' '
| | 1.496 kali dibaca

Tentang H Drs Abdul Kadir Ibrahim MT (Akib)

Abdul Kadir Ibrahim bersama anak dan istri tercinta.

Abdul Kadir Ibrahim bersama anak dan istri tercinta.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Berkat kiprah dan dedikasinya yang tinggi dalam pengabdian kepada bangsa dan negara Republik Indonesia, selaku Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dalam tugas-tugasnya berkaitan pula dengan kebudayaan, khususnya bahasa-sastra Indonesia (Melayu). Abdul Kadir Ibrahim (Akib) telah dianugerahi, mendapat penghargaan berbagai penghargaan. Apa saja penghargaan yang dicapai Akib ?. Inilah capaian prestasi dan penghargaan yang diraihya.

(1) Tanda Kehormatan SATYALANCANA KARYA SATYA XX TAHUN dari Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo di Jakarta, 7 Agustus 2015.

(2) Secara  khusus dalam bidang seni-budaya, bahasa dan sastra (kebudayaan), maka Yayasan Sagang, Riau (Riau Pos Group), sebagai seniman  Penerima Penghargaan Sagang sebagai Seniman Serantau (Internasional) 2013, yang diterimanya di Pekanbaru, 11 November 2013.

(3) Menerima penghargaan nasional, yakni Asean Development Citra Awards 2012-2013, APC (Asean Programe Consultant Indonesian Consortium), Jakarta, 6 Juli 2012.

(4)  Penghargaan The Best Excekutive Citra Awards 2011-2012, Asean Programme Consultant Indonesia Consortium, Jakarta, 5 Disember 2011.

(5) Tanda Kehormatan SATYALANCANA KARYA SATYA X TAHUN dari Presiden Republik Indonesia, Jakarta, 20 Juli 2010.

(6) Penghargaan  Indonesia Best Executive of The Year 2009 dari Citra Mandiri Indonesia, 18 Desember 2009.

(7) Penghargaan Indonesian Award ”Man of The Year 2009” dari Yayasan Penghargaan Indonesia, 7 November 2009.

Akib lahir di Tanjungbalau, Kelarik Ulu, Bunguran Utara, Natuna, Kepulauan Riau, 4 Juni 1966, anak pasangan H. Ibrahim Bukit dan Hj. Hatijah Naim. Dari pernikahannya dengan Hj. Ermita Thaib, S.Ag dikaruniai tiga orang anak, Tiara Ayu Karmita (novelis anak & remaja), Safril Rahmat, dan Sasqia Nurhasanah. Sarjana (S-1) Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Istitut Islam Negeri, Sultan Syarif Qasim, Pekanbaru (1991), dan Magister Teknik (S-2), Program Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro, Semarang (2008).

Akib tahu persis dan amat mengalami bagaimana menjadi anak pulau, orang laut, bermain gelombang, bertepang badai. Kolek, jongkong, sampan ataupun jaring amat akrab dengannya. Dia adalah seorang di antara anak yang mewarisi hal ikhwal kemaritiman negeri.

Dalam tahun 2013, Abdul Kadir Ibrahim, menerbitkan 9 judul buku sekaligus yang diberi tajuk sebagai  ”Seri Tuah Melayu”. Buku tersbeut: 1) Tanah Air Bahasa Indonesia (Esai Bahasa & sastra, Pengantar: Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana, Komodo Books, 2013); 2) Kartini & Aisyah Cinta Sekian Mendalam (Esai, Milaz Grafika & Tamadun Melayu Institute/ Balai Buku Dunia, Tanjungpinang, 2013); 3) Politik Melayu (Esai, Pengantar: Dr. Muchid Albintani & Jamal D Rahman, Komodo Books, 2013); 4) Memburu Kasih Perempuan Sampan (Novel, Pengantar: Raudal Tanjung Banua, Akar Indonesia, 2013); 5) Karpet Merah Wakil Presiden (Kumpulan Cerita Pendek, Pengantar: Putu Wijaya, Komodo Books, 2013); 6) Santet Tujuh Pulau (Kumpulan cerita pendek, Pengantar: Agus R Sarjono, Komodo Books, 2013); 7) Harta Karun (Kumpulan cerita anak & remaja, cetakan ke-3, Pengantar: Elmustian Rahman, Komodo Books, 2013); 8) Tanjung Perempuan (Kumpulan cerita pendek, Pengantar: Prof. Dr. Budi Darma, Komodo Books, 2013); dan  9) Mantra Cinta (Kumpulan puisi, Akar Indonesia, 2013).

Sejak tahun 1980-an, Akib yang tatkala masih menetap di Pekanbaru, Riau sudah menulis bahasa, sastra, budaya, politik, sejarah dan agama Islam. Adapun buku-bukunya yang lain, di antaranya Menggantang Warta Nasib (antologi bersama Penyair Riau, 1992), “Kerikil” dalam Sagang’96 (bersama sejumlah penulis, pilihan Sagang, Riau Pos, 1996), Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu (bersama Sindu Galba, 2000), Menjual Natuna (kumpulan cerpen, 2000), Harta Karun (kumpulan cerita anak-anak pemenang nominasi nasional, terbit  2000 dan 2001), Aisyah Sulaiman Riau Pengarang & Pejuang Perempuan (bersama penulis lain, 2004).

Perjalan panjang Akib dalam berkarya akhirnya berpindah dari Pekanbaru dalam tahun 1995-1998 ke Midai-Natuna, menjadi guru di SMP Negeri Midai. Selanjutnya dalam tahun 1998 mulai menetap di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menjadi guru di SMP Negeri 4 Tanjungpinang dan sekaligus juga menjadi Redaktur Pelaksana Tabloid SeMpadaN, Tanjungpinang (Riau Pos Group). Pernah menjadi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang selama tiga tahun (2007, dan 2009-2010). Dalam kedudukannya sebagai Kepala Dinas itu, dia menjadi Penanggungjawab dan Ketua Pelaksana Temu Sastrawan Indionedsia (TSI) III di Tanjungpinang tahun 2010. Kemudian menjadi Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tanjungpinang (2011-2012), Staf Ahli Walikota (2012-2015) dan sejak Februari 2015 menjadi Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang.

Tampil menjadi narasumber (pemakalah) dalam acara tingkat provinsi, nasional dan internasional. Beberapa karya puisi dan cerita pendeknya ataupun ulasan tentang karya-karyanya ataupun kepengarangannya oleh sejumlah penulis (pengarang) pernah dimuat (disiarkan) di Harian Riau Pos, Harian Batam Pos, Harian Haluan Kepri, Harian Tanjungpinang Pos, Majalah Sagang, Majalah Suara, Harian Kompas, Harian Media Indonesia, Harian Republika, Harian Sinar Harapan, Harian Suara Pembaruan, Majalah Horison  dan lain-lain.

Keberadaan Akib sebagai sastrawan (budayawan) nasional sudah diulas oleh puluhan penulis baik dalam bentuk makalah, skripsi, esai, ataupun buku. Antara lain ditulis Prof. Dr. Sapardi Joko Damono dalam buku Abdul Kadir Ibrahim Penyair Cakrawala Sastra Indonesia, Penyelenggara: Joniariadinata: Akar Indonesia, Yogyakarta, 2008.

Abdul Malik: Memelihara Warisan yang Agung (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2009), Jamal D Rahman, Agus R Sarjono, Al Azhar, Abdul Malik dan Raja Malik Hafrizal: Dermaga Sastra Indonesia (Komodo Books, Depok, dan Pemerintah Kota Tanjungpinang, 2010) yang diulas oleh Prof. Dr. Budi Darma, di Bentara Budaya, Jakarta, Selasa, 29 Maret 2011 (dimuat Majalah Gatra, 2011). Dalam buku Pamusuk Eeneste: Bibliografi Sastra Indonesia, Yayasan Indonesiatera, Magelang, Indonesia, 2001. Buku Korrie Layun Rampan: Leksikon Susastra Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2000. Dalam Prof. Dr. Hasanuddin WS: Ekseklopidi Sastra Indonesia, Titian Ilmu, Bandung, 2009. (redaksi)

Ditulis Oleh Pada Kam 19 Nov 2015. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Komentar Anda