| | 21 kali dibaca

Neorosains, Berfikir Untuk Sehat

Oleh : Juliyatin Putri Utami, S.Si., M.Biomed.

“Jangan mudah marah, nanti cepat tua!” Kata-kata itu ada benarnya. Rasa marah merupakan emosi negatif sebagai respon pikiran kita. Jantung kita berdebar, kepala rasanya terbakar, dan otot-otot tubuh menegang. Jika terjadi berulang bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Di sinilah pikiran kita berperan. Bagaimana hubungan antara pikiran dan kesehatan coba kita telaah dari bidang neurosains.
Neurosains menghubungkan proses kognitif yang terdapat di dalam otak dengan proses tingkah laku manusia secara fisik. Setiap perintah yang diproses di dalam otak akan mengaktifkan daerah-daerah penting otak. Studi dalam bidang neurosains ini menjadi landasan dalam pemahaman tentang apa yang kita pikirkan dan rasakan dapat berpengaruh pada diri sendiri, lingkungan dan orang lain.
Dalam neurosains, apa yang dihantarkan ke otak akan diproses dan menciptakan reaksi di dalam tubuh. Profesor Marian Diamond dalam Rakhmat (2005) mengungkapkan bahwa otak dapat berubah secara positif jika dihadapkan pada lingkungan yang diberi rangsangan, dan otak akan dapat menjadi negatif jika tidak diberi rangsangan.
Sebenarnya, manusia memiliki sifat alamiah untuk berpikir positif. Menurut salah satu penelitian oleh University College London yang dikutip oleh Detikhealth, ditemukan bahwa 80 persen otak manusia selalu berpikir positif. Ditemukan aktivitas lobus frontal otak yang mendominasi aktivitas ketika dilakukan pemindaian dengan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI). Lobus ini akan membantu otak kita berpikir secara rasional. Otak akan mengidentifikasi apa pemicunya, dan akan menyadari untuk merespon hal tersebut secara positif.
Selain itu, lobus frontal memiliki fungsi di antaranya untuk mengontrol keterampilan motorik yang dipelajari, seperti menulis, memainkan alat musik, dan mengikat tali sepatu, mengontrol proses intelektual yang kompleks, seperti ucapan, pemikiran, konsentrasi, penyelesaian masalah, dan perencanaan, pengontrol ekspresi wajah dan gerakan tangan dan lengan, serta mengoordinasikan ekspresi dan gerak tubuh dengan suasana hati dan perasaan. Jadi sebenarnya setiap otak manusia berpotensi untuk berpikir positif, hanya saja berbagai faktor di lingkungan dapat merubah sudut pandang.
Pikiran positif akan memberikan pengaruh yang baik bagi tubuh. Bagaimana bisa? Otak kita akan bekerja mengaktifkan respon terhadap rangsang. Dalam pikiran yang positif akan menstimulasi pertumbuhan sel syaraf (neuron), meningkatkan kemampuan kognitif dengan meningkatkan produktivitas mental, meningkatkan kemampuan untuk menganalisa dan berpikir, dan mengandalikan pikiran ke arah yang membahagiakan. Seperti pengaktifan sinyal-sinyal untuk mengontrol pelepasan suatu hormon, enzim, dan kerja suatu organ.
Perjalanan sinyal-sinyal ini dari tempat asal ke tempat tujuan tidak selalu berjalan mulus. Terdapat neuron yang berhenti di tengah jalan, ada yang terus berjalan untuk menghidupkan atau mematikan pengendalian genetis yang terdapat di dalamnya, serta ada juga neuron yang mati karena pengaruh lingkungan. Banyak faktor yang mengganggu perpindahan neuron yang berasal dari lingkungan termasuk radiasi, mutasi genetis, obat-obatan, dan stres.
Saat kita berpikir positif, berperasaan (emosi) positif, secara otomatis tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin.  Jadi kalau kita sering berpikiran positif (khusnudzan), maka tubuh akan menghasilkan hormon endorphin atau dikenal dengan sebutan hormone kebahagiaan yang lebih banyak. Sebaliknya jika seseorang sedang marah, cemas, takut dan tertekan maka otaknya mengeluarkan hormon nor-adrenalin, yaitu hormon yg sangat beracun.  Hormon ini akan mengaktifkan sinyal bahaya dalam tubuh.
Respons utama yang dihasilkan oleh noradrenalin adalah vasokonstriksi, yang bersifat mempersempit pembuluh darah. Pembuluh darah yang menyempit akan meningkatkan tekanan darah sebagai respons terhadap stres akut. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan gangguan penyerapan pada beberapa organ vital tubuh seperti otak, hati dan jantung. Inilah alasan mengapa ketika stres fisik kita menjadi sakit-sakitan, cepat tua & cepat mematikan syaraf.
Dalam kendali pikiran, perasaan dan emosi yang baik, seseorang dapat menghadapi segala sesuatu secara positif, maka otak akan mengeluarkan hormon beta-endorfin.  Hormon beta endorphin merupakan salah satu jenis hormon endorfin yang paling banyak ditemukan. Beta-endorphin memiliki reseptor di otak, sistem syaraf dan sel imun. Hormon ini bermanfaat untuk menurunkan stress, memperkuat daya tahan tubuh, meningkatkan semangat, meningkatkan kreativitas, menjaga sel otak tetap muda, dan menurunkan agresivitas. Kerja beta-endorfn dalam menurunkan kadar stres yaitu dengan membentuk ikatan dengan GABA-inhibitor yang bekerja menghambat stimulasi neuron, serta melepaskan hormone dopamine yang berperan mengontrol dalam perkembangan kognitif dan rasa euforia.
Dalam journal of microbial & biochemical technology, peran beta-endorphin begitu besar untuk proses penyembuhan. Hormon ini digunakan untuk proses terapi, pencegahan, dan penyembuhan menyeluruh (holistik) pada penyakit infeksi, kanker maupun penyakit autoimun. Selanjutnya beta-endorphin bekerja melibatkan aktivitas anti-kanker dengan mengaktifkan molekul seluler seperti IFN-gamma, perforin, granzyme-B melalui sel NK dan makrofag yang juga melibatkan aktivitas antiviral, apoptosis, mengurangi proliferasi sel, dan perubahan ekspresi gen tumor.
Segala bentuk rangsangan yang diterima otak memang tidak dapat kita kendalikan. Namun, kita dapat mengendalikan otak kita untuk merespon stimulus tersebut dengan persepsi kita. Terapi berpikir positif terbukti dapat memberikan dampak positif terhadap perasaan dan emosi, sehingga secara tak sadar metabolisme tubuh kita ikut merasakan dampak yang baik. Terapi berpikir positif dapat diperoleh dengan banyak membaca buku motivasi, bergabung dalam komunitas positif, berolah raga, dan mendengarkan musik. Selain itu dengan mendekatkan diri pada Tuhan juga menjadi salah satu bentuk terapi pikiran yang efektif untuk terus menjaga otak kita bepikir positif.
Manajemen pola pikir adalah bentuk pertahanan tubuh yang penting. Rangsangan boleh berupa apa saja, baik dan buruk, selanjutnya otak dan pikiran kita yang akan meresponnya. Mari mulai berpikir positif saat ini, agar sinyal yang masuk ke tubuh juga dapat direspon menjadi mekanisme kerja yang baik bagi tubuh kita. Selanjutnya, ritme yang baik, akan menciptakan suasana yang baik bagi seluruh organ tubuh. Sehingga wajar saja ketika orang banyak berkata, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Karena pikiran dan perasaan adalah jiwa yang sebenarnya, pikiran dan perasaan yang baik akan memberikan timbal balik yang baik pula pada tubuh kita dalam bentuk kesehatan. Selamat mencoba!

Catatan : Penulis adalah Dosen Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan S2 Ilmu Biomedik Universitas Brawijaya dan S1 Biologi Universitas Negeri Malang.

Ditulis Oleh Pada Ming 10 Nov 2019. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek