| | 2.173 kali dibaca

MEMBELI SURGA

H. Tirtayasa, S.Ag.

Oleh: H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP

Malam semakin tua. Angin mondar-mandir mencumbui pepohonan rindang yang menutupi kawasan itu. Pepohonan itu pun meliuk-liuk seakan meniru tarian erotis para penari bugil yang menghipnotis para pengunjung Diskotek Venus. House music yang memekakkan telinga terus melenakan kaum hedonis-materialistis yang memadati ruang diskotek yang remang-remang. Bau beragam merek minuman keras menyengat hidung, membumbui gerakan-gerakan erotis para penari yang semakin tak terkendali. Berkali-kali mereka menantang para pengunjung dengan formasi tarian yang mengundang  syahwat. Para pengunjung pun semakin histeris dan cenderung anarkis. Seorang pengunjung berbadan gempal, berkumis tebal dan bermata lebar bahkan nekad naik ke panggung, menangkap dan memeluk salah seorang penari. Seorang tukang pukul segera naik ke panggung, menghampiri pengunjung nekad itu dan memintanya turun. Karena menolak turun, pengunjung nekad itu pun terpaksa diseret paksa dari panggung.

Beberapa saat kemudian…

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Hancurkan musuh Allah! Lenyapkan dajal-dajal laknatullah! Bersihkan negeri ini dari maksiat!” Berkali-kali Aflah Fadhil, pimpinan Jamaah Al-Jihad Al-Islami, meneriakkan seruan itu seraya mengibaskan ke kiri dan ke kanan sepotong tongkat satu setengah meter di tangan kanannya. Tiga ratus orang berjubah putih dan bersorban motif kotak-kotak tumpah-ruah di ruko berlantai empat yang dijadikan lokasi diskotek dan perjudian terbesar di kota Gulung-gulung itu. Dalam hitungan menit, diskotek plus itu pun porak-poranda. Hujan rintik yang bertandang ke bumi menjadi saksi kepanikan pengunjung tempat hiburan yang disebut Aflah Fadhil dan para pengikutnya sebagai musuh Allah dan dajal laknatullah itu. Mereka berlarian menyelamatkan diri dari amukan Aflah Fadhil dan para pengikutnya. Karena sangat paniknya, bahkan di antara pengunjung ada yang keluar dari lokasi maksiat itu tanpa busana!

Setelah berhasil mengusir para pengunjung dan memporak-porandakan diskotek plus itu, Aflah Fadhil dan para pengikutnya langsung melaksanakan sujud syukur di halaman tempat hiburan yang terhitung luas itu. Berkali-kali mereka mengucapkan, “Alhamdulillah!” Sesaat kemudian, mereka meninggalkan lokasi itu dengan menumpangi lima belas buah truk menuju markas Jamaah Al-Jihad Al-Islami yang terletak di jantung kota Gulung-gulung.

Keesokan harinya, penyerangan Aflah dan pasukan jihadnya ke diskotek itu menjadi topik dialog interaktif pagi di sebuah radio swasta di Kabupaten Gulung-gulung. Berbagai tanggapan datang dari masyarakat. Ada yang pro, dan tak sedikit pula yang menyayangkan tindakan nekad Aflah dan kawan-kawannya. Dialog pro dan kontra atas penyerangan tempat maksiat itu terus berlangsung sampai satu minggu. Untuk meredam situasi, Bupati Gulung-gulung meminta Kiyai Solehudin Salam, penasehat spiritualnya, memanggil dan menasehati Aflah Fadhil dan kawan-kawannya agar tidak mengulangi perbuatan nekadnya lagi.

Suatu malam, Aflah dan beberapa kawan dekatnya diundang Kiyai Solehudin Salam untuk datang ke hotel tempatnya tinggal.

Sesampai di hotel…

“Saudara Aflah! Begini… Saya diminta Bupati untuk memanggil Saudara dan kawan-kawan. Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan berkenaan dengan penyerangan yang kalian lakukan terhadap Diskotek Venus seminggu yang lalu.”

“Ada apa ya, Kiyai? Apakah ada yang salah dari apa yang kami lakukan itu?”

“Iya. Kalian telah melakukan tindak kriminal. Kalian telah main hakim sendiri.”

“Maaf, Kiyai. Kami tidak melakukan tindak kriminal seperti yang Kiyai tuduhkan. Apa yang kami lakukan itu adalah realisasi dari hadis Nabi. Sungguh, Kiyai telah salah besar. Kiyai benar-benar telah menghina Nabi!”

“Menghina Nabi? Apa maksud kamu?!”

“Iya. Kiyai telah menghina Nabi. Karena Kiyai menyebut kami pelaku tindak kriminal. Menyebut kami  pelaku tindak kriminal, sama artinya Kiyai menuduh Nabi menjadi aktor intelektual tindak kriminal. Karena penyerangan yang kami lakukan terhadap tempat maksiat itu atas dasar perintah Nabi.”

“Perintah Nabi?!”

“Iya!”

“Mana hadisnya?”

Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadih. Fa illam yastathi’ fabilisanih. Fa illam yastathi’ fabiqalbih wa dzalika adh’aful iman. Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dia melakukannya dengan lidah. Jika tidak mampu juga, hendaklah dia melakukannya dengan hati. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.  Mengubah di sini maksudnya menghapus, menghancurkan. Artinya kita, disuruh Nabi untuk menghapus dan menghancurkan kemungkaran. Caranya, boleh dengan tangan atau kekuatan, dengan lidah atau nasehat yang baik. Boleh juga dengan hati dengan berdoa agar kemungkaran itu segera sirna. Tapi ini adalah selemah-lemahnya iman. Kami tidak mau disebut orang-orang yang lemah imannya.”

“Jadi, maksud kalian, orang-orang yang selama ini hanya berdiam diri saat maksiat merajalela di daerah kita ini, terlepas dari mereka berdoa atau tidak, adalah orang-orang yang lemah imannya?”

“Benar, Kiyai!”

“Jadi, dengan menyerang Diskotek Venus itu, kalian merasa sudah memiliki iman yang kuat? Karena kalian mampu menggunakan kekuatan untuk menghapus dan menghancurkan maksiat. Begitu?”

“Kami hanya berusaha untuk menjadi orang yang kuat imannya, Kiyai. Lagi pula apa yang kami lakukan itu adalah jihad.”

“Apa?! Jihad?!”

“Iya, Kiyai. Bukankah Allah memerintahkan kita agar berjihad di jalan Allah, baik dengan harta bahkan kalau perlu dengan mengorbankan jiwa kita. Jihad itu penting. Bahkan, berhijrah di jalan Allah belumlah sempurna jika tidak disertai dengan jihad.”

“Kalian telah salah memaknai jihad, Aflah!

“Maksud, Kiyai?”

“Iya, kalian telah keliru mengartikan jihad. Jihad kalian artikan dengan kekerasan. Kalian mestinya baca kitab I’anatuth Thalibin, Syarh Fathul Mu’in, yang cukup panjang mengulas tentang jihad.”

Lalu Kiyai Solehudin Salam menjelaskan dengan panjang lebar tentang jihad yang sebagian besar berdasarkan penjelasan yang termuat dalam kitab yang populer di kalangan pesantren itu. Jihad berasal dari kata jahada-yujahidu-mujahadatan-jihadan. Semua kata tersebut berasal dari satu akar kata yang memiliki arti serius atau bersungguh-sungguh. Namun, pada pelaksanaannya, dari akar kata itu, jihad dapat dibagi ke dalam dua makna, yaitu olah fisik dan olah pikir. Ada empat bentuk jihad, yaitu  jihad dalam rangka penegasan keberadaan Allah (itsbat wujudillah), jihad dalam rangka menegakkan syariat Allah (iqamah syariatillah), perang di jalan Allah (al-qital fi sabilillah), dan mencegah kemudharatan dengan memenuhi kebutuhan orang lain, baik itu orang Islam ataupun kafir dzimmi (dafa’ dharur al-ma’shum musliman kana aw dzimmiyan).

Jihad dalam pengertian pertama, dengan cara mempertegas keberadaan Allah di muka bumi, bisa berbentuk zikir, wirid, dan takbir. Orang yang sering bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan bertahlil usai mendirikan shalat, maka sedikitnya dia telah berjihad di jalan Allah sebanyak lima waktu dalam sehari semalam. Selain itu, orang yang melantunkan azan dapat juga dikategorikan sebagai orang yang sedang berjihad dengan cara penegasan keberadaan Allah. Dengan demikian, disadari atau tidak, dia sudah seringkali melakukan jihad, yaitu dengan cara mengagungkan nama Allah.

Dalam pengertian yang kedua, jihad dipahami sebagai upaya sungguh-sungguh dalam menegakkan nilai-nilai agama Allah (iqamah syariatillah), yaitu dengan cara melaksanakan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan ibadah haji. Bahkan, Nabi sendiri memposisikan haji mabrur sebagai jihad yang paling utama sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari. Dari Aisyah, dia berkata, “Aku berkata, Wahai Rasulullah, Kami melihat   jihad merupakan amal paling utama, apakah kami tidak berjihad? Jawab Nabi, Akan tetapi jihad yang paling utama adalah haji mabrur.”

Dengan memberikan zakat dan sedekah berarti kita telah melaksanakan jihad yang menurut Al-Qur’an dikategorikan sebagai jihad dengan harta (al-jihad bi al-amwal). Demikian juga dengan puasa. Puasa dikategorikan sebagai jihad untuk melawan hawa nafsu. Bahkan Rasulullah menyebutkan jihad melawan nafsu adalah jihad yang lebih besar ketimbang berperang di jalan Allah. Tentu saja, jihad orang yang berpuasa belum dianggap berhasil apabila dia masih membuat keonaran, kerusakan, dan kehancuran di muka bumi.

Sedangkan dalam pengertian yang ketiga, jihad dipahami sebagai berperang di jalan Allah (al-qital fi sabilillah). Artinya, jika ada komunitas yang memusuhi kita, merebut hak-hak kita, dan menindas kita, maka kita diperkenankan untuk berperang melawan komunitas itu sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah. Dalam konteks al-qital fi sabilillah ini, Rasulullah menggariskan peraturan yang sangat ketat. Misalnya, selama berperang dilarang membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua yang tidak ikut berperang. Selain itu,  dilarang menebang pohon-pohonan dan dilarang membakar tempat ibadah. Di sinilah Islam mengajarkan, kalaupun harus berperang secara fisik, kita tidak boleh bertindak seenaknya. Tetapi kita harus tetap memegang etika, baik kepada alam, manusia, maupun rumah ibadah umat lain yang berbeda keyakinan dengan kita.

Dalam pengertian yang keempat, jihad adalah mencukupi kebutuhan dan kepentingan orang-orang yang tidak mampu, baik itu muslim maupun kafir dzimmi. Pemenuhan kebutuhan ini termasuk pencukupan bahan pokok pangan, sandang, dan papan. Dengan demikian, negara yang memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan itu harus mengelolanya secara adil demi kepentingan seluruh komponen bangsa tanpa membedakan suku, ras, agama, dan golongan.

“Saudara Aflah. Mari kita berpikir jernih dalam menerjemahkan makna jihad dalam konteks Kabupaten Gulung-gulung yang majemuk ini dengan berkaca pada apa yang dilakukan Nabi Muhammad ketika beliau memerintah di kota Madinah yang komunitasnya majemuk. Pemaknaan jihad sebagai berperang dengan mengacungkan senjata hanyalah salah satu dari ribuan model jihad. Pemaknaan jihad dengan kekerasan akan melahirkan kerusakan yang melunturkan sifat ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Bahkan, dari semua model jihad, tidak satu model jihad pun yang dilakukan dengan cara bunuh diri, apalagi bunuh diri yang tidak jelas target dan musuhnya. Islam juga tidak membenarkan membunuh orang yang tidak berdosa. Karena, di samping itu berarti mengkhianati makna dan tujuan diciptakannya manusia sebagai khalifah Allah, juga demi menjaga kelestarian manusia dan lingkungannya.”

“Saya mau tanya, Kiyai.”

“Silakan, Saudara Aflah.”

“Seperti Kiyai jelaskan tadi, jihad dalam bentuk perang di jalan Allah hanya dilakukan terhadap komunitas yang memusuhi, merebut hak-hak, dan menindas kita. Bukankah apa yang dilakukan oleh para penari erotis, para pemuja seks bebas dan perjudian di Diskotek Venus itu adalah salah satu bentuk permusuhan, perebutan hak-hak dan penindasan terhadap Islam dan umat Islam? Karena ulah mereka yang mungkin juga ada yang beragama Islam, umat Islam lainnya terganggu dalam beribadah. Umat Islam lainnya tidak bisa dengan bebas untuk menjalankan agama, menjaga keimanan dan kemurnian ibadah mereka karena gangguan budaya hedonis-materialistis yang mereka praktekkan itu. Bukankah perilaku menyimpang yang mereka lakukan itu adalah perang budaya terhadap Islam dan umat Islam, khususnya umat Islam di Kabupaten Gulung-gulung ini?”

“Benar sekali, Aflah! Mereka telah melakukan perang budaya terhadap kita. Karena itu, mereka harus dilawan dengan budaya. Coba sekali-sekali kamu dan kawan-kawan adakan pentas musik Islami di kawasan diskotek itu. Saya siap kok jadi salah seorang penyumbang lagu di pentas musik itu. Mana tahu, di antara pelaku maksiat itu ada yang tertarik untuk mendengarkannya. Lalu, karena itu mereka bertobat. Itu kan lebih baik daripada kalian bawa pentungan dan mengobrak-abrik tempat hiburan.”

“Menurut pendapat saya, usul Kiyai itu kurang efisien dan tidak efektif. Sudah terlalu sering kelompok gambus Gelora Umat mengadakan pentas musik Islami di panggung yang sangat berdekatan dengan tempat maksiat itu. Tapi, hasilnya? Nol besar, Kiyai! Uang Pemerintah Kabupaten Gulung-gulung saja yang habis ditilap kelompok musik itu. Saya tahu, Kiyai juga menikmati proyek mendatangkan grup musik itu. Betul kan, Kiyai?”

Mendengar pertanyaan yang menohok itu, Kiyai Solehudin Salam terdiam. Dia ingat betul, proyek mendatangkan grup musik yang sangat terkenal itu telah menghabiskan tidak kurang lebih setengah miliar rupiah uang Pemerintah Kabupaten Gulung-gulung. Dia sendiri mendapatkan sedikitnya sepuluh persen dari nilai proyek itu. Kiyai Solehudin Salam benar-benar tidak lagi bisa membantah kenyataan yang sudah menjadi rahasia umum itu.

Aflah Fadhil dan kawan-kawannya tahu betul sepak terjang Kiyai multi talenta ini. Aflah Fadhil dan kawan-kawannya bahkan tahu betul bagaimana Kiyai Soleh telah dengan beraninya memberi fatwa kepada Mat Rahim dan sekutunya agar merubuhkan Masjid Agung Baitul Mujahidin demi alasan dan kepentingan politik pada pemilu lalu. Bagi Aflah Fadhil dan kawan-kawannya, Kiyai Soleh tak lebih dari seorang preman berkedok Kiyai, yang tega menghalalkan segala cara demi tercapainya sebuah tujuan. Dia bahkan tega mengorbankan orang lain asalkan keinginannya pribadinya terkabulkan. Kiyai kejam seperti itu kini berlagak alim, penyayang, peduli terhadap kemaslahatan orang lain. Sekarang dia juga berkhutbah tentang makna jihad yang tampak ramah terhadap kemungkaran dan kekafiran. Padahal hatinya lebih kejam dari hati seekor singa yang tidak akan pernah tega memangsa anaknya sendiri. “Kiyai Soleh tidak lebih baik dari aku dan kawan-kawan. Hanya saja, secara politik, sekarang dia sedang berada di atas angin. Kiyai preman seperti itu semestinya juga tidak luput dirazia polisi,” gerutu Aflah Fadhil dalam hati dengan geram.

“Begini saja, Saudara Aflah. Saya minta Saudara dan kawan-kawan tidak lagi mengganggu keterbitan tempat-tempat hiburan. Tempat-tempat hiburan itu sudah banyak memberikan sumbangan kepada APBD Kabupaten Gulung-gulung. Dari APBD yang sumbernya bermacam-macam itu, juga digunakan untuk membantu tempat-tempat ibadah dan ormas keagamaan. Kalian perlu ingat itu! Kalau kalian tidak mengindahkan himbauan ini, saya tidak segan-segan melaporkan perilaku kalian kepada Bupati. Saya juga tidak segan-segan untuk menyantet kalian! Paham!?” ujar Kiyai Soleh mengancam.

“Kami sedang berbisnis dengan Allah, Kiyai. Kami ingin membeli surga Allah dengan nyawa kami. Karena itu kami tidak takut dengan ancaman Kiyai! Kami hanya takut kepada Allah! Kami takut jika kami tidak berjihad memerangi tempat-tempat maksiat itu! Lagi pula, kami hanya menyerang orang-orang yang telah melanggar Undang-undang Pornografi dan Peraturan Daerah tentang penyakit masyarakat! Mestinya pemerintah mendukung kami, bukan justru ikut menuduh kami sebagai pelaku tindak kriminal. Dan kami… Hanya menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menegakkan syariat Islam di Kabupaten Gulung-gulung ini, ketika orang lain dan pemerintah tidak mau ambil peduli!”

“Siapa yang memberi wewenang kepada kalian!?”

“Al-Qur’an dan hadis Nabi!”

“Kalian jangan memperalat Al-Qur’an dan hadis Nabi demi ambisi dan nafsu kalian!”

“Kami tidak memperalat Al-Qur’an dan hadis Nabi demi ambisi dan nafsu! Justru Kiyai yang sering memutarbalikkan ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi demi kepentingan pribadi Kiyai yang ambisius dan penuh nafsu! Kami hanya menjalankan perintah Al-Qur’an dan hadis Nabi agar menjadi penyeru kepada kebaikan dan pencegah dari kemungkaran. Bagi kami, cukup Al-Qur’an dan hadis Nabi yang memberi kami wewenang! Kami tidak perlu SK dari pemerintah! Kami tahu, SK memang sudah banyak dikeluarkan! Tapi pihak yang diberi SK tak ada satu pun yang melakukan tindakan nyata untuk memberantas maksiat! Sama dengan Kiyai! Ngomongnya saja yang besar!”

“Baik, kalau begitu! Kalian terima resikonya!”

“Terima kasih, Kiyai, atas ancaman dan peringatannya! Kami permisi dulu. Semoga Allah mengampuni Kiyai!”

Setelah pertengkaran sore itu, Aflah dan kawan-kawannya kembali menggalang kekuatan, kini untuk menyerang Diskotek Taurus dan Diskotek Virgo yang berlokasi di pinggiran kota Gulung-gulung. Begitu semuanya siap, maka tiga ratus orang pengikut Jamaah Al-Jihad Al-Islami pimpinan Aflah Fadhil segera menuju lokasi.

Pukul satu malam. Dengan berbekal pengeras suara yang sengaja disiapkan dari markas, dan dengan mengambil posisi di depan pintu utama diskotek, Aflah Fadhil, didampingi tiga ratus pengikutnya, memberi ceramah kepada para pengunjung Diskotek Taurus agar segera bertobat kepada Allah dan tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat. Begitu mendapat ceramah dari Aflah Fadhil, para pengunjung diskotek bukannya berhenti menenggak minuman keras dan malah berjingkrak-jingkrak layaknya orang gila yang kesetanan. Mereka bahkan semakin berani mengelu-elus tubuh para penari bugil yang sedang unjuk kebolehan. Di antara para pengunjung itu bahkan juga ada yang dengan beraninya melempari Aflah Fadhil dan para pengikutnya dengan botol minuman keras disertai dengan ejekan, “Sana! Berceramahlah kalian di masjid! Di sini bukan tempat berceramah! Masuklah kalian ke surga akhirat! Kami tak butuh surga akhirat! Kami hanya butuh surga dunia! Ha… Ha…. Ha…!”

Mendapatkan ejekan yang menyakitkan hati itu, Aflah dan para pengikutnya kembali naik ke truk dan segera bergerak menuju Disotek Virgo. Di sana mereka kembali melakukan hal yang sama, menyeru para pengunjung diskotek agar segera bertobat kepada Allah dan tidak mengulangi perbuatan maksiat. Di sini, Aflah dan para pengikutnya malah disambut dengan cara yang lebih menyakitkan. Beberapa penari bugil keluar dari diskotek dan menari-nari di depan Aflah Fadhil dan para pengikutnya. Beberapa orang pengunjung bahkan menyoraki Aflah, “Nikmati saja penari bugil itu! Jangan sok alim, Aflah! Kamu juga menginginkannya! Kamu tak usah bayar! Sudah ada sponsor yang membayarnya! Kamu dan kawan-kawan cukup menikmatinya saja!”

Ketika mendapat hinaan itu, Aflah teringat dengan kisah Nabi Luth yang diejek kaumnya ketika beliau mengajak mereka berhenti dari perbuatan laknat yang mereka lakukan, yaitu homoseks dan lesbianisme! Aflah juga teringat kisah ketika Nabi Muhammad dilempari batu oleh penduduk Thaif ketika beliau menyeru penduduk musyrikin itu beriman kepada Allah.

“Aku harus bersabar seperti sabarnya Nabi Luth dan Nabi Muhammad. Aku juga tidak mau mengulangi penyerangan secara mendadak seperti yang kulakukan terhadap Diskotek Venus. Tapi, kalau begini tanggapan pengunjung diskotek Virgo, lebih baik sekarang kuajak pengikutku untuk menyerang Diskotek Taurus. Mereka sudah kuberi peringatan. Sekarang saatnya kugunakan kekuatan fisik untuk mencegah mereka bermaksiat kepada Allah. Aku harus siap berkorban demi tegaknya syariat Allah di Kabupaten Gulung-gulung ini,” batin Aflah mantap.

Aflah segera memerintahkan para pengikutnya menuju Diskotek Taurus. Sesampai di lokasi, mereka dikejutkan oleh dentuman senjata api dari tangan beberapa orang berbadan tegap berkepala botak. Tangan kiri dan kanan mereka penuh tato. Pandangan mereka garang. Kumis mereka tegang. Salah seorang di antaranya yang paling tegap badannya meminta Aflah dan para pengikutnya segera meninggalkan lokasi diskotek seraya berseru, “Silakan kalian angkat kaki dari sini! Jika tidak, kami akan menjadikan tempat ini sebagai pemakaman yang luas untuk kalian!”

Aflah menolak permintaan itu seraya membacakan ayat Allah, “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (Q., s. Al-Baqarah, 2:133). Lantunan ayat suci itu justru disambut dengan letusan senjata api berkali-kali yang membuat Aflah dan para pengikutnya tidak mampu lagi menahan kesabaran.

“Wahai, para pengikut saya di jalan Allah! Kini para musuh Allah ini sudah menantang Allah! Ayat Allah yang saya bacakan malah disambut dengan tembakan! Sebagai mujahid yang sedang berbisnis di jalan Allah, mari kita cegah mereka bermaksiat kepada Allah! Mari kita cegah mereka masuk neraka dengan kekuatan yang kita miliki! Jangan takut mati! Mati di jalan Allah hanya surgalah balasannya! Mari kita beli surga Allah dengan nyawa kita! Ingat, jangan merusak fasilitas yang ada! Jangan menyakiti pengunjung yang tidak menyakiti kita! Suruh mereka yang bertelanjang segera berpakaian! Suruh mereka yang sedang teler agar berhenti menenggak minuman keras! Suruh mereka yang sedang berzina agar segera menghentikan perbuatannya! Serang!” teriak Aflah berapi-api.

Begitu mendengar komando dari Aflah, tiga ratus pengikutnya segera menyerang diskotek itu. Belum sempat mereka melakukan perintah pimpinannya, satu persatu pengikut Aflah ditembak mati oleh beberapa orang berbadan tegap. Tinggal Aflah sendiri yang dibiarkan tetap hidup. Aflah kemudian diikat dan dimasukkan ke dalam karung untuk kemudian di antar ke hotel tempat Kiyai Solehudin Salam tinggal.

Sesampai di hotel, karung yang terikat kuat itu dibuka. Aflah Fadhil yang kelelahan tersenyum ke arah Kiyai Soleh dan berucap, “Saya sudah menjalankan pilihan jihad yang saya yakini, Kiyai. Sekarang saya siap menerima segala resikonya.”

“Baik, Aflah! Besok, kamu segera disidangkan! Kamu harus bertanggung jawab atas tiga ratus nyawa kawan-kawanmu!”

Keesokan harinya, Aflah langsung disidangkan di Pengadilan Negeri Kabupaten Gulung-gulung. Dia didakwa telah melakukan tindakan terorisme. Karena ulahnya pula, tiga ratus nyawa pengikutnya melayang. Karena itu, Aflah Fadhil divonis hukuman mati. Ya, hukuman mati! Sebelum dieksekusi, Aflah diberi kesempatan untuk meminta pengampunan kepada Presiden Republik Pura-Pura Makmur, tapi dia menolak. Bagi Aflah, meminta pengampunan hanya kepada Allah, bukan kepada sesama manusia. Meminta pengampunan kepada presiden sama halnya dengan menuhankan manusia. Karena presiden sudah pasti manusia. Belum pernah Tuhan jadi presiden. Dan tidak akan pernah pula presiden jadi Tuhan, sehingga dengan predikat ketuhanannya dia berhak mengampuni dosa manusia. Menuhankan manusia adalah perbuatan syirik! Demikian menurut Aflah. Aflah juga merasa tidak bersalah. Dengan apa yang dilakukannya, dia yakin dia telah berjihad di jalan Allah, dan telah membuka pintu syahid bagi tiga ratus orang pengikutnya. Karena Aflah menolak meminta pengampunan kepada presiden, maka eksekusi mati pun dilaksanakan.

Malam Jumat. Pukul tiga dini hari. Langit cerah. Awan-awan menepi. Rembulan tersenyum. Bebintang bernyanyi. Sayup-sayup terdengar pimpinan regu tembak berhitung, “Satu…. Dua…. Tiga….!”

Dan,… Dor…! Dor…! Dor…!

“Asyhadu alla ilaha illallah… Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah…” ucap Aflah. Lalu, Aflah pun terkulai bersimbah darah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.***

*H. Tirtayasa, S.Ag., M.A., CP NLP, adalah Narasumber Dialog Interaktif Agama Islam (LIVE) Indahnya Pagi TVRI Nasional, Penceramah Damai Indonesiaku TVOne, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Imam Besar Masjid Agung Natuna dan Widyaiswara Muda pada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau

Ditulis Oleh Pada Sen 24 Nov 2014. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda