' '
| | 1.342 kali dibaca

Kartini-Kartini Yang Masih Dalam Kegelapan

Yeni (pakai jaket) bersama ratusan TKW lain yang dideportasi dari Malaysia pada Jumat 26 April 2013.

Yeni (pakai jaket) bersama ratusan TKW lain yang dideportasi dari Malaysia pada Jumat 26 April 2013.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Cerita duka para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang didepak (deportasi) pemerintah Malaysia, seolah drama tiada akhir. Yeni (21) seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Lubuk Pakam, Medan, Sumatera Utara (Sumut) meski tengah hamil 8 bulan, merupakan 1 dari 197 orang TKI/W yang di deportasi dari Malaysia, Jumat (26/04)  melalui pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, Tanjungpinang.

Dijumpai Radar Kepri, di penampungan TKI/W batu 8 atas wanita berambut panjang hingga melebihi bahu berkulit putih ini menuturkan. Dirinya masuk ke Malayasia sekitar 6 bulan lalu.”Saya sedang hamil dua bulan ketika menjumpai saudara di KL (Kuala Lumpur).”katanya.

Yeni mengaku datang ke Malaysia bukan untuk bekerja, hanya berkunjung kerumah saudaranya.”Saya punya suami, jadi datang ke Malaysia bukan untuk bekerja.”jelasnya.

Di negeri jiran ini, mengenakan jaket lives dan daster hijau lumut tua, Yeni mengaku tergoda rayuan temannya untuk bekerja di Malaysia.”Awalnya saya ke Malaysia bersama teman, yang katanya tahu rumah saudara saya di Malaysia. Sampai di Malaysia, saya ditinggalkan begitu saja dirumah saudara saya itu. Uang yang saya miliki dipegang oleh teman saya, dia (temannya,red) tidak pernah muncul lagi.”cerita Yeni.

Akibatnya, untuk biaya pulang ke Indonesia, Yeni terpaksa mematikan paspornya agar bisa bekerja dan menghasilkan uang.”Saya matikan paspor agar bisa bekerja di Malaysia. Karena menurut teman saya itu, jika pakai paspor pelancong tidak bisa bekerja.”urainya.

Menurut Yeni, jika operasi “nyah” dari Polisi Diraja Malaysia (PDRM), Yeni yang mengaku bekerja dirumah salah satu kerabatnya.”Saya terpaksa sembunyi. Tapi akhirnya tertangkap juga.”katanya.

Lain lagi cerita Heni, wanita asal Bau-bau, Buton ini datang ke Malaysia untuk ikut dengan suaminya yang bekerja di lading sawit di KL (Kuala Lumpur). Ibu beranak tiga berumur 30 ini ditangkap PDRM di Pondok Kebun.”Suami saya tetap boleh tinggal dan bekerja karena punya dokumen. Sedangkan saya tak punya paspor dan dokumen lainnya, termasuk 3 anak saya yang lahir di Malaysia semua.”tutur Heni yang mengaku sudah 5 tahun tinggal di Malaysia.

Heni bersama 3 orang anaknya yang masih balita ketika dideportasi dari Malaysia pada Jumat 26 April 2013.

Heni (baju kaos hijau) bersama 3 orang anaknya yang masih balita ketika dideportasi dari Malaysia pada Jumat 26 April 2013.

Cerita dua wanita yang dideportasi hanya 5 hari setelah peringatan hari Kartini yang jatuh pada 21 April lalu, mungkin banyak yang tidak masuk akal. Namun, bukan cerita itu intinya, masih banyaknya kaum “kartini” yang belum dapat hidup layak sehingga harus mengadu nasib di negeri orang. Membuktikan, pemerintah saat ini masih belum mampu menyediakan pekerjaan layak dan upah memadai.

Habis gelap terbitlah terang, sepertinya belum dirasakan para kaum hawa yang terpaksa mengadu nasib di negeri orang. Puluhan, bahkan mungkin ratusan ribu para “kartini-kartini” Indonesia masih terjebak dalam kegelapan (bekerja secara illegal,red). Jantung para “kartini” ini selalu berdetak kencang ketika melihat atau mendengar akan adanya operasi “nyah” oleh PDRM. Entah sampai kapan para “kartini” yang mendapat gelar “pahlawan devisa” ini tetap dalam kegelapan ?. Dalam catatan media ini, bukan hanya menjadi TKW illegal yang harus dilakoni para “kartini” di zaman modern ini untuk merubah nasib. Ratusan ribu lagi terpaksa bekerja dilapangan kerja non formal seperti dunia malam.

Lihat saja dibeberapa tempat hiburan di Tanjungpinang, seperti di kafe-kafe Bintan Plaza, Tanjungpinang dan pujasera Suka Berenang. Sebagian besar, pekerja malam itu malah terjerumus ke dalam prostitusi alias jual diri dengan berbagai alasan.(redaksi)

Ditulis Oleh Pada Jum 26 Apr 2013. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda