| | 824 kali dibaca

TIM S.E.S (SEHAT ENAK SEMENTARA)

 

iwan kurniawan22

Oleh: Iwan Kurniawan SH

 

Pada cerita  yang lalu, dikisahkan 5 sekawan Pinta.cs, diusir oleh  penduduk negeri Cintadosa karena tidak mendukung  program  kerja si-Samseng. Pinta.dan kawan-kawan  dicaci maki, dilempari dan diusir  pada hari itu juga, tepatnya di hari penutupan pesta 40 hari 40 malam di negeri tersebut.

Ngaaah…….ngaaah…….ngaaaaaaahhhhh, seraya membungkukkan badan dengan menopangkan kedua tangannya di atas kedua tempurung lutut kakinya masing-masing sambil  mencuap-cuapkan mulutnya  menahan letih yang teramat sangat.  Sekujur tubuh mereka basah kuyub dengan keringat. Kemudian, merekapun merebahkan badannya di atas tanah  di bawah sebatang pohon rindang.

Desahan  suara terengah-engah masih jelas terdengar, meskipun  mereka sudah merebahkan diri. Masih dengan nafas tersengal-sengal, si-Palak membuka suara, “Itulah kau Pinta”, selalu mencari-cari masalah saja. Untuk apa engkau menantang si Samseng tuh, apa hasilnya untuk engkau. Haah, hampir saja kita mati diserang anak buah si-Samseng”, ujar Palak kepada Pinta.

Menanggap pula kemudian si-Polem, “Betul yang dikatakan si Palak tuh, kau  selalu mencari penyakit, kalaulah seperti ini terus, nasib kitapun takkan maju-maju, sebentar dimaki orang, sebentar dihina orang, dan sebentar dikejar-kejar orang, dan lebih parah lagi setiap hari jiwa kita semuapun terancam, yaaahhh……. seperti inilah, yang baru kita alami”, tegas Polem.

Mendapat tegoran sekaligus kutukan dari ke-2 orang temannya, si-Penta hanya bisa terdiam. Tak ada sepatah katapun dia ucapkan.

Sesaat suasana menjadi hening, hanya terdengar suara semilir angin sepoi-sepoi, gemerisik  dedaunan beradu diterpa angin disekitar tempat mereka merebahkan diri dan terdengar  juga  nyanyian merdu si-burung tiung disertai susul menyusul  suara jengkrik dari selah-selah ranting pohon tempat mereka berteduh.

Ketika itu, suara nafas mereka tidak lagi terdengar terengah-engah. Denyut nadi merekapun sudah berjalan  dengan teratur. Hanya  wajah  mereka saja, yang masih kelihatan pucat, bukan karena takut tapi sedang menahan lapar dan dahaga. Mulut dan kerongkongan merekapun kering, meskipun sudah berulang kali mereka mencoba membasahi bibir  dengan lidah dan  dengan sisa-sisa air liurnya masing-masing.

“Aku rasa begini sajalah…..aku mohon maaf kepada kalian semua, karena atas ulahku kita semua susah. Dan untuk selanjutnya aku janji tak akan membuat kalian susah  Sebenarnya aku tidak mau berbuat demikian, tapi karena emosi melihat kelakuan si Samseng, maka tak dapatlah aku tahankan”, seketika terdengar suara  Pinta, memecahkan suasana hening di saat itu.

“Aaaahhhh……..engkau tak perlu meminta maaf kepada kami, tak ada yang salah dan tak ada juga yang benar. Sebenarnya aku juga mendukung perbuatan engkau. Hanya kekeliruan engkau terlalu cepat menyampaikan hal tersebut. Aku rasa semua kita sepakat, untuk mengajar si Samseng yang sombong dan angkuh itu”, ujar Pander kepada Penta.

“Yaaa, aku juga setuju” timpal si-Perleng, “Si Samseng memang harus diajar, supaya  dia tahu, di atas langit masih ada langit”, tambah si Perleng meyakinkan.

“Bagaimana pula dengan kau palak dan kau Polem, apakah engkau sependapat dengan kam?”, tanya Pander kepada kedua orang temannya.

Sambil berpikir dan  memanggut-manggutkan kepala, Palakpun berkata, “Kalaulah untuk yang itu, saya juga setuju” jawab si-Palak.

Kemudian si-Polempun bersuara, “Aku juga setuju, tapi bagaimana caranya kita mau melawan si Samseng. Dia banyak duit dan berkuasa. Silaf – silaf sebelum kita  melakukan perlawanan,  kita  dulu yang dihajar dia”, kata si-Polem.

“Ok…lah kawan-kawan. Kalau semua kita sudah sepakat untuk menghajar si Samseng, aku akan mencoba mencari ide yang jitu bagaimana cara menghajar si Samseng tersebut”, kata Penta kepada teman-temannya.

“Aaaaahhhh…..kita semua terlalu banyak bermimpi. Jangankan hendak melawan si Samseng, melawan perut yang  sudah keroncongan  inipun kita tak mampu. Sebelum kita melawan si Samseng, ada baiknya  kita mencari makan dan minum terlebih dahulu, supaya otak kita menjadi waras kembali”, ujar Palak kepada teman-temannya.

“Yaaaa…..itu yang lebih tepat”, jawab si Polem, seraya mengajak teman-temannya bangkit dari perebahan.

Tidak lama berjalan, merekapun menemukan kedai kopi  di tepi jalan. Kebetulan hari itu ahad dan tepat di tengah hari. Sehingga kedai kopi tempat mereka singgah, masih banyak dikunjungi penduduk lagi bersantai dan berbual-bual.

Terdengarlah oleh mereka, salah seorang pengunjung itu berbicara, “Wai, awak sudah dengar tidak, cerita pesta 40 hari 40 malam di   negeri jiran kita”, tanya lelaki hitam berkumis kepada temannya.

“Ya, aku sudah dengar, katanya  meriah dan megah betul acaranya. Kalaulah negeri kita, mengadakan pesta seperti itu enak juga. Biar kita semua dapat makan minum, pakaian dan hiburan gratis”, jawab temannya yang kurus ceking berkopiah.

“Aaaaahhhhh….. bukan acara pesta itu yang aku mau tanya. Tetapi ada masalah sedikit katanya. Sewaktu si Samseng mengadakan acara penutup, katanya dia ditantang dengan sekelompok anak muda yang tidak suka dengan program kerjanya. Kemudian anak muda itupun diserang dengan orang-orang si Samseng”, itu yang ingin aku tanyakan kepada awak.

“Oooohhhhh…..kalau yang itu, aku  belum tahu, Haaaah bagaimana jadinya. Apakah anak-anak muda itu  dipelasah dengan bodyguard si Samseng”, tanya si  berkopiah kepada  kumis.

“Itu aku tidak tahu. Katanya anak-anak muda itu dikejar – kejar dengan orang si Samseng. Kasihan juga aku dengan anak-anak muda itu. Menurut aku si Samseng itu memang sombong dan congkak orangnya. Maklumlah diakan banyak harta dan paling berkuasa di negeri itu. Sehingga tidak ada satupun penduduk yang berani menantangnya, apalagi dia terkenal beringas dan tidak berhati perut”, kata si kumis menambahkan.

“Kalau soal si Samseng dan kelakuannya, jangankan penduduk negeri Cintadosa, pada umumnya seluruh penduduk di negeri jiranpun sudah tahu betul dengan si Samseng, termasuk tabiat buruknya tersebut”, timpal si kerempeng.

“Pesan apa bang”? tanya seorang gadis ber baju you can see dan berjens ketat kepada Penta dan teman-temannya.

Seketika Penta dan kawan-kawan, tidak langsung menjawab, tetapi kedua biji mata mereka masing-masing melotot, memperhatikan lengan putih mulus dan pantat bahenol si pelayan kedai kopi tersebut.

Kemudian, sesaat terdengar lagi suara,”Bang mau pesan apaaaa”? tanya si wanita dengan disertai senyum manis yang sedikit menggoda.

“Oooohhhhh….. ya…..ya…..ya…., kami minta 5 cangkir kopi panas dan sepiring kueh mueh…… deeekkk” , jawab si Penta, seketika dan sedikit terperanjat.

“Itu saja bang……tak ada pesan yang lain” tanya si wanita itu lagi.

“Ooohhh….. ya….ya….ada….berikan juga sebungkus rokok keretek” , timpal si Penta.

“Baiklah bang, tunggu sebentar yaaa”, ujar wanita sambil mengerlingkan sedikit matanya yang nakal kepada si Penta.

Dibandingkan dengan ke-4 orang teman – temannya, si Penta agak sedikit lawalah. Dia juga mempunyai pikiran yang cemerlang dengan  penampilan diri yang berwibawa, peramah serta murah senyum.

Jadi tidaklah  heran jika, si Penta menjadi rebutan para  anak-anak gadis maupun janda kembang, termasuk juga si tante-tente girang.

Selesai melepaskan lelah, lapar dan dahaga, si-Penta dan teman-temannya, melanjutkan perjalanan menuju ke rumah salah seorang temannya di negeri Jiran.

“Asalammualaikum………, wang……awang……,”  seru Penta sambil mengetuk daun pintu kayu rumah si Awang.

Beberapa saat kemudian, dari arah dalam rumah, terdengarlah suara, “Waalaikumsalam…….sebentaaaar”, seru orang di dalam.

Kreeeekk,…..kreek….keeekkkk……, terdengar suara daun pintu dibuka dari dalam. “Oooohhhhhh……. Engkau Penta, kapan sampai ke sini”, tanya Awang sambil mempersilakan si Penta masuk dengan teman-temannya.

“Baru sekejap. Habis ngopi di kedai simpang jalan, kamipun langsung kemari”, jawab Penta seadanya.

“Oooohhhhh,…….kedai kopi mak janda”, jawab si Awang, sekenanya, sambil tersenyum.

“Haaaah…..ada hajat penting nampaknya”, seraya menawarkan minum kepada Penta dan kawan-kawan.

“Nak dibilang penting ….. tak juga penting, tapi nak dibilang tak penting….penting juga. Ooooohhh ya….Bilang dengan bini awak. Tak usah repot-repotlah, kami baru saja ngopi dan makan”, ujar Penta.

“Ada hal apa. Mungkin ada  yang dapat aku bantu”, tanya Awang.

“Gini Wang, aku baru saja berkunjung ke negeri Cintadosa. Mungkin awak sudah dengar. Di negeri itu baru saja diadakan pesta 40 hari 40 malam, yang diadakan oleh si Samseng. Rupanya dia mengadakan pesta tersebut, punya tujuan agar dipilih dan didukung oleh penduduk negeri tersebut untuk menjadi pimpinan negeri, dan celakanya seluruh surat-surat tanah penduduk dimintanya. Katanya sich, untuk membantu penduduk mendapatkan pinjaman uang buat mereka. Mendengar itu akupun emosi, sebab kita semua sudah tahu, watak dan tabiat si Samseng, sudahlah serakah, ongeh pula”, ujar Penta berapi-api.

“Ooohhh kisah itu, kami disinipun sudah dengar. Jadi Awak dan kawan-kawan inilah yang dikejar-kejar dengan bodikuat si Samseng itu”, seru si Awang.

“Iya…..Wang, tapi awak jangan kuatir, aku dan kawan-kawan tak akan menyusahkan dan melibatkan awak. Tapi aku minta bantuan awak, agar dapat diketemukan dengan si Mapia, aku dengar dia juga tak senang dengan perangai si Samseng. Maka itu dia pindah ke negeri Jiran”, jawab si Penta.

“Ooohhh ….. kalaulah gitu tak payah, kapan awak mau ketemu dengan dia. Kebetulan aku sudah buat janji dengan dia  di siang ini”, tanya si Awang.

“Aaaah…..kebetulan sekali, ibarat pepatah  “Bak gayung besambut” , ujar si Penta.

Tempat kediaman Mapia dan Awang tidaklah begitu jauh. Hanya berjalan kaki 5 menit, sampailah mereka di rumah si Mapia.

Mapia salah seorang anak negeri Cintadosa, yang tergolong berhasil di negeri Jiran. Dahulunya sewaktu dia masih tinggal di negeri Cintadosa, si Mapia merupakan satu-satunya lawan berat si Samseng dalam dunia usaha legal maupun illegal. Kemudian si Mapia pindah dari negeri tersebut, karena terus berlawanan dengan si Samseng. Tak kuasa melayani si Samseng akhirnya diapun pindah ke negeri Jiran. Kebetulan isterinya dari negeri Jiran. Beberapa tahun membangun usaha, kemudian Mapiapun menjadi pengusaha sukses. Jika dibandingkan dengan si Samseng, harta kekayannya didarat maupun dilaut tidak  berbeda jauh dengan si Samseng.

Sementara,  si Awang bekerja dengan si Mapia, mengurus seluruh usaha dibidang perkapalan miliknya.

Kebetulan pula, pada waktu itu, si Mapia tengah berada di halaman rumahnya yang besar dan mewah.

Melihat kedatangan si Awang, si Mapiapun memanggil si Awang untuk duduk di bangsal depan rumahnya yang asri.

“Wang,  cepat betul engkau datang, kita janjikan jam 2 siang. Haaah siapa pula yang engkau bawa nih”, berkata Mapia kepada si Awang.

“Begini Tuan, maaaf kalau saya kemari terlalu cepat. Oleh karena teman-teman ini ingin  ketemu Tuan, makanya saya datang agak awal”, ujar Awang kepada Tuannya.

“Eeehhhmmm….. sambil berdehem ringan, siapa mereka, apa hajat mau ketemu saya”, tanya si Mapia.

Seketika, si Penta pun berkata, “Maaf , sekali lagi Maaf Tuan, nama saya Penta dan ini kawan-kawan saya, seraya (memperkenalkan satu demi satu nama masing-masing temannya tersebut) Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan kepada Tuan. Dan kami harap Tuan tidak keberatan mendengar keterangan dari kami”, ujar Penta.

“Haaahhh ……hal apa itu”, seru si Mapia.

“Begini Tuan…….Pintapun menceritakan kejadian yang baru dialami oleh mereka pada saat di negeri Cintadosa, dengan sedetail-detailnya, dan selengkap-lengkapnya, dengan sedikit ditambah bumbu penyedap dapur dan acara angkat mengangkat telor”,   kepada si Mapia.

Si Tuan Mapiapun dibuatnya takjup dan tertegun mendengar orasi dari si Penta. Seraya balik bertanya, “Jadi engkau dan kawan-kawan inilah yang diserang dengan  Tukang pukul si Samseng itu. Heeh….heeeh……Samseng……Samseng…….dengan anak-anak seperti ini engkau buat seperti itu. Apalagi dengan yang lain. Baik kalian tidak mati dipelasah dengan anak buah si Samseng. Kalau tidak,  tak dapatlah kalian berjumpa dengan aku”, kata si Mapia kepada si Penta dengan kawan-kawannya, sambil tertawa tawa kecil.

“Ma…aaf tuan, saya harap tuan jangan marah dan tersinggung……, sebenarnya penduduk negeri Cintadosa, sudah banyak yang muak dengan tingkah laku si Samseng, tetapi mereka tidak berani mengungkapkannya, seperti kami. Kemudian sebagian penduduk sangat berharap agar Tuan bersedia kembali ke negeri Cintadosa, dan memimpin mereka. Mereka selalu mengatakan kepada kami, “Kalaulah masih ada Tuan Mapia, hidup kami ini tidaklah tertekan seperti ini. Tuan Mapia orang baik dan dermawan tidak seperti si Samseng  Kalau mau sesuatu baiklah dia, tetapi kalau sudah dapat pendukungnyapun ditinggal dan tidak diacuhkan lagi olehnya, ibarat cerita si “Daun Salam”, setelah masakan terhidang diapun dibuang”,  seru si Penta berapi api sambil meyakinkan tuan Mapia.

Mendengar pujian dari si Penta, buah jakun dan lubang hidung si tuan Mapiapun naik turun  dan kembang kempis, seperti burit ayam yang baru betelor.

Mendapat sanjungan dan pujian yang setinggi-tingginya langit, si Mapiapun semakin kuat mengangguk-anggukkan kepalanya, bahu badan yang tadinya bungkuk, berubah menjadi bidang, raut wajah yang petak-petak berubah menjadi bulat dengan mata terbelalak dan dengan moncong berbentuk huruf “O”.

Ibarat pemain Voley Ball, kalau cerita puder memuder, si Penta memang ahlinya, bola zig-zagpun bisa dipudernya, setelah itu tinggal di smash, matilah lawan.

Saking asiknya mendengar lagu dondang sayang si Pinta,  sengaja atau tidak besar kemungkinan tanpa disadari oleh si Mapia,    mengalir liur dari sudut  congornyapun tidak dia sadari.

Setelah si Penta memukul bahunya, barulah si Mapia tersentak, “Bagaimana tuan”, saya yakin hanya tuanlah yang mampu melawan si Samseng, yang lain pasti tak mampu, tak mampuuu tak mampuuuuuuus”, seru Pinta sambil sedikit memekik.

Dengan sedikit terperanjat, Mapiapun menjawab, “Ooooohhhh ya…..ya…..ya….., boleh juga usulan awak tuh”. Tetapi dari sudut matanya, terbesit juga ada rasa keraguan dari dalam dirinya.

Melihat gelagat yang kurang menguntungkan,  si Pentapun cepat memutar otaknya kembali, agar dapat  lebih meyakinkan si Mapia, seraya menekankan, “Beginilah tuan, tuan jangan kuatir,  saya dan kawan-kawan akan selalu siap membantu dan mendukung Tuan. Di samping itu, sekian ribu penduduk negeri Cintadosa juga siap mendukung tuan. Tuan jangan ragu, jangan bimbang, hanya Tuanlah yang bisa menumbangkan keangkuhan si Samseng. Kasihan dengan nasib penduduk negeri itu, apalagi Tuankan anak asli negeri Cintadosa, masak Tuan tidak terpanggil untuk membantu keluarga dan rakyat di negeri tempat lahir dan tuan dibesarkan. Kalaulah saya seperti Tuan, saya tak akan ragu, karena saya yakin rakyat negeri Cintadosa pasti mendukung saya”, tegas Pinta meyakinkan si tuan Mapia.

Mendapat sanjungan dan penegasan dari si Penta, seketika timbul juga  semangat berapi-api dari dalam jiwanya. Namun di lain sisi, masih ada juga suatu perasaan  yang mengganjal keyakinannya. Kemudian, untuk menambah keyakinannya tersebut, si Mapiapun coba bertanya kembali kepada si Pinta. “Apakah betul, rakyat negeri Cintadosa mau memberikan dukungan kepada aku. Sementara,  aku sudah bertahun tahun tidak pernah kembali ke negeri tersebut. Apakah mereka masih ingat dengan aku?????”, tanya si Mapia untuk meyakinkan dirinya.

Mendengar uangkapan seperti itu, Pintapun tidak  mau mensia-siakan kesempatan emas tersebut, dengan lantang diapun berkata, “Saya jamin tuan, kehadiran tuan di negeri Cintadosa sangat diharapkan oleh rakyat. Sekarang rakyat mau melakukan reformasi. Rakyat ingin mencari dan mendapatkan seorang pimpinan sejati, bukan seorang pimpinan yang berwatak seperti Samseng, dan penguasa yang sedang berkuasa saat ini”, seru  si Penta.

Kemudian untuk menambah rasa yakin si Mapia, si Pintapun memberikan usulan, kalau Tuan masih belum percaya, “Besok saya akan melakukan survei lapangan. Saya akan mencari data yang valid dan sebenar-benarnya, seberapa banyak masyarakat mendukung tuan. Setelah itu saya akan membuka poolling di media cetak (koran-koran) untuk meyakinkan tuan, bahwa kehadiran tuan Mapia memang sangat dinantikan oleh rakyat negeri Cintadosa” seru Pinta berapi-api dan bersemangat.

“Haaaahhhhh…..bijak juga engkau, dari mana engkau belajar, haaaah. Tak aku sangka, begelige juga  kepala otak  engkau”, ujar si Mapia  kepada si Penta.

Mendengar sedikit pujian dari si Mapia, tidak membuat si Pinta langsung tersanjung, bahkan sebaliknya momen itu dipergunakan olehnya,  sebaik-baiknya sambil terus meyakinkan si Mapia.

“Oooohhhhhh……kalau hanya itu yang engkau minta, aku tak keberatan, baru berapa senlaaaah”, sambil menegaskan kembali “Tapi aku harap engkau kerja sebaik-baiknya jangan menipu aku, kalau ketahuan, mampus engkau aku buat”, seru si Mapia kepada  si Pinta.

“Siiiaaaap boooosssss” pekik  si Pinta sambil tersenyum cengar cengir, menandakan kemenangan.

“Ok, sekarang sudah pukul 2, aku masih ada kerja dengan si Awang. Aku percaya dengan awak dan kawan-kawan, buatlah TIM SES (Sehat Enak Sementara)   yang engkau katakan itu. Kemudian engkau ambillah  uang ke bendaharaku, setelah itu ambil kunci rumah dengan si Amat pembantu aku, nanti aku hubungi mereka via telepon. Tapi sekali lagi aku ingatkan jangan engkau main-main, buruk padahnya nanti, ingat itu”, tegas Mapia kepada 5 sekawan.

Setelah selesai bertemu dan berunding, besurailah mereka. Si Pinta langsung menuju  bendahara si Mapia untuk mengambil sejumlah uang yang diperlukan dan selanjutnya bertemu dengan si Amat  mengambil kunci rumah yang akan dijadikan oleh mereka sebagai Posko TIMSES nantinya.

Sesampainya di rumah yang akan dijadikan sebagai POSKO tersebut, 5 sekawan dengan wajah cerah dan  hati berbunga-bunga melihat-lihat  setiap ruangan yang dituntun oleh si Amat.

Cukup besar dan mewah juga rumah tersebut. Terdapat 5 kamar tidur ukuran sedang, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 1 dapur, 2 kamar mandi. Dilengkapi juga dengan segala macam alat-alat elektronik, seperti TV, Radio/Tape, VCD/DVD, Parabola, AC disetiap kamar tidur, serta  perlengkapan perabotan rumah tangga yang tergolong mewah.

Mendapat tempat berteduh sebesar dan semewah itu, rasa-rasanya hampir tidak dapat dipercaya oleh mereka. Awalnya dalam pikiran mereka, diberikan gubuk berdinding tripleks saja, sudah cukup. Maklumlah  hidup mereka selama ini selalu berkelana dari satu tempat ke tempat lain, sudah terbiasa hidup susah dan apa adanya.

Tidak ingin mensia-siakan waktu yang ada, dan bermaksud untuk lebih mengambil muka kepada si tuan Mapia,   pada jam itu juga, merekapun langsung memberesi segala perabotan yang ada dan menata ruangan buat mereka bekerja. Maklumlah rumah tersebut akan dijadikan juga sebagai Posko TIMSES, di samping dijadikan sebagai tempat mereka berteduh selama menjadi TIMSES  MAPIA.

Menjelang tengah malam, setelah penat bekerja seharian memberesi dan menata seluruh ruangan, 5 sekawanpun  duduk bersantai di beranda depan rumah Posko mereka, sambil menikmati kopi,  cemilan dan kepulan asap rokok keretek.

“Tak aku sangka Pinta, semalam kita mau dipelasah dan dikejar-kejar oleh tukang pukul si Samseng, hampir mampus kita dibuatnya, tapi malam ini, kita tinggal di rumah mewah, makan minum enak dan  tidur nyenyak. Kemudian kita juga sudah mendapat kerja, walaupun hanya sebagai TIM SES. Jadi aku dan Palak minta maaf pula kepada engkau Pinta”, ujar si Polem.

“Alaaaahhhhh…. sudahlaaaah, jangan kalian pikirkan itu,   yang penting kita berusaha dan yakin akan usaha yang kita lakukan, semuanya  sudah diatur oleh TUHAN, Kun Fayakun kata TUHAN, maka jadi, jadilah dia. Jangankan jadi TIMSES, jadi Daun Salampun, kita bisa” ujar Pinta sedikit berkhotbah sambil bercanda.

“Aaaaaah…..kami tak mau jadi Daun Salam, kami ingin jadi Timses saja” pekik  yang lain dengan serempak.

“Walau   akhirnya nanti,  sama-sama dibuang ke tong sampah”.

Itu kate Tok Akmal, bukan kate saye. Yeeeeeeeeeee………

 

Sekian……… sampai bersua dikisah yang laen!!!

Ditulis Oleh Pada Jum 15 Feb 2013. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek