' '
| | 1.545 kali dibaca

Akib, Putra Kelarik Berprestasi Nasional

DrsH Abdul Kadir Ibrahim MT, Sekwan Kota Tanjungpinang.

DrsH Abdul Kadir Ibrahim MT, Sekwan Kota Tanjungpinang.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Dalam dunia Budaya dan Sastra Nasional, nama Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim MT, akrab dipanggil Akib, anak jati Kelarik Ulu, Bunguran Utara (dulu adalah Bunguran Barat) Natuna, Kepulauan Riau, dikenal sebagai seorang putra terbaik Provinsi Kepri.

Namanya kukuh di dunia kebudayaan dan sastra nasional Indonesia. Sehingga dewasa ini masih jadi langganan narasumber atau pemakalah dalam bidang kebudayaan, khususnya bahasa, sastra, tradisi lisan, seni dan film serta politik.

Putra dari pasangan H. Ibrahim Bukit dan Hj. Hatijah Na’im itu di dalam meniti karier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) tak terbantahkan adalah satu di antara sedikit aparatur yang berprestasi, dan cemerlang. Akib menjadi CPNS pada 1 Desember 1994, kurang dari 22 tahun. Fakta dan realitanya yang terjadi, hanya dalam masa kerja 18 tahun 3 bulan saja, tepatnya pada April 2014, adinda H Bujang Idrin itu sudah berpangkat/ golongan ruang (Pembina Utama Muda/ IV-C).

Dalam menduduki jabatan, tatkala masa kerja baru 12 tahun 3 bulan, pada tahun 2007 Akib sudah menjadi PLT Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dengan golongan ruang waktu itu IV-A. Sejak tahun 2009 sampai pehujung tahun 2016 ini suami dari Hj. Ermita Thaib, S.Ag itu sudah diberi amanah oleh Walikota Tanjungpinang, mulai dari Hj. Suryatati A Manan sampai H Lis Darmansyah, menduduki enam jabatan Eselon II. Sejak Februari 2015 sampai sekarang Akib mengemban amanah pada jabatan Eselon II, menjadi Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang, sebuah jabatan yang sangat signifikan terhadap hubungan antara Walikota, TAPD dengan DPRD untuk kelangsungan dan kelancaran pembangunan daerah.

Bila dilihat perjalanan karier Akib sebagai PNS terbukti sudah adalah cemerlang dan membanggakan. Sebab hanya membutuhkan masa kerja 12,5 tahun saja, yakniApril 2007 dia diangkat menjadi Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Waktu itu sedang menduduki jabatan Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Jabatan Eselon III yang terakhir didudukinya adalah Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota Tanjungpinang (2008). Selepas itu, dalam masa kerja kurang dari 13 tahun, Akib telah menduduki jabatan Eselon II, yakni menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2009).

Adapun jabatan yang telah diduduki Oleh lelaki sebagai “Ahli Tata Kota Wilayah Pesisir dan Pantai” jebolan S-2 UNDIP-Semarang, sejak tahun 2007-2016 adalah:

1).  Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang (Februari 2015-sekarang)

2).  Staf Ahli Walikota Tanjungpinang Bidang Ekonomi dan Keuangan (2014-2015)

3). Staf Ahli Walikota Tanjungpinang Bidang Pemerintahan (2013-2014)

4). Staf Ahli Walikota Tanjungpinang Bidang SDM (2012-2013); 5) Kepala Badan Kesbangpol Linpenmas Kota Tanjungpinang (2001-2012).

5). Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2009-2011)

6). Kepala Bagian Humas Setdako Tanjungpinang (2008)

7). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2007-2008)

8). Kabid Sejarah, Purbakala, Nilai Budaya dan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2006-2008).

9). Kasi Sejarah, Purbakala dan Pemuseuman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2005-2006)

10). Kasubdin Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang (2002-2005).

Abdul Kadir Ibrahim, yang saudara sepupu Anggota DPRD Bintan, Suwardi, S.Sos ini, ketika ditanya tentang bagaimana pola dan semangat kerja selaku selaku Aparatus Sipil Negara (ASN) atau sebelumnya dikenal dengan sebutan Pegawai Negeri Sipil, mengatakan taat azas, berbuat yang patut, dan menempatkan diri sebagai aparatur negara yang elok dan mendudukkan diri sebagai hamba Tuhan.

Akib dan istri serta putrinya.

Akib dan istri serta putrinya.

Dalam kaitan ini, sudah semestinya berdasarkan dan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, sama sekali bukan atas sesuka hati, dan seenaknya, melainkan penuh tanggungjawab, dedikasi dan inovasi yang tinggi sebagaimana sumpah janji yang sudah diucapkan.“Kalau hanya menjadi pegawai saja dengan tanpa ada rasa beban di hati dan akal pikiran bahwa kita telah memilih hidup sebagai abdi negara, mengurusi rakyat dan pembangunan bangsa dan negara, maka dalam melakoni pekerjaan sehari-harinya sebagai pegawai akan selambe-lewe saja. Tak kenal apa itu disiplin, apa itu tahu malu, apa itu tenggang rasa, apa itu cinta rakyat, bangsa dan negara. Tapi percayalah, meskipun masih ada pegawai serupa itu, tetapi presentasenya semakin kecil, masih teramat banyak pegawai yang baik-baik, berdedikasi tinggi, inovatif dan profesional,” kata Akib, akhir pekan lalu, di ruang kerja Sekretariat DPRD Kota Tanjungpinang, Senggarang, Tanjungpinang.

Prestasi Akib sebagai PNS/ ASN dan pejabat, yang juga dikenal sebagai Ketua Aosiasi Tradisi Lisan (ATL) Provinsi Kepulauan Riau, ini bukan hanya menjadi kebanggaannya sendiri, keluarga, melainkan juga kebanggan kampungnya Kelarik, Natuna, Kepulauan Riau dan Indonesia. Sejumlah karya buku dan makalahnya telah tersimpan di sejumlah perpustakaan luar negeri. Dia telah memberikan pengabdian nyata kepada masyarakat, daerah, bangsa dan negara yang antara lain ikut membidani lahirnya Undang-undang Bahasa Indonesia, Bendera Merah Mutih dan Lambang Negara dalam tahun 2007. Juga memberikan pendapat dan kerja nyatanya untuk kemajuan pariwisata nasional, dan kebudayaan nasional, yang pada akhirnya mengantarkannyamendapatkan 7 penghargaan bertarap nasional dan internasional.

Penghargaan atau tanda jasa yang terbaru adalah Tanda Kehormatan SATYALANCANA KARYA SATYA XX TAHUN dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Jakarta, 07 Agustus 2015. Sebelumnya telah menerima Tanda Kehormatan SATYALANCANA KARYA SATYA X TAHUN dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono, Jakarta, 20 Juli 2010.

Penghargaan Internasional di bidang seni-sastra adalah Anugerah Sagang Seniman Serantau 2013, dari Yayasan Sagang, yang diserahkan oleh Pembina Yayasan Sagang, Rida K Liamsi (CEO Riau Pos Grup,red) di Pekanbaru, Riau, 2013. Penghargaan Nasional atas jasa dan kiprahnya di bidang Kesatuan Bangsa, Politik, Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat adalah Asean Development Citra Awards 2012-2013, APC (Asean Programe Consultant Indonesian Consortium), Jakarta, 6 Juli 2012. Penghargaan Nasional atas jasa dan kiprahnya di bidang kebudayaan dan pariwisata di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau yang memberi sumbangan untuk kemajuan kebuadayaan dan pariwisata nasional dalahThe Best Excekutive Citra Awards 2011-2012, Asean Programme Consultant Indonesia Consortium, yang sekaligus menerima sebuah medali dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) RI, Jakarta, 5 Disember 2011.

Penghargaan kebudayaan dan pariwisata tingkat nasional sebelumnya adalah Indonesia Best Executive of The Year 2009 dari Citra Mandiri Indonesia, 18 Desember 2009. Penghargaan Nasional:Indonesian Award ”Man of The Year 2009” dari Yayasan Penghargaan Indonesia, 7 November 2009.

Lelaki yang bersahaja, akrab dan dikenal luas pula di kalangan wartawan, baik lokal maupun nasional, ini lahir di Kelarik Ulu, Bunguran Barat (sekarang Bunguran Utara), Natuna, 4 Juni 1966. Menyelesaikan pendidikan S-2 Magister Teknik (MT) pada Program Pembangunan Wilayah Kota dan Pesisir, Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang (2008).

Sejak masih kanak-kanak Akib sudah merantau. Tepatnya setamat SD di Kelarik Airmali, Natuna (1981) dia melanjutkan pendidikan ke MTs di Sedanau, Ibukota Kecamatan Bunguran Barat (selesai 1984) dan merantau semakin jauh dari kedua orangtua dan saudara-saudaranya, yakni bersekolah di MAN Pekanbaru (tamat 1987). Kemudian melanjutkan pendidikan pada IAIN Susqa Pekanbaru (selesai 1991).

“Bagi saya yang didukung sepenuhnya oleh kedua orangtua saya, melanjutkan pendidikan pada masa itu sama halnya dengan berjuang hidup-mati. Kalau diikutkan rasa di hati, pasti tak sanggup berpisah dengan ayah-bunda, meninggalkan Kelarik Ulu, Natuna sebagai kampung halaman. Tapi demi nama keluarga dan marwah kampung, tanah tumpah darah, Bunguran atau Natuna maka saya harus kuatkan hati dan semangat untuk berhasil. Sebagai anak dari laut, saya benar-benar bersyukur kepada Allah atas apa yang telah saya raih sehingga setakat ini. Saya selalu berikhtiar untuk berprestasi di dalam berkerja untuk masyarakat, daerah dan negara sehingga negeri tercinta Indonesia dibilangkan nama,” kata Akib sambil menambahkan sangat bersyukur kepada Allah, karena sehingga kini telah beberapa keponakannya berhasil melanjutkan pendidikan, dan sudah bekerja di jajaran Pemerintah Daerah di Natuna, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri, Provinsi Riau, dan ada yang menjadi jaksa dan hakim.

Drs H Abdul Kadir Ibrahim MT.

Drs H Abdul Kadir Ibrahim MT.

Dari pernikahannya dengan Hj. Ermita Thaib, S.Ag pada 1995 dikaruniai tiga anak, yakni Tiara Ayu Karmita (26 September 1999), kelas 3 pada SMA Negeri 2 Tanjungpinang, Safril Rahmat (22 April 2002), kelas 3 pada SMP Negeri 4 Tanjungpinang dan Sasqia Nurhasanah (29 Juni 2006), kelas 5 pada SD 012 Bukit Bestari Tanjungpinang. Akib mempunyai beberapa orang saudara, yakni Zaharah, Nafiah (alm), Rokiah, Siti, Tunam, Isa (alm), H. Bujang Idrin, Adam (alm), Aisyah, Rosnawati dan Maria (Salos). “Ibunda, semua saudara dan keluarga besar saya menetap di Kelarik, Natuna. Tiga orang sudah meninggal,” kata Akib.

Akib bercerita panjang lebar bagaimana pengalamannya mesti berpisah dengan kedua orangtua dan saudara-mara manakala harus melanjutkan pendidikan. Tatkala di perantauan Abdul Kadir Ibrahim tak hendak membuang waktu sia-sia. Sambil kuliah dalam tahun 1987 sudah bekerja di RRI-Pekanbaru. Wartawan SKM Genta (1989), menjadi wartawan Harian Pagi Riau Pos (1993-1995). Di penghujung 1994, ikut tes CPNS di Kakanwil Depdikbud Provinsi Riau, dan lulus, yang bertugas pertama sekali (Juni 1995) di Midai-Natuna.

Dalam tahun 1998 pindah tugas di Tanjungpinang dan oleh ‘Petinggi’ Riau Pos H Rida K Liamsi mengajaknya aktif lagi sebagai wartawan di Riau Pos Group, yakni menjadi wartawan Harian Sijori Pos (kini bernama Batam Pos) dan kemudian berlanjut menjadi Redaktur Pelaksana Mingguan SeMpadaN, yang terbit di Tanjungpinang dengan Pemimpin Redaksi H. Akmal Atatrick.

Berkat hubungan baiknya dengan Bupati Kabupaten Kepulauan Riau, H. Abdul Manan Saiman waktu itu,menjadikan Akib lebih mudah bergaul dan berkenalan dengan orang-orang besar di ibukota Kabupaten Kepri kala itu. Sampailah pada suatu hari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Riau, waktu itu, Drs. Robert Loriaux (berpulang ke rahmatullah, 4 Februari 2016) mengajaknya pindah ke Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Riau. Tapi malahan tak jadi, karena Tanjungpinang terbentuk menjadi Kota Otonom tahun 2001.

Mengingat Akib adalah salah seorang dari media massa yang ikut leguh-legah memperjuangkan terbentuknya Kota Tanjungpinang, maka Pejabat Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A Manan tak mengizinkannya pindah ke Kabupaten Kepri, dan bahkan menariknya pindah ke jajaran Pemerintah Kota Tanjungpinang. Maka dia pun dilantik oleh Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A Manan sebagai Kasubdin Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Februari 2002.

Sejalan dengan itu maka dalam 2003 Akib menemui Petinggi Riau Pos Group, H Rida K Liamsi menyampaikan mengundurkan diri dari Redpel SeMpadaN (wartawan Riau Pos).

Akib ingin Natuna, kampung halamannya ada media cetak yang dapat dibaca dan menjadi kebanggaan serta media orang Natuna, maka selanjutnya atas sokongan Bupati Natuna Drs. H. Hamid Rizal dan Ketua DPRD Natuna Drs. Daeng Rusnadi serta Sekda Natuna Drs.H. Ilyas Sabli kala itu, maka dalam tahun 2005 bersama beberapa teman di Natuna mendirikan Surat Kabar Natuna Pos, yang sekaligus sebagai Pemimpin Umum sehingga sekarang.

Sebagai budayawan, sastrawan nasional, khususnya penyair Indonesia mutakhir atau modern dan intelektual Melayu, Akib sudah menulis lusinan buku dan makalah. Buku-bukunya, antara lain kumpulan puisi, 66 menguak (Bengkel Teater Bersama, Pekanbaru, April 1991). Tatkala di Midai dalam tahun 1997, dia menulis sebuah buku cerita anak dan menjadi pemenang nominiasi nasional Pusat Perbukuan Nasional dari Provinsi Riau, yang buku tersebut kemudian diterbitkan dengan judul Harta Karun (Unri Press, Pekanbaru, 2001). Setelah di Tanjungpinang, terbitlah buku kumpulan cerita pendeknya yang pertama yakni Menjual Natuna (Yayasan Sagang, Pekanbaru, Maret 2000).

Selanjutnya terbit buku kumpulan puisinya yang kedua, yakni negeri airmata (Unri Press, Pekanbaru, Oktober 2004). Buku itu diluncurkan dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, yang ditaja Dewan Kesenian Jakarta dengan pembicara atas puisi-puisi Akib adalah Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. Akib baca puisi waktu itu berdua dengan penyair ”Batu Api” Junewal Muchtar (Lawen Newal). Akib juga menulis buku tetang Islam, yakni Rampai Islam dari Syahadat Sampai Lahad (Unri Press, Pekanbaru, 2006). Adapun dua kumpulan puisinya tersebut, yakni 66 menguak dan negeri airmata kemdian diterbit dalam satu buku dengan judul nadi hang tuah (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2010).

Syahdan, dalam tahun 2013, Abdul Kadir Ibrahim, menerbitkan 9 judul buku sekaligus yang diberi tajuk sebagai ”Seri Tuah Melayu”. Buku tersebut:

1).  Tanah Air Bahasa Indonesia (Esai bahasa & sastra, Pengantar: Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana, Komodo Books, 2013).

2).  Kartini & Aisyah Cinta Sekian Mendalam (Esai, Milaz Grafika & Tamadun Melayu Institute/ Balai Buku Dunia, Tanjungpinang, 2013).

3).  Politik Melayu (Esai, Pengantar: Dr. Muchid Albintani & Jamal D Rahman, Komodo Books, 2013)

4).  Memburu Kasih Perempuan Sampan (Novel, Pengantar: Raudal Tanjung Banua, Akar Indonesia, 2013).

5).  Karpet Merah Wakil Presiden (Kumpulan Cerita Pendek, Pengantar: Putu Wijaya, Komodo Books, 2013)

6).  Santet Tujuh Pulau (Kumpulan cerita pendek, Pengantar: Agus R Sarjono, Komodo Books, 2013)

7).  Harta Karun (Kumpulan cerita anak & remaja, cetakan ke-3, Pengantar: Elmustian Rahman, Komodo Books, 2013).

8).  Tanjung Perempuan (Kumpulan cerita pendek, Pengantar: Prof. Dr. Budi Darma, Komodo Books, 2013).

9).  Mantra Cinta (Kumpulan puisi, Akar Indonesia, 2013).

Adapun buku-buku bersama penulis lainnya, di antaranya Menggantang Warta Nasib (antologi bersama Penyair Riau, 1992), “Kerikil” dalam Sagang’96 (bersama sejumlah penulis, pilihan Sagang, Riau Pos, 1996), Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu (bersama Sindu Galba, 2000), Aisyah Sulaiman Riau Pengarang & Pejuang Perempuan (bersama Yussuwadinata & Raja Malik Hafrizal, 2004). Kemudian buku Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia (bersama Hasan Junus, dkk., 2004), Tanjungpinang Kota Gurindam, Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji (bersama penulis lain, 2004), 142 Penyair Menuju Bulan (antologi puisi Penyair Nusantara, 2006), Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (Antologi Puisi sejumlah Penyair, 2006), Rampai Islam: Dari Syhadat Sampai Lahad (2006), Riwayat Singkat Pahlawan Nasional Raja Ali Haji (Penyusun, 2007), KaTePe (Kumpulan Puisi dan Cerpen Pemenang Sayembara Tanjungpinang, Penyelenggara, 2007).

Buku-buku berikutnya adalah Hj. Suryatati A. Manan: Revitalisasi Sastra Melayu (Penyelenggara, 2009), Penafsiran & Penjelasan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji (bersama sejumlah penulis, 2009), Temu Sastrawan Indonesia: Marwah Ujung Laut (Penanggungjawab, 2010), Tanjungpinang Punya Cerita (Penanggungjawab, 2010), Dermaga Sastra Indonesia: Dari Raja Ali Haji sampai Suryatati (Penanggungjawab, 2010), Ibu Kota Keberaksaraan (bersama sejumlah penyair internasional, Jakarta International Literary Festival 2011), Hari Puisi Indonesia (bersama sejumlah penyair Indonesia, 2012), Sejarah Kejuangan dan Kepahlawanan Sultan Mahmud Ri’ayat Syah (bersama sejumlah penulis, 2012), Puisi Esai Kemungkinan Baru Puisi Indonesia (bersama sejumlah penulis, Jurnal Sajak Indonesia, Depok, Indonesia, 2013), Rampai Puisi Panyair Alam Melayu Tamadun 1 (bersama sejumlah penyair, Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau, 2013). Dalam tahun 2016 terbit bukunya Doa Mekar Cinta Mekar Laut Mekar Langit dan segera terbit pula buku khusus tentang PNS/ ASN yakni ”Jadilah Pegawai Negeri!” dan ”Tradisi Lisan Melayu Khazanah Kekinian”.

Tiga buah hati Drs H Abdul Kadir Ibrahim MT.

Tiga buah hati Drs H Abdul Kadir Ibrahim MT.

Abdul Kadir Ibrahim, ketika ditanya apakah hendak balik dan mengabdi di kampung sendiri, Kabupaten Natuna, dia terdiam, matanya berbinar-binar, berkaca-kaca dan dengan tegas mengatakan sejak lama hendak sekali balik dan mengabdi di Kabupaten Natuna. “Semoga ada jalan terbaik, ada jodoh, saya bisa balik ke Natuna untuk melanjutkan pengabdian sebagai ASN.

Sekedar cerita, maka saya masih ingat betul ketika ikut terlibat dalam seminar Pembentukan Kabupaten Natuna di Pekanbaru tahun 1993, dan dalam Kongres Rakyat Kepulauan Riau di Tanjungpinang tahun 1999. Juga betapa saya masih ingat ketika menjadi salah seorang yang oleh Pejabat Bupati Natuna, Drs. H. Andi Rivai dimintakan ikut memberi pendapat terhadap langkah awal dan kelangsungan pembangunan Natuna. Semoga Allah memberi saya kesempatan untuk ikut bersama Bupati A Hamid Rizal dan Wakil Bupati Ngesti untuk membangun Natuna lima tahun mendatang.

Jika Allah menghendaki, tak ada yang sulit, semua bisa terwujud dan berjalan dengan mudah,” kata Akib yang pernah ikut secara khusus Diklat Penataan Keuangan Pemerintah Daerah oleh BPKP Pusat, di Bogor tahun 2014.

Akib jadi teringat dengan masa kecilnya bersama saudara-saudaranya yang berempat orang, yakni Mustafa, Suardi, Yusuf, dan Ramli.Katanya, banyak hal yang takkan pernah terlupakan dalam hidupnya, antara lain tatkala masih kanak-kanak di Natuna bersama ayah-bunda, sebagai anak laut, orang pulau yang juga berkebun kepala, sagu, cengkeh, getah, bersawah padi dan berkebun tanaman muda. Begitu pula waktu bersekolah di Sedanau, tinggal menumpang di rumah saudara dan kerabat. Dia takkan pernah melupakan jasa-budi yang kerabat ayahnya, yakni H Raja Nyat dan keluarga, yang paruhan pertama kelas 1 MTs Sedanau, Akib tinggal di rumah tokoh Sedanau itu. Kemudian ketika masih kelas 1-2 MTs Sedanau Akib tinggal pula bersama Datuknya H Zaman Ali. “Ayah Hude Raja Nyat dan Datuk H Zaman Ali dan keluarga sangat menyayangi saya,” kata Akib.

Seiring waktu menjelang naik ke kelas 3 MTs Sedanau Akib diajak pamannya Ismail tinggal pula di rumahnya. “Sehingga sekarang dan sampai kapan pun saya selalu teringat dengan Yahngah Ismail dan seluruh keluarganya,” kenang Akib sambil menambahkan pada suatu masa adik sepupunya Suardi (beberapa tahun terakhir menjadi salah seorang pengusaha minyak dan anggota DPRD Bintan) mengajaknya tinggal bersama di rumah ayah saudara sendiri, yakni Ibrahim Darun.

“Maka pada akhirnya saya dan Suardi tinggal di rumah Yahsu Ibrahim, dan isteri beliau Maksu Ina. Waktu itu anak-anak beliau masih kecil-kecil, yakni Khaidir, Hadisun dan Ika. Saya sangat bahagia dan bersyukur, karena saudara-mara, dan kerabat ayah dan ibu saya di Sedanau sebagaimana disebutkan itu sangat baik dan menyayangi saya, sehingga saya dapat berhasil sekolah di Sedanau dan kemudian melanjutkan sekolah ke Pekanbaru,” kenang Akib.

Akib merasa takkan lupa juga dengan kenangan ketika bersekolah di Pekanbaru, yang kala itu sulit sekali berhubungan dengan ayah-bunda, hanya melalui surat “jembatan” Kantor Pos atau telegram. Kalau Ayah mau menelegram, maka dari kampung Kelarik harus menempuh pelayaran kapal motor sekitar 3 jam ke Sadanau. “Pokoknya banyak kesulitan,” kenang penyair yang digelar sebagai Penyair “Mutakhir-Modren” Cakrawala Sastra Indonesia itu.

PNS yang juga digelari oleh salah satu media nasional (Harian Media Indonesia) sebagai Penjaga Sastra Melayu Modern, dan (Harian Kompas) sebagai satu eksamplar sastrawan modern Indonesia ini, menambahkan masih banyak kenangan, terumata dengan saudara-saudaranya ketika di Kelarik-Natuna, yakni Suardi (kini anggota DPRD Bintan), Yusuf (Sekdes Kelarik Utara), Mustafa (Guru di Kelarik), dan Ramli (Mantan Kades Kelarik Utara). “Suardi dan Ramli adalah adik sepupu saya dari sebelah ayah.

Sedangkan Yusuf dan Mustafa adalah abang sepupu saya dari sebelah ibu. Kami bersaudara yang saya ibaratkan untuk menggambarkan kenekatan kami meninggalkan kampung, merantau pergi bersekolah dalam tahun 1980-an sebagai ‘Anak Fajar dari Laut’. Saya, Suardi, Mustafa dan Ramli merantau meninggalkan kelarik ke Sedanau dan Yusuf ke Ranai. Setelah itu saya ke Pekanbaru, Mustafa ke Ranai, Suardi dan Ramli ke Tanjungpinang.

Alhamdulillah kami berhasil dan semoga saja dapat membanggakan kedua orangtua,” kenang Akib.

Kenangan indah lainnya kata Akib, ketika pindah dari Pekanbaru ke Midai pada Juni 1996. Waktu itu Akib bersama isteri tercinta, Ermita, yang baru dinikahinya pada 28 Mei 1995. “Pindah ke Midai, saya dan isteri anggap sebagai berbulan madu. Tapi beberapa bulan kemudian, isteri saya harus ke Pekanbaru untuk mengikuti ujian sarjana. Sulit dilupakan bagaimana rasanya dalam suasana pengantin baru, tetapi harus berpisah dalam waktu yang tak singkat, demi sang isteri meraih cita-citanya.

Dan banyak kenangan yang luar biasa bersama masyarakat Midai, khususnya keluarga besar saya H Sabki dan H Muhammad Ali, yang masih tetap segar dalam pikiran dan ingatan saya sehingga saat ini,” kata Akib sambil tersenyum. 

Tugas dan Peran Sekwan

Disinggung tentang tugas-tugasnya sebagai Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang, Akib yang dalam tahun 2012 pernah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Badan Intelijen Negara (BIN) ini, menjelaskan antara lain secara maksimal membantu, mempasilitasi, dan memperlancar segala tugas-tugas Pimpinan dan Anggota DPRD dalam kaitan kelancaran tugas pokok dan fungsi DPRD.

Hal yang tak kalah penting, sebagai Sekwan dapat menjembatani dengan baik hubungan antara DPRD dengan Walikota Tanjungpinang atau sebaliknya di dalam berbagai hal menyangkut pembangunan daerah. Begitu juga dengan Seketaris Daerah Kota Tanjungpinang selaku Ketua TAPD mesti dapat dihubungkan dengan baik dengan dewan. Ditambah koordinasi yang intens dengan DPPKAD dan Bappeda.

Menurut Akib, berkenaan dengan tugas pokok dan fungsi Sekeratis DPRD, perlu dipahami, bahwa sangat berbeda dengan SKPD lainnya. Selaku Sekwan, mesti dapat bertugas sebagaimana tugas pokok dan fungsi SKPD lainnya dan sekaligus ada lagi tugas yang tak ringan, yakni membantu kelancaran tugas-tugas Pimpinan, Anggota Dewan dan alat kelengkapan DPRD di dalam rapat-rapat, sidang-sidang DPRD, penyusunan dan pembahasan rancangan peraturan daerah, menjadi penyambung hubungan Walikota dan Wakil Walikota dengan Pimpinan dan Anggota DPRD di dalam berbagai hal menyangkut pengganggaran dan program pembangunan daerah. Juga kepada Sekda selaku Ketua TAPD di dalam pembahasan APBD dan APBD-P dan banyak hal lagi. Juga dapat menjalin hubungan kerja yang baik serta terukur dengan DPPKAD dan Bappeda serta Inspektorat.

“Semua harus dipasilitasi dan dijembatani dengan baik, sehingga antara DPRD dengan Pemerintah Daerah dapat berjalan dengan baik, lancar, sesuai peraturan dan perundang-undangan yang ada serta sesuai dengan harapan rakyat,” kata pejabat yang pada awal tahun 2016 ini telah mengikuti Assismen di LAN Jatinangor, Jawa Barat. Selaku Sekretaris DPRD mestilah dapat pula menjalin komunikasi yang baik dengan pihak Kajari dan Kapolres, dalam rangka kebaikan di mata hukum untuk seluruh keluarga besar Sekretariat dan Anggta DPRD.

“Sekda Kota Tanjungpinang, Riono kepada saya sambil mergurau, beliau mengatakan tugas pokok dan fungsi Sekretaris Daerah dengan Sekretaris DPRD itu hanya beda-beda tipis saja. Dalam banyak halpun tetap beda-beda tipis saja. Suatu hal yang pasti, selaku Sekwan sudah sejatinya mengetahui tugas pokok dan fungsi Sekda selaku Ketua TAPD, kalau tidak tahu maka akan sulit mengkomunikasikannya dengan Pimpinan Dewan dan anggotanya,” kata Akib.

Selaku Sekwan, mesti dapat membangun hubungan yang terbuka, sesuai visi-misi Kota Tanjungpinang dengan Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Tanjungpinang sebagai keharusan.

Bagaimanapun setiap anggota DPRD Kota Tanjungpinang yang berjumlah 30 orang itu merupakan wakil-wakil rakyat yang notabenenya adalah utusan masing-masing partai. Setiap anggota mempunyai tanggungjawab sebagaimana tupoksi anggota dewan dan niscayalah akan memberi peran terbaik bagi kelangsungan pembangunan kota dan kesejahteraan rakyat.

“Kalau kita bicara tentang rasa komunikasi dengan masing-masing anggota dewan, pasti ditemukan berbagai perbadaan pikiran dan kehendak, baik menyangkut berbagai kewajiban dan hak anggota itu sendiri, maupun terhadap pengganggaran, peraturan daerah dan pembangunan atau kesejahteraan rakyat. Dalam kaitan itu, antara Sekwan dengan segenap anggota dewan, dipastikan selalulah juga terjadi perbedaan pendapat, dan tak jarang perdebatan hebat. Tapi bila semuanya dikembalikan dan disandarkan kepada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, maka semua dapat berakhir dengan saling memahami, manis, mesra dan harmonis. Makanya, sejak awal saya sudah membangun rasa kebersamaan dalam bingkai peraturan dan perundang-undangan untuk mewujudkan kinerja segenap anggota dewan secara optimal,” katanya.

Di dalam kelancaran program dan kegiatan pembangunan sebagaimana dianggarkan dalam APBD, maka peran dewan bukan sekedar ketok palu. Dewan benar-benar dituntut kemapuan, kejelian dan kepeduliannya terhadap berbagai program pembangunan yang dianggarkan bahwa benar-benar untuk membangun kota dan masyarakat semakin baik. Muaranya niscayalah kepada terwujudnya hasil pembangunan dan kesejahteraan rakyat Kota Tanjungpinang. “Dalam kaitan inilah Sekwan menjalankan perannya, yang antara lain menjembatani antara Pimpinan dan anggota dengan dengan Walikota, Wakil Walikota dan Sekretaris Daerah selaku Ketua TAPD. Menjalin dan memastikan hubungan itu, menjadi kunci kelancaran agenda bersama antara DPRD dengan Pemko. Misalnya, dalam rapat-rapat anggaran atau lainnya dengan SKPD, atau pihak lain, serta dalam sidang paripurna di dewan,” kata Akib yang juga dikenal sebagai salah seorang Diklarator Hari Puisi Indonesia itu.

Demi kelancaran berbagai agenda pembangunan kota, terutama menyangkut Ranperda-Ranperda, maka antara DPRD dengan Pemerintah Kota tak dapat ditawar-tawar harus terjalin hubungan yang baik dan harmonis. “Bila antara dewan dengan Pemko, khususnya Walikota dengan dewan ada persoalan serius, maka dapat dipastikan akan berdampak buruk terhadap pengeleloaan pemerintahan, pembangunan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Keharmonisan mesti diwujudkan, karena dengan cara itulah berbagai persoalan dan program atau agenda pembangunan dapat diwujudkan di tengah masyarakat. Karena itu, peran Sekwan menjadi sangat penting dan ikut menentukan,” kata mantan Staf Ahli Walikota Tanjungpinang itu lagi.

Sebagai ASN yang sudah berpangkat IV-c, Akib senantiasa berharap dan mengingatkan anggota DPRD Kota Tanjungpinang, untuk tetap dapat menampilkan diri sebenar-benarnya sebagai wakil rakyat dengan segala harkat, martabat, marwah dan hasil kerjanya yang benar-benar mencerminkan wakil rakyat yang patut dan berpendirian untuk keberhasilan pembangunan kota dan kesejahteraan rakyat.

“Kalau bercermin kepada masa kerja dari Pemilu ke Pemilu, maka anggota dewan dalam satu periodenya hanya punya waktu lima tahun saja. Karena itu, niscayalah akan tampil sebagai yang terbaik dan memberikan pula yang terbaik untuk rakyat. Syukur-syukur prestasi yang diukir sebagai wakil rakyat dalam masa satu priode sudah menjadi catatan dan ingatan penting bagi segenap rakyat, sehingga pada Pemilu yang akan datang, tahun 2019 dapat terpilih lagi oleh rakyat. Dalam kaitan ini, bukan hanya kinerja yang dipandang, tetapi kepribadian tak kalah penting menjadi takaran oleh rakyat,” harap Akib.

Abdul Kadir Ibrahim, selaku Sekwan Kota Tanjungpinang, namanya juga dikenal luas sebagai sastrawan nasional (Indonesia) mutakhir dari Tanah Melayu Riau-Kepulauan Riau. Di samping itu juga menjadi narasumber dalam bidang kebudayaan, khasnya tradisi lisan terutama yang berkaitan dengan Melayu Kepulauan Riau. Maka tak heran bila dia sehingga kini tetap menjadi langganan dalam pemakalah pada agenda-agenda atau perhelatan nasional di berbagai daerah di Indonesia, terutama dengan ATL (Asosiasi Tradisi Lisan) Pusat dan Kementerian Kebudayaan RI.

Berkenaan dengan tugas-tugasnya sebagai Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim yang penulis buku Politik Melayu tersebut mengatakan, kuncinya koordinasi dan komunikasi yang baik dan aktif terutama kepada pejabat di Mendagri. Selama terjalin komunikasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Sekwan kepada Pimpinan Dewan dan anggotanya, maka segalanya akan berjalan secara patut.

Demi kebaikan bertugas, Akib berkonsultasi, minta pendapat kepada Inspektorat, BPK Perwakilan Provinsi Kepri di Batam dan kepada beberapa Dirjen Depdagri. Juga kepada Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanjungpinang dan jajarannya, serta Kapolres Tanjungpinang.

Ketika disinggung sekali lagi tentang keinginannya untuk pulang ke kampung halamannya, Kabupaten Natuna, Akib dengan terus terang mengatakan betapa sudah sejak lama hendak sekali mengabdi di kampung halaman sendiri. ”Mudah-mudahan saya dapat ambil bagian danberjodoh menjadi pembantu bupati dan wakil bupati Natuna priode 2016-2020 dalam jabatan yang strategis sehingga memungkinkan saya dapat berbuat banyak untuk Kabupaten Natuna. Insyaallah,” kata penulis buku Tanah Air Bahasa Indonesia itu.(redaksi)

Ditulis Oleh Pada Kam 06 Okt 2016. Kategory Natuna, Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek