Lingga, Radar Krpri-Di tengah ambisi pemerintah mewujudkan generasi emas, fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kampung Sasah, Desa Sekanah, Kabupaten Lingga, justru berada dalam kondisi memprihatinkan. Dua unit gedung PAUD di wilayah tersebut dilaporkan rusak parah hingga tak lagi layak huni, memaksa para siswa “mengungsi” demi keselamatan, Selasa (16/2/2026).
Mirisnya, kondisi gedung yang nyaris roboh ini diduga merupakan akibat dari pembiaran sistematis selama empat tahun terakhir. Berdasarkan informasi yang dihimpun, tidak ada sentuhan perawatan maupun perbaikan sejak tahun 2022 hingga awal 2026 ini.
“Bangunan itu dibiarkan telantar begitu saja sejak 2022. Sangat membahayakan anak-anak jika dipaksakan belajar di sana,” ungkap seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada Radar Kepri.
Pendidikan Terusir ke Balai Pertemuan
Akibat rusaknya sarana vital ini, proses belajar mengajar harus dipindahkan ke balai pertemuan kampung. Meski kegiatan tetap berjalan, fasilitas yang tidak representatif ini diyakini menghambat efektivitas tumbuh kembang anak-anak di usia krusial mereka.
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Sekanah, M. Nazar Iman, seolah angkat tangan. Ia berdalih keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama perbaikan fasilitas publik tersebut.
“Memang tidak diperbaiki, dana tidak ada. Sementara (belajar) di balai dulu,” tulis M. Nazar Iman melalui pesan singkat WhatsApp, Selasa (16/2/2026).
Ironi Anggaran Desa
Sikap “pasrah” pemerintah desa ini memicu pertanyaan kritis dari masyarakat. Di tengah kucuran Dana Desa (DD) yang mencapai miliaran rupiah per tahun, kegagalan mengalokasikan anggaran untuk perawatan gedung PAUD selama empat tahun berturut-turut dianggap sebagai bentuk kegagalan prioritas pembangunan.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Lingga tidak tutup mata. Ini soal masa depan anak-anak kami. Jangan sampai gedung roboh baru ada tindakan,” tegas salah satu orang tua siswa.
Kini bola panas berada di tangan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Lingga. Redaksi terus berupaya melakukan konfirmasi kepada dinas terkait dan Inspektorat untuk menelisik mengapa anggaran pemeliharaan aset pendidikan di Desa Sekanah bisa “bolong” selama empat tahun lamanya. (Aliasar)









