'
| | 734 kali dibaca

Keluarga Pasien Nilai PMI Lingga Tak Berfungsi

Kantor PMI Lingga yang telah dilantik kepengurusannya setahun lalu, namun tidak berfungsi

Kantor PMI Lingga yang telah dilantik kepengurusannya setahun lalu, namun tidak berfungsi,(foto by al amin, kepri info.com).

Lingga, Kepri Info-Pasien Rumah Sakit Lapangan (RSL) Daik Lingga seringkali di hantui kekurangan darah. Pihak keluarga pasien terpaksa tunggang langgang mencari pendonor yang memiliki golongan darah untuk keluarganya. Peran dan fungsi Palang Merah Indonesia (PIMI) Lingga yang telah memiliki kantor sejak setahun lalu nyaris tak berfungsi.

Realita ini terlihat ketika media mendengar dan melihat langsung keluahan pasien dan keluarga pasien yang memerlukan transfusi darah. Sepanjang Februari 2013 ini saja, sudah 3 pasien masuk RSL yang butuh transfuse darah namun tidak mampu disediakan PMI Lingga. Akibatnya, pihak keluarga pasien kocar-kacir mencari para pendonor darah sesuai dengan kekurangan golongan darah pasien.

Seperti kejadian menimpa Ana (31), pasien dari Pulau Buluh Desa, Pena’ah Kecamatan Senayang, memerlukan darah golongan AB setelah melahirkan anak keduanya di Pulau Buluh, Selasa (14/1). Melihat keadaan kritis, Ana di bawa suaminya Amin (33) dan keluarga merujuk ke RSL Daik Lingga Pukul 11.00 WIB, Rabu (15/1).”Isteri saya melahirkan anak kedua, bayi selamat, sekarang di tinggal di kampung. Sudah dua malam saya tak tidur menunggu dan mencari pendonor yang darahnya sama dengan isteri saya.”ungkap Amin ketika di temui wartawan di RSL Daik Lingga, Kamis (16/1).

Menurutnya, dirinya harus mencari darah golongan AB sebanyak delapan kantong darah. Terhitung masuk rumah sakit, ia baru hanya bisa mencari empat kantong darah buat isterinya yang setiap saat memerlukan tranfusi darah, karena sejak melahirkan, isterinya mengalami pendarahan.”Sekarang saya lagi mencari darah untuk di persiapkan. Kami kewalahan, masih menunggu pendonor dari Limbung dan Pulau Buluh yang datang hari ini untuk mendonorkan darahnya buat isteri saya, yang sekarang ini kondisinya masih lemas.”keluh Amin dalam keadaan bingung menghadapi permasalahan tersebut.

Sementara itu, Pihak rumah sakit sendiri merasa heran, kenapa Palang Merah Indonesia (PMI) tidak mendata, nama-nama para pendonor yang ada di Kabupaten Lingga. Apabila ada pasien kekurangan darah, pihak RSL dapat mengontak pihak PMI untuk mendonorkan darahnya pada pasien yang memerlukan, sementra pasien kekurangan darah kerap kali masuk RSL Daik.”Kami disini saja sering donor darah, hari ini satu orang mendonorkan darahnya untuk yang melahirkan (Ana). Harusnya PMI sudah mendata para pendonor, kalau kami disini cuma pelayanan. PMI di Kabupaten Lingga sudah di bentuk setahun lalu, tapi tak ada fungsinya sama sekali,” kata pegawai RSL yang enggan namanya di ekpose.

Banyak pihak menilai, sejak di lantikkannya Ketua PMI Kabupaten Lingga beserta pengurus Desember Tahun 2012 lalu dianggap tidak berfungsi sama sekali. Dan terkesan lari dari prinsip kemanusiaan dan sukarelawan.”Masalah darah, sangat urgen sekali. Harusnya PMI beserta pengurus yang telah dilantik sudah bekerja dan menyusun langkah awal.Salah satunya sudah mendata nama-nama para pendonor dan siap di kontak kapan saja. Meski belum ada tempat penyimpanan darah.”ujar Iskandar koordinator LSM Lentera Lingga.

Iskandar saat itu sedang berada di RSL dan turut mencari pendonor.”Apa saja kerja PMI Lingga, sampai sekarang kita tak tahu apa program mereka sejak dilantik. Jangan hanya mengandalkan acara seremonial saja, tapi tak ada tindakan sama sekali dilapangan.”kesalnya ketika menuju kantor PMI Lingga di Jalan Datuk Laksamne Daik Lingga guna minta tanggapan terkait permasalahan tersebut. Namun upaya tersebut tak membuahkan hasil, karena kantor yang berada di jalan poros tersebut tertutup rapat, tanpa ada petugas.(amin)

Ditulis Oleh Pada Sab 08 Feb 2014. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek