; charset=UTF-8" /> Kepala Dinas Kominfo Tanjungpinang Pemenang Sayembara Buku Puisi Indonesia - | ';

| | 202 kali dibaca

Kepala Dinas Kominfo Tanjungpinang Pemenang Sayembara Buku Puisi Indonesia

Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim,MT,

 

Tanjungpinang, Radar Kepri-Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang, Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim,MT, yang dikenal sebagai salah seorang penyair modern Indonesia dari Kepulauan Riau dengan buku puisinya “Jikalau Laut Dinyalakan” berhasil keluar sebagai Pemenang Buku Puisi Pulihan pada Sayembara Buku Puisi se-Indonesia yang dilaksanakan Yayasan Hari Puisi Indonesia tahun 2019.
Akib, panggilan akrab Abdul Kadir Ibrahim, dan para pemenang pada sayembara kali ini, diumumkan oleh salah seorang dewan Juri, Prof. Dr. Abdul Hadi WM, di malam acara puncak Hari Puisi Indonesia ke-7 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Ahad (20/10). Buku “Jikalau Laut Dinyalakan” ditetapkan sebagai pemenang Buku Puisi Pilihan bersama empat buku penyair lainnya.
“Saya belum pernah mengirim buku untuk ikut sayembara tersebut. Tahun ini saya coba mengirimkan dua kumpulan puisi, yakni Jikalau Laut Dinyalakan dan Dikunyahkan Rindu. Alhamdulillah, ternyata, buku Jikalau Laut Dinyalakan, dinyatakan sebagai satu di antara lima buku pemenang pilihan. Bagi saya pribadi dan keluarga, terasa sangat istimewa dan menjadi hadiah terindah bagi saya dan keluarga, karena ini kumpulan puisi khas tentang laut, kemaritiman atau kebaharian,” kata Akib kepada Radar Kepri, di Tanjungpinang, kemarin.
Buku “Jikalau Laut Dinyalakan” merupkan kumpulan puisi yang memuat 66 puisi, yang seluruhnya berlatar, mengisahkan, berobyek dan dengan bahasa ucap tentang laut. Seluruh puisi mengaktualisasikan khazanah laut, bahari, maritim Indonesia, khususnya Laut Kepulauan Riau dan lebih khasnya lagi Laut Kepulauan Natuna. “Buku puisi khas laut ini saya tulis dan siapkan sebagai ikhtiar mengangkat segala potensi laut dan mengabarkannya kepada dunia luas tentang laut Indonesia, khususnya kampung saya, Natuna dengan bahasa puisi,” kata Akib.
Buku kumpulan puisi ini, diterbitkan oleh Penerbit Milaz Grafika, Tanjungpinang, pada Juni 2019. Cover buku tersebut dibuat oleh Yopi Setia Umbara, salah seorang kreator dari Yogyakarta. Adapun Epilog ditulis oleh Dr. Agung Dhamar Syakti, yang dikenal sebagai Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
“Setelah buku ini terbit, saya merasa sangat bahagia. Senang sekali. Bahkan merasa puas. Karena sebuah buku puisi khas tentang laut, kebaharian, kemaritiman, yang dapat mengisyaratkan tentang kedekatan saya atau sebagai ujud nyata keberadaan saya sebagai orang laut. Dan, subhanallah, ternyata berhasil menjadi salah satu buku pemenang hari puisi tahun ini,” timpal Akib lagi.
Dari 66 puisi dalam buku kumpulan puisi tersebut, Akib pun membacakan puisi yang ke-4/jikalau laut?:

jikalau laut dimatikan
adakah ikan dalam perut kalian?
akal pikiran tiada brilian!

jikalau sungai ditambus-timbunkan
adakah air direguk kerongkongan?
berkecai manusia dan segala kehidupan!

jika sedemikian
sejatinya kita kematian tuhan

Tanjungpinang, 2014 (Jurnal Sajak, 2016).

Ketika disinggung sejak kapan puisi-puisi di dalam kumpulan tersebut ditulis, Akib menjelaskan sudah sejak lebih lima tahun. “Puisi-puisi berkenaan dengan laut tersebut yang saya tulis dari waktu ke waktu, kemudian dihimpun sehingga menjadi sebuah buku kumpulan puisi. Beberapa puisi tersebut sebelumnya sudah pernah disiarkan oleh majalah sastra Horison, Jurnal Sajak, Media Indonesia, beberapa media lainnya dan beberapa buku antologi puisi. Sebuah buku yang sungguh saya siapkan serius sekali, karena mencitrakan diri saya sebagai orang laut,” kata Akib.
Abdul Kadir Ibrahim, lahir di Kelarik Ulu, Natuna, 4 Juni 1966. Beberapa tahun mengabdi menjadi guru di SMP Negeri Midai, Natuna, dan kemudian menjadi guru SMP Negeri 4 Tanjungpinang. Akib, yang juga pernah menjadi wartawan Riau Pos, Pekanbaru, ini sejak tahun 2009 menduduki jabatan eselon II di Pemerintah Kota Tanjungpinang. Dalam kesibukannya sebagai ASN, dia tetap berkreativitas di bidang seni-sastra. Adapun buku kumpulan puisi Abdul Kadir Ibrahim yang sudah terbit, yakni “66 mengauk” (1991), “negeri airmata” (2004), “nadi hang tuah” (2010), “mantra cinta” (2012), “doa cinta mekar laut langit” (2017), “Jikalau Laut Dinyalakan” (2019) dan “Dikunyahkan Rindu” (2019). Akib juga telah menerbitkan buku-buku lainnya, yakni kumpulan cerita pendek, novel, esai bahasa-sastra, esai politik, dan tradisi lisan.
Berkenaan dengan sayembara buku puisi, Akib lebih lanjut menjelaskan kembali keterangan Dewan Juri, yang disampaikan Prof. Dr. Abdul Hadi WM, bahwa yang bertindak sebagai Dewan Juri tahun ini terdiri dari tiga orang, yakni dirinya sendiri, Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S Mahayana. Adapun karya yang masuk ke meja panitia dan dinilai oleh dewan juri sebanyak 207 buku puisi.
Pada kesempatan tersebut, Abdul Hadi menjelaskan, di dalam proses penilaian, semula Dewan Juri akan memutuskan tidak ada buku puisi yang berhak untuk ditetapkan menjadi Buku Puisi Terbaik yang berhak mendapat Anugerah Hari Puisi tahun 2019. Dengan alasan bahwa bila berdasarkan kualitas buku puisi yang dinyatakan lolos masuk nominasi sebanyak 20 buku puisi pada Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi tahun 2019 ini, relatif sejajar dan tidak ada satu buku puisi yang dipandang cukup menonjol di antara buku-buku yang masuk nomine itu.
Namun, setelah melalui perdebatan panjang yang ditandai “deadlock” selama beberapa waktu. Selanjutnya untuk mengatasi kebuntuan tersebut, maka Dewan Juri akhirnya melakukan voting. Hasilnya, dua juri setuju ada buku pemenang utama dan satu juri lainnya tidak setuju. Lebih lanjut Abdul Hadi mengatakan, hal itu terjadi, ya, apa boleh buat. Bersepakat untuk tidak sepakat adalah pilihan yang menjadi keputusan Dewan Juri. Maka, Pemenang Anugerah Hari Puisi 2019 berdasarkan keputusan dua juri setuju dan satu juri tidak setuju.
Pada akhirnya, setelah melalui seleksi ketat dan perdebatan yang cukup panas, maka Dewan Juri menetapkan buku antologi puisi berjudul “Mencatat Demam” karya Willy Fahmi Agista, penyair asal Ciamis, Jawa Barat, keluar sebagai pemenang Buku Puisi Terbaik pada Sayembara Penulisan Antologi Puisi Hari Puisi (HPI) 2019. Dia berhak mengantongi hadiah uang tunai Rp 50 juta, piala, dan piagam.
Sedangkan lima penyair lainnya, ditetapkan sebagai pemenang katagori Buku Puisi Pilihan, yakni Abdul Kadir Ibrahim dengan buku puisinya “Jikalau Laut Dinyalakan” (dari Kepulauan Riau); Rini Intama, penyair dari Jakarta (buku puisinya “Kanaya”), Bode Ruswandi, penyair dari Tasikmalaya (buku puisinya “Mereka Terus Bergegas”), Ali Ibnu Anwar, penyair dari Yogyakarta (buku puisinya “Syahwat Batu”); dan Dharmadi, penyair dari Yogyakarta (“Pejalan”). Kelima penyair ini masing-masing mendapat hadiah uang tunai Rp.10 juta, piala dan piagam.
Di samping enam pemenang di atas, Dewan Juri juga memilih 14 Buku Puisi Terpuji, yakni 1) Amor Fati, Wayan Jengki Sunarta, Bali: Pustaka Ekspresi, 2019; 2) Buka Pintu Kiri, Afrizal Malna, Yogyakarta, Diva Press, 2018; 3) Cadar Fajar, Adri Darmadji Woko, Jakarta: Kosa Kata Kita, 2019; 4) Calung Penyukat, Kunni Masrohanti, Jakarta: TareBooks, 2019; 5) Dolanan, Yuditeha, Karanganyar: Nomina, 2019; 6) Ekstase Hawa, Abidah El Khalieqy, Yogyakarta, Interlude, 2019; 7) Jannani: Amsal Banjarbaru di Simpang Waktu, Hudan Nur, Banjarbaru, 2019; 8) Kesaksian sebagai Isyarat, Ahmad Moehdor Al-Farisi, Banten; Kubah Budaya, 2019; 9) Kitab Ibu dan Kisah Hujan, Tjahjono Widarmanto, Sidoarjo, Tankali, 2019; 10) Orang Gila dari Edgar, Iverdikson Tinungki, Jakarta: Teras Budaya, 2019; 11) Perjanjian tak Bernama, Yana Risdiana, Bandung: Inboeku Media Ilmu, 2019.; 12) Seseorang Keluar dari Telepon Genggam, Isbedy Stiawan ZS, Lampung: Siger Publisher, 2019; 13) Setapak Menuju Nun, Alvib Shul Vatrick, Luwu: Aden Jaya, 2018 dan 14) Tuah Uziah, Norham Abdul Wahab, Jakarta: TareBooks, 2019. (irfan)

Ditulis Oleh Pada Ming 27 Okt 2019. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek