' '
| | 1.375 kali dibaca

Presiden : Tanpa Kritik Belum Tentu Saya Bisa Bertahan 10 Tahun

Ketua PWI Pusat, Margiono, Ketua Dewan Pers, Bagir Manan dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi ibu Ani Yudhoyono.

Ketua PWI Pusat, Margiono, Ketua Dewan Pers, Bagir Manan dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi ibu Ani Yudhoyono, Jumat (05/09).

Jakarta, Radar Kepri-Presiden Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono didampingi ibu negara Ani Yudoyono memenuhi undangan Ketua Umum Persatuan Warawan Indonesia (PWI), Margiono yang menggelar acara Silahturahmi Pers Nasional dan peluncuran buku tentang, SBY dan Kebebasan Pers. Dimana, buku ini merupakan testimoni komunitas media terdiri dari 32 orang tokoh dan wartawan senior di Indonesia. Acara dilaksanakan di grand ballroom hotel Grand Hyatt, Jl M H Thamrin Kav 28-30 Jum’at (05/08).

Dalam sambutanya Presiden SBY yang mengenakan batik merah lengan panjang menyampaikan peran penting insan pers dalam mengkritisi kebijakannya.”Tanpa kritik yang saya terima selama 10 tahun ini, belum tentu saya bertahan memimpin negeri ini, Insya Allah hingga akhir masa bakti saya. Pemimpin yang pantang di kritik, kemudian cendrung untuk menolak kebebasan pers dan hanya menerima (laporan) yang serba baik. Sama saja dengan menyimpan bom waktu (time bom).”kata Presiden yang disambut aplaus dari undangan yang memenuhi ballroom tersebut.

Karena, menurut Presiden, pemimpin yang bersangkutan bisa terlena, seolah-olah semua menyukai dan mendukung.”Kemudian bisa tergoda menyalahgunakan kekuasaan dan kemudian harus berhadapan dengan apa yang ada di dalam hati dan pikiran rakyat yang sesungguhnya. Itulah yang terjadi dimana-mana, terutama Negara yang menganut sistem otoritaran.”Terang Presiden.

Dalam mengahadapi “serangan” kriritik ini, Presiden SB punya jurus tersendiri dengan berbicara pada pemimpin Negara lain, seperti Australia yang dikenal persnya sangat kritis terhadap pemerintahan.”Ternyata nasib mereka sama. Saya bilang ke ibu Ani, ada lagi pemimpin Negara yang bernasib sama dengan kita. Dikritik bahkan lebih tajam.”sebut Presiden menenangkan kegalauan ibu Negara tentang kritik terhadap dirinya.

Sebelumnya ketua PWI Pusat Margiono, menyampaikan.”Saya sangat berterima kasih pada bapak Presiden. Meski-pun masa jabatanya hanya tinggal 45 hari lagi, masih berkenan untuk hadir ditengah-tengah kita dimalam yang sangat berharga ini.”katanya.

Menurut Margiono.”Saya juga bersyukur dan senang melihat wajah bapak Presiden semakin segar menjelang masa jabatanya berakhir. Saya tadi agak kaget melihat wajah pak Presiden, lebih cerah dari pada biasanya.”Ujar Margiono.

Kemudian Margiono melanjutkan.”Silahturahmi Nasional ini juga istimewa bagi kami, karena akan meluncurkan buku tentang kebesaran Pers. Terus terang kami takut menerbikan buku ini karena dalam tulisan yang ada didalamnya, banyak kritikan terhadap pak Presiden dan banyak juga yang memuji.”terang Margiono.

Namun lanjut Margiono.”Kami bukan takut sama bapak Presiden, tapi takut buku ini jelek dan sangat jelek. Jika dibandingkan dengan yang lain, buku ini sangatlah jelek, susah memang menulis buku tentang pak SBY. Karena yang kita tulis ini sangat banyak mengkritik, tapi banyak juga yang memuji.”terang ketua PWI Pusat ini.(aliasar)

Ditulis Oleh Pada Sab 06 Sep 2014. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda