'
| | 1.049 kali dibaca

Warga Minta Parade Tari Daerah Diadakan di Daik

Parade tari

Pelaksanaan RSBM yang di lapangan pemkab. yang memungkinkan untuk parade tari tingkat provinsi.

Lingga, Kepri Info-Sejumlah pelaku seni di Lingga minta pemerintah bijak dalam mengambil keputusan, khususnya pengembangan kebudayaan di Lingga. Apalagi Daik, sebagai titik pusat kebudayaan di Lingga diharapkan dapat benar-benar di olah dan  mampu menyerap even-even kebudayaan untuk perkembangan seni, kebudayaan dan juga meningkatkan kunjungan wisata ke Lingga.

Hal ini terkait wacana Pemerintah Provinsi Kepri untuk melaksanakan Parade Tari Daerah Provinsi Kepulauan Riau di Lingga tahun 2015 mendatang. Namun belum dipastikan, apakah berlangsung di Daik atau Dabo Singkep.

Asward, kadisbudpar Lingga kepada wartawan beberapa waktu yang lalu mengatakan, kemungkinan besar berdasarkan usulan Arifin Nasir, kepala dinas kebudayaan Provinsi menginginkan Parade Tari berlangsung di Dabo Singkep. Alasannya, fasilitas yang lebih baik dan menunjang dianggap efisien dilaksanakan di Dabo.

Padahal, disisi lain, Daik yang dipersiapkan sebagai titik kebudayaan sebagaimana dalam Rencana Tata Ruang Kabupaten Lingga, terlebih lagi menjadi fokus pusat pengembangan kebudayaan di kabupaten Lingga oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sebagai Kawasan Setrategis Nasional (KSN). Harusnya Disbudpar menyokong hal tersebut agar dapat di laksanakan di Daik Lingga. Terpulang pada masalah fasilitas, pemerintah harus benar-benar melakukan pendekatan kebudayaan agar dapat menampung peserta Parade Tari dari 6 kabupaten kota yang jumlahnya tak lebih dari 400 orang.

Raja Murat, salah seorang juri tari Provinsi pada kegiatan Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM) di Daik Lingga. mengatakan,”Acara tersebut yang berlangsung di lapangan kantor Bupati cukup baik. Lokasi tersebut sangat mendukung dan cukup siap untuk Parade Tari nanti. Namun, untuk masalah fasilitas penginapan, transportasi harus terlebih dahulu di data.”bebernya.
Ditambahkan.”Kalau saya pribadi, pelaksanaan nanti harusnya di Daik, disinilan pusat kebudayaan melayu. Soal fasilitas harus di data dulu.”ungkapnya.

Sementara itu, Arif Bach, ketua sanggar seni Megat Syah Alam.berharap pemerintah secepatnya mendata dan mencari langkah agar persiapan parade tari daerah provinsi dapat berlangsung di Daik Lingga. Ia menceritakan, Lingga saat masih kecamatan juga sudah menjadi tuan rumah dalam kegiatan Lawatan Sejarah Asean yang bertaraf Internasional.

Dengan pendekatan kebudayaan melalui pola keluarga angkat, yang memanfaatkan rumah warga sebagai tempat menginap, dikatakannya saat itu mampu menampung 1000 wisatawan mancanegara.

Dilanjutkan.”Sekarang kita sudah kabupaten, tentu ada langkah pemerintah. Kalau alasan fasilitas, tak usah khawatirlah pelayanan kami orang Daik, Budaya orang melayu diantaranya memuliakan tamu. Dulu waktu kami ada pementasan di Malaka, bandar bersejarah di Malaysia kami juga dapat keluarga angkat disana. Dengan cara itu, selain hubungan seni, kekeluargaan juga kami dapatkan. Rasa saya, selama ini jam terbang pemerintah dengan studi banding yang mereka lakukan pastilah sudah sampai kesana. Konsep-konsep pendekatan kebudayaan sehingga ada jalinan persaudaraan meskipun nanti evennya kompetisi, ada persaudaraan yang lebih bermakna dari even parade tari sebelumnya.”ceritanya terkait pengalamanya dalam acara kebudayaan di Malaysia.

Menurutnya, pemerintah harus lebih bijak dalam memanfaatkan even-even yang ada, begitu juga dengan konsep kebudayaan yang matang. Karena menurutnya, dampak dari kegiatan yang dilaksanakan dengan keluarga angkat tersebut, hubungan baik dan juga persaudaraan orang-orang melayu akan lebih kental lagi.”Rasa saya, konsep keluarga angkat jadi solusi Parade Tari nanti. Kita harus fokuskan kebudayaan di Daik, jangan terpecah-pecah, ini yang membuat lambat pembangunan.”tambahnya.
Dikatanya.”Melalui pendekatan seni dan kebudayaan seperti ini, dengan keluarga angkat atau menginap di rumah masyarakat, pelestarian budaya dan adat melayu baru benar-benar dapat terlaksana. Sehingga kebudayaan dan seni bukan lagi menjadi alat dan kepentingan politik.”tutup Arif. (amin)

Ditulis Oleh Pada Rab 26 Nov 2014. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda