| | 948 kali dibaca

JELATANG – JELUTUNG

Iwan Kurniawan SH

Iwan Kurniawan SH

Arkian, tersebutlah kisah Jelatang – Jelutung di negeri Cintedose…… Pertarungan untuk memperebutkan kepemimpinan  negeri Cintadosa sudah semakin dekat. Seluruh para calon yang ikut pertarungan,  sedang sibuk-sibuknya mencari  perahu yang akan mengangkut mereka. Berdasarkan sayembara dan persyaratan yang dibuat, diwajibkan bagi  para calon pemimpin rakyat,  untuk  memiliki perahu, jika tidak mendapat perahu, janganlah bermimpi  mengikuti pemilihan.  Pasti akan ditolak.

Meskipun persyaratan untuk itu,   akhir-akhir ini sudah dibuat cukup lunak, namun sampai dengan hari ini, ternyata badan urusan pemilihan dan penabalan kerajaan,  belum mendapat persetujuan dari Raja Agung. Aturan hukum yang mengatur tentang calon perseorang tanpa ada perahu belum ada. Mereka belum melakukan permusyawaratan  dan  mengambil keputusan buat calon independen.  Itulah masalahnya.

Menyikapi persoalan yang sedang berkecamuk di dalam negeri,  Jelatang dan Jelutung-pun  menggunakan keahliannya untuk “Mengail ikan diair yang keruh”,  Alamaaaak…..tak sampai sebegitu jauh, waaai, mereka diundang. !!!!!

Jelatang dan Jelutung, adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam hal ehwal pilih memilih dan angkat mengangkat raja. Mereka menyandang predikat summa cum laude dari makhtab  tinggi dibidang politik dan pemerintahan negara. Saking ahlinya, isi otak mereka berduapun  berbeda dengan manusia biasa. Bahkan pakar dunia  dalam ilmu pengetahuan fisika ternama Albert Einstein tertinggal jauh dengan mereka. Tersebab,  Einstein hanya mampu menemukan unsur atom, sebagai salah satu bahan penghancur bumi  “bom atom” yang meluluh lantakkan Hirosima dan Nagasaki di negeri Sakura. Sementara Jelutung dan Jelatang adalah pakar yang menemukan teori tentang penghancuran manusia dan peradaban manusia. Ditangan merekalah manusia bisa menjadi baik dan buruk, manusia bisa dihukum atau bebas, manusia bisa mati   atau hidup, manusia bisa sengsara atau bahagia, manusia bisa damai atau berkecamuk. Tinggal sebut saja, mau apa manusia itu, pasti Jelutung dan Jelatang akan memberikan teori-teorinya sekaligus penerapannya di lapangan.

Jelatang dan jelutung memang dididik untuk membangun dan menghancurkan manusia. Tergantung order yang mereka terima. Jika pesananan yang datang untuk hal-hal kebaikan maka Jelutunglah yang akan menanganinya, karena dialah yang ahli dibidang kebaikan kemanusiaan. Sebaliknya apabila order yang masuk untuk membinasakan manusia, maka Jelatanglah yang dipanggil. Tapi,  terkadang Jelatang dan Jelutung digunakan sekaligus oleh situkang order. Pekerjaan inilah yang sangat diminati oleh Jelatang dan Jelutung. Kerja seperti ini tidak terus menerus ada,  hanya sewaktu-waktu, itupun sangat istimewa, seperti, pekerjaan untuk pilih memilih dan angkat – mengangkat raja.

Seperti biasanya, setiap hari Jelatang mengenakan pakaian kebesarannya yang berwarna serba hitam. Kalau encik dan puan mau tahu, tidak saja pakaian luar, pakain dalam yang dikenakan olehnyapun berwarna hitam. Pakaian itu sangat serasi dengan warna kulitnya yang memang hitam.  Kemudian isi jasadnyapun juga hitam, sampai – sampai warna darah diapun tidak lagi merah darah tetapi sudah menjadi merah kehitam-hitaman. Jika dia tertawa, nampak pula deretan giginya yang rongak dan berwarna hitam pula. Yang putih hanya disekitar biji bola matanya saja. Hanya itu saja.

Berbeda 180 derajat dengan Jelatang, Jelutung setiap hari selalu berpakaian  serba putih. Kemudian isi dalamnya juga serba putih termasuk otaknya. Yang hitam hanya biji matanya saja. Setiap orang yang memandang Jelutung akan merasa damai dan tentram. Wajah Jelutung sedap dipandang, dia selalu tersenyum bila bertemu sapa dengan setiap orang. Sebaliknya Jelatang, tak sedap dipandang, bahkan hampir setiap orang tidak suwalak bertemu dengan Jelatang apalagi berdekatan dengannya. Apakan tidak, Jelatang tak pernah tersenyum, kalau tersenyum bukan membuat hati orang tentram, sebaliknya membuat orang lari tunggang langgang, melihat giginya yang rongak dan hitam serta berbau tidak sedap, seperti bau getah karet tak kering. Kentut tak berak 3 haripun kalah dibuatnya.

Memang,  sejak 2 – 3 hari ini, rakyat negeri Cintadosa selalu riuh rendah  dan berbisik-bisik tentang kehadiran ke dua orang tersebut. Maklumlah, negeri Cintadosa hanya sebuah  negeri pulau, berjalan kaki sehari saja sudah cukup buat seseorang mengetahui isi perut negeri tersebut. Hal itulah yang dilakukan oleh Jelatang dan Jelutung, sejak menginjakkan kakinya di negeri Cintadosa.

Berbeda dengan orang-orang lainnya, yang tidak mau berdekatan apalagi berteman dengan Jelatang, sebaliknya Jelutung sangat akrab dengan Jelatang.  Satu-satunya didunia ini yang berani berdekatan dan berteman dengan Jelatang hanyalah Jelutung. Menurut cerita – cerita nenek moyang bangsa manusia, konon dulunya, dijaman binatang dan tumbuh-tumbuhan bisa bercakap, Jelatang dan Jelutung adalah dua kakak  beradik. Karena Jelatang selalu tidak mau nurut dengan nasihat orang tuanya, maka diapun disumpah menjadi Jelatang dengan bentuk rupa buruk dan memiliki sifat-sifat teramat jelek. Sebaliknya Jelutung, dia selalu didoakan oleh  orang tuanya agar menjadi manusia yang baik dengan sifat-sifat manusia terpuji. Karena sifat yang melekat dalam tubuhnya itulah, membuat  Jelutung tidak pernah membeda-bedakan manusia, termasuk berteman dengan Jelatang.

Kemudian, karena sifat buruk dan baik mereka itu pula,  mereka berdua di undang oleh Tok bandar ke negeri Cintadosa.

“Hai Jelatang, bagaimana menurut engkau tentang negeri dan penduduk di negeri ini” ? Tanya Jelutung kepada Jelatang.

“Menurut aku, negeri ini teramat indah, hasil buminyapun kaya, dan penduduk negeri ini ramah tamah – sopan dan santun. Mereka hidup dengan damai dan tentram”, Jawab Jelatang, seraya bertanya balik kepada Jelutung.

“Akupun menilai demikian, bahkan menurut aku saking sopan santun, ramah tamah, diinjak-injak dengan orang lainpun, penduduk negeri inipun tidak peduli”, jawab Jelutung.

“Betul tuch. Aku kira penduduk negeri ini seperti luncai (bodoh-bodoh pintar) tidak ada keberanian dan pendirian yang teguh. Mereka lebih mau hidup dijajah dengan bangsa lain daripada berdikari (berdiri di atas kaki sendiri = menurut Bung Karno)”, sambung Jelatang.

“Jadi, awak sudah menyiapkan laporan untuk menghadap Datok Bandar, tentang hasil survei kita ini”, tanya Jelutung kepada Jelatang.

“Aaaach….  kalau itu sih mudah, itukan keahlian aku”, jawab Jelatang, singkat dan cepat.

“Yaaa,….akupun sudah selesai membuat laporan hasil penelitian dan saran-saran yang baik buat Tok Bandar”, kata Jelatang kepada Jelutung.

Keesokan paginya, bertandanglah Jelatang dan Jelutung ke istana Tok Bandar. Kehadiran mereka disambut meriah oleh para petinggi negeri dengan upacara dan protokoler kenegaraan.

Maklumlah, Jelatang dan jelutung merupakan pakar di pakar (konon seperti raja di rajalah, kata orang Malaysia), dibidang ilmu pengetahuan kemanusiaan. Dengan keahliannya mereka berdua bisa berbuat apa saja kepada manusia, seperti dah diurai di atas.

Namun anehnya, dari semua hadirin jemputan yang hadir di balai rung istana kerajaan Cintadosa, tidak sedikitpun mau memalingkan muka ketika memandang Jelatang, bahkan mereka semua tersenyum. Biasanya, kalau melihat bentuk rupa si Jelatang, mereka takut. Tetapi hari itu, sedikitpun mereka tidak terlihat takut. Kemudian bau tak sedap yang selalu melekat ditubuh Jelatang, ketika itu tidak ada. Itulah yang mereka pikirkan. Bahkan sebaliknya mereka memandang Jelatang dengan takjub dan terkagum kagum.

Dengan tubuhnya yang tinggi besar hitam, sepadu pula dengan  pakaian serba hitam yang dikenakannya,  membuat Jelatang tampak seperti seorang perwira perang gagah perkasa.

Kemudian, disampingnya tampaklah Jelutung dengan pakaian serba putih menebar senyum dan pesonanya yang menawan. Berjalan dengan langkah pasti dan sangat berwibawa.

Kiranya, senyuman dan pesona Jelutung, berjalan disisi Jelatang, membuat semua penilaian buruk tentang Jelatang sirna. Nur cahaya kebaikan dari Jelutung telah mengaburkan pandangan mata setiap orang, ketika  memandang Jelatang. Jadi tidak ada lagi rasa takut dan bau tidak sedap. Ketika itu semuanya terasa indah, damai dan tentram. Yang ada pada benak mereka hanyalah kekaguman dan ketakjuban terhadap kedua orang tersebut.

Memang Jelatang dan Jelutung patut diperlakukan seperti itu, karena mereka adalah pakar di pakar atau ahli di ahli, di bidang  ilmu pengetahuan kemanusiaan. Apapun yang melekat dalam diri mereka masing-masing, wajar bagi mereka untuk mendapat perlakuan dan pujian dari setiap orang, termasuk Tok Bandar selaku pemimpin negeri Cintadosa.

Dari merekalah manusia mendapat pelajaran kemanusiaan, baik yang bersifat baik maupun yang bersifat buruk. Kehadiran mereka di negeri Cintadosa sangat diperlukan  saat ini. Pada saat negeri ini akan memilih dan menabalkan salah satu dari putra-putri mahkotanya menjadi raja. Raja yang akan memimpin negeri dan memimpin 200.000 penduduk, dengan hetrogenitasnya yang beragam.

Tinggallah lagi, mereka menilai dan mengikutinya, apakah mau diikuti sifat-sifat Jelatang ataupun mengikuti sifat-sifat Jelutung.

Apa yang diminta oleh penduduk termasuk Tok bandar, akan mereka berikan, baik dan buruk.

Celakanya, kiranya Tok bandar mengundang mereka berdua, untuk memadukan pelajaran baik dan buruk yang jelatang dan jelutung berikan. Pelajaran itu sangat berguna buat Tok Bandar, agar dia dapat menjadi johan / pemenang dalam acara pemilihan dan penabalan raja nantinya. Semua pelajaran baik dan buruk yang disampaikan oleh Jelatang dan jelutung diserap habis oleh Tok Bandar.

Sementara Mapia, Samseng dan Jibun tidak mendapatkan pelajaran itu. Mereka hanya menghandalkan ilmu Abu Nawas, tentunya mereka akan terpelanting dibuat Tok Bandar. Itu sudah dapat dipastikan, cobalah dibuktikan nanti, siapa yang akan keluar sebagai johan pahlawan dan ditabalkan menjadi raja Cintadosa. Hanya keajaiban dari Tuhan YME saja, yang bisa membalikkan perhitungan dan analisa tersebut. Pelajaran keajaiban dari Tuhan YME itu pula  yang tidak sanggup diajarkan oleh Jelatang dan Jelutung kepada Tok Bandar. Karena pelajaran itu bukan hak manusia, itu milik Tuhan. Kata Ustad Komar, pelawak, bintang filem sekaligus anggota dewan itu.

Sepeninggalan Jelatang dan jelutung dari negeri Cintadosa, sedikit banyak telah merubah sifat dan pola hidup Tok Bandar. Kenapa hanya Tok Bandar saja yang berubah sifat dan pola hidupnya? Karena hanya Tok bandar yang mendapat pejaran langsung dari Jelatang dan jelutung.

Penduduk negeri itu, hanya mendapat bekal sedikit. Bekal pelajaran itupun hanya didapat oleh penduduk negeri pada saat Jelatang dan jelutung memberikan kata sambutan dihadapan para ribuan penduduk di tengah alun-alun istana negeri. Penduduk negeri hanya mendapat secuil ilmu kebaikan dan keburukan yang disampaikan oleh Jelatang dan jelutung. Mapia, Samseng dan Jibun juga tidak mendapatkan ilmu itu dengan sempurna, termasuklah Penta,dkk, Camat dan Panjang Lidah, Tim SES, dan si Daun Salam.

Diakui, setelah Tok Bandar melahap habis ilmu kebaikan dan keburukan yang diajarkan oleh Jelatang dan Jelutung, keperibadian dan pola hidup Tok Bandar drastis berbeda dari biasanya.

Kalau dulunya Tok Bandar, jarang tersenyum sekarang dia selalu tersenyum jika bertemu muka dengan penduduknya. Sekarang Tok Bandarpun lebih rajin pergi ke tempat-tempat peribadatan, memberikan sumbangan kepada para  fakir miskin, yatim piatu dan anak-anak terlantar. Wajah kota Cintadosa disolek sedemikian rupa olehnya lebih cantik, indah dan menawan. Tidak itu saja, disetiap persimpangan jalan foto wajah dan setengah badan Tok Bandar terpampang jelas sedang menebarkan senyum dan pesona. Setiap hari ada saja acara hiburan buat masyarakat dan pasar murah. Tok bandarpun pada saat ini senang bertemu ramah dengan setiap anggota masyarakat, yang mengundangnya. Tidak peduli apapun jenis undangan pasti dia akan menyempatkan diri untuk memenuhinya,  mulai dari undangan resmi kenegaraan sampai keundangan pesta kawin-akad nikah, sunat, dan cukur rambut bayi.

Sebaliknya, sekarang Tok Bandar juga mempunyai sikap yang lebih tegas dan cendrung  otoriter. Setiap para punggawa kerajaan yang coba-coba tidak tunduk perintahnya, akan dia sikat habis. Sifat tega sekarang mendominasi jasad dan jiwa Tok bandar. Ingat cerita Mapia dan Samseng, yang dibuat sakit-sakitan dan terancam masuk bui. Itu semua hasil olah reka dari Tok bandar. Dibalik senyumannya yang manis rupanya tersembunyi kemarahan, dendam, iri, kesombongan, keangkuhan, ketamakan dan sebagainya – sebagainya sifat-sifat buruk yang diajarkan oleh Jelatang.

Apa yang diajarkan oleh jelutung hanya dimanfaatkan olehnya hanya sebatas mencari simpati, pujian dan sanjungan dari penduduknya. Sedikitpun tidak ada keikhlasan dalam dirinya. Semua hanya lips service sahaja, kata kawan dari London.

Namun kalau mau Tok bandar merenungkan dirinya kembali atau introspeksi diri, dia juga manusia, artinya sewaktu-waktu dia akan dipanggil balik ke hadapan Tuhan YME. Berbuatlah lebih baik dan ikhlas, sebagaimana diajarkan oleh Jelutung, dan janganlah berbuat kejahatan seperti disampaikan oleh Jelatang. Atau jika dia tidak mampu untuk berbuat seluruh kebaikan-kebaikan tersebut, cobalah ikhlas untuk memberikan sedikit tempat buat ruh kebaikan di dalam jiwanya. Jangan berbuat melanggar aturan, norma, etika dan tradisi kemanusiaan. Perlakukan semuanya seperti saudara dan keluarga, sebagaimana diajarkan oleh Jelutung.

Jelutung tidak pernah dendam dan marah kepada Jelatang walaupun Jelatang telah mengajarkan ilmu pengetahuan keburukan kepada manusia.   Jelutung tetap saja hormat dan menghargai Jelatang. Jelutung masih tetap berteman dan selalu memberikan nilai-nilai kebaikan kepada Jelatang. Bahkan dengan nur kebaikannya, dia kaburkan  mata manusia yang memandang Jelatang. Sehingga manusia tidak marah, muak dan benci kepada Jelatang. Itu semua sudah takdir dan nasib sebagaimana kisah Sabut dan Batu.

Sebagaimana cerita-cerita yang sudah – sudah, dalam kesempatan ini, ananda ingin mengingatkan, “Kepada saudara-saudaraku semua, jalanilah hidup ini apa adanya menurut kodrat dan iradat, tidak perlu kita memaksakan diri hanya untuk menggapai cita-cita dan impian. Sehingga kita lupa kepada aturan, moral, etika dan tradisi kemanusiaan yang diajarkan oleh Agama dan Alam Semesta”.

Jelatang ditakdirkan oleh Tuhan menjadi sebatang pohon dengan daun dan getahnya yang gatal jika tersentuh kulit manusia. Sementara Jelutung pula sudah ditakdirkan menjadi sebatang pohon yang getahnya bisa dipergunakan oleh manusia sebagai bahan dasar untuk segala jenis benda yang berasal dari bahan karet, sebagaimana dapat kita manfaatkan sampai dengan hari ini. Itulah kebesaran dari Tuhan Sang Pencipta Langit dan Bumi.

Ditulis Oleh Pada Jum 01 Mar 2013. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek