| | 11.306 kali dibaca

Pelacuran Marak di Karimun, Polisi Terkesan Tutup Mata

Tarian erotis wanita penghibur di sebuah tempat di Tanjungbalai Karimun

Tarian erotis wanita penghibur di sebuah tempat di Tanjungbalai Karimun. (foto by Jantua Dolok Saribu, radarkepri.com)

Karimun, Radar Kepri-Kabupaten Tanjungbalai Karimun di provinsi Kepri di juluki dengan Bumi Berazam. Julukan ini tentu menjadi gambaran Karimun merupakan salah satu daerah dimana masyarakatnya menjujung tinggi ajaran Agama.Ternyata di balik semua itu, Karimun merupakan daerah yang dikenal dengan bisnis tali air (lendir) alias prostitusi bin pelacuan. Tentu ini bertentangan dengan norma agama telah di ajarkan terhadap kita.

Para orang tua kadang sangat khawatir dengan kodisi sosial Karimun yang sangat memprihatikan ini. Ibu Rina,wanita berumur 45 tahun, salah seorang ibu yang memiliki tiga orang anak yang masih ada duduk di kelas 2 SMA menyatakan.”Kami selaku orang tua sangat takut dengan status sosial Karimun yang seperti ini. Ketakutan kita datang ketika anak itu sering keluar rumah di malam hari. Melihat kondisi sosial Karimun yang seperti ini, dimana sangat gampang untuk mendapatkan perempuan malam.”keluh Rina.

Kehadiran bisnis “tali air” di Karimun banyak di tolak oleh masyarakat Karimun, karena itu akan merusak nama Karimun ke daerah luar. Ironisnya, keluhan masyarakat kadang tidak di dengarkan oleh para pejabat- pejabat yang berkompeten di kabupaten Karimun.

Bermacam alasan dan dalih disampaikan untuk membuat wanita malam menjadi salah satu penarik wisata asing ke Karimun. Kondisi ini, didukung letak geografis Kabupaten yang dimpimpin DR Nurdin Basirun ini yang bersempadan dengan dua Negara lebih maju secara ekonomi, yaitu Singapura dan Malaysia. Ironisnya, hampir sebagian besar wisatawan manca Negara (wisman), khususny dari Singapura dan Malayasia. Khusus datang ke Karimun untuk mencari wanita malam, terutama di akhir pekan.

Michael, salah seorang wisata dari Singapura ketika di wawancarai awak media ini, mengaku sangat suka dengan wanita- manita malam yang ada di Karimun.”Mereka sopan-sopan dan sangat penyabar untuk melayani kami. Di bandingkan daerah Batam, kami lebih memilih ke Karimun.” kata Mic sapaan akrab Michael.

Ketika di tanya berapa dana di habiskan selama di Karimun, Michael mengataka.”Sekitar 600 dollar singapura setara dengan Rp 4.200.000. Kami bersama rekan-rekan, paling minim kantongi uang dari singapura Rp 3.000.000. Itu kami habiskan untuk satu sampai dua hari saja.”celoteh Mic sambil tersenyum.

Maraknya bisnis “tali air” alias pelacuran di Karimun bukannya membuat para penegak hukum bertindak untuk menghapuskan bisnis haram di Karimun.Tetapi para penegak hukum terkesan menutup mata. Tidak diketahui alasan para penegak hukum terkesan menutup mata dengan penyakit social bernama prostitusi di Karimun yang bisa menghacurkan masa depan generasi muda ini. Hingga berita ini di turunkan Kapolres Karimun AKBP Dwi Cahyono belum dapat di konfirmasi untuk dimintai tanggapannya terkait maraknya prostitusi di Karimun.(jds)

Ditulis Oleh Pada Sab 29 Jun 2013. Kategory Karimun, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

1 Comment for “Pelacuran Marak di Karimun, Polisi Terkesan Tutup Mata”

  1. Sy,sebagai masyarakat tnjg balai karimun memohon kepada aparat untuk ambil peduli terhadap psk(pekerja sex komersial) yg ada di tnjg balai,untuk mengurangi dan menghindari merebaknya wabah penyakit hiv.terimakaseh,.

Komentar Anda

Radar Kepri Indek