' '
| | 909 kali dibaca

Ulah Penambang Bauksit Ilegal, Pondasi Jembatan II Dompak Retak

Pondasi jembatan II Dompak yang retak diduga akibat dampak tambang bauksit ilegal di Dompak, foto diambil  8 Juni 2013

Pondasi jembatan II Dompak yang retak diduga akibat dampak tambang bauksit ilegal di Dompak, foto diambil 8 Juni 2013.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Sejumlah tambang biji bouksit yang beroperasi di Tanjung Siambang dan Tanjung Ayun, Dompak Laut diduga menjadi rusak dan retak-retaknya pondasi beberapa jembatan menuju pusat komplek perkantoran Pemprov Kepri di pulau Dompak. Beberapa tiang utama penyangga jembatan III mulai retak-retak, tinggal menunggu ambruk. Kondisi serupa terjadi pada pondasi jembatan II yang mengalami retak hampir sepanjang pondasi. Ironisnya, Pemprov Kepri nyaris tak berdaya membendung aksi penambang bauksit illegal berkedok cut and fill alias pematangan lahan ini.

Hal ini terlihat, ketika media ini melakukan investigasi ke tiga jembatan itu pada Sabtu (08/06). Awalnya media ini berencana menuju lokasi tambang yang mengantongi “izin dari Tuhan” milik Junaidi.

Ketika sampai di jembatan II, media ini turun kebawah jembatan II karena mendapatkan infomasi dari masyarakat sekitar. Bahwa jembatan II tersebut terancam  roboh akibat pondasi jembatan itu retak, akibat setiap hari di lalui mobil dumtruck yang bermuatan belasan ton biji bouksit. Di pondasi jembatan II ini terlihat, pondasi jembatan yang terbuat dari semen beton sepanjang hampir 6 meter retak.

Kemudian, setelah mengecek pondasi dan tiang jembatan yang terancam roboh itu. Media ini melanjutkan perjalanan kelokasi penambangan di Tanjung Siambang dan Tanjung Ayun yang berada di Dompak Laut yang berjarak hanya sekitar 1 kilometer saja dari komplek perkantoran Gubernur Kepri.

Media ini menemukan fakta, puluhan mobil dumtruck bermuatan biji bouksit bolak-balik mengatarkan muatannya ke atas dua uni tongkang yang sedang bersandar di pelabuhan jeti.

Kemudian media ini bertanya kepada pria yang memakai kemeja biru yang sedang berdiri di lokasi loading itu. Menanyakan siapa yang loading, dan milik siapa kedua tongkang yang sedang loding. Pria itu mengatakan.”Tidak tahu mas, Tanya saja kepada orang yang baju kaus hitam yang sedang duduk di loader itu. Dia itu mandornya.”katanya sambil menunjuk kearah loader tersebut.

Kemudian media ini menghampiri, lelaki yang sedang duduk di loader warna orange itu. Sebelum awak media ini bertanya, si Mandor menyapa awak media ini.”Ada apa mas. Dari mana ?,”Tanya mandor itu. Awak media ini mengatakan dari media Radar Kepri dan menanyakan siapa yang loading hari ini.”Yang loading sekarang Aseng mas, munking besok Asui yang loading.”terangnya.

Namun sangat disayangkan sikap pemerintah dan penegak hukum di Provinsi Kepri dan Kota tanjungpinang tidak berani bertindak tegas. Sehingga bumi negeri pantun ini nyaris hancur seperti kubangan kerbau. Akibat di keruk oleh pengusaha tambang, yang katanya mendapat izin dari Tuhan itu.

Hingga kini, yang menjadi pertanyaan di kalangan mesyarakat, umumnya provinsi Kepri, terkait dengan kerusakan jalan dan parit yang baru siap dibangun dengan menggunakan uang rakyat. Namun kerusakan infrastruktur fasilitas unum itu, siapa yang akan bertanggung jawab.? Apakah untuk memperbaiki jalan hancur itu pemerintah yang akan meng-anggarkan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah  lagi ?. (aliasar)

Ditulis Oleh Pada Sel 11 Jun 2013. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek