| | 68 kali dibaca

Menjadi Guru Cerdas di Era Milenial

Oleh: Suyatna, S.Pd

 

Meninjau peradaban yang berkembang sampai hari ini, setidaknya ada siklus sejarah yang bisa mengantarkan manusia hingga era digital seperti saat ini. Secara berturut-turut masyarakat hidup berkembang dari masyarakat primitif, masyarakat agraris, masyarakat industri, dan kemudian pada perkembangan lanjut menjadi masyarakat informasi. Sebagaimana pernah diproyeksikan oleh Alvin Toffler bahwa abad informasi akan semakin jauh meninggalkan faktor lahan, tenaga kerja, dan juga modal biaya sebagai kekayaan dan sumber produksi sebagaimana pada tiga era sebelumnya, yakni era nomaden, era pertanian, dan era industri (Cho dan Moon, 2003: 209).
Era kemajuan teknologi dan informasi saat ini sangat memengaruhi kehidupan generasi milenial. Bisa dikatakan, teknologi menjadi sebuah ketergantungan. Lalu, apakah kita sebagai seorang guru sudah siap menyambut hal itu?
Jika guru tidak mempersiapkan kedatangan revolusi digital itu, bukan hanya dikalahkan oleh teknologi, guru juga akan dikalahkan oleh anak didiknya. Lihatlah kedekatan generasi Z dan Alpha dengan teknologi. Dari sejak dalam kandungan, mereka sudah akrab dengan kamera ibu yang hobi swafoto. Bahkan, ketika anak mereka lahir, anak-anak itu sudah dibuatkan akun media sosial untuk menyimpan foto-foto dan beberapa hal lainnya. Hasilnya, fenomena kecanduan gawai sudah tidak asing lagi. Anak-anak lebih memilih curhat dengan media sosialnya daripada dengan orang tuanya. Bahkan, anak-anak lebih mendengarkan gawai daripada omongan orang tuanya.
Pertanyaan yang muncul, bagaimana seorang guru bersikap dalam menghadapi era milenial seperti saat ini? Guru dan institusi pendidikan harus mempersiapkan kedatangan generasi baru itu. Dalam tulisan ini, setidaknya ada 4 hal yang perlu diperhatikan pendidikan dalam menyambut generasi digital, yakni (1) kenali siswa lebih dalam, (2) inovasi paradigma pembelajaran, (3) inovasi manajemen kelas, dan (4) menciptakan ekosistem yang literat.
Pertama, mengenal siswa lebih dalam adalah dasar dari seorang guru. Dengan membaca tentang fenomena munculnya generasi dari Baby Boomers sampai generasi Google Kids di atas, hal itu sudah menjadi langkah awal untuk mengetahui bahwa zaman berubah. Pendidik sudah seharusnya mengetahui karakteristik siswa abad 21. Kita tidak bisa memaksakan siswa untuk kembali ke masa di mana guru dilahirkan dan ditempa. Guru yang sepatutnya memiliki karakter guru abad 21 mengikuti perkembangan zaman siswanya. Keterampilan abad 21 yaitu mampu memahami dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT Literacy Skills) yang terdiri dari (1) melek teknologi dan media; (2) melakukan komunikasi efektif; (3) berpikir kritis; (4) memecahkan masalah; dan (5) berkolaborasi.
Kedua, inovasi paradigma pembelajaran yang dapat dilakukan yaitu pengembangan pembelajaran otentik. Merujuk pengertian pembelajaran dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 mendefinisikan bahwa: “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Lingkungan belajar abad 21 perlu dikembangan melalui sistem instruksional yang harus mempertimbangkan konteks lingkungan eksternalnya yang lebih luas dari sekedar lingkup kelas atau sekolah. Artinya, guru di sekolah harus menciptakan tujuan pembelajaran yang mampu membangun kompetensi peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan.
Ketiga, perlu adanya redefinisi manajemen kelas. Paradigma pendidikan era milenial mendorong kesetaraan antara guru dan siswa dalam hal mengelola informasi pembelajaran. Jika saat ini masih berkeyakinan bahwa guru sebagai sumber belajar, itu salah besar. Mungkin benar guru akan digantikan oleh teknologi, tetapi tidak sepenuhnya. Teori Benyamin S. Bloom yang masih digunakan di Indonesia sampai saat ini yaitu kategori kognitif, afektif, dan psikomotorik belum sepenuhnya dapat diajarkan oleh teknologi. Afektif dan psikomotorik menjadi kategori yang masih dan akan tetap perlu ‘tangan’ seorang guru.
Keempat, budaya literasi menjadi prasyarat Abad 21 yang perlu diperhatikan. Pembentukan SDM yang literat merupakan usaha pokok untuk memperbesar kapasitas seseorang untuk melakukan produksi berbasis informasi. Menurut H.A.R. Tilaar (1990: 275), pengembangan SDM ini bukan hanya sekedar peningkatan produktivitas manusia sebagai alat atau sarana ekonomi, tapi juga mobilisasi serta pemanfaatan seluruh potensi manusia dalam segala aspek yang menyeluruh dalam rangka peningkatan taraf hidup yang lebih berkualitas.
Pada akhirnya, usaha-usaha yang dilakukan di atas mengharapkan agar jangan sampai pendidikan sebagai teknik dipercanggih, tetapi pendidikan sebagai etik diterbelakangkan. Guru, sebagai pilar keteladanan bagi siswa tidak dapat digantikan oleh teknologi, karena pendidikan bukan hanya mencetak generasi yang berperadaban, tetapi juga generasi yang berkeadaban. Berkeadaban inilah sosok guru diperlukan sebagai mata air keteladanan. Karena guru yang baik bukan yang sekedar pintar, tapi yang mampu memberi inspirasi. Selamat menjadi guru cerdas di era milenial.

*Penulis, Guru di SDN 013 Ringin Jaya Kab. Indragiri Hilir Riau, Penulis dan Editor Buku, menamatkan diri S1 prodi PGSD di Universitas Terbuka

Ditulis Oleh Pada Ming 10 Nov 2019. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

2 Comments for “Menjadi Guru Cerdas di Era Milenial”

  1. @RadarKepri min mau nanya. Isi radarkepri.com/menjadi-guru-c… kq isinya hampir sama dengan nu.or.id/post/read/9944…. Apa penulis sama? Atau kutipan. Mohon penjelasan

Komentar Anda

Radar Kepri Indek