'
| | 1.804 kali dibaca

Setiap Hari 40 Kapal Hisap Timah Dari Bangka Beroperasi di Pekajang

PEKAJANG_PETA

Lokasi gugus pulau Pekajang yang berada di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. Namun sumber daya lautnya lebih banyak diambil warga Provinsi Bangka Belitung.

Lingga, Radar Kepri-Nama Pekajang bersama gugus pulau dan lautannya boleh saja secara adiministrasi dan hukum masuk dalam wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Namun, Pemkab Lingga dan Pemprov Kepri tidak berdaya menghentikan “penjarahan” kekayaan di alam Pekajang. Buktinya, ikan dan timah di dalam laut Pekajang hampir setiap hari “dijarah” warga Provinsi Bangka Belitung.

Menyikapi realita ini, seorang tokoh masyarakat Singkep, Edi Melong meminta Pemerintah Kabupaten Lingga meningkatkan pengawasan disekitar laut Pulau Pekajang. “Saat ini, masyarakat dari Provinsi Bangka Belitung banyak melakukan aktivitas penjarahan, berupa timah dan ikan. Masyarakat Pekajang sendiri tidak dapat berbuat banyak, karena adanya ikatan ke keluargaan dengan warga di Banka Belitung.”ujar Edi sapaan Edi Melong.
Dikatakan Edi.”Kondisi ini sudah berlangsung puluhan  tahun. Seharusnya, bila diawasi dengan baik, kekayaan laut berupa timah dan ikan dapat menjadi potensi untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lingga.”ujarnya, Senin (18/11).
Dia menuturkan, lemahnya pengawasan yang dilakukan pemerintahan Kabupaten Lingga dan Pemprov Kepri, membuat aktivitas “pencurian” sumber daya laut Pekajang berjalan tanpa ada hambatan.”Hasil kekayaan yang didapat di daerah ini, di bawa dan dijuak di Bangka Belitung.”sebutnya.
Menurut Edi.”Hasil ikan kualitas tinggi dan timah kalau dimanfaatkan dapat membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kabupaten Lingga mungkin tidak menjadi daerh tertinggal lagi jika mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam di Pekajang itu.”tegasnya..
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat Pekajang, satu hari ada sekitar 40 ponton isap timah tradisional milik masyarakat Bangka yang mengambil timah di laut Pekajang. Dalam satu hari, satu ponton dapat menghasilkan 30-40 Kg timah. Bisa dihitung berapa kerugian daerah dari retribusi timah ini.”Belum lagi ikan, setiap harinya puluhan pukat trolll dari Bangka datang ke laut Pekajang untuk mencari ikan.”sambungnya.
Edi Melong berharap, Pemkab Lingga dapat bergerak cepat mengatasi hal ini. Jika terus dibiarkan, maka Kabupaten Lingga tidak hanya mengalami kerugian dari restribusi daerah.”Lebih dari itu, masyarakat di Pekajang, akan lebih mengenal Babel dari pada Kepri. Intinya jangan sampai ada daerah di Lingga yang diakui daerah lain, seperti Pulau Berhala.”tutup. (tmb)

Ditulis Oleh Pada Rab 20 Nov 2013. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek