'
| | 1.289 kali dibaca

Pemberian Obat Filariasis Belum Capai Target

Salah  seorang warga RW 9 yang lagi diperiksa sebelum meminum obat filariasis.

Salah seorang warga RW 9 yang lagi diperiksa sebelum meminum obat filariasis.

Dabosingkep, Radar Kepri-Pemberian obat Filariasis yang lebih dikenal oleh  masyarakat penyakit kaki gajah untuk kecamatan Singkep masih belum mencapai target yang di inginkan. Hal ini terlihat dari beberapa pos Yandu tempat pemberian obat filariasis masih minim dikunjungi warga masyarakat.
Lurah Dabo, Agustiar, mengatakan pemberian obat filariasis untuk kelurahan Dabo, kecamatan Singkep belum mencapai target yang di inginkan. Dari sebelas pos yandu yang melayani pemberian obat yang di bagikan secara gratis ini masih minim masyarakat yang datang. Baru sekitar 20 persen masyarakat kecamatan Singkep yang datang ke pos yandu untuk minum obat filariasis, tentunya jumlah ini jauh dari target yang ingin di capai, yakni minimal 70 persen.”Hal ini dikarenakan berbagai informasi yang di terima masyarakat. Baik itu melalui dari mulut ke mulut atau pun dari internet, dengan adanya berbagai efek yang di timbulkan setelah meminum obat ini  sehingga masyarakat enggan mendatangi pos yandu.”ujar Agustiar, Rabu (4/12) di ruang kerjanya.
Dikatakan, masyarakat hanya kabar negatif-nya saja, padahal efek yang paling dominan setelah meminum obat ini adalah mual, kalau kejadian yang lainnya seperti ada yang pinsan dan berbagai hal lainnya sangat sedikit sekali, kalau pun terjadi hal-hal yang tidak kita ingin kan pihak medis selalu siap turun tangan membantu.:Karena pada pemberian obat ini yang pertama kali belum banyak masyarakat yang datang kita akan melakukan pemberian obat ini untuk yang kedua kalinya kepada masyarakat yang belum minum obat ini, diharapkan untuk yang kedua ini masyarakat ramai datang ke pos yandu yang telah di tunjuk untuk pemberian obat filariasis.”jelasnya.
Filariasis adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah sekelompok cacing parasit nemtoda yang tergolong superfamilia Filarioidea yang menyebabkan infeksi sehingga berakibat munculnya edema. Gejala yang umum terlihat adalah terjadinya elefantiasis, berupa membesarnya tungkai bawah (kaki) dan kantung zakar (skrotum), sehingga penyakit ini secara awam dikenal sebagai penyakit kaki gajah. Walaupun demikian, gejala pembesaran ini tidak selalu disebabkan oleh filariasis.
Filariasis biasanya dikelompokkan menjadi tiga macam, berdasarkan bagian tubuh atau jaringan yang menjadi tempat bersarangnya: filariasis limfatik, filariasis subkutan (bawah jaringan kulit), dan filariasis rongga serosa (serous cavity). Filariasis limfatik disebabkan Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori[1]. Gejala elefantiasis (penebalan kulit dan jaringan-jaringan di bawahnya) sebenarnya hanya disebabkan oleh filariasis limfatik ini. B. timori diketahui jarang menyerang bagian kelamin, tetapi W. bancrofti dapat menyerang tungkai dada, serta alat kelamin. Filariasis subkutan disebabkan oleh Loa loa (cacing mata Afrika), Mansonella streptocerca, Onchocerca volvulus, dan Dracunculus medinensis (cacing guinea). Mereka menghuni lapisan lemak yang ada di bawah lapisan kulit. Jenis filariasis yang terakhir disebabkan oleh Mansonella perstans dan Mansonella ozzardi, yang menghuni rongga perut. Semua parasit ini disebarkan melalui nyamuk atau lalat pengisap darah, atau, untuk Dracunculus, oleh kopepoda (Crustacea).

Selain elefantiasis, bentuk serangan yang muncul adalah kebutaan Onchocerciasis akibat infeksi oleh Onchocerca volvulus dan migrasi microfilariae lewat kornea. Filariasis ditemukan di daerah tropis Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, dengan 120 juta manusia terjangkit. WHO mencanangkan program dunia bebas filariasis pada tahun 2020.(puspandito)

Ditulis Oleh Pada Kam 05 Des 2013. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda