' '
| | 1.021 kali dibaca

Penambang Bauksit Ilegal Hancurkan Makam Syeikh Abdullah

Tambang bausit beroperasi malan di lokasi makam Syeikh Abdullah di Tanjung Moco.

Tambang bauksit beroperasi malan di lokasi makam Syeikh Abdullah di Tanjung Mocom kecamatan Bukit Bestari, kota Tanjungpinang. Foto diambil Minggu (17/11) (foto by aliasar,radarkepri,com)

Tanjungpinang, Radar Kepri-Meskipun telah disorot beberapa kali oleh media ini tentang aktivitas “perampokan dan penjarahan” hasil mineral bumi Segantang Lada berupa bauksit. Namun tambang illegal berkedok cut and fill masih berjalan dengan lancar.

Walikota Tanjungpinang H Lis Darmansyah SH terkesan tidak tegas seperti Bupati Bintan Ansar Ahmad SE MM yang “berani” menutup seluruh tamban legal maupun illegal.

Hal ini terlihat di Tanjung Moco, Minggu (17/11) para “penjahat” lingkungan ini terkesan kebal hukum. Bahkan, situs bersejarah tempat bersemayamnya jenazah Syekh Abdulah di lokasi tersebut luluh lantak di obrak-abrik bulldozer “bandit” lingkungan ini.

Terungkapnya penambangan illegal di Tanjung Moco, kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang ini bermula ketika awak media ini mendapat telpon dari seorang warga setempat, Minggu (17/11) pukul 19 26 Wib menyampaikan.” Selamat malam bang, di Tanjung Moco ada sebuah makam bersejarah yang nyaris punah akibat di keruk oleh para.”perampok dan penjarah” bijih boksit.”kata sumber yang meminta namanya tidak ditulis.

Masih sumber.”Padahal di zaman kepemimpinan Hj Suryatati A Manab menjabat Walikota, lokasi makam Syehk tersebut harus di jaga dengan baik. Karena makam itu makam bersejarah.”Ucapnya lagi

Mendapatkan informasi tersebut, awak media ini melakukan cross check kelapangan. Ternyata informasi yang disampaikan warga itu benar, terlihat beberapa alat berat berupa eksavator sedang mengeruk bijih baoksit di lokasi tersebut.

Selain itu, puluhan Dumtruck bermuatan bijih bauksit terlihat berlomba-lomba mengantarkan muatanya ke tromol, tempat pencucian sekitar 100 meter dari tempat pengerukan tersebut. Terlihat juga, ribuan ton tumpukan bijih bauksit, menggunung dilokasi itu, siap loading.

Aktivitas “perampokan dan penjarahan” hasil perut bumi Segatang Lada ini bukan hanya terjadi  di daerah Tanjung Moco saja. Di Senggarang tepatnya di Tanjung Lanjut dan Sei Timun serta Sei Carang, termasuk di Jalan Adi Sucipto Kampung Wonosari, kilometer 12 arah Kijang. Aktivitas “perampok” kekayaan alam berupa biji masih berjalan. Entah kemana ratusan polisi di Polresta Tanjungpinang, sehingga membiarkan penambang illegal merajalela di wilayah hukumnya.

Meskipun sudah hampir 80 persen daerah kota Tanjungpinang ini diluluh-lantakan oleh “penjahat” lingkungan itu. Namun aparat penegak hukum selalu “tutup mata”. Mungkinkah instasi terkait telah menerima “upeti” dari para penjahat lingkungan tersebut ?, sehingga buta dengan kejahatan yang dipamerkan penambang illegal itu.

Terkait dengan hancur leburnya situs makam Syekh Abdulah akibat dikeruk oleh “penjahat” lingkunang tersebut. Ketua umum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pertubuhan Putra Melayu Sejagad (PPMS) Abdulah Mustafa angkat bicara.”Seharusnya situs bersejarah peninggalan Kepri itu dijaga, bukan dimusnahkan. Karena itu peninggalan bersejarah.”Katanya

Seharunya, lanjut Abdulah Mustafa, pemerintah tidak membiarkan para penambang tersebut mengeruk bauksit di lokasi situs bersejarah itu. Karena itu situs sejarah dan budaya yang bisa mengundag turis dari luar negeri.”Apasih kontribusinya para penambang illegal itu untuk daerah ini. Selain merusak lingkungan.”Ucap Ketua LSM yang di lantik beberapa tahun lalu ini kesal.

Sementara.”Para penjaha lingkungan itu hanya meninggalkan lubang bekas galian yang sudah di keruk. Seharunya setelah dikeruk di hijaukan lagi. Bukan membiarkan seperti itu. Herannya dinas terkait, kok membiarkan daerah ini luluh lantak akibat dijarah hasil buminya ?. Apakah karena mereka yang menjabat di daerah ini hanya sementara.”Ungkapnya dengan raut wajah memerah menahan amarah.(aliasar)

Ditulis Oleh Pada Sen 18 Nov 2013. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda