; charset=UTF-8" /> Minimnya Kajian tentang Asia Tenggara? - | ';

| | 98 kali dibaca

Minimnya Kajian tentang Asia Tenggara?

Oleh : Hasrul Sani Siregar, MA

Berbicara tentang kawasan Asia Tenggara tak terlepas dari permasalahan-permasalahan yang menyangkut, politik, kerjasama ekonomi, keamanan dan konflik separatis. Tentu bicara tentang kondisi di kawaasan Asia Tenggara tidak terlepas pula konflik diantara negara-negara dalam kawasan Asia Tenggra pula. Banyak masalah-masalah yang hingga kini belum terselesaikan, baik diantara Negara-negara Asia Tenggara sendiri (internal) maupun Negara Negara dalam kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dengan Negara-negara tetangga Asia tenggara seperti Cina dan Australia (Internal). Oleh sebab itu, perlu adanya terobosan dalam bentuk kajian atau studi yang dapat memberikan kontribusi penyelesaian yang menyeluruh di kawasan Asia Tenggara. Tulisan ini mencoba mengidentifikasi permasalahan yang ada di antara Negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan mitranya yang terus berupaya untuk menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi selama ini.

Untuk mengidentifikasi masalah masalah yang ada di kawasan Asia Tenggara dapat dijelaskan beberapa hal. Pertama; Konflik pemerintah Thailand di Bangkok dengan kelompok bersenjata Pattani merdeka di Thailand Selatan masih terus diupayakan oleh pemerintah Malaysia dan Indonesia. Peran Malaysia sebagai mediator perundingan antara Pattani dan pemerintah Thailand telah cukup berhasil mengupayakan perdamaian diantara kedua belah pihak. Kedua; Konflik pemerintah Myanmar di Naypydaw dengan kelompok bersenjata seperti Karen di perbatasan Thailand dan Myanmar. Peran Thailand dalam perundingan antara pemerintah Myanmar dengan kelompok perjuangan bersenjata Karen belum sepenuhnya berhasil, namun upaya-upaya perdamaian sudah mulai dilakukan oleh ke-2 belah pihak. Pengungsi Rohingya di perbatasan Myanmar dan Bangladesh. Ketiga; Konflik Thailand dengan Kamboja mengenai sengketa terhadap kuil Preah Vihear yang terletak antara distrik Kantharalak di Provinsi Sisaket dan distrik Choam Khsant di Provinsi Vihear. Keempat; Konflik pemerintah Filipina di Manila dengan kelompok bersenjata Moro di Filipina Selatan. Kelima; Masalah perbatasan pemerintah Indonesia di Jakarta dengan pemerintah Timor Leste di perbatasan Provinsi Nusa Tenggara Timur-Timor Leste. Keenam; Masalah sengketa perbatasan Indonesia-Malaysia mengenai pulau Ambalat. Ketujuh; antara pemerintah Malaysia dan Singapura mengenai sengketa Pedra Branca (disebut juga sengketa pulau batu puteh) yang terletak di bagian selatan selat Singapura. Begitu pula konflik negara-negara Asia Tenggara dengan Cina di kawasan Laut Cina Selatan serta keamanan kawasan di kawasan Pasifik dengan Australia.

Tidak banyak lembaga donor atau lembaga swadaya masyarakat (NGO) yang aktif dan terus menerus mengkaji dan meneliti tentang masalah-masalah yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. Sepengetahuan penulis, lembaga yang aktif dan terus berupaya melakukan studi atau kajian di kawasan Asia Tenggara salah satunya adalah SEASREP (Southeast Asian Studies Regional Exchange Program). SEASREP (Southeast Asian Studies Regional Exchange Program). SEASREP berdiri pada tahun 1994 yang dikenal sebagai pusat kajian di kawasan Asia Tenggara. Sekretariat SEASREP secara penuh berkedudukan di Manila, Philipina yang hingga saat ini telah banyak melakukan riset (penelitian) di kawasan Asia Tenggara. SEASREP sejak didirikan tahun 1995 telah menjadi pusat penelitian di kawasan Asia Tenggaa. Sebagai pusat kajian, SEASREP merupakan program pertukaran oleh para peneliti-peneliti di kawasan Asia Tenggara yang mengkaji persoalan-persoalan baik politik, ekonomi, keamanan dan persoalan sengketa perbatasan khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Sejak berdiri, SEASREP memiliki 4 program yang dibiayai oleh Lembaga donor (Funding) diantaranya pertama; pelatihan mengenai Bahasa, kedua; Program Master dan Doktor, ketiga; Pertukaran Professor dalam hal kajian-kajian Asia Tenggara. dan keempat adalah kerjasama dengan melibatkan seluruh peneliti yang ada di kawasan Asia Tenggara (Collaborative Research). Dalam program pelatihan mengenai bahasa, telah diperkenalkan apa yang disebut dengan “Traveling Classroom”, yang bertujuan menggalakkan para peneliti-penelii di kawasan Asia Tenggara untuk berupaya meningkatkan kemampuan bahasa dari masing-masing negara anggota ASEAN yang tujuannya adalah mengkaji isu-isu tentang keamanan, ekonomi, sosial-budaya dari masing-masing anggota ASEAN.

Dalam SEASREP yang ke 10 (SEASREP 10th Anniversary Conference) 8-9 Desember 2005 di Chiang Mai, Thailand bagian utara, penulis berkesempatan hadir dan mengirim makalah (paper) tentang kerjasama segitiga antara Indonesia, Malaysia dan Singapura (IMS Growth Triangle). Dalam kerjasama ekonomi Singapura, Johor (Malaysia) dan Riau (Indonesia) tentu memerlukan keamanan regional dan investasi yang cukup besar jika kerjasama tersebut dapat direalisasikan oleh ke-3 wilayah tersebut. Oleh sebab itu, kerjasama memerlukan keamanan oleh ke-3 negara tersebut.

SEASREP diprakarsai oleh beberapa peneliti dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti pertama; Prof. DR. Taufik Abdullah dari Universitas Gadjah Mada, Indonesa, kedua; DR. Charnvit Kasetsiri dari Thammasat University, Thailand, ketiga; Professor Allahyarham DR. Dato’ DR. Shaharil Talib dari University of Malaya, Malaysia dan DR. Maria Serena I. Diokno dari University of the Phillippines, Diliman, Philipina. SEASREP berkedudukan di Manila, Phillipina. Diawal didirikannya tahun 1995 tersebut, SEASREP telah melakukan aktivitas riset yang menyangkut tentang studi di kawasan Asia Tenggara dalam berbagai aspek penelitian seperti etnis, keamanan, separatisme, ekonomi-politik dan sebagainya..

SEASREP sebagai lembaga kajian di kawasan Asia Tenggara telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perkembangan dan kemajuan riset yang dilakukan oleh para peneliti-peneliti di kawasan Asia Tenggara. SEASREP yang dalam perjalanannya telah mendapat dukungan penuh dari lembaga donor seperti The Toyota Foundation dan The Japan Foundation dalam menyediakan dana bagi siapa saja peneliti dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk melakukan riset khusus menyangkut kepentingan di negara-negara Asia Tenggara. Terbentuknya SEASREP sebagai lembaga kajian di kawasan Asia Tenggara telah menjadikannya sebagai lembaga yang mendukung visi ASEAN yaitu menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai pusat penelitian yang melibatkan peneliti-peneliti dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Hingga saat ini, SEASREP telah melibatkan seluruh peneliti dari Negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk terlibat aktif dalam penelitian. .

Oleh yang demikian, peran SEASREP sebagai lembaga penelitian yang saling bersinergi dan memberikan kontribusi terhadap pemikiran di kawasan Asia Tenggara perlu didukung dan ditingkatkan. Dan kedepannya, SEASREP sebagai lembaga kajian di kawasan Asia Tenggara dapat memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di kawasan Asia Tenggara.

 

Catata , Hasrul Sani Siregar, MA adalah Alumni Ekonomi-Politik Internasional, IKMAS, UKM, Malaysia.

 

Ditulis Oleh Pada Kam 20 Okt 2022. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek