| | 146 kali dibaca

Penanggulangan Stunting Yang Berkelanjutan


Oleh: Emmanuella Elisabeth Thatcher.

 

Kesehatan adalah faktor penting dari proses kehidupan manusia. Serupa dengan makhluk hidup lainnya, manusia mengalami perubahan fisik maupun psikis. Suatu perubahan yang berhasil apabila terjadi korelasi berimbang antara perkembangan dengan pertumbuhan manusia secara keseluruhan. Proses perubahan manusia tersebut dalam jangka waktu yang panjang selama kehidupan, sementara ada kalanya manusia mendapatkan berbagai tekanan dalam bertahan hidup. Kesulitan utama manusia dalam bertahan hidup adalah menyesuaikan diri dengan kondisi dan perubahan lingkungan yang bervariasi. Oleh karena itu, manusia perlu mempersiapkan kematangan diri untuk dapat menunjukkan jati diri dan ciri khas bangsa. Dari sisi ekonomi, kebiasaan dan kualitas manusia dalam melakukan berbagai aktivitas ekonomi akan berdampak pada keberhasilan pembangunan ekonomi negara yang ditandai dengan pendapatan per kapita yang meningkat sehingga dapat menjadi sejahtera. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, pemerintah dan masyarakat mengupayakan persediaan generasi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan unggul.
Adapun beberapa ciri untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang cerdas, produktif, fisik yang tangguh, kesehatan yang prima, dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi. Pencapaian SDM berkualitas diperlukan penanganan intensif terhadap pertumbuhan anak. Asupan gizi dan perawatan lingkungan yang baik menjadi kebutuhan vital bagi anak dan ibu. Anak akan terbebas dari penyakit apabila kebutuhan asupan terpenuhi. Sebaliknya, kesehatan anak akan terancam ketika kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Hal ini bisa dibuktikan dalam kehidupan nyata di Indonesia. Dari sekian banyak berita, kasus penyakit yang paling berbahaya bagi generasi muda adalah Stunting. Masalah penyakit ini menjadi kontroversial dan menambah beban pemerintah dan masyarakat Indonesia. Sangat disayangkan melihat kondisi tinggi badan anak jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan anak seusianya. Biasanya, anak pengidap Stunting mulai tampak setelah berumur 2 tahun.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat masalah asupan gizi yang diterima janin atau bayi. Masalah gizi dapat dipicu oleh tiga faktor. Pertama, anak kurang mendapatkan makanan bergizi seimbang atau ketahanan pangan di keluarga. Ketahanan pangan ini rawan karena keluarga tidak mampu menyediakan makanan sehat sehingga menimbulkan pertumbuhan badan dan perkembangan otak anak yang lambat. Makanan utama untuk bayi adalah air susu ibu (ASI). Namun, sayangnya tidak semua ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya sampai dengan minimal dua tahun. Akibatnya, bayi tidak dapat diberikan ASI dalam jumlah yang cukup sehingga harus diberikan tambahan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang mengandung energi, protein, zat besi, vitamin A, asam folfat, vitamin B, dan mineral yang seringkali tidak alami. Kedua, kesalahan pola pengasuhan anak. Seharusnya, pola pengasuhan anak yang baik adalah keluarga inti dapat memberikan waktu, perhatian, dan dukungan sepenuhnya kepada anak untuk mendukung perkembangan fisik, mental, dan social di usia dini. Sayangnya, sebagian anak bukan dirawat oleh keluarga inti melainkan dialihkan ke keluarga besar atau pengasuh lainnya ( baby sitter ). Ketiga, anak sering menderita penyakit yang berakibat terserang infeksi. Timbulnya masalah gizi tidak hanya karena terbatasnya makanan tetapi juga karena penyakit. Meskipun anak sudah mendapat makanan yang cukup, anak masih bisa terserang penyakit diare, demam berdarah, polio, dan malaria sehingga daya tahan tubuhnya (imunitas) melemah. Dalam keadaan tersebut, anak mudah diserang infeksi dan akhirnya mengakibatkan gizi buruk bahkan risiko kematian bayi dan balita. Oleh karena itu, cakupan pelayanan kesehatan dasar seperti imunisasi, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, penimbangan anak, penanganan penyakit, pendidikan, penyuluhan kesehatan dan gizi, dan sarana kesehatan seperti posyandu, puskesmas, praktik bidan atau dokter, rumah sakit, penyediaan air bersih, dan kebersihan lingkungan akan menentukan tinggi rendahnya kejadian penyakit infeksi.
Dari ketiga faktor di atas diperlukan evaluasi gejala dan perkembangan stunting secara rutin untuk mengetahui besaran persentasenya. Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 Kemenkes RI menyebutkan bahwa angka Stunting mengalami penurunan pada anak balita yaitu 30,8% dibandingkan Riskesdas 2013 dengan angka Stunting 37,2%. Akan tetapi, penurunan masih di bawah rekomendasi WHO yaitu kurang dari 20%. Persentase Stunting di Indonesia masih tergolong tinggi dan harus mendapat perhatian khusus. Stunting telah menjadi perhatian khusus dan sebagai salah satu fokus program kerja Presiden Jokowi saat ini melalui perbaikan sistem kesehatan. Pemberantasan Stunting harus ditangani secara efektif dan efisien. Jika masalah ini tidak segera diatasi, akan berdampak pada keberlanjutan krisis kemiskinan dan kualitas SDM semakin memburuk. Untuk mempercepat pencegahan Stunting, pemerintah Indonesia saat ini menetapkan tiga sasaran prioritas. Pertama, prioritas wilayah  pada tahun 2018 ditetapkan 100 wilayah prioritas, tahun 2019 menjadi 160 wilayah prioritas, tahun 2020 menjadi 260 wilayah prioritas, dan hingga 2024 akan diperluas cakupannya hingga ke seluruh kabupaten atau kota di Indonesia. Kedua, sasaran prioritas yang terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0-23 bulan (rumah tangga 1.000 HPK) dan ketiga adalah intervensi prioritas yang terdiri atas intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.
Beberapa upaya pemerintah untuk memberantas kemiskinan sebagai salah satu faktor lainnya dari penyebab gizi buruk adalah dengan cara pemberdayaan lapisan masyarakat miskin seperti di berbagai bidang. Di bidang ekonomi meliputi modal usaha industri kecil, upaya peningkatan pendapatan keluarga (UPPK), dan peningkatan pendapatan petani kecil. Di bidang kesehatan meliputi penyediaan percontohan sarana air minum. Di bidang ketahanan pangan meliputi pemanfaatan lumbung pangan, padat karya untuk penyediaan pangan dan beras untuk keluarga miskin. Tidak hanya itu, perlunya perubahan pembangunan sosial dan budaya bagi masyarakat miskin dengan cara merealisasikan program Proyek Kawasan Terpadu (PKT). Perubahan ini dilakukan dengan cara mensosialisasikan nilai-nilai positif kepada masyarakat miskin seperti perencanaan hidup, optimisme, perubahan kebiasaan hidup, peningkatan produktivitas dan kualitasnya. Program pembangunan ini mendukung redistribusi infrastuktur pembangunan yang merata. Pemerataan infrakstruktur pembangunan bertujuan untuk memperoleh akses ekonomi bagi masyarakat miskin. Apabila upaya-upaya itu dapat dilaksanakan secara terpadu, kemiskinan diharapkan dapat ditanggulangi sehingga pada gilirannya dapat mengatasi persoalan stunting.
Selain mengentaskan kemiskinan, ada beberapa upaya alternatif yang bisa dilakukan pemerintah dengan memperhatikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM digunakan untuk mengetahui indeks komposit yang terdiri dari umur harapan hidup, tingkat melek huruf, dan pendapatan per kapita. Selain itu, pemerintah diharapkan dapat menetapkan sinkronisasi kebijakan dan strategi di setiap daerah. Seperti contohnya adalah berkoordinasi dengan kemitraan lintas instansi atau dinas dan organisasi masyarakat supaya dapat dilaksanakan secara demokratis, transparan untuk memperoleh informasi tentang makanan sehat dan bergizi seimbang serta pola hidup bersih dan sehat dan mengemukakan pendapat serta keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan. Dan tak kalah pentingnya adalah adanya program pemerintah dengan cara menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terberdaya yang dinamakan revitalisasi. Revitalisasi di posyandu untuk melakukan pemantauan pertumbuhan balita dan revitalisasi di puskesmas dengan cara memberikan pelatihan manajemen program gizi bagi pimpinan dan petugas puskesmas dan jaringannya. Dengan demikian, masalah stunting diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan yang pada akhirnya dapat terselesaikan dan dituntaskan supaya anak Indonesia memiliki masa depan yang cerah karena mereka lah menjadi harapan bangsa dalam kesuksesan pembangunan ekonomi selanjutnya.

Catatan : Penulis adalah mahasiswi Universitas Indonesia (UI), Fakultas FSIP,  jurusan Administrasi Keuangan dan Perbankan, semester 1.

Ditulis Oleh Pada Rab 04 Des 2019. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek