada masyarakat untuk bermaksiat kepada Allah. Memangnya politik itu maksiat? Begitu Saddam menegaskan ketika ditanya salah seorang reporter media massa lokal.

Bagaimana cara menarik simpati masyarakat pemilih dari kalangan pekerja seks komersial? Oh, itu gampang. Begitu kata Saddam menjawab pertanyaan dari salah seorang tim suksesnya suatu ketika.

“Kita bilang saja sama mereka, kalau kita menang dalam pilkada, kita akan membangun tempat lokalisasi khusus untuk mereka. Saya yakin, strategi ini belum pernah terpikirkan oleh calon-calon yang lain. Lagi pula, kalau para pekerja seks komersial itu dilokalisasikan, mereka akan lebih tertib dalam bekerja. Mereka juga kan pekerja? Jadi mereka juga perlu dan harus mendapat perlindungan dari pemerintah atas pekerjaan yang mereka pilih.”

“Apa itu tidak berdosa, Pak?” tanya Sahlan, salah seorang tim suksesnya yang lain.

“Tahu apa kamu tentang dosa, Sahlan! Aku lebih tahu dari kamu. Kita kan tidak ikut-ikutan menikmati para pekerja seks itu. Kita hanya menertibkan mereka saja. Niat kita bukan bermaksiat, tapi membantu orang. Membantu mereka agar lebih aman bekerja dan membantu masyarakat agar tidak terganggu oleh aktivitas yang mereka lakukan. Membantu orang lain  kan wajib hukumnya. Paham kamu?!”

“Paham, Pak.”

“Bagus, kalau begitu!”

“Kamu sekalian perlu tahu!” ujar Saddam kepada para anggota tim suksesnya. “Daerah kita ini masih menjalankan low politic.”

“Apa itu, Pak?” tanya Sahlan lagi.

“Politik rendah. Ingat! Jangan salah sebut! Nanti ada yang tersinggung. Sekali lagi, politik rendah! Bukan politik rendahan!”

“Apa politik rendah itu, Pak?”

“Politik rendah itu adalah politik yang lebih mengedepankan kuantitas ketimbang kualitas. Asal jumlah suara sah pemilih untuk seorang calon  lebih besar daripada calon lain, dia pasti dinyatakan menang, bukan berdasarkan musyawarah untuk memilih siapa yang paling tepat menjadi pemimpin. Dalam politik rendah, tak penting yang dipilih itu bersekolah tinggi atau tidak, bermoral atau tidak, tahu politik dan administrasi pemerintahan atau tidak sama sekali. Yang penting dia mampu meraih suara terbanyak, dengan cara apa pun asal tidak melanggar ketentuan yang telah ditetapkan lembaga yang berwenang mengatur pilkada. Lalu, dalam politik rendah atau low politic itu, semua pemilih dihitung sama nilai suaranya. Mau presidenkah dia, gubernur, bupati, profesor, doktor, kiai, ustaz, dukun, nelayan, petani, pekerja seks komersial, perampok, pembunuh, pemerkosa. Semuanya berhak memilih dengan nilai suara one man one vote, satu orang satu suara. Jadi, dalam berkampanye, kita tidak boleh hanya berfokus kepada satu kelompok masyarakat pemilih saja. Kita harus berusaha meraih simpati semua kalangan. Paham kamu!?”

“Paham, Pak. Oh ya, Pak. Bagaimana cara kita meraih simpati pemilih yang berlatar belakang pertanian? Sepertinya Bapak belum punya program untuk mereka.”

“Sudah. Saya sudah punya program untuk mereka. Terealisasi atau tidak, itu lain persoalan. Yang penting sekarang, kita sampaikan program itu untuk meraih dukungan mereka dalam pilkada saja. Kita sudah punya program kredit usaha tani. Kita akan berikan mereka pinjaman tanpa bunga sama sekali. Mereka hanya wajib mengembalikan uang yang mereka pinjam itu dengan jumlah yang sama seperti saat mereka pinjam begitu mereka sudah mampu. Bagus kan?”

“Bagus sekali, Pak!”

“Lalu kita akan tawarkan juga program bibit tanaman gratis. Bibit karet gratis, bibit cengkeh gratis. Bibit jagung gratis. Pokoknya semuanya gratis.”

“Wah, itu lebih bagus, Pak! Saya yakin, kalau ini yang kita kampanyekan kepada para pemilih potensial di kabupaten ini, Bapak pasti akan terpilih sebagai bupati untuk periode lima tahun berikutnya. Betul kan, Pak?”

“Betul sekali! Kamu memang pintar, Sahlan! Tidak salah saya memilih kamu  menjadi salah satu tim sukses inti saya. Kalau saya menang dan dilantik jadi bupati nanti, saya akan hadiahkan kamu sebuah mobil Terios dan sebuah rumah di kawasan mewah yang akan saya bangun bersama kontraktor dari ibu kota.”

“Benar begitu, Pak? Saya khawatir itu cuma janji kosong belaka.”

“Benar! Masa kamu tidak percaya sama saya?!”

“Terima kasih, Pak, kalau memang bakal jadi kenyataan. Isteri saya pasti senang mendengarnya.”

“Sama-sama.”

“Andaikata Bapak terpilih nanti, bagaimana program Bapak untuk mensejahterakan para guru?” tanya Sahlan lagi. “Guru pemilih potensial yang cukup menentukan kemenangan Bapak lho.”

“Untuk pahlawan tanpa tanda jasa itu, saya sudah membuat program yang akan saya sampaikan dalam pertemuan Forum Guru Kabupaten Gulung-gulung hari Senin depan. Kalau saya terpilih jadi bupati, saya akan memberikan tambahan pendapatan kepada guru.”

“Dalam bentuk apa?”

“Dalam bentuk tunjangan berdasarkan tempat kerja, tunjangan transportasi, tunjangan lauk-pauk. Tunjangan berdasarkan tempat kerja didasarkan pada seberapa jauh tempat kerja mereka dari pusat kota kabupaten. Besar kecil tunjangan transportasi dihitung berdasarkan jenis kendaraan yang mereka gunakan dan tumpangi menuju tempat kerja dan jenis bahan bakar kendaraan yang mereka gunakan. Tunjangan lauk-pauk dihitung berdasarkan jenis lauk-pauk yang mereka makan dan takaran rata-rata lauk-pauk yang dihabiskan setiap guru dan keluarganya dalam setiap bulannya. Di samping itu, saya akan berikan tambahan gaji berupa gaji keempat belas, lima belas, enam belas dan tujuh belas. Bagaimana menurut kamu?”

“Wow! Luar biasa, Pak! Saya sampai tidak habis pikir bagaimana cara menghitung tunjangan transportasi berdasarkan jenis kendaraan dan jenis bahan bakar kendaraan. Saya juga bingung menentukan besaran tunjangan lauk-pauk jika didasarkan pada jenis lauk-pauk dan takaran masing-masing guru dan keluarganya.”

“Kamu tenang saja, Sahlan. Itu bukan tugas kamu. Kamu cukup mengantarkan saya jadi bupati saja. Saat saya jadi bupati, sudah ada kepala dinas pendidikan yang akan mengurusnya.”

“Bagaimana dengan gaji empat belas, lima belas, enam belas dan tujuh belas yang Bapak bilang tadi? Apa ada payung hukumnya?”

“Sedang saya kaji payung hukumnya. Kalau memang tidak ada, ya kita bikin payung hukum sendiri. Bikin payung saja kok repot! Dan…”

“Dan apa, Pak?”

“Saya akan berikan tanda jasa kepada para guru seperti yang diberikan kepada para  pahlawan pejuang kemerdekaan. Biar guru tak lagi disebut pahlawan tanpa tanda jasa.”

“Mantap, Pak. Saya setuju!”

Usai bincang-bincang dengan Sahlan di kediamannya yang mewah hari itu, Saddam kembali menyibukkan diri untuk mensosialisasikan program-programnya kepada masyarakat Kabupaten Gulung-gulung. Seperti tak kenal lelah, setiap hari dia membanting tulang dan memeras otak untuk meraih simpati masyarakat. Pada sisi lain, di luar sana,  saingannya sesama calon bupati dari Partai Rakyat Sejahtera (PRS) juga tidak kalah gencarnya mengkampanyekan program-program terpilihnya. Belum lagi, calon bupati yang sedang menjabat, yang didukung oleh dua partai kecil tapi cukup berpengaruh, Partai Cinta Sejahtera (PCS) dan Partai Suka Kaya (PSK), juga sedang gencar-gencarnya berkampanye membagikan sembako, minyak tanah, mesin diesel, organ tunggal, jaring ikan, bibit tanaman, sepeda motor untuk beberapa pemilih fanatis. Pemilih potensial, oleh calon yang satu ini tidak begitu dipedulikan.

Saddam tidak sedikitpun gentar atas gencarnya kampanye para pesaingnya itu. Karena dia merasa punya program yang lebih riil dan meyakinkan pemilih ketimbang para calon pesaingnya. Menurut Saddam, kedua pesaingnya itu hanya mengandalkan janji-janji manis dan sekedar bagi-bagi secuil rezeki kepada pemilih yang sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan uang rakyat yang sudah sekian banyak dikeruk selama keduanya menjabat. Kebetulan calon dari Partai Rakyat Sejahtera itu adalah wakil dari bupati yang menjabat. Saddam tahu betul, kedua calon itu sudah banyak sekali membuat rakyat susah. APBD yang sudah disetujui DPRD, banyak yang tidak terealisasi sebagaimana mestinya. Banyak kebobolan di mana-mana. Uang rakyat seringkali dihambur-hamburkan untuk mendatangkan artis seksi dari ibu kota. Tidak pernah ada program riil yang dibuat kedua calon pesaingnya itu untuk mensejahterakan rakyat. Slogan rakyat harus sejahtera yang mereka usung saat kampanye lima tahun lalu tertinggal di atas panggung-panggung kampanye. Mana mungkin calon-calon seperti ini akan dipilih rakyat? Begitu pikir Saddam.

Pemikiran Saddam yang kritis ini diiyakan oleh beberapa aktifis politik daerah yang juga  satu ide dan sepemikiran dengannya. Para aktifis itulah yang kemudian bergabung menjadi tim sukses Saddam.

Ya, itu terjadi sudah beberapa bulan lalu. Saddam masih ingat dengan jelas, betapa mereka begitu antusias mendengar visi dan misi yang disampaikannya. Masyarakat yang mendengarkan Saddam berpidato di setiap forum kampanye terbuka pun mengelu-elukannya. Mereka memberikan tepuk tangan yang meriah kepada Saddam. Mereka meneriakkan yel-yel, “Hidup Saddam! Hidup Saddam!” Yel-yel itu disambut Saddam dengan yel-yel, “Pilih Saddam! Pilih Saddam! Saddam akan membawa Kabupaten Gulung-gulung ini menuju kabupaten yang lebih sejahtera, beradab dan berilmu pengetahuan! Pilih Saddam! Pilih Saddam!”

Teriakan-teriakan itu masih terngiang-ngiang di telinga Saddam. Wajah-wajah bersemangat itu masih terbayang dengan jelas di benak Saddam. Wajah mereka yang tertawa gembira menyambut dirinya berorasi politik, wajah mereka yang tersenyum menyambutnya hadir di forum-forum pertemuan keagamaan, olah raga, kesenian, kesehatan, ekonomi dan hukum. Wajah-wajah mereka yang tertawa renyah saat mereka datang ke rumahnya untuk meminta sumbangan. Yah, semuanya kini tinggal kenangan.

Saddam tidak lagi berdiri di atas mimbar kampanye, apalagi di mimbar inspektur upacara tujuh belasan yang sejak lama diimpi-impikannya. Kini Saddam sedang berdiri di atas kursi dengan seutas tali seukuran jempol kaki orang dewasa yang melilit di leher. Dia sedang menunggu nasib. Dia sedang menunggu kedua isterinya datang menghalangi untuk bunuh diri. Tapi, yang ditunggu-tunggunya tak kunjung datang. Jangankan isteri muda, isteri tua pun tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Saddam jadi teringat dengan sebuah kisah. Kisah seorang laki-laki beristeri empat yang suatu ketika dikabarkan akan dijemput malaikat untuk menghadap Allah. Dia diminta untuk membawa serta orang yang paling disayanginya. Orang itu pun segera menemui isteri keempat, karena dialah isteri yang paling disayanginya. Ketika diajak untuk menghadap Allah, isteri keempat malah menolak dengan kasar, “Mau mati kok ngajak-ngajak. Sana! Matilah sendiri!”

Karena kecewa, orang itu datang menemui isteri ketiganya. Ketika diajak menghadap Allah, isteri ketiganya pun menolak tapi dengan sedikit lembut, “Aku hanya bisa menemanimu sampai halaman rumah.” Mendengar penolakan isteri ketiganya, orang itu pun semakin kecewa. Lalu dia menemui isteri keduanya yang juga menolak diajak mati. “Aku hanya bisa menemanimu hingga ke pekuburan,” jawab isteri keduanya menolak. Karena ditolak isteri keduanya, dia kemudian menemui isteri pertamanya. Isteri pertamanya menjawab, “Aku siap menemanimu di manapun dan kapanpun, sayang.”

Saddam merasa bangga dengan isteri pertama laki-laki dalam kisah itu. Dia siap menemani suaminya ke manapun dia pergi, bahkan pergi untuk menghadap Allah.

“Alangkah bahagianya, seandainya aku memiliki isteri yang setia seperti itu.   Bagaimana dengan isteriku sekarang? Sampai detik ini, saat aku sudah berada di tali gantungan sekalipun mereka tidak menampakkan batang hidungnya. Rupanya mereka hanya mencintaiku saat aku berharta dan berpengaruh. Mereka menganggapku tiada, saatku tak punya apa-apa. Sungguh terlalu!” keluh Saddam.

“Lalu, bagaimana tim sukses yang selama ini menjilat-jilatku hingga seluruh badanku basah karena air liur mereka? Ke mana mereka? Sudah berbalik arahkah mereka? Mendukung calon bupati yang kini menjadi pemenang? Sungguh menyedihkan nasibku. Ditinggal kabur isteri. Ditinggal teman-teman. Ah, lebih baik aku mati saja,” ratap Saddam menyesali nasib. “Lebih baik aku mati daripada aku gila menanggung semua ini. Hidup diburu-buru hutang, ditinggal isteri. Yah, lebih baik aku mati! Lebih baik aku mati!! Lebih baik aku mati!!! Lebih baik aku maaaaaaa….. tiiiiiiiiiii……!!!!”

Lalu Saddam menendang kursi itu. Kursi pun tumbang langgang. Seutas tali menggantung di dahan nangka itu pun melilit leher Saddam sekeras-kerasnya. Saddam tercekik. Saddam menjerit tapi suaranya tak keluar. Badannya menggelinjang menahan siksaan seutas tali. Lidahnya sesekali menjulur keluar.

Tiba-tiba…. Krrrakkk… Dahan patah.

Bummm…. Ada sesuatu yang jatuh ke tanah.

Dan, Saddam pun terguling-guling.

*H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP, adalah Narasumber Dialog Interaktif Agama Islam (LIVE) Indahnya Pagi TVRI Nasional, Penceramah Damai Indonesiaku TVOne, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Imam Besar Masjid Agung Natuna dan Widyaiswara Muda pada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau.

Ditulis Oleh Pada Sen 17 Nov 2014. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda