Umrah, Tm Pengabdian Masyarakat Pelayanan Bank Sampah

H Surya Makmur Nasution bersama mahasiswa dan Dosen UMRAH.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Bertempat diaula kantor lurah sungai jang, Kamis (4/10) pukul 8.30 wib tepat tim pengabdian masyarakat ilmu administrasi negara fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (fisip) Umrah.
Dengan agenda forum group diskusi (fgd) yang mengangkat tema optimalisasi pelayanan bank sampah dikota Tanjungpinang.
Tim pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Dr. Fitri kurnianingsi, s.sos, M.si, didampingi oleh Dian Prima Safitri, S.Ap, M.Ap dan edison S.Ap, M.PA.
Acara ini pun diikuti oleh beberapa mahasiswa Umrah Tanjungpinang dan tentunya para pengiat bank sampah.
Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh anggota DPRD provinsi Kepri dari komisi 2, H.Surya Makmur Nasution.
Kendati kedatangan anggota dewan legislatif ini telat, namun dengan sabar para mahasiswa yang mengenakan seragam almamaternya beserta para dosen tetap memberi kesempatan kepada Surya untuk berkomunikasi.
Sebelum kedatangan surya, acara ini lebih banyak meng input kondisi bank sampah dikota Tanjungpinang.
Hal ini dipandu langsung oleh dosen Umrah Dian Prima Safitri atau yang akrab dipanggil Dian.
Sedangkan Edison bertindak sebagai moderator.
Intinya pengelolaan sampah dikota Gurindam berbeda dengan kota Batam.
Yang mana Batam melibatkan unsur pemerintah dari dinas terkait (dinas lingkungan hidup).
Dari dinas itu sendiri memiliki koperasi untuk pengelolaan sampah. Sehingga sampah tidak memerlukan tempat yang besar atau luas.”sampahnya tidak menginap (bermalam)”, katanya.
Masih menurut perempuan berwajah manis ini, berdasarkan data yang diperoleh untuk Tanjjngpinang, bisa menghasilksn sampah sebanyak 160 ton/hari. 80-70 ton sampai ke tempat pembuangan akhir (tpa).
Ia juga membuka diskusi dan sharring bagi para hadirin terutama dari pengiat sampah ( bank sampah) untuk memberikan informasi fakta lapangan. Diantaranya, direktur bank sampah ksm Cermai sungai jang, Novita Yuslinda.
Dari masukan yang disampaikan Linda, demikian ia akrab dipanggil, bank sampahnya mulai dikelola tahun 2009 dan dibina tahun 2013.
Ia mengaku ada bantuan dan juga pelatihan hingga ia mengikuti rakornas bank sampah ke Makasar.
“Sudah dapat seperti kaisar, mesin potong rumput, mesin jahit tapi mesin jahit untuk karung goni”, bebernya.
Ia juga menambahkan, salah seorang rekannya, bu bangun, merupakan timnya yang khusus membuat tas dari sampah an organik (plastik) yang dibentuk menjadi aneka tas multi fungsi. ” tetapi itu tadi, pemasarannya, sampai rumahnya pun terjual”,katanya.
Tidak lupa, presiden air, Kerjuli. Ikut andil memberikan fakta-fakta bank sampah Tanjungpinang.
“Kondisinya, mati idup mati idup”, tukasnya.
Lanjutnya, Tanjungpinang adalah pengagas kampung sampah yang selanjutnya diikuti oleh Bintan dan juga Batam.
Ia juga merupakan salah seorang penilai adipura.
Intinya ia menyebutkan aspek ekonomi dari sampah harus eksis.
Masukan-masukan dari para pengiat sampah ini dirangkum Dian dalam kesimpulan bahwa pengelolaan sampah belum optimal. Serta karakteristik pengelolaan sampah sekolah dan umum berbeda.
Sementara itu, direktur jasa bersih rumah, Usnedi Saputra yang dinilai bagian dari pecinta lingkungan memberikan gambaran dari hasil jasa bersih rumah, sampah-sampah yang terkumpul disedekahkan.
Sedangkan Marlinda dari bank sampah Semesta mengungkapkan sudah melakukan kerjasama dengan sd the green untuk pengelolaan sampah.
Beberapa pihak yang menjalin kerjasama dengannya kendaraan operasional (transportasi) yang selalu menjadi kendala lapangan.
Sampah-sampah yang dikumpul dijual lalu hasilnya disumbangkan kepada panti asuhan.
Berbagai masukan ini menjadi catatan tersendiri bagi tim pengabdian masyarakat ini.
Sedangkan H. Surya makmur yang dikonfirmasi usai memberikan kilas wejangan mengatakan masalah sampah bukan komitmennya. Tetapi komitmen bersama.”jadi harus kita lakukan gerakan bersama,”katanya.
Pria berpistur tinggi ini juga menambahkan, pak gubernur sudah mencanangkan gerakan bersih. Membersihkan sampah yang ada pada setiap warga. “Tapi ini jangan berhenti disana, harus ada action plan, itu harus dilakukan. Basis kita untuk melaksanakan action plan ini harus bersumber dari apa yang menjadi kepentingan masyarakat”, terangnya.
Lanjutnya, “tadi sudah saya sampaikan kepada pak Edison, apa yang terjadi dimasyarakat dati sanalah berangkatnya. Untuk memulai pengelolaan sampah ini kita harus beranjak dulu dari kader masyarakat. Jadi masyara seperti apa keadaannya, apa problemnya dimasyarakat dengan sampah-sampah ini. Dari sanalah kita buat konsep untuk pengelolaannya, terangnya panjang lebar.
Saat ditanya apakah peran pemerintah dalam hal ini dinas lingkungan hidup kurang dalam bersinergi dengan bank sampah yang ada dengan gamblang lelaki ramah ini membeberkan “kalau kita langsung top down untuk bank sampah, kita takut. Kadang itu bisa jadi mised dibawah. Dibawah itukan masyarakat. Itukan yang penting bagaimana budaya sampah ini bisa menjadi care. Jangan sampai budaya sampah ini masyarakat ngak paham”,imbuhnya.
Masih Surya,” budaya sampah itu tidak sama. Fungsinya pun berbeda. Ada yang bisa di recyle ada yang tidak”, tutupnya. Lanni.

Pos terkait