' '
| | 1.300 kali dibaca

Kerjasama BUMD Tanjungpinang Dengan Swasta Rekayasa Eva dan Oom ?

Basyarudin Idris dan Eva Amalia=

Basyarudin Idris dan Eva Amalia.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Aroma tak sedap dibalik pengalihan operasional aset BUMD Kota Tanjungpinang berkedok kerjasama dengan Basyarudin Idris alias Oom mencuat. Terindikasi kerjasamana ini untuk menutup dugaan korupsi di BUMD Kota Tanjungpinang. Lebih anehnya lagi, kerjasama dilakukan dengan perusahaan swasta yang tidak berpengalaman dan politisi “kutu loncat”.

Terkait tidak jelasnya mekanisme pengalihan pengelolaan aset BUMD ini, media ini kemudian mengirimkan pesan konfirmasi berupa nama perusahaan yang mendapat “durian runtuh” tersebut. Kemudian, kapan perusahaan itu berdiri ? Serta, apakah kebijakan pengalihan operasional aset itu telah di setujui DPRD, Walikota serta konsumen (pedagang).

Pesan konfirmasi yang dikirim pada Kamis (18/04), hingga berita ini diunggah belum dijawab oleh Eva Amalia SH MSi selaku direktur BUMD Kota Tanjungpinang.  Begitu juga dengan H Lis Darmansyah SH yang dikonfirmasi terkait pengalihan operasiona berkedok kerjasama itu. Apakah dirinya selaku Walikota pemegang amanah rakyat sudah memberikan ijin pada Eva untuk mengalihka operasional aset Negara tersebut.?

Seorang pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas disalah satu institusi di kota Tanjungpinang yang enggan namanya ditulis Radar Kepri mengatakan.”Sebenarnya, BUMD ini jadi sapi perahan eksekutif dan legislative saja. Karena yang selama ini,  kita lihat dimana-mana pasti BUMD ini di jadikan alat dari instansi tersebut  untuk mengeruk kekayan.”ungkapnya.

Menyikapi informasi pengalihan pengelolaan aset BUMD Kota Tanjungpinang itu, Awang selaku ketua Persatuan Pedagang Kuliner Akau Potong Lembu (P2KAPL) yang dijumpai Radar Kepri Kamis (18/04) di tempat usahanya mengatakan.” Kalau itu memang benar terjadi. Saya sangat menyayangkan kebijakan yang dibuat Direktur BUMD tersebut.”katanya.

Seharusnya, kata Awang.”Kalau memang aset-aset BUMD itu diserahkan pengelolaanya pada pihak lain, harus melalui mekanisme yang ada. Kalau hanya berdasarkan kebijakan harus ada pengumuman dan setujui Walikota dan DPRD Kota Tanjungpinang. Kalau tidak, akan menimbulkan pertanyaan di seluruh pedagang yang dikelola BUMD.”tambah Awang.

Pantauan Radar Kepri dilapangan, semenjak informasi BUMD Tanjungpinang menjalin kerja sama dengan pihak swasta. Seluruh pengusaha dibawah naungan BUMD gelisah. Karena, apabila dikelola pihak swasta.”Tentu saja nantinya kita pedagang akan tertekan. Contohnya, seperti tahun 1997 di Akau BDN yang lama yang dipindahkan ke Bintan Plaza (BP). Itukan (BP) milik swasta, sekaran apa yang terjadi dengan pedagang yang dipindahkan itu. Entah bagaimana nasib pedagang yang dipindahkan itu.”kata Edi seorang pedagang.

Apalagi yang mendapat pengalihan aset pengelolaan aset BUMD Kota Tanjungpinang itu adalah Basyarudin Idris alias Oom yang dikenal tidak konsisten dalam dunia politik. Dulu, ketika Huzrin Hood menjadi bupati Kepri (sekarang Bintan,red) Oom merupakan pendukung dan pengikut setia Huzrin Hood. Begitu Huzrin Hood dijebloskan ke penjara karena tersangkat tindak pidana korupsi dana APBD Kepri sebesar Rp 3,2 Miliar. Oom segera mencari “tuan” baru dengan merapat ke partai beringin alias Golkar.

Ismeth Abdullah yang di usung partai Golkar ketika pemilihan langsung Gubernur Provinsi Kepri pertama berhasil memenangkan Pilgub. Dizaman kepemimpinan Ismteh inilah, Oom “merajela” dan berhasil mengumpulkan modal untuk maju dalam pemilu legislative dari parta Golkar. Penghujung 2008, Ismeth Abdullah dijebloskan KPK ke bui karena “makan” uang mobil pemadam kebakaran (damkar). Oom yang kandas duduk di kursi legislative beralih mendukung Aida Zulaikha Nasution yang berduet dengan Edy Wijaya untuk merebut kursi Gubernur Kepri yang ditinggal Ismeth Abdullah.

Ternyata, lagi-lagi Oom salah mendukung, karena yang memenangkan Pilgub Kepri ternyata pasangan yang di usung PDI-Perjuangan, H M Sani-HM Soeryo (dua HMS). Salah langkah dalam mendukung membuat gerak Oom di Provinsi Kepri mati kutu.

Kemudian pada Pilwako Tanjungpinang, Partai Golkar dibawah kepemimpinan Ade Angga di tingkat Kota dan Ansar Ahmad di tingkat Provinsi. Mendukung pasangan dr Maya-Tengku Dahlan yang di usung PPP dan PKS. Oom yang masih fungsionaris Gaolkar itu terlihat beberapa kali hadir dalam acara yang digelar pasangan Lis-Syahrul yang di usung PDI-P, PAN dan beberapa partai kecil lainnya.

Begitu KPUD Kota mengumumkan pemenang Pilwako Tanjungpinang pasangan Lis-Syahrul, Oom terlihat semakin intensif merapat ke H Lis Darmanysah SH. Belakangan, baru terungkap, ternyata Oom berniat maju menjadi wakil rakyat dari PDI-P. Mungkin Oom tidak memiliki modal untuk meraup suara simpatisan. Diduga dengan mendapat hibah “durian runtuh” berupa pengalihan pengelolaan aset BUMD inilah, Oom akan menimbun pundi-pundi uangnya untuk meraup simpati guna memuluskan ambisinya menjadi wakil rakyat.

Eva Amalia SH MSi dan Basyarudin Idris alias Oom hingga berita ini di unggah belum memberikan jawaban, terkait adanya beberapa aturan UU yang dilanggar terkait pengalihan operasional aset BUMD tersebut. Seperti UU tentang perlindungan konsumen dan UU tentang keterbukaan informasi publik.(aliasar)

Ditulis Oleh Pada Kam 18 Apr 2013. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda