| | 1.598 kali dibaca

RINDU DAN HARAPAN

Iwan Kurniwan SH

OLEH : IWAN KURNIAWAN

Tiada tertaahan, kau tinggalkan daku seeoorang…..

Kalau hatiku sedang rinduu, pada siapa ku mengadu…..

Kalau hati bertanya selalu.….

Berlinangan ari mata kuuu…..

Kalau tidak salah, kira-kira begitulah sepenggal dua  lirik lagu dangdut lawas diera jadul berjudul “RINDU PADAMU” yang dipopulerkan  oleh Ratu Dangdut negeri ini “Elvy Sukaesih”.

Lirik lagu tersebut mengingatkan kita kepada berjuta-juta orang yang sampai hari ini selalu rindu dan menanti sebuah harapan tentang adanya suatu perubahan yang baik  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negara yang kita cintai ini.

Kerinduan dan harapan ini juga terjadi dan selalu bergejolak dalam hati sanubari Mas Jarwo dan isterinya Cik Bedah, sebagaimana terungkap dalam alur cerita pendek di bawah ini.

Dari ba’da Magrib sampai menjelang pagi, hujan belum juga berhenti. Rintikan hujan yang tercurah dari awan mendung hitam di atas nirwana sana, tidak deras dan hanya berupa rintik-rintik air yang terus menerus membasahi seluruh isi alam semesta kampungnya.  Hujan seperti ini biasanya makan waktu yang lama untuk berhenti dan tidak  pula diikuti oleh ledakan guntur, gemuruh, geledek dan percikan petir yang saling saut bersautan, memekakkan gendang telinga dan terkadang menakutkan bahkan membahayakan bagi manusia, karena bisa menyebabkan kebakaran dan kematian bagi seluruh makhluk hidup yang terkena sambarannya.

Suasana malam di kampung saat ini terasa lebih romantis karena sedang diguyur oleh deraian rintikan hujan renyai-renyai dan diiringi oleh dendang suara syahdu paduan suara sang kodok bengkong yang saling sahut bersahutan, sehingga mengantarkan warga kampung ini cepat terlelap di bilik peraduannya.

Di saat penduduk kampung sedang terlelap menikmati mimpi-mimpi indah mereka, Mas Jarwo dan Cik Bedah masih terjaga dan sedang asik berbual-bual meskipun hanya diterangi oleh sebuah lampu petromak minyak tanah, karena aliran listrik di kampung sejak sore hari sudah padam.

“Bedaaaahhhh !!!, tolong buatkan Mas secangkir kopi dan rebuskan sekalian keladi cina yang tadi pagi mas gali di belakang kebun rumah”, pekik  dan pinta Mas Jarwo kepada isterinya Cik Bedah.

Mas Jarwo adalah suami cik Bedah, keturunan suku Jawa asal Pacitan. Meskipun Jarwo turunan Jawa – Pacitan tetapi tembuni dan ari-ari Jarwo sudah tertanam di kampung ini sekira 45 tahun yang lalu.  Jarwo adalah anak dari salah seorang pejuang kemerdekaan 45 bernama mbah Karto yang datang  di kampung ini sekira awal tahun 1960 di saat negara sedang dalam pergolakan dan konfrontasi Ganyang Malaysia tahun 1962 – 1966.  Sedangkan cik Bedah isterinya berusia 40 tahun adalah anak watan Melayu yang lahir dari seorang nelayan tradisional bernama Awang. Bapak dan emaknya Bedah dari sejak dahulu, dan dari nenek moyangnya  secara turun temurun memang lahir dan sudah bertempat tinggal di pulau ini.

Kampung Pinang Sebatang merupakan salah satu kampung yang cukup ramai yang terletak  dalam sebuah pulau yang tidak begitu besar jika  di bandingkan pulau Jawa.  Namun karena letaknya yang strategis dan bertetangga langsung dengan 2 negeri jiran,  menjadikan kampong ini sebagai Bandar  pelabuhan dan perdagangan yang sudah di kenal sejak jaman dahulu kala. Oleh karenanya wajar jika di kampung ini terdapat banyak suku bangsa yang satu sama lainnya hidup rukun, damai dan harmonis sampailah hari ini.

Suasana kehidupan yang rukun, damai dan harmonis itu tercipta, diantaranya berkat selalu terjadinya perkawinan campuran antar suku pada kampung tersebut, seperti perkawinan antara Bedah suku Melayu dengan Mas Jarwo suku Jawa. Bahkan tidak juga sering terjadi perkawinan campuran antar suku bangsa seperti orang Cina kawin dengan orang Melayu, orang Arab kawin dengan orang Minang, orang Batak kawin dengan orang Cina, orang Eropah kawin dengan orang Melayu atau orang Jawa nikah dengan orang india, dan sebagainya sebagainya.

“Sruuupppp……aaaahhhhhh…….nikmat betul kopi yang kau buat Bedah. Tak kalah dengan kopi buatan Kedai Kopi Hawai yang sudah lama cukup dikenal di kampong ini”, kata sekaligus puji Mas Jarwo kepada isterinya Bedah.

Mendapat pujian dari Masa Jarwo suami tercintanya itu, Bedahpun menyahut dengan logat Melayunya yang masih kental, “Allaaahhhhh, Mas tuh memang seperti itu…. Kalau sudah dibuatkan kopi pasti selalu merayu. Ujung-ujungnya pasti ada permintaan yang lain lagi. Betulkan !!!!!”.

Dengan logat Jawa bercampur Melayu, mas Jarwopun langsung menanggapinya dengan bercanda lalu  berkata, “Opo iyo. Paling-paling Mas hanya minta tolong untuk dikupaskan kulit umbi keladi rebus itu. Heemmmm, pasti nikmat. Apalagi yang merebusnya kekasih mas tercinta dan tersayang yang cantik nan rupawan”.

Mendengar canda sekaligus permintaan dari suaminya, dengan spontan Bedahpun langsung menjawab, “Haaahhhh,….betulkan apa yang Bedah katakan. Kalau sudah memuji dan merayu, pasti ade saje yang abang minta. Dasar lelaki gombal…..”, sambil mengejek suaminya.

Kemudian, tanpa berkata ba-bi-bu lagi, Bedah yang sudah membina biduk rumah tangga selama 20 tahun dengan Mas Jarwo dalam suka dan duka itu, segera mengupas kulit umbi keladi rebus yang masih mengepulkan asap. Umbi rebus itu dikupasnya sekalian 3 buah yang rata-rata besarnya se-kepalan tangan orang dewasa. Keladi rebus yang telah dikupas lalu diletakkan dalam sebuah mangkok kaca ukuran sedang, lalu iapun memberikan kepada suaminya.

“Ini Mas”, ujar Bedah seraya memberikan umbi keladi rebus kepada suaminya Jarwo.

“Ini baru namanya isteri tercinta. Terimakasih ya sayang”, kata dan puji Mas Jarwo kepada Bedah.

Mendapat sekali lagi pujian dari suaminya, seketika itu pula dengan ketus Bedahpun berkata, “Jangan terus menerus memuja – muji Bedahlah….Mas. Bedah dah capek terus menerus di puji oleh Mas Jarwo. Sebab kalo Mas Jarwo puja puji terus menerus, pasti ujung-ujungnya, ada lagi permintaan yang lain. Sudah taulah Bedah dengan perangai mas!!!”.

“Lho….kok marah terus menerus sih malam ini. Orang dipuji itu bersyukur, bukan malah marah” jawab dan canda Jarwo pada isterinya.

“Habis, kalo Mas puja puji Bedah pasti ada maunya. Apalagi dalam suasana malam seperti sekarang ini”, ujar Bedah dengan nada datar dan sedikit cemberut.

“Lho memangnya kenapa. Mas-kan hanya meminta Bedah temani Mas untuk ngopi dan makan keladi rebus, sambil berbicara ngolor ngidul, dan tidak  ada permintaan macam-macam. Itu sajakan”, jawab dan tanya Jarwo kepada Isterinya seraya menyelidiki sikap isterinya malam itu, melalui ekor matanya yang jeli.

Sementara, dalam hatinya, Jarwopun berkata, “memang betul isteriku, bentar lagi aku akan mengajakmu tidur kebilik peraduan, sambil menikmati deraian rintikan hujan yang syahdu dan mendengar merdunya simponi kodok bengkong di malam ini”

Melihat Jarwo termenung dan berpikir sesaat, Bedahpun langsung berujar sekaligus bertanya, “Apa lagi yang Mas pikirkan tuh. Pasti Mas lagi memikirkan suatu rencanakan?”.

“Kamu seperti tau aja, apa yang sedang Mas pikirkan”, jawab Jarwo sekenanya.

“Mana Bedah tau apa yang Mas pikirkan? Makanya Bedah bertanya”, jawab Bedah.

“Apa Bedah belum mengantuk. Kan sudah larut malam. Lhooo…..rupanya tanpa terasa sekarang sudah Jam 11.00 malam. Mata Mas nih sudah mengantuk pingin tidur” ujar Jarwo pada Bedah sambil mengajak Bedah untuk segera ke bilik tidur mereka.

“Boleh. Tapi janji terlebih dahulu. Bedah mohon, mas jangan mengganggu Bedah malam ini. Bedah lagi letih. Dari pagi sampai sore bersih-bersih rumah dan halaman. Ini kaki, tangan, dan hampir seluruh badan terasa pegal-pegal semua”, ujar Bedah pada Jarwo.

“Ohhhhhh kalo gitu, Mas ngerti. Mas tidak akan menggangu Bedah. Tetapi Mas akan membantu memijati sekujur tubuh Bedah yang sedang pegal-pegal itu. Bedah maukan dipijati oleh Mas yang gagah perkasa nan handsome ini?, ujar Jarwo sambil berseloroh pada isterinya.

Mendengar perkataan dan canda suaminya, Bedahpun langsung menjawab dengan perasaan gembira, “Kalo  dipijatin tentu Bedah mau, tapi Mas jangan buat macam-macam ya. Kalau macam-macam awas. Bedah gigit tukulnya,…..seraya tertawa terbahak-bahak……hahahahahahahaha….”.

Mendengar jawab dan canda dari isterinya, tak mau kalah Jarwo-pun langsung menanggapinya dengan bergurau pula, “Siap tuan Putri, Kulo tak akan berbuat macam-macam, kulo hanya berbuat 1 macam saja, kulo mohon izin untuk menggigit tombong kelapa yang merah ranum milik Tuan Putri. Bolehkan”. Seraya cengar cengir seakan-akan hendak memainkan isterinya.

Mendengar jawaban dan permintaan dari suaminya itu, Bedahpun langsung menjawab sambil memperingati Jarwo suaminya, “Tidak bisa, jangankan menggigit, dilihat  dan dipegang saja tidak boleh, takut tombang kelapanya pecah dan berair”, seloroh Bedah sambil tersenyum dan tertawa mengakak, kakakakakakaka……

Mendapat jawaban dari isterinya, Jarwo-pun tidak mau menanggapinya lagi, tetapi langsung saja menggandeng isterinya kemudian  seperti biasa, Bedahpun menukar pakaian, lalu mengenakan sarung kain batik. Sementara Jarwo sudah menukar pula pakaian dan mengenakan sarung kotak-kotak hitam puti  merek Gajah Duduk dan tidak mengenakan baju alias bertelanjang dada.

Sama halnya orang yang akan dipijat, Bedahpun menelungkupkan tubuhnya di atas kasur dengan hanya mengenakan kain sarung kembanan, yang menutupi sekujur tubuhnya yang tergolong mulus meskipun tidak terlalu putih jika dibandingkan dengan artis Luna Maya kekasih group band tanah air Peter Pan dan sekarang sudah berubah nama menjadi NO-AH alias Tidak Aaaahhhhh.

Dalam usianyanya yang telah berkepala 4, maaf ya bukan angka 4 nomor urut partai PDI Perjuangan, tetapi telah masuk ke usia 40 tahun-an.  Fisik dan body Bedah masih tidak kalah dengan anak usia yang berkepala 2, sekali lagi “mohon maaf” bukan Nomor Urut 2 (Dua) seperti nomor urut Caleg (Calon Legislatif).  Kulit tubuh yang kuning langsat, rambut lurus panjang bak  mayang terurai, dan bentuk tubuh seperti gitar spanyol nan bahenol, ditambah dengan bokong gembul nan padat berisi, membuat jakun mas Jarwo selalu turun naik memandangi tubuh isterinya dari belakang, meskipun masih berbalut kain batik Solo.

Sementara dalam usia perkawinan mereka yang sudah mencapai 20 tahun, tetapi tidak meruntuhkan kecintaan dan kasih sayang diantara keduanya. Tali kasih dan sayang  masih terus menerus mereka jaga sampai sekarang. Biasanya, rasa cinta, kasih dan sayang itu akan selalu mereka tuntaskan dalam kesatuan tubuh diantara keduanya dalam merengkuh ikatan  asmara yang akan mereka lakoni pada malam ini dalam suasana rintik hujan, sepoi angin malam, dan dendang merdu koor si kodok bengkong.

Bermaksud untuk mengatasi gelora batinnya yang telah menggebu-gebu dan ingin cepat segera dituntaskan, sambil memijati sekujur tubuh isterinya, Jarwo-pun memecahkan  kekakuan sambil  mengendorkan ketegangannya, lalu memancing isterinya yang sedang menikmati pijatannya untuk  berbicara. “Bedah, akhir-akhir ini suasana kampung kita diramaikan oleh berbagai bendera, spanduk, dan foto-foto dipapan-papan baleho  yang terletak di sepanjang jalan dan setiap persimpangan. Bagaimana pendapat Bedah dengan para Calon Legislatif kita tersebut”, tanya dan selidik  Jarwo kepada isterinya.

Dengan berat dan sedikit malas karena sedang menikmati pijatan dari suaminya yang mak nyos, Bedahpun menjawab, “Biasalah mas, tak lama lagikan di kampung kita akan menyelenggarakan Pemilu Legislatif. Jadi para Caleg itu berlomba-lomba untuk mencari perhatian dan dukungan dari masyarakat termasuk dari kita. Kalau Bedah sih, inginnya Caleg-caleg baru yang memiliki kualitas perlu dicoba, sebab Caleg-caleg yang sudah duduk di DPRD periode yang lalu, pada umumnya tidak nampak kinerjanya buat masyarakat. Semuanya hanya janji-janji belaka. Kitapun dulu pernah dijanjikan oleh beberapa orang Caleg. Tetapi setelah mereka duduk,  semua janji-janjinya hanya tinggal janji saja, tidak ada satupun yang mereka perbuat dan nampak di tengah masyarakat. Yang Nampak pada kita, dulu tak pakai mobil dan sekarang mereka sudah pakai mobil plat merah. Dulu mereka mudah ditemui, sekarang jangan nak lihat mereka, ditelpon-pun juga tak mau diangkat, dulu tak pakai jas berdasi + kopiah dan sekarang selalu tampil trendy bak bintang ganteng sinteron  yang  berjas berdasi + berkopiah,  dulu selalu ngopi di kedai kopi bersama teman-teman dan sekarang tak pernah lagi nampak batang hidungnya, dan sebagainyalaahhh”, ujar Bedah seraya menerangkan  beberapa alasan kepada suaminya Jarwo.

“Betul…..and sangat-sangat betul !!!!!. Mereka pada umumnya hanya selalu ngobral janji,  seperti syair lagunya Hetty Koes Endang. “Kau janjikan berbulan madu…..keeeuuujung duniaaaa, kau janjikan sepatuuukuuu, dari kulit rusaaa……tapi janji, tinggal janji, bulan madu hanya mimpi, tapi janji, tinggal janjiiii…..dibibirmu”, jawab Jarwo sambil melantunkan sebait lagu tersebut dengan penuh perasaan.

Saking  begitu menghayati lagu “Malam Yang Dingin” tersebut, dan tanpa disadari oleh Jarwo jari jemari pijatannyapun menjadi terhenti. Karena pijatannya terhenti, seketika Bedahpun angkat suara, lalu sedikit memekik “Mas…..mas….mengape pijatannye sampai terhenti. Kalau nak menyanyi,  nyanyilah..… tetapi pijatannya jalan terus jangan berhenti”, seru Bedah sambil mengingatkan suaminya.

Seketika itu, Jarwopun terkejut, lalu berkata, “Oooohhhh ya, sory Bos. Habis lagu itu sangat tepat dengan ucapan janji-janji yang selalu diucapkan oleh para para anggota dewan yang pemborak itu. Kalau sudah mendekati Pemilu baru mereka mendekati rakyat dan memberi janji-janji. Tapi setelah terpilih, semua janji-janji mereka, hanya tinggal janji saja. Apa yang bedah cakapkan itu betul semua”, ujar Jarwo meyakinkan dirinya sendiri sekaligus isterinya yang sedang menikmati pijatan dari jari jemari ke dua tangannya yang keras namun memberikan kenikmatan.

Dasar Jarwo, melihat isterinya sedang menikmati pijatannya dan mengeluarkan sedikit desahan yang tertahan-tahan, Iapun mengambil kesempatan itu, dengan mencoba meraba bagian sensitive milik isterinya dibagian dada. Seketika isterinyapun terkejut lalu memperingati suaminya, “haaahhh….jangan macam-macam mas, tadikan sudah janji, tidak mau menggangu Bedah. Jangan mas buat seperti janji Caleg-caleg kite itu….yang selalu ingkar janji. Hati-hati mas. Jangan hanye pandai becakap aje!!!”.

Mendapat peringatan dari isterinya, Jarwopun langsung menjawab, “Ya…..iya…..mas tak akan menggangu Bedah. Mas tau Bedah lagi capek….ya kan”.

“Dah taupon, tetapi nak dibuat juge”, ketus si Bedah dengan nada suara sedikit manja.

“ok….oooke….mas tak ganggu Bedah lagi, tapi supaya mas tak bosan, Bedah tak boleh tidur saat dipijat sampai selesai….kita bercakap-cakap dulu….maukan”, jawab dan tanya Jarwo pada isterinya.

“Laahhh, dari tadipon Bedah sudah melayani abang becakap dan kalau hanye bebual-bual aje  tak ape, Bedah mau. Tapi mas, ….. mas mau berbicara tentang ape. Kalau tentang Pemilu dan Caleg, Bedah dah bosanlaaahhh”, jawab si Bedah sekenanya.

“Ya….. kita becakap-cakap tentang Pemilu termasuk tentang perangai dari masing-masing Caleg itulah. Hal itu yang sedang seru-serunya terjadi saat ini, mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangannya, agar kita tidak dikatai ketinggalan jaman atau kuper (kurang pergaulan) taoooo ”, ujar Jarwo seraya meyakinkan isterinya.

“Baiklah…ape yang ingin  mas utarekan. Bedah akan menjadi pendengar setiee”, ungkap bedah seadanya, karena sebenarnya dia sudah sangat bosan jika berbicara tentang Pemilu dan Caleg., karena yang dibicarakan hanya itu ke itu saja yang kesemuanya menyebalkan dan memuakkan.

“Dah…..Bedah…..jika kita lihat Caleg-caleg yang telah ditetapkan oleh KPU kampung kita, terdapat beberapa orang Caleg yang sebelumnya sudah pernah duduk di DPRD dan sekarang mencalonkan diri lagi untuk menjadi anggota dewan. Bagaimana menurut pendapat Bedah tentang Caleg-caleg itu? Ujar dan tanya Jarwo kepada isterinya.

“Kalau Bedah sih terserah aje. Itukan hak mereke. Tetapi semestinye masyarakat harus cerdas memilih. Jike mereka selame menjabat memang telah berbuat untuk kepentingan rakyat, ape salahnye jike dipilih kembali. Bile sebaleknya mereke selame menjadi anggota dewan tidak pernah berbuat untuk kepentingan rakyat, tentunye anggota dewan seperti itu, tidak perlu lagi dipilih, sebab hanye merugikan saja”, jawab Bedah sambil mengungkapkan sedikit alasan-alasannya.

“Ohhhh….gitu ya. Kalau itu mas juga sependapat dengan Bedah. Pintar juga isteri mas ini”, tanggap Jarwo sekalian memuji isterinya kembali.

“Hooopppss…..awas….jangan puji-puji Bedah, nanti ade maunye lagi”, jawab Bedah seraya mengingatkan suaminya kembali.

Dasar Jarwo, mendengar peringatan dari isterinya, malah ia semakin bertingkah aneh, dan dengan secepat kilat dia remas bokong isterinya yang empuk bak kue bak pau yang baru dikukus. Mendapat perlakuan suaminya Jarwo, Bedahpun  langsung terperanjat seraya berteriak kecil, “Maaassssss…..itulah yang Bedah tak suke. Mas nih nakal sangatlah”, dan dengan seketika membalikkan badannya  dengan cepat.

Bukan Jarwo namanya, jika hanya dengan teriakan kecil isterinya langsung mundur dan layu. Bahkan Jarwo sebaliknya terus saja menakali isterinya sambil terus menerus menggelitik litik isterinya pada tempat-tempat yang sensitive jika disentuh.

Mendapat serangan yang bertubu-tubi dari suaminya, Bedahpun dengan nafas sedikit terengah-engah karena menahan geli dan sedikit kenikmatan, diapun lalu berujar dengan tersendat-sendat, “Maaaasss…..maaasss…..maaasss, …sudah-sudaaahhh…heh….heeehh….Bedah dah tahan….dan ingin pipis ke belakang”.

Oleh karena istrinya sudah kebelet ingin pipis, Jarwopun segera menghentikan gerakan tangannya, lalu berkata, “Ok…ok…ok….Mas hentikan, tapi dengan syarat jangan lama-lama di belakang sana. Kalau lama ntar mas susul dan akan mas pikul”.

Sebagai seorang petani kebun sayur dan buah-buahan tempatan, tubuh Jarwo terbilang macho dengan kepalan jemari tangan yang keras, lengan berotot, perut tipis bersegi-segi serta memiliki bidang dada yang bagus bahkan tidak kalah dengan para atlit binaragawan. Sementara isterinya Bedah memiliki tubuh yang langsing namun tidaklah kurus, sehingga Bedah  dapat dengan mudah dibopong oleh Jarwo, dan itu selalu pula dilakukan olehnya baik pada saat sedang bergurau senda maupun pada saat menjalankan kewajiban suami isteri diantara keduanya.

Mendengar akan dibopong oleh si Jarwo, seketika bergidiklah tengkuk leher si Bedah, karena pada saat itu ia langsung terbayang akan dipikul oleh suaminya di atas pundak atau dibopong oleh suaminya dengan kedua lengan tangan kanan dan kirinya yang berotot. Dalam kondisi yang demikian biasanya ia pasrah apalagi setelah memandangi dada bidang, kumis tebal, dan soroton mata tajam suaminya yang tidak akan berkedip sedikitpun memandangi tubuhnya mulai dari raut wajahnya yang sayu sampai dengan ujung jemari kaki-nya.  Ditambah saat ini, iapun  hanya mengenakan sehelai kain batik kembanan dan tidak pula mengenakan kutang penutup dua buah gundukan daging kenyal miliknya.

Untuk mengurangi batinnya yang sedang bergejolak antara ingin dan tak ingin, Bedahpun langsung angkat bicara lalu berkata, “Baik-baaiikk….Bedah akan segere kembali setelah pipis. Tetapi Bedah mohon mas teruskan lagi pijatannya, kan bagian depan belum selesai dipijati tadi”.

Mendengar ucapan dan permohonan dari isterinya Bedah, dengan tersenyum ringan, Jarwopun segera menjawab, “Ok….tak apa, mas berjanji, akan memijati  seluruh bagian tubuh depan Bedah”.

Seketika setelah itu, Bedahpun langsung ke kamar mandi di belakang rumahnya. Setelah selesai menunaikan hajatnya, iapun langsung buru-buru kembali ke bilik peraduannya, karena kuatir akan segera dijemput suaminya.

Sekembali ke bilik tidurnya, Bedahpun langsung merebahkan badannya dan tidur terlentang sambil menanti ronde ke dua pijatan suaminya Jarwo pasca pipis dari kamar mandi mereka.

Melihat isterinya telah bersiap-siap untuk dipijati, Jarwopun langsung memainkan jari jemarinya pada sebelah kiri batang kaki si Bedah. Pijatannya dimulai dari memijat-mijat  diseputar tapak kaki, lalu naik ke betis depan, lutut dan terus ke paha Bedah. Agar pijatannya lebih enak, iapun melumurkan lalu mengosok-gosoknya minyak harum handbody disekujur batang kaki kiri Bedah. Sekali-kali dengan menggunakan minyak pelembab handbody,  jari jemarinya mencuri-curi juga untuk menggapai bagian pangkal atas paha isterinya,  lalu terus mencari-cari bagian paling sensitive milik si Bedah yang  bersempadan letaknya dengan pangkal atas paha tersebut.

Apabila jari jemari suaminya sudah mulai ke bagian sensitive tersebut, dengan tangkas tangan jari  jemari Bedahpun langsung menepis jari jemari suaminya, seraya mengingatkan suaminya yang nakal itu.

“Maaas….jangan sentuh yang itu….Bedah geliii, terasa nak pipis lagi”, pinta Bedah kepada suaminya Jarwo dengan sedikit memelas.

Harus diakui oleh Bedah, jari jemari nan keras dan kokok milik suaminya yang terus menerus memijati dan mengelus-ngelus sekujur batang kakinya mulai dari bagian tapak sampai dengan pangkal atas pahanya bahkan terkadang sekali-kali sempat pula menyentuh bagian paling sensitive miliknya, sudah barang tentu menimbulkan rangsangan terhadap dirinya.

Untuk mengurangi tekanan batin yang bergejolak pada dirinya, Bedahpun dengan sangat berat membuka pembicaraan kembali, dan dengan pelan berkata, “Mas, kenapa kok mas sekarang diam saja. Kalau mas diam terus Bedah terasa ingin tidor”.

Mendengar isterinya bicara dan bertanya kepadanya, Jarwopun segera menjawab, “Yaahhh, bagaimana ini, tadi bilang malas mau bicara. Sekarang malah mengajak orang bicara lagi. Kalau mas sih, mau aja bicara terus sampai pagi, asal Bedah sanggup”.

“Jangan sampai pagilah, mana Bedah sanggup, bisa-bisa 5 menit lagi Bedah dah tertidur” jawab dan aku Bedah pada suaminya.

“Baiklah, mas mau nanya Bedah lagi” ujar si Jarwo dengan datar sambil terus memijati batang kaki isterinya, tetapi pada saat ini sudah beralih ke sebalah kanan-nya.

“Dah, Bedah….tau ngak, itu…tuh….Tok Wakel dan Kang Ono. Masing-masing mereka saat ini mencalonkan kembali untuk menjadi calon anggota Yang Berhormat”, ujar Jarwo pada si Bedah.

“Kalau itu, Bedahpun sudah lama tau. Bedah rasa biasa-biasa aja, kalau mereka mau mencalonkan kembali dirinya untuk kembali duduk di parlemen. Tak ada salahnyakan”? jawab sekalian tanya Bedah pada suaminya.

“Memang tak ada salahnya. Aturan hukum di kampung ini juga tidak melarang mereka untuk mencalonkan kembali dirinya duduk di parlemen, meskipun mereka sudah dua, tiga, bahkan empat kali menduduki jabatan tersebut”, jawab Jarwo dengan nada sedikit gusar.

“Jika mas Jarwo sudah tau, mengape lagi tanye pade Bedah”, jawab Bedah dengan sedikit ketus.

“Maksud mas sih bukan seperti itu. Tetapi yang ingin mas sampaikan pada Bedah. Baik Tok Wakel  maupun Kang Ono, selain mencalonkan diri mereka kembali, saat ini, mereka juga membawa isteri, adik, abang, anak, dan keluarga mereka untuk turut menjadi calon Yang Amat Berhormat. Itu yang anehnya”?, ujar Jarwo dengan sedikit keras dan jengkel.

Mendengar ungkapan dari suaminya, dengan santai dan dengan apa adanya, Bedahpun menjawab, “Mas nih bagaimane sih, Tok Wakel dan Kang Ono-kan manusie biase yang tidak mau rugi. Mumpung masih memegang jabatan strategis, make merekepun secara optimal akan berusahe untuk tetap menduduki jabatan tersebut, dan akan lebih enak  jika mengajak juge isteri, anak, adik, dan keluarge-keluargenya untuk bersama-sama menduduki kursi empuk di parlemen, agar bise lebeh enak untuk kong kalikong mengembat uang rakyat alias korupsi”, seraya menekankan kalimat akhir percakapannya yaitu “mengembat uang rakyat alias korupsi”.

“Ooohhh…..gitu yaaahhh. Apa mereka tidak cukup-cukup telah memiliki jabatan, uang, dan harta kekayaan yang sudah berlimpah-limpah tersebut selama mereka menduduki jabatan yang Amat Berhormat tersebut”? jawab dan sekalian tanya Jarwo kepada isterinya Bedah.

“Kalau Bedah, berpikir sederhane saje mas. Sebenarnye mereke itu sudah cukup bahkan sangat lebih dari cukup. Apabile merekea mau introspeksi diri dan mau sedikit bersyukur pada Allah SWT, make mereke tidak akan mau memaksakan diri mereka seperti itu. Tetapi oleh karene mereke tidak mau introspeksi dan bersyukur kepada Allah SWT, sehingga akal dan pikiran mereka itu selalu diliputi oleh nafsu dan iblis. Mereka selalu menuruti nafsu untuk terus menerus memegang jabatan, terus menerus minta untuk dihormati, terus menerus minta untuk dipuji, terus menerus bise melakukan kolusi dan korupsi, dan lain-lain sebagainye. Kemudian mereke juga tidak tahu bersyukur, bahwe ape yang diberikan oleh Allah SWT kepade mereke tersebut merupakan amanah dan harus dipertanggungjawabkan oleh mereke kelak. Mereke hanya ingin menuruti keinginan iblis belake. Biasenye mereke ini orang-orang tidak mau dinasehati dan diberikan saran-saran, karena mereke sudah  berinduk pade syaitan. Mereke kire, jabatan, kekuasaan dan harte kekayaan itu kekal abadi selame-lamenya. Sehingge mereke terus menerus berlombe-lombe untuk mengejar dan menggapainya meskipun harus dengan berbagai macam care, termasuk dengan jalan yang haram dan tak jarang pule mencelakai serte mengorbankan manusie lainnye”, ungkap Bedah dengan panjang lebar dan agak penuh semangat.

“Ambooooiiiii, cerdas betullah isteri Mas yang tercinta ini. Mas tak nyangka Bedah bisa berbicara seperti itu. Mas salut pada Bedah. Semestinya, kalaulah para petinggi petinggi partai tau dengan kecerdasan Bedah, pasti Bedah ditawari mereka untuk menjadi calon Yang Amat Berhormat tersebut. Apalagi saat ini, keterwakilan perempuan sebesar 30% harus dipenuhi”, ungkap Jarwo sekaligus tak habis-habis memuja muji isterinya.

Tanpa disadari oleh Bedah karena terasa melabung tinggi telah dipuja puji oleh suaminya dan ditambah pula rasa kantuk yang sudah teramat sangat, jari jemari tangan suaminya terus saja menggelitik-litik daerah – daerah sensitive miliknya, namun anehnya saat ini Bedah hanya diam seribu basa tidak memekik seperti tadi dan tidak pula menepiskan jari jemari suaminya yang nakal, bahkan sekarang dia sepertinya sedang menikmati elusan jari jemari kasar milik suaminya yang telah pula menyentuh dan meraba-raba bagian – bagian terlarang miliknya mulai yang terletak di depan dada, pusar, sampai bagian di bawah pusar yang ditumbuhi oleh rumput-rumput manila yang tidak berwarna hijau tetapi berwarna gelap seperti rumput milik orang-orang asia pada umumnya.

Mendapat lampu hijau dari isterinya, Jarwopun mulai berani untuk terus melakukan sentuhan-sentuhan ringan yang bertujuan memancing rangsangan birahi isterinya yang sedang memejamkan mata dan sekali-kali mendesah pelan.

Sebenarnya, pada saat itu Bedah telah pasrah dan siap untuk diperlakukan apa saja oleh suaminya. Dia tidak mau munafik bahwa sebenarnya ia juga sangat teringin agar dituntaskan kenikmatan tersebut dengan segera. Namun karena tak mau kalah gengsi dengan suaminya, karena mengingat dia dari mula selalu mengingatkan Jarwo agar jangan mengganggunya, makanya iapun hanya bisa menerima apa yang Jarwo lakukan kepadanya. Ia sama sekali menahan keinginannya untuk meminta Jarwo segera menuntaskan hasratnya.

Berbeda dengan Bedah, setelah mengetahui isterinya sedang menanti sentuhan-sentuhan nakal dari jari jemarinya disetiap mili bagian-bagian sensitive tersebut, dengan seketika, Jarwopun menahan gejolak birahinya dan lalu kembali mengajak isterinya untuk menyambung pembicaraan seputar Pemilu dan Celeg-Caleg tersebut, dengan berkata, “Bedah….bedaaahh….sekarang kok diam. Kan tadi sudah janji mau temani Mas untuk bebual-bual”, sambil menggoyang-goyangkan bagian paha Bedah ke kiri dan ke kanan.

Karena terus menerus digoyang-goyangkan tubuhnya oleh si Jarwo, dengan berat Bedahpun angkat bicara, “Ade ape Mas, kenape Mas berhenti mijati Bedah, dan Bedahpun sudag ngantok berat”.

“Bedah, Mas belum habis berbicara. Mas mau nanya Bedah tentang perangai Tok Wakel yang semakin menjadi-jadi betol dan tak berperikemanusiaan”, ungkap Jarwo kepada Bedah.

Mendengar suaminya menyebut-nyebut nama Tok Wakil, dengan bernada sedikit keras, Bedahpun segera menjawab, “Mas….Mas….mengapa kita harus memikirkan si Wakel itu, dia aja tidak pernah memikirkan kita, dia nak teletang, telungkup, tersungkur, tengkurap, sampai mampuspun tak perlu kita hiraukan dia. Sekarang kita tutup saja pembicaraan Pemilu dan Caleg-caleg itu. Bedah dah tak tahan mendengarnya. Sebab bila teringat nama mereka disebut-sebut, seketika itu pula mual perut Bedah….nak jelak Bedah dibuatnya, sambil mengeluarkan nada suara seperti orang hendak muntah….kweekkkkk……kweeaakk…..kweeeaaakkk”.

Mendengar ocehan isterinya yang sedikit kesal, Jarwopun mengambil inisiatif untuk segera memujuk dan menenangkan isterinya, dengan terus menerus mengusap dan meraba-raba dengan halus dan lembut sekujur tubuh Bedah yang hanya mengenakan kain kembanan batik Solo bercorak burung merak Jawa.

Bagi Jarwo, sangat mudah untuk menguasai isterinya, karena ia sudah teramat tau, jika isterinya dah naik sepaning artinya itu ia meminta untuk segera dituntaskan keinginan yang sedang bergelora tersebut. Jarwo tau, isterinya sedang marah karena ia tidak dengan segera menuntaskan keinginannya itu. Apalagi memang dia mengetahui bahwa isterinya Bedah sangat tidak suka dengan Tok Wakel, karena memang sejak jadi Wakil Rakyat perangai buruknya terus saja semakin menjadi-jadi dan memuakkan.

Tanpa berlama-lama lagi, Jarwopun segera menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami yang syah, yaitu memberikan pemenuhan batin isterinya yang sedang bergejolak untuk segera disentuh, dicium, dirangkul, didekap erat dan dipadusatukan diantara keduanya dalam sebuah dekapan asmara yang bergelora.

Tik…..tik…..tik…..bunyi hujan di atas genting….Airnya turun tidak terkira….Cobalah lihat…..pohon dan ranting….Pohon dikebun basah semuaaaaaaa……

Meskipun diluar pondok mereka, hujan semakin deras hingga mengalahkan gemuruh suara kodok bengkong yang menyanyikan suara paraunya, sementara Jarwo dan isterinya, masih terus menerus berjuang mengejar tujuan akhirnya dengan diiringi desahan, erangan, dan racauan yang tak terkendalikan bersamaan dengan cucuran keringat yang membasahi sekujur tubuh mereka…..kemudian perjuangan itu mereka  tuntaskan dengan semburan air murni diantara keduanya…..yang membuat mereka terkulai lemas dengan sekujur tubuh yang telah digenangi oleh air hadas keduanya.

Akhirnya…..merekapun tertidur lelap, melayang indah dalam mimpinya mencari kerinduan dan harapan yang lebih baik dan teramat baik buat mereka dan kita semua. Semoga….!!!!!

Kijang Lama (Pondok-Ku), 15 September 2013.

*IWAN KURNIAWAN.S.H. adalah seorang Advokat/Pengacara Senior,  yang saat ini menjadi CALEG PDIPerjuangan Dari Dapil 3 Bintan (Bintim, Mantang, Bintan Pesisir, dan Tambelan), dan sedang pula menyelesaikan Tesis guna meraih gelar Magister Hukum (M.H.)  dan Magister Administrasi Publik (M.A.P.). 

Ditulis Oleh Pada Ming 15 Sep 2013. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda