''
| | 118 kali dibaca

Penerimaan Jalur PPDB Undang Tangis Orang Tua Murid

Petrus Sitohang, anggota DPRD kota Tanjungpinang daei komisi 1 yang membidangi pendidikan, sosial, kemasyarakatan dan kesehatan.

Tanjungpinang, Radar Kepei-Penerimaan murid baru tahun ajaran 2017-2018, berbuah tangis orang tua murid yang mendaftarkan anak- anaknya ke sekolah yang dituju.
Pasalnya, nilai hasil ujian nasional yang bagus tidak menjamin mereka bisa menembus sekolah impiannya.
Seperti yang disampaikan orang tua murid, yang minta namanya tidak ditulis. Ia mengeluhkan 2 sekolah yang jadi pilihan anaknya mendaftar tidak satupun anaknya bisa lolos. Saat ditanya apakah maduk dalam zonasi sekolah tujuan perempuan paroh baya ini menjawab iya. Sembari menunjukkan kk domisilinya.
“Saya tinggal di wilayah Tanjungpinang timur, dan masuk dalam zona sekolah yang kami daftarkan. Tetapi tidak satu pun sekolah itu lolos anak saya,” urainya.
Lanjutnya, ” yang membuat hati saya sedih, nilai anak saya lumayan, tidak jelek-jelek amat. Kok yang nilainya dibawah anak saya malah lolos. Domisilinya juga sama dengan kami diwilayah Tanjungpinang timur,” tambahnya sembari menitikkan air mata.
Hasil pantauan radar kepri di sebuah sekolah ternama Tanjungpinang, memang terlihat nilai-nilai hasil ujian nasional tahun ini yang lebih rendah dibanding tahun lalu bisa masuk ke sekolah favorit. Sedangkan yang memiliki nilai lebih justru tersingkir.
Bahkan saat radarkepri.com melihat-lihat situasi pendaftaran ulang, datanglah 2 orang siswa.
Salah seorang siswa ini mengaku sudah melakukan protes ke posko ppdb depan ramayana, menanyakan kenapa dengan nilainya yang lumayan baik, tidak bisa masuk ke sekolah yang dipilihnya. Sedangkan yang nilainya dibawah dirinya bisa lolos..”Kami mempertanyakan mengapa kami tidak bisa masuk. Bukan membanggakan untuk nilai kami yakin bisa masuk ke sekolah yang kami harapkan, tetapi ternyata tidak. Tadi kami disarankan kesekolah ini, makanya kami kemari. Tetapi panitianya bilang sudah penuh,” tukasnya dengan wajah lesu.

Remaja berambut lurus ini berharap, bisa masuk sekolah karena hari sabtu pra mos sudah dilaksanakan.
Karena ditolak, 2 siswa ini pergi meninggalkan sekolah tersebut dengan menekuk wajah. Tampak pancaran kekecewaan pada raut muka keduanya karena daftar ulang terakhir hari Jumat(13/7).
Sedangkan salah seorang siswa yang berhasil lolos kesekolah tersebut saat ditanya, mengaku nilai ujiannya tidak tinggi. Dibawah rata-rata 6, 5 lebih dan diterima dijurusan IPA. Ia mengaku terlambat daftar ulang karena harus menyelesaikan pembayaran di bank terlebih dahulu.
Dengan wajah sumringah remaja hitam manis ini berlalu setelah menyerahkan berkas daftar ulang.
Hal senada disampaikan ibu Ariani, orang tua yang sampai hari terakhir daftar ulang anaknya belum mendapat sekolah. Ia masih berharap anaknya bisa masuk sekolah yang diharapkan terutama untuk pengembangan bakat anaknya.
“Dengan nilai anak saya yang lumayan, saya tadinya yakin akan lolos sesuai sekolah yang dipilih, ternyata tidak. Dan yang membuat hati saya bertanya- tanya, kok yang nilainya rendah dari anak saya malah lolos. Timbul pertanyaan dihati saya, ada apa ya ? Apa lagi saya liat nilai-nilai yang lolos itu rata- rata dibawah nilai anak saya. Soal zonasi, ada yang sama tinggalnya dengan kami tapi lolos. Saya yang awam ini jadi berpikir, apa ini yang namanya “titipan ?”, katanya.
Masih ariani, saya hanya berpikir positif mendaftarkan anak ke sekolah yang ingin dituju, dengan jalan yang murni, tetapi kenyataannya anaknya tidak lolos.
“Memang hanya 2 sekolah pilihan anak saya, sesuai zonasi, sma 1 dan sma 2 dan dua- duanya tidak lolos. Waktu saya tanya ke panitia ppdb, disarankan saya ke sma 3, 5, 6 dan 7 yang kuota penerimaan muridnya masih ada. Disuruh daftar langsung, online gitu”,pungkasnya.
Saya berharap, kedepan sistim pendidikan kita bisa lebih baik lagi, sistim online ini bisa dievaluasi ulang, imbuhnya.
Ia juga mengaku sampai menemui salah seorang kepala sekolah mempertanyakan mengapa nilai yang rendah bisa lolos dan tinggi justru tersingkir. Namun kepala sekolah tersebut ungkapnya tidak bisa berbuat banyak. Karena penerimaan siswa tahun ini memakai sistim. Pihak sekolah hanya menerima data-data murid yang lolos masuk kesekolahnya.
Dilain pihak, anggota DPRD kota Tanjungpinang, Petrus Sitohang, yang dikonfirmasi Radar disela-sela kesibukannya mengungkapkan. Bahwa penerimaan murid baru untuk tahun ajaran 2018 merupakan peraturan pusat. ” bukan tergantung dengan nilai tinggi, tetapi zona atau tempat tinggal siswa yang bersangkutan.
“Peraturan ini bagus, tetapi kurang sosialisasi ke masyarakat. Harusnya dari tahun kemarin sudah disosialisasikan ke orang tua murid, sehingga orang tua murid tidak menjerit.
Lanjutnya, ada positifnya sistim on line, pertama transparansi penerimaan murid baru.
Kedua menghindari pungutan liar (pungli). Ketiga transparan dan keempat adil dalam artian sesuai zonasi.
“Selama ini kita terfokus pada sekolah favoritisme, sehingga tidak ada pemerataan mutu ditiap sekolah. Sistim zonasi baik hanya kurang sosialisasi saja,” urainya.(Lanni)

Ditulis Oleh Pada Sab 14 Jul 2018. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek