
Radar Kepri, Lingga– Ekspektasi besar masyarakat Kabupaten Lingga terhadap investasi smelter PT Tiansan menjadi sinyal kuat atas rapuhnya ketahanan ekonomi daerah. Di balik pesona alam “Bunda Tanah Melayu”, tersimpan jeritan warga yang kian terdesak kebutuhan hidup dan minimnya lapangan kerja layak.
Kondisi ini memicu kritik pedas dari Bupati Lingga periode 2016-2021, Alias Wello. Tokoh senior ini memberikan peringatan keras sekaligus koreksi total terhadap kepemimpinan juniornya, Muhammad Nizar.
Wello menyoroti kontradiksi tajam antara janji politik dengan realitas di lapangan. Ia menilai jargon “Lingga Bersinar” yang diusung pasangan Nizar-Novrizal pada Pilkada 2024 lalu, sejauh ini gagal dibuktikan dengan indikator ekonomi yang konkret.
“Kenyataannya? Tidak ada indikator ke arah perbaikan ekonomi masyarakat. Tidak terlihat adanya kebijakan strategis untuk memperkuat pondasi ekonomi Lingga,” tegas Alias Wello saat dihubungi Radar Kepri, Senin (22/12/2025).
Politikus senior yang akrab disapa Awe ini menilai program peningkatan daya saing daerah di bawah komando Muhammad Nizar semakin kehilangan arah. Masalah ini kian diperparah oleh rendahnya transparansi tata kelola pemerintahan yang berpotensi menyuburkan praktik lancung.
“Kondisi tersebut diperburuk oleh sikap tidak transparan para elite dalam mengelola program dan anggaran daerah. Maka tidak mengherankan jika perilaku koruptif kian merajalela di Kabupaten Lingga,” tambahnya dengan nada getir.
Lebih lanjut, Wello mengingatkan masyarakat untuk memperketat fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Tanpa pengawasan publik yang kritis, ia khawatir Lingga akan terjatuh ke jurang krisis yang lebih dalam.
“Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengingatkan adanya ancaman kebangkrutan ekonomi. Ekonomi Lingga kian suram, alias Gelap Gulita,” cetus Wello.
Kritik tajam ini, menurut Wello, merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai “abang” untuk meluruskan kebijakan adiknya. Ia mendesak pemerintah daerah agar fokus bekerja memberikan dampak nyata bagi rakyat, alih-alih hanya bergantung pada janji-janji investor asing tanpa kemandirian ekonomi yang jelas.(Farhan)







