; charset=UTF-8" /> ABANG NGAMOK, ADEK DIBANTAI, DUNIAPUN GONCANG, PERDAMAIAN DIHARAPKAN - | ';

| | 302 kali dibaca

ABANG NGAMOK, ADEK DIBANTAI, DUNIAPUN GONCANG, PERDAMAIAN DIHARAPKAN


OLEH : IWAN KURNIAWAN

Ulah si-Encep, Keluarga Besarpun Tercerai Berai
Alkisah, tersebutlah cerita, pada masa dahulu kala, pasca meledaknya peristiwa perang besar pertama 1914-1918, hiduplah satu keluarga dalam sebuah istana megah nan mewah, bersama dengan 15 (limabelas) orang adek-beradik dengan aman, damai, tentram, sejahtera dan bahagia dalam kurun waktu sekian ratus tahun lamanya. Mereka hidup rukun satu sama lain dan saling bantu-membantu, selayaknya hidup dalam sebuah keluarga besar yang harmonis dan dihormati pula oleh warga dan bangsa lainnya. Keharmonisan dan kenyamanan hidup keluarga besar itu berkat kekuatan dan kewibawaan para pemimpinnya dari masa ke masa, yang sudah terkenal se-antero Nagari. Namun seketika kerukunan keluarga besar yang sudah bertahun-tahun dibina itu menjadi tercerai berai, dengan bergantinya pemimpin baru yang mengabaikan nilai-nilai tradisi dan kebudayaan para leluhur mereka.
Syahdan, kiranya pemimpin baru itu alam pikirnya sudah dirasuki pengaruh kebudayaan asing yang katanya lebih baik, lebih maju, dan demokratis. Pemimpin baru itu popular dengan panggilan Encep. Menurut bual-bual kedai kopi, si-Encep katanya seorang ahli politik, ahli strategi, ahli hukum, dan ahli dari segala ahli lainnya sehingga rambutnyapun rontok menjadi botak licin selicin pantat kuali yang baru dibeli. Adapun keahlian tertinggi yang dimiliki si-Encep yaitu membuat keluarga besar yang awalnya hidup rukun dan damai menjadi tercerai berai, lalu berpisah meninggalkan istana besar mereka.
Dengan kepandaiannya berorasi, berpolitik dan berdemokrasi, si-Encep mengusung ide pembaharuan, keterbukaan dan keteraturan. Menurut Encep, kebijakan dari pendahulunya itu sudah terlalu kolot, tertutup, dan tak teratur, makanya sudah saatnya harus diubah, “itulah banyolan yang selalu di-koarkan olehnya dengan para pembantu dan pendukungnya, termasuk kepada seluruh warganya”. Pola pikir pembaharuan yang diusungnya itu, tentu disambut baik oleh dunia luar dan tokoh-tokoh dunia lainnya yang konon ceritanya lebih terbuka dan demokratis itu. Entahkan iya, entahpun tidak, siapapun tak ada yang tau.
Sikap Encep yang lebih terbuka dengan dunia asing, sudah pasti mengundang orang luar untuk masuk ke dalam istana dan keluarga besar tersebut. Singkat cerita, setelah mengetahui isi dan seluk beluk istana dan keinginan dari masing-masing melihat keharmonisan keluarga besar ternama itu, mulai memperkenalkan permainan petak umpet dan lempar batu sembunyi tangan, sehingga keharmonisan ke-15 orang adik beradik itupun terganggu dan menggoyahkan prinsip-prinsip kebersamaan yang telah diajarkan oleh pewaris mereka.
Akhirnya, ulah provokasi yang dimainkan oleh orang asing itupun menghasilkan kemenangan besar. Sementara si-Encep terus mendapat sanjungan dan penghormatan sebagai tokoh besar dunia yang paling demokratis, sehingga diapun mendapat penghargaan internasional yang sangat eksklusif berupa hadiah novella.
Tingkah laku si-Encep yang kemaruk dengan pujian dan sanjungan dunia antah berantah itu, dimanfaatkan pula oleh adik beradiknya yang lain, yang sudah termakan provokasi, sehingga membuat mereka berontak dan tidak mau lagi tinggal bersama dalam sebuah istana besar. Mereka semua ingin hidup mandiri berpisah dari istana yang selama ini menjadi tempat mereka berkumpul bersama dalam suka maupun duka.
Hari berganti dan musimpun berlalu, se-iring jatuhnya kewibawaan Encep di mata adik beradik dan dunia asing yang dahulunya selalu memuja-muji dirinya bak seorang Dewa, Encep-pun merasa bersalah disertai dengan tekanan, umpatan dan makian dari semua pihak, akhirnya mengundurkan diri sebagai pemimpin Nagari. Sementara adik-beradiknya yang lain terlanjur telah kabur dari istana besar dan masing-masing hidup mandiri mendirikan istana-istana baru di wilayah kediamannya. Sementara, disudut ruangan istana megah itu, tinggallah abang tertua seorang diri merenungi nasibnya yang malang. Kemudian, seiring berjalannya waktu, iapun bangkit kembali dan terus berbenah diri menjalani peradaban baru warisan dari si-Encep yang sudah berantakan.
Lahirnya Sang Sariput si-Arsitek sekaligus Pemimpin Kuat dan Berwibawa
Syahdan, setelah 30 tahun lamanya hidup berpisah, dalam rentang waktu itu muncullah seorang pemimpin Nagari nan bijak, pintar, kuat, berani dan berwibawa. Adik beradik yang dulunya telah tercerai berai ingin disatukannya kembali dalam sebuah istana besar yang telah dibina kembali olehnya sesuai dengan keinginan dan cita-citanya yang luhur.
Hatta, kerja kerasnya dari tahun ke tahun memperoleh kemajuan yang signifikan, dan masih ada adik-beradik mereka yang mau bersatu membangun kembali hidup bersama seperti dulu, walaupun dalam konsep yang berbeda. Komitmen kebersamaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersatu dengan tampilan dan gaya baru mereka susun dengan baik. Mereka saling berjanji untuk tidak ganggu – mengganggu satu sama lainnya dan konsep hubungan persaudaraan abang-adek dijalin dengan baik, ibarat pepatah, “Yang tua menghargai yang muda, yang muda menghormati yang tua, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dan kebukit sama mendaki, ke lurah sama menurun”.

Harus diakui bahwa Sang Sariput merupakan arsitek handal dalam membangun kembali istana yang pernah runtuh dan ditinggalkan oleh keluarga besarnya di masa lalu. Ditangannya kewibawaan, kekuasaan, dan pengaruh keluarga besar itu dari hari ke-hari mengalami peningkatan, sehingga membuat dia sangat dicintai dan dihormati oleh para pengikut beserta anak, cucu, dan cicitnya, bahkan diakui juga oleh dunia internasional. Perkembangan ekonomi, pengaruh politik, kekuasaan dan kekuatan angkatan perang dengan alusista modern terus diperbanyak dan dikembangkan.
Al-kisah keahlian dan kecerdasan Sang Sariput dalam memimpin istana besar tersebut diperoleh dari pengetahuan dan pengalamannya sebelum menjadi pemimpin Nagari, yaitu ketika semasa beliau muda, menjadi seorang agen pengintai yang dijalaninya selama 20 tahun. Berkat keahliannya mengintai, diapun mengetahui persis perkembangan istana dengan para pemimpinnya, termasuk tingkah laku orang-orang asing yang selama ini menjadi biang kerok terpisahnya hubungan adik-beradik mereka.
Sebenarnya Sang Sariput, sudah ikhlas dan dapat menerima takdir dari Yang Maha Kuasa. Dia juga tidak ingin mengganggu ketenangan rumah tangga yang sudah sekian puluh tahun dibina oleh adik beradiknya itu. Ia hanya bermaksud mengajak mereka untuk bersama kembali dalam kehidupan keluarga besar yang harmonis seperti dahulu kala, dalam konsep yang baru. Dia juga paham bahwa tidak mungkin adik – adik yang telah mendirikan rumah tangga itu harus tinggal bersama dengannya kembali.
Sebagai abang tertua, Sang Sariput sebenarnya bangga terhadap adik-adiknya yang sudah mampu membina rumah tangganya masing-masing. Bahkan beliau selama ini turut menjaga kedamaian dan ketentraman rumah tangga adik-adiknya, dan tak luput memberikan dorongan serta kesempatan kepada mereka untuk terus berbenah diri dan membangun disemua aspek kehidupan, agar mereka dapat merealisasikan kehidupan yang lebih baik, makmur, dan sejahtera, sebagaimana yang dicita-citakan.
Namun, usaha keras yang dilakukan oleh Sang Sariput, tidak semuanya berjalan mulus. Ada juga sebagian dari adik-adiknya yang tidak mau mengikuti keinginannya, bahkan mereka menantang-nya agar tidak lagi ikut campur mengurus dan mengatur rumah tangga mereka dalam bentuk apapun. Sebagai abang tertua, beliau tidak serta merta kecewa dan marah kepada adik-adik yang dianggapnya bandel tersebut. Bertahun-tahun lamanya, dengan sabar dan dengan berbagaimacam cara, tanpa bosan Ia tetap mengajak adik-adiknya agar dapat hidup bersama kembali.
Syahdan, terkuaklah sebuah cerita, pada suatu masa, mungkin disebabkan oleh rasa sakit hati yang teramat dalam, karena terus menerus dilecehkan oleh adiknya yang nakal, pupuslah rasa sabar yang terpendam selama ini. Saking kesal dan kecewa terhadap adiknya, Sariput-pun marah, lalu menghajar anak nakal itu dengan sejadi-jadinya. Dengan dukungan para hulubalang dan perlengkapan perang yang super canggih, diapun menghajar adiknya sehingga tidak berkutik dan akhirnya kekuasaan rumah tangga adik-nya tersebut diambil alih sebagian olehnya. Kejadian itu terjadi sekian tahun yang lalu. Adik yang katanya nakal dan berkepala batu itu dikenal dengan nama Urenia dan memiliki anak bernama Kremi.
Kiranya, Urenia si-kepala batu itu tak kapok-kapok, meskipun anaknya si Kremi sudah bertekuk lutut, ternyata dia tetap saja masih ngotot tak mau mengikuti keinginan dari saudara tuanya. Bahkan si Urenia hendak bergabung dengan perkumpulan pelindung asing, yang diketahui tidak sejalan dengan sang abang. Hal ini tentu membuat si-abang semakin berang dan kecewa dengan sikap dan keputusan yang diambil oleh sang adik bandel dan bodoh tersebut.
Sang Sariput Menghajar Urenia dan Merkenzie
Mungkin si-Urenia masih kecewa dan memendam rasa dendam dengan si-abang yang telah menghajar habis anaknya sampailah wilayah kekuasaan si-Kremi diambil-alih hingga sekarang. Atau, mungkin saja Urenia merasa sudah siap berbaku hantam dengan sang-abang karena konon katanya sudah di back-up oleh kekuatan pelindung asing yang dianggapnya jauh lebih besar, lebih kuat dan digjaya dari Sang Sariput, sehingga Urenia berani menerima tantangannya, hitung-hitung sekalian ingin melampiaskan sakit hatinya kepada si-abang, “mungkin, itulah impiannya”.
Disatu sisi, Sang Sariput semakin meradang melihat tingkah laku dan bualan kosong dari si Urenia yang ingin bergabung dengan kelompok pelindung asing yang lebih dikenal dengan singkatan “PAPAN” (Persatuan Pelindung Asing). Dalam pikiran Sang Sariput, “Gue betul-betul dilecehkan dengan si Urenia”. “Si-Bandel itu tak percaya dengan kehebatan gue”, dan “Die mau berlindung pula dari si PAPAN segala”. ????? Bodoh amatlah, pokoke kalau tak patuh gue babat habis-habisan, meskipun gue mendapat sanksi dari dunia luar, peduli ape, piker Sang Sariput, dengan singkat dan percaya diri yang sangat tinggi, setinggi puncak mahameru.
Walhasil, setelah sampai batas waktu yang ditetapkan oleh Sariput, maka ditabuhlah gendrang perang, yang diawali dengan gempuran ratusan pesawat tempur diiringi berbagai serangan rudal penghancur yang mengarah ke wilayah Urenia. Kemudian, sekian ratus ribu orang hulubalang yang dilengkapi berbagai macam jenis persenjataan perang dan dengan menggunakan alusista darat seperti tank berlapis baja, panser, dan sebagainya bergerak menuju wilayah otoritas Urenia dengan tujuan menghancurkan keangkuhan adiknya tersebut.
Mengukur keunggulan kekuatan antara Sang Sariput dengan Urenia tentu sangat tidak seimbang, “Ibarat Langit dan bumi, dan jauh panggang dari api”. Oh, ya, perlu diketahui bahwa saat ini Urenia dipimpin oleh Emergenzie, dia berlatar belakang sebagai pelakon dan pelawak, dan baru beberapa tahun diangkat sebagai pemimpin Nagari Urenia dalam pemilihan umum yang katanya demokratis. Sebenarnya, Emer tidak punya pengalaman sama sekali bertempur di medan perang, kecuali dia pernah membuat lakonan perang-perangan pada layar tancep, itupun kalau pernah ia garap. Buat lucu-lucuan bolehlah si Emer dihandalkan, supaya penonton terhibur dan tertawa terbahak-bahak. Sebaliknya, jika ingin berbaku hantam dengan Sariput, maka pikir-pikir dululah dia, kasihan itu orang tua dan jompo, keluarga, anak, cucu, dan cicitnya nanti, ini bukan perang-perangan seperti dalam pilem atau banyolan konyol buat orang tertawa terpingkal-pingkal, tapi ini perang sungguhan bro, hancur-hancuran, tangis-tangisan, dan mati-matian, pikirkanlah sekian juta kali jika mau berhadapan dengan Sang Arsitek handal tersebut.
Sesungguhnya, ulah keras kepala si-Bandel ini juga menjadi tanda tanya besar dari banyak orang, tidak saja puaknya tetapi juga dunia dan warga asing lainnya. Sebab, dari semua sisi, kemampuan Urenia sangatlah minim dibandingkan dengan Sang Sariput, bahkan kehidupan keluarganya saja tergolong miskin. Pertanyaannya, bagaimana Urenia mau berbaku hantam dengan Sang Sariput, mati konyol namanya, bukan mati sahid atau mati sebagai pahlawan. Apalagi bantuan yang diharapkan dari Nagari-nagari nan Gadang dan organisasi PAPAN sampai sejauh ini tidak terealisasikan sesuai harapan si-Emergenzy, sementara sudah terlalu banyak bangunan-bangunan, jalan-jalan, jembatan, perkantoran, bandar udara, segala property warga hancur lebur dibombardir oleh para hulubalang Sang Sariput, termasuk nyawa sekian ribu orang berguguran dan luka-luka menderita sakit parah. Hampir seluruh penduduk lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari tempat tinggalnya karena terancam terkena peluru dan bom nyasar, mereka semua keluar berlindung mencari tempat yang aman, kasihanilah nasib mereka, mereka tidak tau, tidak mengerti, dan tidak bersalah harus menanggung beban penderitaan dan kesedihan yang tidak semestinya dialami.
Kan, Sang Sariput sudah berkata, menyerahlah dan tidak perlu melawan dan angkat senjata, kemudian aturlah kembali rumah tangga anda “URENIA” dengan baik dan dengan pemimpin yang lebih baik. Kata-kata itu semestinya harus didengar dan dipahami oleh si Emer, jangan paksakan diri, jadilah seorang Negarawan dan Bapak Bangsa yang bijak, yang memikirkan kelangsungan hidup dan perdamaian buat bangsa dan negaranya, jangan berharap belas kasihan dan bantuan dari orang asing yang belum diketahui maksud dan tujuannya kelak, sebagaimana yang pernah dialami oleh si-Encep dimasa lalu.
Dunia Goncang Perdamaian Diharapkan
Baru 7 hari perang berlangsung, duniapun bergoncang. Pasar perdagangan internasional terancam, eksport – impor produk terganggu, harga minyak dan gas bumi melambung tinggi, nilai mata uang menurun, kegalauan umat manusia akan terjadinya mimpi buruk yang ditimbulkan dari invasi Sang Sariput ke Urenia semakin meluas dan dikuatirkan terjadinya perang besar dunia untuk ke-tiga kalinya. Para pemimpin dunia dan Organisasi Bangsa-Bangsa seketika dibuat sibuk dan ketakutan. Akhirnya merekapun segera mengadakan perundingan tingkat dunia, dalam menghadapi invasi Sariput yang sangat berbahaya bagi keselamatan umat manusia di alam jagat raya ini.
Sementara Sang Sariput yang merasa sudah terlanjur dan diancam oleh para penguasa gadang dengan berbagai sanksi ekonomi, perdagangan, keuangan, diplomatic, dan sebagainya semakin meradang dan nekat akan mengunakan kekuatan senjata pemusnah massal yang dampaknya sangat berbahaya terhadap keselamatan dan perdamaian umat manusia. Kalaulah hal itu sampai terjadi maka peradaban modern yang sudah dibangun sekian puluh tahun pasca peristiwa perang dunia ke-2 bahkan peradaban kebudayaan kuno, yang sudah tercipta sekian ribu tahun yang lalu, akan musnah dengan seketika dan sia-sia. Semua fasilitas dan property yang dibina dengan memakan dana sangat besar bahkan tak terhingga nilainya dengan waktu yang teramat lama, akan hancur berkeping-keping dalam tempo beberapa hari saja. Dan, yang lebih mengerikan, akan terjadi musnahnya kehidupan manusia di muka bumi untuk selama-lamanya. Wooooowwww, sades,…..untuk hal ini siapa yang mau ambil resiko!!!
Berbagai macam pertimbangan seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh para pemimpin dunia termasuk organisasi bangsa-bangsa. Idealnya nasib dan keberlangsungan kehidupan umat manusia dan seluruh bangsa haruslah dipertimbangkan dengan matang. Para pemimpin dunia tidak boleh terburu – buru dalam mengambil keputusan untuk turut campur apalagi berpihak kepada salah seorang dari mereka. Masalah tersebut sebenarnya adalah persoalan keluarga antara Sang Sariput selaku abang dengan si Urenia adiknya yang keras kepala. Kehadiran pihak ke-tiga diharapkan sebagai penengah dan dapat meredam kemaharan Sariput kepada Urenia khususnya kepada Emergenzie yang tidak patuh bahkan menantang abangnya untuk berbaku hantam dengan berharap mendapat bantuan dari si PAPAN (Persatuan Pelindung Asing) dan dari beberapa orang gadang lainnya dengan tujuan yang tidak jelas.
Mengingat dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan lebih buruk yang akan terjadi akibat peperangan tersebut, maka diharapkan segera gencatan senjata diantara keduabelah pihak, dan akhiri pertikaian dengan diplomatis melalui perundingan perdamaian atau si-Emergenzie segera meminta maaf dengan abang tuanya Sang Sariput bila perlu mundur dan meletakkan jabatan sebagai pemimpin Nagari Urenia. Hal ini perlu segera dilakukan demi keberlangsungan kehidupan bangsa Urenia yang lebih baik dikemudian hari dan demi keselamatan serta perdamaian umat manusia di dunia. Semoga, ketakutan umat manusia di muka bumi saat ini, dijadikan juga pertimbangan oleh Sang Sariput dan Emergenzie, untuk segera BERDAMAI.

“Salam Perdamaian, selamat membaca”.

Kijanglama Tpi, 28-02-2022.

Ditulis Oleh Pada Sel 01 Mar 2022. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek