| | 112 kali dibaca

Kota Impian

Oleh : Dr. Apriyan D Rakhmat

 

Jika klub sepakbola memiliki tim impian (the dream team) dengan dukungan pemain berkualitas, pelatih berpengalaman, manejer kelas dunia, dan sumber keuangan memadai, maka tentunya sebuah kota dengan puluhan ribu hingga jutaan orang yang tinggal di dalamnya lebih menghajatkan akan adanya sebuah kota impian (the dream city).
Kota impian yang dimaksudkan di sini adalah sebuah kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi mantap yang disertai pendistribusiannya yang berkeadilan di antara seluruh lapisan masyarakat, ikatan sosial yang tinggi, rukun dan damai termasuk didalamnya tingkat keamanan yang mantap, dan dalam masa yang sama terwujudnya lingkungan fisik yang bersih, teratur dan tertata baik. Secara sederhana dapat digambarkan sebuah kota yang tertata apik, hijau dan segar, bebas dari berbagai unsur pencemaran, terhindar dari kemacetan dan banjir, infrastruktur (ekonomi dan sosial) lengkap dan berkualitas, tingkat keamanan tinggi dan penduduknya memiliki pendapatan lumayan yang dicirikan dengan tingginya tingkat daya beli.
Persoalannya, apakah kota impian tersebut hanya sekedar utopia yang hanya ada dalam khayalan para pemimpin dan benak warga kota? Atau ianya memang bisa untuk direalisasikan di dalam alam nyata, terkhusus di Tanah Air.
Jika seandainya bisa, dan memang harus optimis bisa diwujudkan, bagaimana cara untuk mencapainya? Mungkin untuk memudahkan pemahaman, kita dapat menganalogikan dengan sebuah tim sepakbola, seperti Barcelona, Real Madrid atau Manchester United. Klub-klub sepakbola ini mungkin dapat mewakili the dream team, yang selalu dengan setia ditonton oleh jutaan orang setiap laga pertandingan, termasuk masyarakat Indonesia.
Belajar dari pengalaman tim sepakbola di dalam meraih kedudukan the dream team, maka syarat-syarat ini juga dapat diterapkan didalam usahan meraih sebuah kota impian.
Empat Syarat Utama
Pertama, tersedianya sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang mendiami kota. Manusia berkualitas yang biasanya diukur dengan indeks pembangunan manusia (IPM) merupakan salah satu syarat penting di dalam usaha meraih sebuah kota impian. Tanpa adanya dukungan dari kualitas SDM, terasa sangat berat untuk dapat meraih sebuah kota impian. Ibarat tim sepakbola, tanpa dukungan pemain berkualitas tinggi mustahil akan dapat memenangkan pertandingan. Mustahil para pemain akan dapat menjaringkan gol ke gawang lawan. Sehubungan itu, klub-klub besar tidak segan-segan menggelontorkan uang milyaran rupiah untuk membeli pemain berkualtias. Termasuk tim sepakbola di Tanah Air, dengan perekrutan para pemain bintang.
Dalam konteks ini, tentu sebuah kota agak sukar untuk mengimpor penduduk berkualitas yang mendiami kota, layaknya tim sepakbola. Sehubungan itu, mau tidak mau, SDM yang ada harus terus dilakukan pembinaan dan peningkatan kualitasnya, terutama melalui pendidikan, pelayanan kesehatan dan pembukaan lapangan pekerjaan.
Kedua, adanya pelatih berkualitas. Keadaan ini dapat dinalogikan kepada para kepala dinas sebuah kota yang merupakan ujung tombak Walikota/Bupati untuk merealisasikan kebijakan dan program yang telah ditetapkan. Termasuk juga disini adalah para Camat berkualitas, untuk dapat memberikan palayanan publik kepada warga kota, termasuk juga merealisasikan kebijakan dan program pembangunan yang diusung oleh Walikota atau Bupati. Kesuksesan pembangunan harus dapat dirasakan secara merata pada setiap wilayah kota.
Ketiga, adalah adanya manejer yang mantap. Pada sebuah kota ini adalah perwujudan dari Walikota atau Bupati yang harus dapat mengelola segala sumberdaya yang ada untuk dapat mewujudkan cita-cita dan visi pembangunan, termasuk janji-janji ketika masa kampanye yang telah didengar dan diserap masyarakat. Bisakah Walikota/Bupati untuk menempatkan para kepala dinas dan camat yang cocok pada bidangnya, untuk kemudian dievaluasi kinerjanya secara berkesinambungan. Jika ada kepala dinas atau camat yang tidak beres menjalankan tugasnya, tentu diberikan teguran dan peringatan. Jika kemudian juga tidak bisa berubah, harus segera dicari pengganti yang lebih sesuai.
Keempat, untuk dapat menggapai kota impian perlu adanya sumber dana yang memadai. Sebab, untuk dapat melengkapi jumlah dan kualitas sarana dan prasaranan umum misalnya, perlu adanya dukungan dana yang besar. Untuk dapat memberikan pelayanan publik juga perlu suntikan uang, seperti untuk gaji para pegawai dan staf, tenaga ahli, pelatihan dan pendidikan lanjut para staf, serta penambahan peralatan dan barang-barang lainnya yang diperlukan untuk menunjang efisiensi kerja.
Dalam hal ini, sulit rasanya menuntut terwujudnya kota impian kepada para manajer kota, jika memang para manejer tidak memiliki sumber dana yang mencukupi. Persoalannya, dari mana dan bagaimana para manejer untuk menyiasati menutupi kekurangan dana yang selalu jadi kambing hitam pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik? Kenapa kota-kota tertentu dapat secara elegan untuk mengatasi masalah pendanaan? Kecerdasan dan kepiawaian seorang Walikota/Bupati dipertaruhkan. Mampukah dia untuk mencari jalan keluarnya? Mampukah ia mencari dan menemukan ide-ide kreatif dan cemerlang yang kemudian dapat diterapkan untuk kemajuan kota? Mampukan ia melakukan terobosan dan inovasi baru dalam segala keterbatasan dan kendala yang dihadapi?
Suka ataupun tidak, keempat syarat tersebut saling berkelindan satu sama lainnya di dalam upaya untuk mewujudukan the dream city. Jika salah satu syarat yang diuraikan di atas ada bermasalah, maka usaha untuk mencapai the dream city juga akan tersendat dan perlu waktu lama, bahkan mungkin tidak dapat untuk mewujudkannya. Wallahu a’lam.

Catatan, penulis Dr. Apriyan D Rakhmat adalah
Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota,
Fakultas Teknik, Universitas Islam Riau Pekanbaru.

Ditulis Oleh Pada Ming 16 Jun 2019. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek