Jadilah Manusia Dulu, Baru Wartawan

Dua puluh tahun. Bukan waktu yang sebentar. Tapi ingatan itu masih segar. Seperti baru kemarin sore terjadi.

Waktu itu saya masih “hijau”. Masih semangat-semangatnya belajar jadi kuli tinta. Lokasinya di Kepulauan Riau (Kepri). Kami berkumpul, menyerap ilmu dari seorang pendekar pers yang luar biasa.

Beliau adalah Akmal Attatrik. Pemimpin Redaksi pertama saya di dunia jurnalistik. Tokoh pers Kepri yang disegani. Beliau seangkatan dengan Rida K. Liamsi—sang maestro pendiri Batam Pos.

Bang Akmal ini bukan wartawan kemarin sore. Jam terbangnya tinggi sekali. Beliau sudah melintang di dunia pers sejak zaman Presiden Soeharto. Era di mana menulis salah sedikit saja, urusannya bisa panjang. Nyawa taruhannya.

Bahkan, ada cerita heroik di balik nama besarnya. Di zaman Orde Baru, Bang Akmal pernah menjadi buruan. Dikejar-kejar penguasa karena tulisannya yang kritis. Beliau sudah kenyang merasakan pahit getirnya memperjuangkan kebebasan suara di tengah tekanan sepatu lars.

Beliau menggembleng saya cukup lama. Bertahun-tahun. Kami bukan cuma duduk di belakang meja redaksi yang dingin. Kami turun ke lapangan. Berkeliling dari pulau ke pulau. Menembus ombak hingga sampai ke pelosok Daik Lingga. Di sana, di bawah bayang-bayang Gunung Daik yang bercabang tiga, saya belajar apa artinya menjadi “mata dan telinga” rakyat.

 

Bang Akmal adalah sosok yang unik. Beliau juga orangnya Megawati. Pengurus PDIP. Tapi, meski berpolitik, idealisme jurnalistiknya tidak goyah satu inci pun. Beliau sangat teruji. Antara ketaatan pada partai dan integritas sebagai wartawan, beliau tahu persis di mana garis pembatasnya.

Tiba-tiba, di tengah pelatihan itu, sang senior yang kenyang asam garam ini melempar pertanyaan. Bukan soal politik praktis. Bukan soal cara menghindari kejaran aparat. Ini soal nurani.

“Jika kamu seorang wartawan,” katanya pelan tapi tajam. “Lalu di depanmu ada orang kecelakaan motor. Jatuh. Terkapar.”

Beliau berhenti sejenak. Menatap mata kami satu per satu.

“Apa sikapmu? Memotretnya dulu atau menolongnya dulu? Mana yang kamu dahulukan?” tanya Bang Akmal ke saya.

Ruangan mendadak senyap. Kami saling pandang. Di kepala saya, dua logika bertarung hebat.

Sebagai wartawan, momen adalah segalanya. Exclusive. Satu jepretan bisa jadi headline* besok pagi. Kalau ditolong dulu, momennya hilang. Beritanya basi.

Tapi, sebagai manusia? Masa iya melihat orang meregang nyawa malah sibuk cari sudut pandang kamera? Terlebih yang bertanya ini adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawa demi kebenaran.

Bang Akmal kemudian tersenyum. Beliau memberikan jawaban yang saya bawa sampai hari ini. Sampai rambut mulai memutih dan puluhan tahun bergumul di dunia media.

Jawabannya sederhana: Jadilah manusia dulu, baru jadi wartawan.

Berita penting. Informasi harus disampaikan. Tapi nyawa tetap di atas segalanya. Tidak ada berita seharga nyawa manusia. Titik. Tak perlu pakai koma.

Kini, dua dekade telah lewat. Zaman sudah berubah total. Semua orang sekarang punya kamera di kantongnya. Semua orang bisa jadi “wartawan” dadakan lewat ponsel pintarnya.

Tapi pertanyaan dari mentor sekaligus bos pertama saya di Kepri itu tetap relevan. Bahkan jauh lebih relevan sekarang. Di tengah banjir konten dan haus akan viral, seringkali kita lupa pada satu hal yang mendasar. Apa itu? Empati.

Dunia mungkin butuh berita cepat. Tapi dunia lebih butuh manusia yang masih punya hati.

Tahun 2011 lalu, sang guru telah tiada. Beliau sudah mendahului kita menghadap Sang Pencipta. Namun ilmu dan prinsip hidup yang beliau tanamkan di pulau-pulau Kepri itu tetap abadi dalam setiap baris tulisan saya.

Selamat jalan, Bang Akmal. Terima kasih telah mengajarkan saya cara menjaga kewarasan nurani.

Semoga almarhum Pak Akmal tenang di sisi-NYA. Amin.

Penulis : Hendri Chaniago.

Pos terkait