; charset=UTF-8" /> CINTAKU DI RUANG HAMPA - | ';

| | 160 kali dibaca

CINTAKU DI RUANG HAMPA


OLEH : IWAN KURNIAWAN

Jatuh bangun perjalananku yang lebih dari setengah abad dalam mengikuti jejak kehidupan masih saja tak menemukan cahaya sinar cinta. Semuanya masih terasa hampa, hambar, tak bermakna. Pedih pilu kurasa dalam balutan suka citapun terasa semu. Pahit, manis, asin, dan manis terkadang tak lagi kurasa karena ke-keluan lidah yang selalu berkata tak berguna dan sia-sia.
Aaahhhh….selalu kusadari….aku hanya manusia biasa, yang tak luput dari segala silaf dan salah. Namun jiwa ini selalu saja berontak karena kevakuman otak yang tak berdaya.
Daging dan tulang pembalut tubuh dari hari kehari semakin layu tidak sesegar usia mudaku dulu. Wajah dan tampangku juga tak lagi mempesona diiiringi berkurangnya energy sehingga kedinamisan gerak menjadi lamban. Kesemua kondisi itu menjadikan diriku semakin menderita dan jauh dari kata bahagia.
Derita itu bukan karena kelaparan dan dahaga, tak juga karena pengaruh kekuasaan maupun kesuksesan belaka, dan tidak jua karena keutuhan rumah tangga yang telah terbina. Semua itu sudah kuraih meskipun tidak seperti mereka yang jauh berlebih jika wajah ini mendongak ke atas dan ketika kulihat ke bawah masih terlalu banyak saudara-saudaraku yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan dunia.
Apakah ini harus dimaknai sebagai cobaan hidup di alam fana ?
Di kiri kanan, muka belakang dan sekeliling diriku sudah tak kutemukan lagi mereka para sahabat, apakan lagi orang tua. Bahkan anak dan adik-adikku juga sudah tiada menuju ke alam baqa.
Inikah dunia, yang katanya hanya tempat persinggahan sementara?
Semuanya pasti dah tau akan kata-kataku itu. Namun mengapa tak juga sadar dan kembali pada-Nya, untuk bersujud syukur atas segala kesempatan yang masih tersedia. Bahkan aku masih saja terus mencari cinta diruang yang hampa.
Mencari cinta diruang hampa tentunya akan sia-sia. Samalah seperti cinta buta, kata orang-orang tua kita.
Cinta buta, cinta hampa itulah yang menjadi Dewa kita, ketika dunia sudah tak lagi terkota karena dah tertata oleh mereka yang berkeinginan menguasainya. Dengan kekuasaan, pengaruh, dan ketinggian ilmu pengetahuan, mereka menjelma menjadi Dewa.
Oooohhhhh……tanpa disadari aku juga sudah menjadi pengikutnya dan jatuh cinta pada mereka, para Dewa-Dewi yang menuntun diriku untuk cinta kekuasaan, cinta kekayaan, dan cinta syahwat yang kesemuanya itu hanya cinta buta dan sementara.
Mereka memang Dewa, Dewa yang membuat manusia menjadi lupa sehingga aku dan mereka jatuh cinta sehingga dibuat mabuk kepayang olehnya.
Semua rasio dan logika lenyap dari akal pikiran kita. Kesucian hati sejati menjadi sirna tertutup oleh selimut tebal keangkuhan, kesombongan, dan kerakusan. Kesemuanya itu karena kita sudah jatuh cinta kepadanya bahkan telah menjadi budak mereka, para Dewa-dewa.
Aku tak lagi mengingat akan kematian diambang mata dan berakhirnya dunia yang fana sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya.
Oooohhhh…..Tuhan,
Mengapa aku masih mencari cinta diruang yang hampa
Mengapa aku masih mengejar cinta dunia….
Mencintai para Dewa-Dewi-ku semua…..
Celakalah diri ini, belum mengenal sesungguhnya akan aku, ….. apalagi mengenal diri-Mu
Ooohhh…..Tuhan,
Aku masih menghambakan diri pada kekuasaan, kekayaan, dan wanita penggoda, bahkan ada dari mereka yang menjalin asmara cinta dengan sesama….
Langkah kakiku belum menuju ke Bait-Mu…..
Mataku masih suka melihat kemolekan wajah dan tubuh seksi si-cantik Afrodit….
Telingaku masih gemar mendengar rayuan genit sang penggoda Medosa…
Mulutku masih bicara dan melahab seluruh kenajisan dari kerakusan Chronos….
Hidungku masih senang mencium aroma busuk sebusuk bunga bangkai raflesia….
Kesombongan, keangkuhan, dan keserakahan-ku tak jauh berbeda seperti Zeus dan Hera…..
Sementara ku-tau semuanya itu hanyalah mitos belaka…..cerita Dewa dizaman dahulu kala.
Tetapi….mengapa harus ku-ikuti mereka….yang hidup diruang hampa….ruang tak bernyawa…..hanya rangkaian cerita legenda.
Kembalilah aku pada perjalanan hidup yang lebih dari setengah abad mencari cinta sejati dan abadi. Di ruang dan waktu kuhidup saat ini, tidaklah seperti 30 apalagi 50 tahun yang lalu. Di saat itu curahan cinta dituliskan melalui sebuah pena di atas selembar kertas putih dan atau sebuah titipan salam melalui sahabat dekat dengan rasa takut dan malu jika gayung tak bersambut alias cinta ditolak…….”dukunpun bertindak”…..kwek-kwek….kwek….
Begitu juga dengan janji bertemu disuatu tempat dibuat melalui surat dan titipan kilat melalui teman dekat. Sangat jauh berbeda ketika ini. Janji bertemu cukup melalui media telepon genggam (HP) bahkan bisa langsung bertatap muka sehingga pertemuan yang jauh terasa dekat. Bahkan lebih jauh dari itu dapat pula mempertontonkan aurat diantara keduanya dalam berbuat maksiat.
Di sinilah bedanya cinta dulu dan sekarang. Teknologi telah memudahkan manusia untuk berkomunikasi dan bersua muka, namun disisi lain dapat menggusur nilai-nilai suci yang berada dilubuk hati. Moralitas dan religi tak lagi menjadi pedoman dalam mejaga jati diri. Nafsu syahwat sangat mudah diumbar, karena aurat mudah dilihat, hingga maksiat mudah didapat.
Oooohhhh….Tuhan,
Sesungguhnya aku tau….
Kemajuan pengetahuan dan teknologi itu atas kehendak-Mu
Dan sesungguhnya aku tau…..
Engkaulah Yang Maha menguasai pengetahuan
Semestinya kemajuan pengetahuan dan teknologi ini menjadikanku semakin dekat dengan-Mu. Engkau sudah memberikan tanda-tanda kebesaran-Mu kepada diriku : “Dari yang jauh menjadi dekat, dari tak nampak jadi terlihat, dari tiada menjadi ada, dan dari yang ada menjadi tiada”.
Ooohhh…..Tuhan,
Mengapa aku harus mencari-Mu,
Sedangkan Engkau dekat,
Mengapa aku harus bercinta diruang yang hampa,
Sedangkan ruang-Mu nyata,
Senyata janji-Mu padaku.

Kijanglama-TPI,290522, selamat membaca, “Salam Cinta Suci Abadi”.

Ditulis Oleh Pada Ming 29 Mei 2022. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek