; charset=UTF-8" /> CINTA BUTA, PENGHIANATAN, DAN PENDERITAAN - | ';

| | 393 kali dibaca

CINTA BUTA, PENGHIANATAN, DAN PENDERITAAN

 

OLEH : IWAN KURNIAWAN

Party, Dalam sebuah ruang istana megah nan mewah, dengan suasana romantis-erotis, disinari gemerlap bola lampu kristal, bercampur kabut asap cerutu Cuba, terdengar sayup alunan music klasik mengiring mereka berdansa dengan para wanita muda cantik jelita, bergaun malam terusan sutera, yang mempertontonkan lekak-lekuk tubuh dan buah dada yang aduhai sayang….. sungguh memikat dan menggoda jiwa.

Dentingan khas, gelas kaca kristal berisikan cairan anggur murni kelas dunia saling beradu, menambah suasana pertemuan para cukong malam itu semakin eksklusif dan membuat mereka terus terhanyut semakin dalam menuju lembah kegelapan dan kemaksiatan.

Acara party serupa, sudah menjadi agenda rutin mereka, dalam suasana itulah para cukong menyusun berbagai macam agenda kehidupan menurut versi, kebutuhan, dan kepentingannya, dalam merangkul sebanyak-banyaknya kenikmatan dunia termasuk mendekap para wanita penggoda dalam pelukan hangat sebagai penyempurnaan ritual nafsu duniawinya yang sungguh nista.
Mereka anak-anak manusia yang telah dilimpahkan berbagai macam kenikmatan, mereka bukan manusia papa kedana, mereka khalifah menurut kodratnya, ada yang diamanahkan sebagai pemimpin bangsa, para penguasa dan pengusaha, para profesional dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, para pemimpin kelompok masyarakat, agama, budaya, pemuda, dan sebagainya-sebagainya.

Namun kenikmatan yang telah dirangkulnya, belumlah cukup. Dalam setiap denyut nadi jantung dan dalam kepala otak besar-nya, mereka terus mengejar nafsu duniawi untuk terus menerus berkuasa, bahkan bila perlu seluruh dunia takluk di bawah ketiak busuknya, sebagai penguasa alam jagat raya, selayaknya seperti kisah para Fir’aun dan Karun dimasa bahuela. Begitulah impian besar mereka yang tak habis-habisnya, mungkin sampai ke akhir masa.
Kehidupan dunia yang mereka tau hanya sementara dan tidak abadi sengaja dilupakan, sehingga mereka tidak ingat akan kematian dan hari pembalasan. Per-Setan dengan kematian dan pembalasan, itulah moto hidup-nya. Yaaachhhh…..karena mereka pengikut-nya, pengikut para penyembah iblis ….. sang Raja Neraka, yang sudah dilakhnat oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Don Juan dan Korban Cinta Buta
Dengan diiringi 6 orang bodyguard berbadan macho dan berperawakan sangar, Papa Sam disambut para sahabat baiknya yang terlebih dahulu hadir dalam acara party malam ini. Tidak hanya didampingi oleh para bodyguard, tapi kali ini Papa Sam ditemani juga 2 orang wanita jelita asal dua Negara berbeda, yang dapat ditandai dari warna kulit putih, rambut pirang dengan bola mata biru dan satunya berkulit kuning, berambut hitam lurus, bermata sipit. Siapakah gerangan mereka ? Carilah sendiri jawabannya…..!

Berbicara koleksi wanita cantik dunia, kehebatan Papa Sam tidak perlu diragukan. Dengan kekuasaan, relasi dan kekayaan yang dimiliki, seluruh wanita dari manca Negara menjadi teman hidupnya. Sebagai penguasa dunia, acara party malam ini dibuat dengan agenda pengembangan pengaruh kekuasaan dengan mempersunting dara cantik jelita dari kerajaan Ukra, yang memang tersohor kejelitaannya seantero dunia, namun sayangnya terlalu cepat bertekuk lutut di bawah mata kaki sang Doju penakluk wanita.
Terjadi pro kontra dalam istana Ukra, sebagian besar keluarganya telah melarang agar sang putri menolak tawaran dari Papa Sam, dan sebagian lagi malah mendukung sang Putri menerima lamaran dari Si Don Juan tersebut.

Pihak pelarang berdalil bahwa Papa Sam hanya bermaksud ingin menguasai istana Ukra melalui agenda perkawinan bukan karena kecintaannya yang tulus kepada sang Putri. Sedangkan pihak pendukung berdalil, saat inilah moment yang tepat untuk menumpang pengaruh kekuasaan duniawi dari Sang Doju, sekaligus mendapatkan suaka darinya.
Di sisi lain, yang sangat dikuatirkan oleh pihak pelarang, apabila sang Putri bersedia dinikahkan dengan Sang Doju, maka hubungan persahabatan dan kekeluargaan yang baik selama ini dengan Negeri tetangga pasti akan menjadi rusak, sebab sang Putri sejak kecil sudah dijodohkan dengan Tok Uten kaisar dari Negeri Sempadan dan masih pula terkait hubungan kekerabatan dengan mereka.

Celakanya, setelah dewasa dan mengenal luasnya dunia karena menimba pengetahuan di negeri papa Sam, sang Putri dewasa jatuh cinta bahkan sedang dilanda mabuk asmara dengan Sang Doju yang memang handal menaklukkan wanita. Bahkan sang putri telah pula merasakan kehangatan asmara sang Doju yang maha dahsyat sehingga membuatnya klepak-klepek, siang-malam selalu ingin disamping dan berada dalam pelukan hangatnya.
Waah…..waah….waah,….kasian si putri lugu, terkena ajian pellet Perasuk Sukma dan terminum cairan pengganggu jiwa dari sang Doju. Weleh…weleh….Jo…..Jo….lue emang perusak wanite dan dunie.
Marah dan Kecewa
Seketika raut wajahnya berubah menjadi merah padam, bola mata hijaunya menatap jalang dan liar ke seluruh sisi ruangan, terdengar gemerutuk gigi beradu dari dalam rongga bibir yang terkatub rapat, dan kedua lengan kekar seketika menjadi tegang sekaligus membentuk genggaman tinju jemarinya yang besar dan keras, lalu …… tanpa diduga tinju kanannya menghantam permukaan meja kabinetnya…..seraya menimbulkan suara …….. braaaakkkkkkk….. tiba-tiba suasana menjadi hening, dan masing-masing orang dekatnya terdiam seribu bahasa, berdiri kaku seperti jejeran manusia yang baru terkena kutukan menjadi patung-patung batu nan bisu.

Tok Uten marah dan tersinggung berat ketika mendengar khabar, putri Ukra mau dilamar oleh sang Doju. Kemarahannya semakin memuncak setelah mengetahui sang Putri telah pula jatuh cinta dan kebelet minta dikawinkan….cooiii.
Dengan pengalaman hidup yang lebih dari setengah abad, Tok Uten mengetahui watak asli sang Putri yang dikenalnya sangat baik, cerdas, sopan dan santun. Tak mungkin rasanya sang Putri tiba-tiba berubah drastis seperti wanita jalang, kecuali terkena ajian pellet Perasuk Sukma dan terminum cairan pengganggu jiwa, suguhan Sang Doju. Itulah keyakinan Tok Uten atas perubahan sikap yang dialami oleh sang Putri, yang tiba-tiba berubah 180 derajat dari sifat aslinya.
Itulah yang membuatnya marah besar, sebenarnya dia tidak terlalu kecewa dengan sang Putri, namun yang ia sesali, mengapa “Raja Ukra membiarkan sang Putri menimba ilmu ke negeri Papa Sam”?, negeri antah berantah penganut demokrasi dan liberalis, yang menghalalkan semua cara demi meraih kenikmatan dunia, termasuk meraih nafsu materialis dan seksual, dan kesemuanya boleh, asal mau menawar, “berani piro Mas ?”.
Saking marah dan kecewanya, tanpa berpikir panjang, Tok Uten segera memerintahkan para bodyguard dan kaki tangannya, untuk bertemu langsung dengan Raja Ukra, namun sayangnya sang Raja menolak tawaran yang diinginkan, bahkan, sang putri yang memang sedang dilanda mabuk kepayang akibat cinta butanya dengan Sang Doju ikut-ikutan pula menolak niat baik Tok Uten.
Oleh karena pinangannya ditolak, tanpa pikir panjang, istana Ukrapun diserang oleh para bodyguard dan pengikut setia Tok Uten dengan maksud ingin menculik sang Putri.

Namun, tanpa diduga, rupanya Raja Ukra sudah mempersiapkan situasi genting yang akan terjadi. Penyerangan yang dilakukan itu diladeni oleh para pengawal sang Raja, dan singkat cerita terjadilah perang tanding antara kerajaan Ukra dengan para bodyguard Tok Uten berhari-hari lamanya, bahkan sampai hari ini menurut khabar berita dari seberang perang tanding itu masih terus berlanjut sampai sekarang. Kapan berakhir, hanya mereka berdualan yang tau.
Celakanya, apa yang dijanjikan oleh Sang Doju kepada Raja Ukra, tidak direalisasikan dengan maksimal, bahkan Sang Doju dengan teman-teman cukongnya malah menonton dari jauh pertikaian antara Ukra dan Tok Uten. Permintaan sang Raja agar Sang Doju membantu dalam pertikaian, ditolaknya secara halus dan hanya bersedia memberikan berbagai kelengkapan beradu tanding saja, hitung-hitung mereka sedang menikmati hiburan laga tanding seperti dalam cerita Romawi Kuno yang sangat terkenal “GLADIATOR”.

Iihhh…..amit-amit, ingin turun ke medan laga yang mengancam keselamatan dirinya, maka dengan akal bulusnya, Sang Doju-pun bersedia membantu sang Raja dan putrinya untuk keluar dari negeri Ukra. Tentu tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh sang Raja termasuk putrinya tersebut. Jika sang Raja dan putrinya mau, maka pepatah yang mengatakan, “Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau”, sangat tepatlah buat mereka.
Akibat laga tanding yang berlarut-larut tersebut, banyaklah korban jatuh berguguran, bahkan istana, rumah-rumah penduduk, jalan-jalan, jembatan, pelabuhan laut, bandar udara, taman-taman, pusat pendidikan, pasar, gedung perkantoran, habis semua terbakar dan rata dengan tanah.
Sang Raja dan putri merasa dipecundangi dan dikhianati oleh Sang Doju, harapan mereka yang semula begitu tinggi agar Sang Doju dapat menjadi pelindungnya menjadi sirna seketika. Namun disisi lain mereka sudah terlanjur berbaku hantam satu sama lainnya dan telah pula menimbulkan jatuhnya korban manusia dan harta benda yang sangat banyak. Begitulah nasib, ibarat “Nasi telah menjadi bubur”.

Hanya ada satu harapan yang dapat menghentikan pertikaian yaitu sang Putri bersedia menerima lamaran Tok Uten dan berjanji untuk tidak berhubungan kembali dengan Sang Kaisar Doju. Sebaliknya Tok Uten harus ikhlas menerima apa adanya kondisi sang Putri yang sudah tidak perawan akibat terpedaya dengan ajian pellet Perasuk Sukma dan terminum cairan pemabuk jiwa. Keduanya harus bisa saling menerima apa adanya demi Cinta Sejati bukan Cinta Buta, Pembawa Sengsara.

Kijanglama-Tpi, 13-3-2022, selamat membaca “Salam Cinta Sejati”, berdamailah untuk dunia.

Ditulis Oleh Pada Sen 14 Mar 2022. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek