
Tanjungpinang, Radar Kepri- 27 orang rombongan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) mewakili Kepri yang akan bertanding di Monokwari terlantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Jakarta, Kamis (24/07).
Mereka datang membawa koper berisi seragam lomba yang telah disetrika rapi. Sebanyak 27 perempuan asal Tanjungpinang, Kepulauan Riau, memikul harapan untuk mengharumkan nama daerah pada ajang Pesparawi Nasional XIV di Manokwari.
Di tangan mereka terdapat lembar perjalanan yang diyakini sebagai tiket penerbangan bertanggal 24 Juni 2026. Mereka percaya seluruh administrasi telah beres. Mereka percaya akan tampil mewakili provinsinya.
Kamis malam mereka tiba di Jakarta. Jumat pagi, 25 Juni 2026, seharusnya mereka sudah berada di Manokwari. Jadwal pertandingan menetapkan Paduan Suara Wanita sebagai peserta yang tampil lebih awal. Seragam telah dikenakan. Suara telah dipersiapkan.
Namun di konter maskapai, kenyataan berkata lain.
Petugas bandara menyampaikan bahwa dokumen yang mereka pegang bukan tiket yang telah diterbitkan, melainkan hanya pemesanan karena pembayaran belum diselesaikan. Saat itulah perjalanan mereka terhenti.
Kontingen yang sebelumnya dilepas secara resmi oleh pemerintah daerah mendadak tertahan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Bukan karena cuaca buruk. Bukan pula karena gangguan operasional penerbangan. Melainkan karena persoalan administrasi yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
Menurut keterangan yang beredar, berbagai upaya komunikasi dengan pihak panitia daerah telah dilakukan. Namun solusi yang diharapkan tidak kunjung datang. Tidak ada pula kepastian apakah keberangkatan memang harus dibatalkan sebelum rombongan diberangkatkan ke Jakarta.
Di tengah kekecewaan itu, para anggota kontingen memilih sikap yang justru menyentuh hati banyak orang.
Mereka tidak menggelar aksi protes. Tidak melontarkan kemarahan di depan kamera. Mereka melakukan hal yang paling mereka kuasai. Mereka bernyanyi.
Di sudut Terminal 3 Soekarno-Hatta, lagu yang semestinya diperdengarkan di panggung Pesparawi Nasional akhirnya menggema di bandara. Tanpa dewan juri. Tanpa penilaian. Tanpa perebutan medali.
Rekaman penampilan sederhana itu kemudian menyebar luas di media sosial dan mengundang simpati publik. Banyak yang menilai, mereka telah menunjukkan sikap yang tetap bermartabat di tengah situasi yang mengecewakan.
Namun di balik kisah yang mengharukan tersebut, terdapat pertanyaan yang layak dijawab secara terbuka.
Bagaimana proses keberangkatan dapat berlangsung apabila tiket belum benar-benar terbit?
Siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan administrasi dan anggaran perjalanan?
Mengapa kontingen tetap diberangkatkan ke Jakarta apabila terdapat kendala yang berpotensi menggagalkan keberangkatan ke Manokwari?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara transparan karena keberangkatan kontingen merupakan bagian dari kegiatan resmi yang menggunakan mekanisme penyelenggaraan dan pembiayaan publik.
Publik berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jika terdapat kelalaian administratif maupun kesalahan tata kelola, proses evaluasi harus dilakukan secara terbuka dan akuntabel sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila ditemukan indikasi pelanggaran hukum dalam penggunaan anggaran atau penyelenggaraan kegiatan, aparat penegak hukum memiliki kewenangan untuk melakukan penyelidikan berdasarkan bukti yang tersedia.
Pesparawi Nasional akan menetapkan para juara. Nama-nama pemenang akan tercatat dalam sejarah kompetisi.
Namun kisah 27 perempuan asal Kepulauan Riau kemungkinan akan dikenang lebih lama. Mereka mungkin pulang tanpa medali. Tetapi mereka telah menunjukkan bahwa martabat tidak selalu diukur dari piala yang dibawa pulang.
Kini publik menunggu bukan sekadar janji evaluasi.
Yang dibutuhkan adalah penjelasan yang utuh, pertanggungjawaban yang jelas, dan—jika memang terdapat kesalahan—permintaan maaf kepada para peserta yang telah mempersiapkan diri, mengorbankan waktu, tenaga, dan harapan demi membawa nama daerah di panggung nasional.(Irfan)







