' '
| | 568 kali dibaca

Presiden : Kita Harus Mendukung Pemimpin Yang Baru

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika menyampaikan sambutan dalam Silaturahmi Pers Nasional

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika menyampaikan sambutan dalam Silaturahmi Pers Nasional, Jumat (05/09)

Jakarta, Radar Kepri-Hubungan Pers dengan Negara, pemerintahan dan dengan kekuasaan sering disebut haten but loves, benci tapi rindu benar adanya. Siapapun yang menjadi Presiden ataupun Perdana Menteri di Negara demokrasi akan merasakan suasana dan nuansa ini.

Ungkapan ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam acara Silaturahmi Pers Nasional di ballroom hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (05/09) malam.”Kadang-kadang kalau kritik itu datang bertubi-tubi, gencar sekali dan skalanya, kalau dari nol sampai 10, berada di posisi 8 atau Sembilan. Untuk menenangkan hati, saya membandingkan dengan teman-teman. Saya bicara dengan satu perdana menteri ke perdana menteri lain, yang dikenal sangat kritis pers-nya. Ternyata nasib mereka kurang lebih sama, oleh karena itulah saya berbesar hati. Dan ketemu ibu Ani, jangan kuatir, kita punya teman banyak di dunia ini. Yang hidupnya sama dengan kita.”terang Presiden disambut aplus undangan yang hadir.

Menurut Presiden.”Itulah demokrasi, itulah indahnya. Kalau kita simpulkan, justru memberikan kontribusi yang besar agar kita memimpin dan menjalankan pemerintahan ini selalu berada dalam arah yang benar.”beber Presiden SBY.

Kedepan, lanjut Presiden SBY, sebagai seorang yang telah 10 tahun mengemban amanah.”10 tahun bersama-sama dengan teman-teman pers dan wartawan. Misi kita tetaplah untuk melanjutkan konsolidasi demokrasi.”kata Presiden.

Karena, menurut Presiden SBY.”Demokrasi adalah pilihan kita. Demokrasi, kita yakini membawa kebaikan. Tetapi sekaligus ada wajah buruk dari demokrasi dan kebebasan. Oleh karena itu mari kita bangun dan matangkan dengan sebaik-baiknya.”himbau Presiden SBY.

Dikatakan Presiden, kebebasan tanpa batas juga cenderung disalahgunakan.”Apalagi kalau sangat-sngat berlebihan. Perlu balance, kesimbangan dalam kehidupan demokrasi yang kita anut. Saya yakin, kedepan, bangsa ini akan menemukan titik keseimbangan yang manis.”terang Presiden SBY.

Disatu sisi, lanjut Presiden SBY, nilai-nilai demokrasi dan penghormatan kepada Hak Azazi Manusia (HAM), tumbuh berkembang pada tahapan yang tinggi.”Tetapi disisi lain kita juga mendapatkan stabilitas politik, kehidupan yang harmonis, kerukukan diantara kita semua.”ujar Presiden.

Ada statemen menarik disampaikan Presiden SBY di penghujung pidatonya, yaitu ajakan agar semua pihak mendukung pemimpin yang menggantikannya.”Kita harus mendukung pemimpin kita yang baru nanti. Mendukung pemerintahan yang baru nanti.”himbau Presiden SBY yang kembali disambut aplus tepuk tangan dari undanga yang hadir.

Pers, menurut Presiden SBY.”Tidak dilarang kritis pada pak Jokowi dan Presiden-Presiden yang akan datang. Tapi jangan pernah membenci pemimpin-pemimpin kita yang akan datang. Karena pemimpin kita dengan segala keterbatasannya selalu ingin berbuat yang terbaik untuk bangsanya, untuk negaranya.”himbau Presiden SBY.

Dikatakan Presiden SBY, situasinya sering tidak mudah.”Angin kencang, badai datang. Panas terik, hujan. Tapi dia (pemimpin,red) harus tetap mengerjakan pekerjaannya dengan segala resiko, dengan pengorbanan yang dia alami. Oleh karena itu, kritislah. Karena itu baik, tapi sekaligus, janganlah membencinya. Karena mereka bagian dari kita semua, sebagaimana saya, bagian dari rakyat Indonesia.”kata Presiden.

Akhirnya, lanjut Presiden SBY.”Pada saat nanti mohon diri, secara resmi, setelah tanggal 20 Oktober 2014. Dan terima kasih pers, terima kasih para sahabat, kita akan bertemu lagi dalam medan pengabdian yang berbeda.”tutup Presiden SBY.(irfan)

Ditulis Oleh Pada Sab 06 Sep 2014. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek