'
| | 1.687 kali dibaca

Memasuki Malam 21 Ramadhan, Banyak Warga I’tikaf di Mesjid

Jemaah yang sedang menjalankan i'tikap di Masjid al-aula dabo singkep.=

Beberapa orang orang warga yang sedang menjalankan I’tikaf di Masjid Al-Aula Dabosingkep.

Dabosingkep, Radar Kepri-Memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan aktivitas ibadahnya dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh beliau kepada ummatnya pada bulan Ramadhan, adalah I’tikaf. I’tikaf secara bahasa adalah mendiami sesuatu dan menahan diri untuknya. Secara syar’i, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid beberapa saat dengan sifat tertentu dengan niat bertaqarrub kepada Allah SWT.
Mengikuti jejak yang dilakukan Rasulullah berabad-abad lalu, masjid Al-Aula di Dabosingkep, Kabupaten Lingga juga diramaikan oleh umat Islam untuk “i`tikaf” (berdiam) mencari keutamaan “lailatul qadar” (malam kemuliaan) pada sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan.
I’tikap dilaksanakan di masjid Al-aula Dabosingkep, masjid ini merupakan masjid tertua di Dabosingkep. Mesjid Al-Aula mulai digunakan pada tanggal 16 Jannuari 1931 M./ 26 Sakban 1349 H. Dari segi bangunan, memang telah berubah dari awal masjid ini di bangun, mesjid Al-Aula sekarang kelihatan megah setelah dilakukan pemugaran beberapa tahun lalu. Pelaksanaan I’tikaf di masjid Al-Aula ini adalah kerja sama majelis Ta’lim Nurul Huda dan yayasan Al-Bayyinah.
Ketua masjid Al-Aula, H Ridwan Mahadun, mengatakan.”I’tikaf di Mesjid ini memang sudah puluhan tahun dilaksanakan oleh generasi sebelumnya. Hanya saja tidak seperti sekarang ini yang telah terstruktur dengan baik. Dahulu hanya I’tikaf saja, majelis Ta’lim Nurul Huda dan yayasan Al Bayyinah berkerjasama melaksanakan I’tkap di masjid Al-Aula. Bila majelis Ta’lim, biasanya dari kaum ibu tapi tidak dengan majelis Ta’lim Nurul huda. Karena majelis Ta’lim ini anggotanya semuanya laki-laki, tentunya majelis Ta’lim ini merupakan majelis Ta’lim satu-satunya di Dabosingkep yang anggota laki-laki.”jelasnya.

Ditambahkan.”Sekarang ini I’tikaf berjemaah telah di rangkaikan dengan ibadah lainnya. Yakni, zikir bersama, Muhasabah, Tausiah, Sholat Tasbih berjemaah serta Sholat Tahjud. Untuk sholat Tahjud dilakukan perorangan tidak berjemaah, karena sholat Tahjud dilakukan setelah kita tidur dulu, sementara tidak semua jemaah yang sudah tidur.”papar Ridwan, Rabu (31/07) pukul  00 30 wib dini hari.
Masih Ridwan, I’tikaf di masjid Al-Aula ini pernah di pindahkan ke mesjid Azzulfa di Dabosingkep, (orang dabo biasa menyebut masjid azzulfa dengan sebutan masjid besar,red). Sekitar 12 tahun, pada saat itu I’tikaf dilakukan tidak hanya di mesjid besar saja, namun berpindah-pindah, tergantung permintaan dari Mesjid dan Surau lainnya. Baru pada tahun 2013 ini I’tikaf laksanakan kembali di masjid Al-Aula.”Pengalihan tersebut di karenakan, dulunya masjid ini kecil, serta direncanakan pemugaran awal. Sementara jemaah ramai, untuk itu, kita memindahkan ibadah I’tikaf ke Mesjid besar.”terangnya.
Dari pantauan media ini pelaksanaan I’tikaf di Mesjid dan Surau yang ada kota Dabosingkep, telihat warga yang ber-I’tikafp di masjid dan surau pada malam pertama ini. Walau tidak seramai di masjid Al-Aula, namun antusias warga untuk I’tikaf di masjid dan Surau cukup ramai.(puspandito)

Ditulis Oleh Pada Rab 31 Jul 2013. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda