'
| | 1.402 kali dibaca

Pengurus LAM Lingga Kecewa Pembangunan Balai Adat Asal Jadi

Beginilah kondisi gedung LAM Lingga di komplek Istana Damnah.

Beginilah kondisi gedung LAM Lingga di komplek Istana Damnah, Minggu (04/01).

Lingga, Kepri Info-Pengurus Lembaga Adar Melayu (LAM) Lingga kecewa dengan proyek pembangunan gedung LAM yang terkesan asal jadi. Padahal anggaran bangunan bantuan dari Provinsi melalui dinas Pekerjaan Umum (PU) provinsi kepulauan Riau tersebut menelan anggaran yang tidak sedikit, Rp 2,3 Miliar.
Sebagaimana di ketahui, pengerjaan proyek yang dilaksanakan selama 150 hari kerja, oleh kontraktor PT Bintan Utama Tekhnik dengan konsultan pengawas CV Tunjuk Satu Konsultan tersebut, molor dari waktu yang ditentukan. Pantauan di lapangan, sudah tidak terlihat lagi aktifitas pengerjaan di gedung LAM tersebut.
Bangunan panggung, beratap merah menggunakan tongkat semen dan dinding papan bersusun tegak tersebut terlihat megah berjejer dengan bangunan Musium Linggam Cahaya yang baru, di perkampungan Istana Damnah. Sementara papan dan kayu bekas adukan semen, sisa pecahan keramik masih berserakan disekitar lokasi bangunan.

Belum lagi, dari dalam bangunan tersebut telihat ketidak sempurnaan atas bangunan.di karenakan bagunan yang seharusnya siku, namun kalau di amati secara rinci terlihat tidak siku alias wajik, belum lagi tiang-tiang penyangga atas terlihat tidak lurus sejajar dan simpang siur.
H Ismail Ahmad (71) seorang pengurus LAM Lingga mengaku kecewa denganproyek tersebut. Pasalnya bangunan yang menjadi simbol di Bunda Tanah Melayu tersebut terkesan asal jadi dan ambuardul.”Selama ini saya tak pernah melihat kontraktor yang mengawasi pekerjaan ini. Cobalah lihat bangunannya. Tidak sempurna, siku-siku bangunannya tidak ada yang betul.”ungkapnya pada wartawan, Minggu (04/01).

Ismail yang tinggal di wilayah perkampungan Istana Damnah tersebut, mengaku selalu menyempatkan diri meninjau proyek pembangunan yang berjalan di Daik Lingga, termasuk pembangunan gedung LAM tersebut. Pekerjaan yang molor dan menyebabkan sejumlah bangunan tangga luar gedung yang asal jadi juga, dimana polesan semen yang tidak rapi, serta gambar motif bunga yang terlihat jelas tak sempurna sangat disayangkannya.”Bangunannya tidak lurus, tiang bangunannya juga tak lurus. Yang lebih parah bagian depan, tangga naiknya, belum sempurna sama sekali.”terang Ismail.
Dirinya menyayangkan dan kecewa atas pembanguan gedung balai adat tesebut yang di buat asal jadi dan di tambah lagi, sisa material pengerjaan di biarkan tanpa ada pembersihan dari pihak kontraktor pelaksana, sementara itu, gedung LAM tersebut memiliki arti dan juga fungsi yang sangat kuat bagi orang melayu di Lingga.
Erik kontraktor proyek gedung LAM tersebut, yang dihubungi wartawan melalui telpon, mengatakan, memang pekerjaan yang dikerjakan mengalami kemunduran waktu.  Hal tersebut dikarenkan curah hujan tinggi yang terjadi di bulan Agustus 2014 lalu di Daik. Akibat hujan tersebut, dikatakan Erik, pihaknya terpaksa membayar denda selama 29 hari kepada pemerintah provinsi dengan Rp 2,5 juta perhari.”Keterlambatan kita sudah tidak ada masalah, kita ikut prosudur, dendanya selama 29 hari sudah kita bayar. Pekerjaan kita terkendala cuaca hujan. Pas musim hujan, selama 32 hari kita tidak bisa bekerja, ini yang membuat pekerjaan molor.”ungkapnya.
Selain itu, dikatakan Erik lagi, awalnya ia meminta pekerja untuk dapat melaksanakan lembur. Agar dapat mengejar waktu, namun sejumlah pekerja beralasan takut.”Malam harusnya bisa lembur, tapi pekerja takut.”katanya.
Sementara untuk lokasi gedung yang saat ini masih berserakan bekas pembangunan, dan juga semen plaster tangga gedung yang masih kasar dan belum sempurna, dikatakan Erik meskipun telah habis masa kontrak kerjanya, namun mereka saat ini masih dalam masa perawatan. Sehingga, kekurangan tersebut akan segera di selesaikan.

Begitu juga dengan tumpukan tanah, bekas pembersihan lahan yang ditumpuk di sebelah kiri bangunan, juga akan segera di selesaikan Erik saat masa perawatan gedung LAM tersebut.”Sekarang kita dalam masa pemeliharaan, 5 persen dana kita masih di pemerintah untuk pemeliharaan gedung LAM ini. Dari sekarang sampai 6 bulan ke depan, sampai bulan Juni, itu masih tanggung jawab kita. Gundukan tanah, juga akan bersihkan. Nanti kita akan minta tolong ke masyarakat, jadi kita dapat juga membantu mereka.”terang Erik.
Sedangkan para pekerja bangunan yang ia datangkan langsung dari Jawa, sampai saat ini masih tinggal dicamp tak jauh dari lokasi bangunan. Para pekerja tersebut, juga telah diminta Erik untuk rutin membersihkan lokasi bangunan dari bekas material.(amin)

Ditulis Oleh Pada Sen 05 Jan 2015. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda