' '
| | 1.302 kali dibaca

Kasus Korupsi dan Cabul Atmadinata Mengendap ?

Arifin Nasir dan Atmadinata

Arifin Nasir dan Atmadinata.

Tanjungpinang, Radar Kepri- Saat ini beredar informasi. kasus dugaan tindak pidana cabul dengan terlapor Admadinata telah berakhir dengan jalur kekeluargaan. Bahkan, ada informasi yang menyebutkan kasus dengan korban dua kakak beradik ini akan “digiring” ke arah daerah kelahiran Atmadinata, Tambelan.

Atmadinata yang saat ini Kabid Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan Provinsi Kepri dikonfirmasi Radar Kepri, Minggu (28/04) melalui SMS via ponselnya membantah telah menyelesaikan kasus dugaan pencabulan itu diselesaikan dengan kekeluaragaan.”Tidak benar, trims.”tulis Atmadinata.

Informasi yang dihimpun media ini, beberapa waktu lalu ada beberapa orang yang mengaku tokoh berkumpul untuk meredakan maraknya pemberitaan di berbagai media.”Mereka membicarakan media yang perlu diredam, salah satunya media awak ni.”sebut sumber Radar Kepri yang meminta namanya tidak ditulis itu.

Sumber yang sama menyampaikan, ada beberapa media yang awalnya gencar mempublikasikan kasus cabul ala pejabat Pemprov ini.”Usai pertemuan orang-orang yang mengklaim diri sebagai tokoh itu. Memang benar, kasus itu akhirnya tenggelam dari publikasi dan nyaris tidak diketahui lagi proses hukumnya.”tambahnya.

Sumber yang juga tokoh muda Tambelan ini menambahkan, selain meredam pemberitaan.”Ada indikasi kasus ini akan digiring ke konflik ke daerah-an. Tolong awak kontrol terus proses hukum ini. Dan jangan sampai masalah ini melebar ke masalah daerah.”pinta sumber.

Sebagaimana diberitakan media ini, Admadinata diduga telah mencabuli Mt (22) dan adiknya Yn (20). Kasus ini kemudian dilaporkan ke Mapolresta Tanjungpinang pada 24 Marer 2013 lalu. Namun sudah lebih dari sebulan kasus dugaan cabul tersebut, penyidik Polresta Tanjungpinang belum menetapkan tersangka terhadap Atmadinata.”Jumlah saksi dan alat bukti minim, ini yang jadi kendala kami meneruskan.”bisik sumber media ini di Mapolresta Tanjungpinang. Namun sumber menegaskan, bukan berarti, minim saksi dan alat bukti yang dibutuhkan penyidik untuk meningkatkan status Atmadinata menjadi kendala,”Masih kami selidiki, nanti akan ada gelar perkara. Disitu akan diketahui kelanjutan kasus tersebut.”tambah sumber yang meminta namanya tidak ditulis itu.

Selain tersandung kasus cabul, Atmadinata juga telah ditetapkan Kejaksaan Tinggi Kepri sebagai tersangka tindak pidana korupsi pembangunan MAN di Bintan Timur. Dua sohib korupnya, Panindan Purba dan Heryanto bahkan sudah menjalani hukuman penjara pada 2010 lalu.

Demo Mahasiswa JIM yang menuntut agar Armadinata di adili.

Demo Mahasiswa yang tergabung dalam JIM yang menuntut agar Armadinata di adili.

Sekedar kilas balik, kasus dugaan korupsi pembangunan MAN Bintan Timur di usut kejaksaan Tinggi Kepri dan telah menetapkan Atmadinata dan Panindan Purba sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi pembangunan Madrasyah Aliyah Negeri (MAN) di Bintan Timur, Kabupaten Bintan. Proyek ini  dibiayai APBD Kepri TA 2007 dari pos anggaran Dinas Pendidikan dengan pagu dana Rp 1 miliar. Atmadinata merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Sedangkan, tersangka Panindan Purba adalah Direktur CV Mariani, pemenang tender. Atmadinata dan Panindan Purba ditetapkan sebagai tersangka diduga telah melakukan korupsi sebesar Rp 500 juta lebih dari total anggaran sebesar Rp 822 juta lebih. Pada kasus ini, Kepala Dinas (Penggunaa Anggaran) adalah Arifin Nasir yang tidak ditetapkan sebagai tersangka tanpa alasan yang jelas oleh Kejaksaan Tinggi Kepri.

Padahal berdasarkan hasil penyelidikan tim intelejen Kejati Kepri atas kasus dugaan korupsi tersebut, kontrak pekerjaan dimulai tanggal 2 Agustus 2007 dan berakhir tanggal 29 Nopember 2007 serta adendum sampai dengan 30 November sampai dengan 31 Desember 2007.

Namun, dalam pengerjaanya CV Mariani yang memenangkan proyek tersebut, men-subkan kepada Heryanto. Hasil inspeksi tim lidik Kejati Kepri dan perhitungan akhir hingga sampai masa kontrak berakhir, ternyata pekerjaan yang dikerjakan Haruyanto tidak selesai.”Ketika kita turun mengecek ke lapangan pekerjaan baru dilaksanakan sekitar 13 persen. Sementara dalam laporan penyusuan anggaran atau KPA, Atamdinata melaporkan pengerjaan mencapai 60 persen. Sehingga, tim Lid menyimpulkan ada penyelewengan,” jelas M Nasrun SH MH, Asintel Kejati Kepri waktu itu.

Hingga hari ini, Atmadinata dan Arifin Nasir tak pernah di adili dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Bintan Timur itu. Dampaknya, Kamis (18/04) sekitar pukul 10 00 Wib, mahasiswa yang tergabung dalam Jaringan Informasi Mahasiswa (JIM) menggelar aksi unjuk rasa di bundaran Tugu Pamedan A Yani Tanjungpinang. Namun sejak aksi demo digelar mahasiswa hingga berita ini ditulis, Minggu (28), ternyata Atmadinata dan Arifin Nasir masih bebas melenggang.

Jika aparat setingkat Kejaksaan Tinggi saja gentar dan ciut nyalinya untuk meneruskan kasus dugaan korupsi Atmadinata dan Arifin Nasir hingga ke pengadilan. Apa mungkin kepolisian  yang “hanya” setingkat Polres berani menindaklanjuti kasus dugaan cabul tersebut ?. Inilah sepenggal pertanyaan yang memerlukan keseriusan dan nyali dari polisi dan jaksa untuk menuntaskannya. Masyarakat dan media hanya bisa mengontrol dan mendesak, namun untuk bertindak hukum. Tentu saja dua institusi (Jaksa dan Polisi) yang memiliki kewenangan.(irfan)

Ditulis Oleh Pada Ming 28 Apr 2013. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek