' '
| | 848 kali dibaca

Anggaran Pemeliharan Rumah Adat Tambelan Dipertanyakan

Rumah adat Tamlan (2)

Rumah adat Tambelan yang kurang terawat.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Arsitektur kuno peninggalan zaman kolonial Belanda, masih jelas terlihat di Rumah Adat Tambelan, Jalan Dipanegoro nomor 2. Tepatnya di belakang Gedung Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang. Ironisnya, rumah yang menjadi saksi perjalanan sejarah Kesultanan Riau Lingga terlihat kurang dirawat. Lumut tebal tumbuh di atap yang terbuat dari genteng. Cat di dinding sudah mengelupas dimakan usia. Terkesan rumah adat tersebut seperti rumah tak bertuan. Kemana raibnya dana pemeliharaan bangunan berserjarah tersebut ?.

Iyan (51),seorang penjaga rumah adat Tambelan dijumpai media ini, Minggu (07/04) dilokasi Rumah Adat tersebut. Terkait dengan perawatan rumah adat itu mengatakan.”Memang bangunan ini sudah lama tak di-cat dan diperbaiki. Dana untuk perbaikannya belum ada.”tuturnya.

Iyan menyebutkan, dalam waktu dekat ini pihaknya berencana menggelar rapat dan koordinasi dengan seluruh lapisan masyarakat yang asal dari Tambelan.”Untuk mencari solusi memperbaiki bangunan ini.” Katanya.

Kemudian terkait dangan sumber dana untuk perawatan dan memperbaiki bangunan tersebut,  Iyan menerangkan.”Yang saya tahu dana tersebut berasal dari swadaya masyarakat. Contohnya, ada masyarakat Tambelan yang menginap disini, satu dua hari. Mereka membayar dengan se-iklasnya, tidak ada kita tergetkan, terserah mereka mau nyumbang berapa. Uang itu-lah yang dipergunakan untuk merawat rumah ini.”ungkapnya.

Iyan menambahkan.”Yang mengiap disini bukan masyarakat Tambelan saja. Namun, banyak juga masyarakat yang lain, contohnya, seperti  yang dari pulau Jawa misalnya. Terkadang ada masyarakat yang tersesat dari daerah lain, kalau mau menginap disini, ya kita tampung. Jadi bukan hanya khusus untuk masyarakat Tambelan saja. Pokoknya siapa saja yang ingin menginap disini boleh.” tambahnya.

Terkait dengan honor yang ia terima karena telah menjaga dan merawat rumah adat Masyarakat Tambelan ini, Iyan menerangkan.”Selama ini saya tidak pernah menerima honor. Saya di sini hanya menjaga saja, seperti keamanan, perawatan. Kalau ada dana dari masyarakat, kalau dana tidak ada, macam mana kita nak rawat.”ujarnya.

Ketika media ini menanyakan, selama dirinya menjaga dan merawat rumah bersejarah tersebut. Apakah pernah mendapat bantuan dana dari pemerintah.”Alhamdulillah, selama yang saya merawat dan menjaga rumah ini, belum ada bantuan dari pemerintah. Tapi tak tahu jugalah saya kalau sama pengurus yang lain, karena pengurusnya banyak.”katanya.

Iyan mengaku prihatin dengan semakin tingginya rumput dihalaman depan rumah adat Tambelan tersebut.”Kalau ada dana, saya mau beli mesin pemotong rumput. Agar rumput dihalaman dan taman yang ada bisa dipangkas.”sebut Iyan.

Pantauan media ini dilapangan, terlihat beberapa tiang rumah yang terbuat dari kayu sudah mulai lapuk. Bahkan ada yang nyaris putus, cat di sekeliling dindingnya pudar, karena sudah lama tidak di cat.

Pemerintah Kabupaten Bintan dinilai kurang memperhatikan bangunan bersejarah ini.”Kalau memang Pemkab Bintan keberatan mendanai alokasi anggaran untuk rumah adat Tambelan itu. Sebaiknya diserahkan ke Pemko Tanjungpinang ataupun Pemprov Kepri.”ujar Kaharudin, seorang tokoh pemuda Tambelan yang dijumpai media ini di rumah adat Tambelan tersebut.(aliasar)

Ditulis Oleh Pada Ming 07 Apr 2013. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda