; charset=UTF-8" /> KURIKULUM DARURAT HARUS MENGEDEPANKAN ASPEK PSIKOLOGIS ANAK - | ';

| | 67 kali dibaca

KURIKULUM DARURAT HARUS MENGEDEPANKAN ASPEK PSIKOLOGIS ANAK

Oleh : Dewi Ayu Larasati, SS, M. Hum.

 

Pandemi Covid-19 telah mengancam asasi paling dasar bagi tiap manusia di dunia yakni hak untuk hidup. Lebih dari 200 ribu jiwa melayang akibat virus mematikan tersebut.
Hingga saat ini tidak ada yang bisa menjamin wabah virus corona berakhir karena vaksin yang belum ditemukan. Pernyataan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo yang memperkirakan bahwa masyarakat Indonesia bisa kembali hidup normal pada Juli mendatang belum sepenuhnya benar. Hal itu hanya berdasarkan kepada permodelan yang dibuat oleh tim pakar sehingga bukan sebuah kepastian. Prediksi itu didapat dengan syarat melakukan tes yang masif selama April dan Mei, kemudian menekankan masyarakat untuk lebih disiplin.
‘Merumahkan’ dunia pendidikan dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing menjadi pilihan sebagai langkah untuk memerangi penyebaran virus korona baru.
Solusi pendidikan berbasis teknologi mulai diandalkan dan dimaksimalkan. Alhasil belajar online atau daring kini jadi tren selama pandemi corona. Konsekuensinya, pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi ini telah mengubah wajah pendidikan Indonesia, dari sistem pembelajaran pola konvensional menjadi pola bermedia internet.
Seperti kita ketahui, pada revolusi Industri 4.0 teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Internet dan teknologi digital telah menjadi tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Dengan kondisi ini semua peserta didik diharapkan harus cepat beradaptasi dengan pembelajaran berbasis teknologi.
Apalagi konsep pembelajaran berbasis digital pada dasarnya sudah diatur dalam Permendikbud no. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Namun setelah melewati masa hampir dua bulan, implementasi itu dinilai tidak maksimal dan menunjukkan masih ada ketidaksiapan di kalangan pendidik untuk beradaptasi di iklim digital.
Praktik pembelajaran jarak jauh (PJJ), khususnya secara digital yang diterapkan lebih dari dua bulan terakhir tersebut membuat para guru tergagap-gagap. Meskipun sebagian guru pernah mengikuti pelatihan pembelajaran jarak jauh, tradisi ini rupanya masih menjadi ”dunia baru” bagi mereka.
Mayoritas guru selama ini memahami pembelajaran jarak jauh daring hanya sebatas pemakaian aplikasi pesan instan dan media sosial. Apalagi, kondisi kemampuan mereka berbeda-beda dan harus menghadapi heterogennya siswa serta keluarganya. Siswa dan keluarganya juga tidak pernah disiapkan untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Oleh karenanya, keputusan menggelar PJJ secara daring diambil dalam keadaan ”terpaksa” karena kegiatan belajar-mengajar tatap muka tidak memungkinkan. Proses pembelajaran pun dilakukan hanya sebagai transfer pengetahuan di buku ajar serta mendistribusikan tugas.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahwa menurut hasil survei pembelajaran dan sistem penilaian jarak jauh (PJJ) yang dilakukan pada tanggal 27 April 2020, sebanyak 76,7% siswa tidak senang belajar dari rumah. Umumnya disebabkan tugas-tugas yang berat selama PJJ. Dengan demikian, implementasi PJJ dianggap belum efektif.

Kurikulum Darurat Dibutuhkan
Begitu banyak permasalahan yang muncul dari kegiatan belajar mengajar (KBM) di rumah selama pandemi covid-19 direspon oleh pemerintah. Pemerintah pun mulai merencanakan untuk menyusun kurikulum darurat sebagai upaya memudahkan proses pembelajaran jarak jauh.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui wawancara langsung dengan Metro TV pada tanggal 8 Mei 2020 dalam acara ‘Wajah Baru Pendidikan Indonesia’, mengaku tengah mengkaji kemungkinan penerapan kurikulum darurat akibat kondisi yang mengharuskan belajar di rumah selama pandemi virus corona (Covid-19).
Namun beliau mengatakan bahwa saat ini pemerintah masih fokus pada kebijakan-kebijakan yang bisa langsung dirasakan masyarakat dengan cepat. Ia beranggapan mengubah kurikulum itu tidak mudah. Sedangkan Covid-19 ini cepat. Jadi yang harus dilakukan ialah tindakan yang bisa dirasakan secepat mungkin.
Untuk itu pihaknya memutuskan kebijakan yang bisa dirasakan masyarakat langsung, seperti penggunaan dana BOS untuk membeli kebutuhan kuota dan layanan pendidikan selama PJJ bagi siswa dan guru. Termasuk untuk membayar honor guru honorer serta membeli alat penunjang kesehatan di sekolah.
Hal ini tertera dalam Permendikbud No 9/2020 yang bertuliskan, mengizinkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) reguler untuk pembelian pulsa, paket data, dan layanan pendidikan daring berbayar bagi pendidik ataupun siswa. Ini dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran dari rumah.
Selain itu, Nadiem menyebut saat ini masyarakat bisa menggunakan media televisi sebagai sarana pembelajaran sehingga, menurutnya, penyaluran informasi dapat cepat sampai kepada masyarakat tanpa harus mengubah kurikulum. Hal ini mengantisipasi daerah yang minim atau tidak ada sama sekali akses fasilitas teknologi, jaringan dan internet.

Kurikulum Darurat dan Psikologi Anak
Kita harus mengapresiasi respon pemerintah untuk berupaya menyusun kurikulum darurat selama masa pendemi. Karena durasi berlangsungnya pembelajaran jarak jauh semakin tidak pasti. Apalagi hingga saat ini vaksin belum juga ditemukan.
Walau Kemendikbud menyatakan pihaknya belum merencanakan petunjuk teknis atau petunjuk pelaksanaan PJJ untuk tahun ajaran baru, setidaknya kurikulum darurat ini nantinya diharapkan akan menjadi acuan jangka panjang ketika terjadi masa-masa darurat yang membuat proses pembelajaran menjadi terganggu.
Yang mesti dicermati, pembuatan kurikulum sekolah darurat tidak bisa disamakan dengan sekolah reguler. Maka dari itu, sekolah atau guru tidak perlu memaksakan pembelajaran seperti di sekolah untuk diterapkan di rumah.
Tidak dapat dipungkiri, pandemi virus Corona COVID-19 membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan. Tak hanya orang dewasa, kondisi psikologis anak pun rentan terganggu oleh situasi yang serba tak menentu saat ini. Wabah ini menghasilkan berbagai macam emosi yang berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis mereka.
Menurut Eli Lebowitz, seorang psikolog klinis di Yale School of Medicine yang merawat kecemasan anak, cara Covid-19 mempengaruhi kehidupan orang-orang di seluruh dunia mirip dengan situasi masa perang. Lebih darin 200 ribu orang telah meninggal karena virus di seluruh dunia. Pemerintah memobilisasi tentara dan polisi untuk menghentikan penyebaran, ekonomi menderita, dan orang-orang berjongkok di rumah mereka.

Berbagai media pun tak henti-hentinya menampilkan cerita tentang pandemi virus corona sebagai headline. Bombardir informasi yang terus menerus ini tentunya dapat mengakibatkan peningkatan kecemasan, dengan efek langsung pada kesehatan mental, khususnya pada anak.
Dengan demikian, apa yang dibutuhkan anak adalah dukungan serta ekosistem belajar yang menyenangkan, yang nantinya dapat menjadi penawar bagi kondisi mentalnya. Untuk itu Negara tentunya harus hadir dan menjadi pelopor penyiapan respon kesehatan jiwa bagi anak, khususnya dalam upaya menangani sistem pembelajaran jarak jauh ini.
Ada beberapa pola pendidikan yang berkenaan dengan psikologi anak, yang mesti diperhatikan dalam upaya penyusunan kurikulum darurat.
Pertama, PJJ harus fokus pada penguatan karakter, bukan lagi fokus menyelesaikan mengejar kurikulum yang terstruktur dan sebagainya. Tugas guru kini bukan hanya mendistribusikan tugas, namun perlu melibatkan anak dengan kegiatan yang sesuai dengan bakat dan minat, serta menyenangkan, sehingga anak dapat meningkatkan kemampuan dan kreatifitasnya.
Untuk itu, guru diharapkan mampu menggunakan metode kreatif dan mendampingi siswa selama PJJ untuk memberikan penjelasan semenarik mungkin.
Kedua, PJJ harus mengembangkan kecerdasan emosional dan keseimbangan mental. Apa yang kita hadapi sekarang adalah serangkaian revolusi besar. Masa pandemi ini membuat perubahan secara cepat pada semua aktivitas sosial masyarakat. Informasi pun berubah secara cepat, cenderung membingungkan, bahkan menakutkan. Akibatnya perseteruan antara nalar dan perasaan sering tidak seimbang. Untuk itu, anak-anak perlu memiliki kecerdasan emosional dan keseimbangan mental dalam menghadapi kondisi ini. Dengan kecerdasan emosional, anak mampu mengerti dan mengatur emosi.
Ketiga, PJJ harus membekali anak dengan coping skill. Dikutip dari Medical Dictionary, coping skill adalah suatu pola karakter atau perilaku yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi seseorang. Hal tersebut termasuk kemampuan dalam memegang teguh nilai atau kepercayaan, kemampuan mengatasi masalah, bersosialisasi, menjaga kesehatan, dan juga kemampuan dalam menjaga komitmen. Coping skill juga dapat dipandang sebagai suatu kemampuan menghadapi stres untuk mendorong diri agar tetap terus maju mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan adanya pendekatan ini, anak didik diharapkan menjadi inovatif dan benar-benar bisa kreatif dan menghasilkan keterampilan coping yang positif. Dan juga yang terpenting, hal ini juga mengajarkan anak untuk bisa beradaptasi terhadap semua bentuk perubahan, karena perubahan pada dasarnya adalah sesuatu yang konstan dan tidak bisa dihindarkan di semua aspek kehidupan manusia.

 

Penulis adalah Staf Pengajar Universitas Sumatra Utara.

Ditulis Oleh Pada Jum 05 Jun 2020. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek