' '
| | 891 kali dibaca

Warga Pertanyakan Anggaran KPAID Tanjungpinang

Tiga bocan penjaja koran yang tak pernah di perhatikan KPAID Kota Tanjungpinang

Tiga bocah penjaja koran yang tak pernah di perhatikan KPAID Kota Tanjungpinang.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Meskipun telah beberapa kali disorot oleh media ini tentang anak dibawah umur yang bekerja demi sesuap nasi. Namun hingga hari ini Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) kota Tanjungpinag belum bertindak dan terkesan kurang aktif memperhatikan anak-anak yang berkeliaran siang dan malam, untuk menjual Koran.

Padahal miliaran rupiah Negara menggelontorkan uang setiap tahunnya untuk generasi penerus bangsa ini agar tidak terlantar. Beberapa persimpangan lampu merah didalam kota Tanjuungpinang masih terihat wajah-wajah polos itu menjajakan koran demi sesuap nasi. Namun pemandangan ini tidak membuat lembaga tersebut terketuk hati nuraninya. Seakan-akan lembaga KPAID kota Tanjungpinang tak memiliki hati nurani.

Sementara gaji mereka yang bertugas di Lembaga tersebut, mencapai miliaran rupiah pertahunya. Namun kinerja mereka, belum juga terlihat positif bagi masyarakat yang terlantar.

Buktinya, hampir setiap hari anak-anak yang terlantar, siang dan malam di sejumlah lokasi dalam Tanjungpinang, anak dibawah berjualan koran dengan alasan untuk menunjang ekonomi keluarga, membiayai adiknya yang berumur 6 tahun, karena ditinggal orang tuanya. Bahkan ada juga, anak-anak berjualan koran untuk biaya sekolah.

Seperti yang dialami, Asmahul (10) warga Tanjung Unggat, ketika dijumpai Radar Kepri di bundaran Jalan Basuki Rahmat, Sabtu (18/01) bocah benasib malang itu menceritakan kisah hidupnya.”Sebenarnya saya lahir di Sei Laut Kuala Enok. Ketika kedua orang tua saya berpisah dua tahun lalu, saya dan adik saya bertemu dengan Ros dan iba melihat kisah saya. Tante Ros kemudian menampung kami berdua. Saya harus bekerja untuk biaya makan bersama adik saya. Kalau ada sisa uang jualan Koran, di tabung.”cerita bocah malang itu.

Begitu juga dengan Apri (9) dan Pazli (9) serta Reki (9), ketiga bocah ini tinggal di Tanjung Unggat. Mereka berjualan Koran di setiap lampu merah, jika malam mereka menjajakan koran ke Akau Potong Lembu.

Ketika ditanya awak media ini, Apri mengaku.”Saya jualan koran, untuk biaya sekolah, nama bapak saya Suriadi, mamak saya bernama Sumiaati. Bapak saya pensiunan Polisi. Dulu uang bapak saya banyak sekarang uangnya sudah habis, jadi saya jual Koran-lah untuk cari uang buat biaya sekolah.”ceritanya.

Hal senada dikatakan, Pazli anak pasangan dari Iwan dan Sur itu.”Kalau bapak saya kerjanya tukang becak, terkadang bapak pulang bawa uang, kadang tidak, jadi saya ikut jual koran supaya dapat uang, nanti kalau dapat uang, saya kasih mamak.”Jelasnya.

Kemudian Reki  mengatakan.”Kami ber- tiga ini om, sama-sama berjualan koran. Kalau koran saya laku banyak, saya tetap bagi rata uangnya sama Pazli dan Apri. Begitu juga dengan mereka berdua Pazli dan Apri. Jika Koran saya kurang laku, mereka juga kasi saya uang. Jadi kami sama-sama saja.”Ucapnya sambil tertawa lepas.

Yang menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat kota Tanjungpinang. Kemana perginya Petugas dari lembaga KPAID kota Tanjungpinang.”Kok bisa-bisanya membiarkan anak-anak di bawah umur ini berkeliaran di tengah malam.” heran sumber media ini enggan namanya ditulis.(aliasar)

Ditulis Oleh Pada Sen 20 Jan 2014. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda