| | 1.065 kali dibaca

Karena Cinta Anida

Foto Tirtayasa-Ibnu Yasin Al-Hajj Al-Hafizh

Oleh : Tirtayasa (Ibnu Yasin Al-Hajj Al-Hafizh)

Aku berdiri sambil mengurut-urut kakiku yang sudah  sangat pegal dan mulai terbakar kepanasan. Terik matahari membakar kepala yang sudah terasa meleleh. Lidah api bola raksasa itu menjilat-jilat hari yang tanpa malam. Debu beterbangan menghalangi pandangan. Dengus napas para pengantri saling bersahutan. Jeritan beberapa orang terdengar menyayat hati dan mengiris jantung. Sudah tak terhitung lagi berapa lama sudah aku berada di sana. Satu tahun? Ah, terlalu sedikit. Dua tahun? Masih jauh. Sepuluh tahun? Belum cukup. Seratus tahun? Hampir mendekati. Seribu tahun. Mungkin.

Sebuah mizan yang tidak bisa dilukiskan besarnya, berdiri tegak di depan barisan manusia yang berdesakan dan berlumuran keringat. Umat-umat Nabi Adam dipanggil satu persatu menghadap petugas penimbang amal. Lalu, umat Nabi Idris, satu persatu dipanggil. Kemudian umat Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Soleh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub, Nabi Yusuf, Nabi Syu’aib, Nabi Ayub, Nabi Zulkifli, Nabi Musa,  Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa’, Nabi Yunus, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, dan terakhir umat Nabi Muhammad.

“Basyir!”

Akut terkejut bukan main. Begitu nama yang mirip namaku dipanggil petugas. Aku belum yakin itu namaku. Mungkin saja banyak orang lain memiliki nama yang sama dengan namaku.

“Basyir!! Ada kan yang namanya Basyir? Hoi! Mana Basyir?!

Aku terus diam. Mulutku kupaku dengan paku lima inchi. Maaf, salah. Di sini tidak ada paku. Yang ada cuma batu. Jadi kututup saja mulutku dengan batu panas membara itu.

“Hoi. Basyir. Kenapa kamu diam saja?! Kami tahu kamu ada di situ! Maju saja ke sini! Tidak ada orang lain yang bernama Basyir kecuali kamu! Sekarang sudah giliran kamu!”

Aku terus diam. Hatiku berbisik. Masak iya, di tempat ini tidak ada orang yang namanya sama dengan namaku? Orangnya sebanyak ini. Nama Abdullah saja bisa berjuta-juta. Abdurrahman. Abdurrahim. Abdul Hafizh. Abdul Mujib tetanggaku saja belum dipanggil. Padahal abjad namanya duluan dari aku. Ah, bagaimana ini? Yang benar saja. Repot kalau begini. Tidak runtut. Seperti dulu aku ikut penataran P4. Peserta dipanggil namanya satu persatu sesuai dengan urutan abjad. Atau seperti waktu aku kuliah di sebuah perguruan tinggi paling top di negaraku yang aku lupa namanya.

Waktu Mak Minah menerima Bantuan Tunai Langsung dari pemerintah juga dipanggil sesuai dengan urutan abjad. A, B, C, D. Dan seterusnya. Sekarang ini beda. Apa alasannya? Sudahlah. Aku tidak mau lagi pusing-pusing memikirkan alasan. Semua orang punya alasan. Percuma aku punya alasan. Akhirnya juga dipatahkan orang.

Ini pengamalan masa laluku seribu tahun lalu. Banyak orang berebut membuat alasan. Pemerintah bikin alasan. Rakyat bikin alasan. Orang kaya buat alasan. Orang miskin bikin alasan. Pengusaha buat alasan. Pekerja bikin alasan. Pening. Pusing. Pejabat bikin alasan kalau mau jadi koruptor. Ada saja alasannya. Untuk upeti. Rakyat juga ikut menikmati. Hutan digunduli juga karena ada alasannya. Hutan lindung dikonversi jadi lahan real estate juga karena beberapa alasan. Yah, pusing aku memikirkannya. Ya. Sudahlah. Untuk apa aku pusing. Orang lain saja tidak ada yang pusing. Kenapa aku mau berpusing-pusing sendiri. Toh, tidak ada yang peduli, aku pusing atau tidak. Aku pusing seribu keliling pun, aku tidak bakalan dapat apa-apa. Yang kenyang juga orang lain yang sebenarnya tidak pernah mau ikut pusing. Yah, lebih enak kalau berpusing-pusing ala temanku waktu menyelundupkan kayu ke sebuah negara tetangga negaraku yang aku jugaa lupa namanya.  Di sana, berpusing-pusing tidak membuat orang muntah. Kenapa? Berpusing-pusing artinya keliling-keliling. Enak sekali. Naik bus. Melihat-lihat kota. Setelah mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan kayu selundupan, temanku itu masuk ke diskotek paling megah di salah satu sudut kota negara tetangga itu.

Memang enak berpusing-pusing di sana. Berbeda dengan berpusing-pusing di negaraku sendiri. Berpusing-pusing berarti kesal. Kesal memikirkan orang-orang yang sudah pada kesal semua. Kesal karena beban persoalan yang kian hari kian menumpuk. Presiden ikut kesal. Karena problem bahan bakar minyak yang tak kunjung selesai. Menteri? Apalagi. Tiap saat harus selalu siap dicopot sekehendak hati. Alasannya untuk penyegaran. Gubernur? Lebih parah lagi. Seribu tahun lalu, banyak gubernur yang mulai diisukan melakukan tindak korupsi. Sebuah lembaga yang sangat berkuasa untuk mengusut korupsi di negaraku setiap detik mengusut kasus korupsi. Mereka juga ikut kesal. Ditekan dari mana-mana. Akhirnya, mereka terpaksa tebang pilih. Mana kasus korupsi yang patut dan layak untuk diusut dan paling aman bagi lembaga itu. Aku semakin kesal. Walaupun aku orang kampung. Lalu, bupati? Wah, yang satu ini paling rawan dituduh sebagai pelaku korupsi. Kalau berani melawan atasan, apalagi kalau sudah menjelang Pilkada, siap-siap saja untuk diusut. Karena politik, korupsi kecil-kecilan bisa jadi besar. Dan dibesar-besarkan.  Lalu tambah kesal lagi. Inilah berpusing-pusing yang bikin kesal.

Ini kisah lain lagi yang bikin aku kesal dan sebal. Ada temanku yang pernah menjadi juru kampanye salah seorang kepala desa di kampungku. Namanya aku lupa. Itu sudah lama sekali. Sekarang aku sangat susah mengingatnya. Mana mungkin aku bisa mengingat secara utuh kejadian yang sudah berlalu seribu tahun itu. Oke. Tidak penting  namanya. Yang penting kasusnya. Temanku itu sangat kecewa dengan orang yang dia perjuangkan mati-matian agar dia berhasil jadi kepala desa. Tapi begitu dia sudah enak menjadi kepala desa, dia lupa dengan temanku itu. Dan tidak hanya dia yang dilupakan. Banyak lagi yang lain. Tapi biarlah. Itu urusan dia. Mungkin orang yang menjadi kepala desa yang lupa dengan para pejuangnya itu, juga ada di sini. Aku belum tahu, apakah dia sudah dipanggil atau belum.

Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi memikirkan dia. Isteriku, anakku, cucuku, cicitku, tak terpikir olehku. Malah orang lain yang aku pikirkan. Isteriku sekarang entah di mana? Anakku di mana? Cucuku di mana? Cicitku? Oh, di mana kalian? Aku ada di sini. Memang di sini orang sibuk dengan sendirinya. Hanya aku yang mungkin sibuk memikirkan orang lain. Pada hari ini manusia lari dari saudaranya. Dari bapaknya. Dari isteri-isterinya. Setiap orang sibuk dengan urusannya. Kenapa aku tiba-tiba sibuk dengan urusan orang lain. Urusan presiden, urusan gubernur. Urusan bupati. Urusan camat. Dan juga urusan kepala desa. Biar sajalah. Mereka juga akan dipanggil nantinya. Yang korupsi tapi luput dari jeratan hukum, pasti hari ini takkan bisa bebas berkeliaran lagi. Yang suka menyunat gajin dan  honor bawahan, yang suka makan semen proyek, batu proyek, besi proyek, hari ini pasti ketahuan dan mendapatkan ganjarannya yang setimpal, meskipun dulu dia dengan kelihaiannya bersilat lidah dia bisa luput dari jeratan jeruji besi penjara. Yang suka memberi suap untuk memenangkan proyek, yang suka menyulap laporan keuangan, yang suka menggencet orang kecil, yang suka menipu pembeli, yang suka meniduri isteri orang, yang suka main perempuan pekerja seksual komersial dan tidak komersial pasti juga akan menerima pertanggungjawabannya pada hari ini. Yang suka menjadikan Al-Qur’an hanya sebatas hiburan dan untuk mencari keuntungan materi pun akan disidang di sini. Aku tidak tahu sekarang mereka di mana. Kalau aku tahu, apa peduliku? Kenapa aku harus kesal. Aku saja pusing memikirkan kondisiku yang sudah sangat mengenaskan ini.

Kakiku sudah mulai menggigil karena kelelahan. Keringatku bercucuran. Aku tidak tahu sudah berapa ton keringatku yang sudah mengucur dari pori-pori kulitku yang sudah mulai melegam. Rambutku semakin menguning karena terik matahari yang terus menyala-nyala. Bukan menguning karena sengaja dicat seperti rambut teman-teman kuliah puteriku dulu. Manusia memang unik. Sudah dikasih rambut hitam, pingin pula punya rambut kuning. Yang rambutnya kuning pingin rambut hitam. Mata yang coklat indah, dibuat jadi hijau. Jadi biru. Jadi kuning bahkan jadi merah. Mirip mata burung bayan punya tetanggaku. Aneh. Memang aneh sekali. Biarlah. Aku juga aneh. Orang bergelar haji. Aku pingin juga punya gelar haji. Padahal belum berhaji. Karena tidak boleh menambah gelar haji karena belum haji, akhirnya, aku menambah sendiri gelar di awal namaku dengan gelar sesuai dengan hurup pertama rukun agamaku selain haji. Biar namaku lebih panjang. Aneh kan?

***

Mataku sudah mulai kabur ketika suara keras dan kasar itu memanggilku kembali.

“Basyir! Cepat maju ke dapan sebelum kami datang menarik paksa kepala Saudara! Nanti bisa copot kepala Saudara! Yang kasihan, Saudara  juga. Kami sih tidak apa-apa. Tidak takut kamu dengan tangan kami yang kasar-kasar ini. Walaupun kami tidak pernah membuka lahan untuk sawit yang kayunya kalian jual ilegal ke negara tetangga, tapi tangan kami juga kasar. Sini! Cepat maju!”

Aku tetap mematung. Kakiku seperti terpaku ke tanah yang panas membara. Bajuku yang sudah seribu tahun tidak diganti-ganti, kini tampak sangat lusuh. Menghitam karena debu sahara yang  luas tak bertepi itu. Jari kakiku mulai pecah-pecah. Bulu kakiku mulai rontok satu persatu. Kuku kaki dan kuku tanganku sudah tidak terhitung panjangnya. Melingkar-lingkar seperti jari setan yang diceritakan kakekku sewaktu kecil. Maklum. Sudah seribu tahun tidak dipotong. Yah. Mau dipotong pakai apa? Gila kali aku. Hari gini mau potong kuku. Mau dapat jepit kuku dari mana? Rambutku juga tidak dipotong. Sekarang sudah hampir menyentuh lutut. Jenggotku sudah hampir menyentuh pusar. Kumisku hampir menyentuh dada. Untung saja gigiku tidak ikut-ikutan memanjang. Kalau saja gigiku juga ikut memanjang, sekarang mungkin sudah menyentuh dagu.

Bisa dibayangkan seperti apa bentukku sekarang ini. Pasti mengerikan. Untung saja di sini tidak ada cermin. Kalau saja ada cermin, dan aku melihat wajahku sendiri di cermin, pasti aku pingsan seketika karena kaget dengan wajahku dan tubuhku yang sudah banyak sekali berubah. Dulu, wajahku lumayan. Kata isteriku, aku mirip bintang film India. Bukan yang hitamnya. Tapi bintang film yang kulitnya bersih. Badanku kekar. Dadaku bidang. Bahuku lebar. Daguku sedang. Tidak runcing dan tidak terlalu tumpul. Mataku indah. Karena itu aku tidak dibolehkan isteriku memakai kaca mata. Hidungku mancung. Kumisku tipis tapi menarik. Gigiku rapi. Putih. Bibirku sedang. Tidak tebal dan tidak terlalu tipis. Pokoknya aku begitu sempurna. Paling tidak menurut isteriku.

Tapi, sekarang semuanya sudah berubah. Seperti yang aku ceritakan tadi. Sungguh menyeramkan seandainya aku bisa melihat wajahku sekarang. Aku tidak pernah lagi gosok gigi selama seribu tahun. Tidak pernah mandi, tidak pernah bercukur, tidak pernah memakai parfum yang dulu paling aku sukai. Aku lupa namanya. Yang aku ingat parfum itu aku beli di sebuah supermarket terkenal di sebuah kota di negaraku.

“Basyir!”

Suara petugas itu semakin kasar dan keras.

Aku masih diam. Aku masih heran kenapa aku yang dipanggil duluan. Padahal Aisyah isteri Fakhri belum dipanggil. Maria, isteri kedua Fakhri juga belum dipanggil. Wajar. Karena urutan abjad namanya di belakang namaku. Aku pingin sekali melihat wajah Aisyah isteri Fakri itu. Dia sangat ikhlas merelakan suaminya menikah lagi dengan Maria. Aku yakin dia tidak seperti aku yang lusuh ini.

Ingin rasanya juga aku melihat Aisyah isteri Rasulullah. Bagaimana cantiknya Aisyah, satu-satunya isteri Rasulullah yang dinikahi dalam keadaan masih perawan. Aisyah yang cantik dengan wajah putih kemerah-merahan dan pencemburu itu juga merelakan suaminya, Nabi Muhammad menikah lagi. Mungkinkah aku yang lusuh ini diizinkan melihat Aisyah isteri Rasulullah. Kalaupun tidak diizinkan melihat Aisyah isteri Rasulullah, aku masih berharap bisa bertemu dan melihat langsung Aisyah isteri Fakhri. Yang penting sama-sama Aisyah namanya.

Aku juga teringat dengan Laila dan Qais Al-Majnun. Menurut cerita yang pernah aku dengar, mereka masuk surga karena berkorban demi cinta. Cinta mereka tak pernah ternoda. Karena pengorbanan cinta yang tiada terperikan itu, Qais dimasukkan ke surga. Laila pun juga masuk surga. Tapi aku heran. Kenapa Qais dan Laila yang duluan masuk surga. Setahuku, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Thalib juga masih menunggu giliran diperiksa. Padahal, yang aku tahu mereka termasuk orang-orang yang dijamin masuk surga. Biarlah. Itu kan kehendak yang punya surga. Kalau yang punya surga berkehendak untuk memasukkan mereka ke surga karena cinta suci mereka, ya pasti terjadi.

Aku menyesal, kenapa dulu aku tidak meniru cinta Qais kepada Laila. Mati di kuburan kekasih karena cinta. Sangat mengharukan. Berhari-hari dia tertidur dan kemudian menghembuskan napas terakhirnya di pusara Laila. Oh., Tuhan. Sungguh mengharu biru. Andaikan aku sekarang dikembalikan ke masa lalu, aku pasti meniru Qais. Karena kisah cinta mereka mirip dengan kisah cinta yang aku alami. Hanya saja waktu itu, aku tidak tahan menunggu saat-saat aku dipanggil ke tempat ini. Terlalu lama. Dan duniaku jauh berbeda dengan dunia Qais. Aku hidup sekian ratus tahun setelah Qais. Godaan di zaman Qais tidak seberat zamanku. Cara berpikir zamanku sangat jauh berbeda dengan cara berpikir zaman Qais. Tapi, sekarang aku menyesali harus mengecewakan kekasihku yang terlalu setia menantiku di ujung napasnya setelah dia dinikahkan secara paksa oleh orang tuanya. Aku terlalu egois. Tidak mau lagi menikah dengan kekasihku yang sudah menjadi janda. Padahal, kalaupun sudah disentuh suaminya, yang menjadi janda itu adalah tubuhnya. Tidak hatinya. Bahkan, katanya dalam sebuah surat terakhir yang dia kirim lewat temanku, dia tidak pernah disentuh sedikitpun oleh suaminya, sebelum suaminya itu meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat yang salah arah karena sistem navigasinya rusak.

Aku menyesal karena tidak sabar menunggunya. Dia kemudian dijemput Tuhan dengan cara yang sangat memilukan. Dia jatuh sakit. Tubuhnya kurus kerempeng. Suatu hari ada panggilan yang masuk ke handphone-ku. Aku kenal nomor itu. Itu nomor dia yang sengaja disimpan sejak dia menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya, dan meninggalkan aku sendirian. Aku terlalu sedih karena kepergiannya. Aku hancur. Aku lebur bersama lumpur. Terlalu lama aku menunggu kabar darinya yang tidak pasti. Aku hanya menunggu hari. Dengan ujung yang tidak pasti. Yang mungkin akhirnya adalah mati.  Panggilan dari handphone-nya itu tidak aku jawab. Aku masih kecewa dengan pernikahannya dengan laki-laki yang katanya kiai besar di kampungnya.

Setelah beberapa teleponnya tidak aku jawab, sejak hari itu dia tidak pernah meleponku lagi. Sampai kabar terakhir aku terima, dia sudah dipanggil oleh Tuhan, untuk menghadap-Nya dan tidak pernah akan kembali lagi melihat wajahku. Dan aku pun tidak akan pernah melihatnya lagi. Menurut keterangan ayah dan ibunya, kata terakhir yang keluar dari bibir limau seulasnya adalah Basyir… Basyir… Aku mencintai kamu. Sampai kapanpun.

Duhai, Tuhan. Aku menyesal sekali. Sekarang di mana dia? Aku mau minta maaf kepadanya. Pertemukan aku dengannya. Duhai, Tuhan.

Speninggal kekasihku itu, aku semakin terpuruk. Hari-hariku semakin buruk. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku betul-betul hancur. Tidak ada lagi semangat hidup. Aku ingin mati secepatnya. Untuk bertemu dia. Yah, Anida. Aku merindukanmu. Seluruh hatiku, hanya untukmu. Tapi, mati tidak bisa diundang datang kalau memang belum saatnya.

Suatu hari, aku dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis. Dia temanku sewaktu kuliah dulu. Dia cantik. Wajahnya mungkin mirip Aisyah isteri Fakhri. Sebanding dengan Anida, kekasihku yang sudah menghadap penguasa jagat raya. Namanya, Mazra’atul Hasanah. Orang-orang memanggilnya Ustazah Mazra’ah. Dia gadis pulau seberang. Dia sedang ditugaskan untuk menjadi juru dakwah di kampungku. Ketika dia berdakwah, oleh panitia, aku dan beberapa teman yang lain sering diminta untuk mendampinginya, karena aku dianggap paling tahu tahu seluk-beluk kampungku. Pada saat itulah aku sering dijodoh-jodohkan dengan dia. Dan tampaknya dia pun tidak keberatan dengan jodoh-jodohan itu. Aku yang sudah terlalu lama sedih ditinggal pergi untuk selamanya oleh Anida, akhirnya luluh juga oleh senyuman Mazra’ah yang tidak kalah manis dari senyum Anida. Akhirnya, kami menikah dengan pesta syukuran yang lumayan meriah. Lima ekor sapi jantan tumbang. Sebagai hiburan, kami mengundang sebuah grup musik gambus dari ibu kota. Jadilah kami berumah tangga. Bertahun-tahun rumah tangga itu berjalan mulus. Bahagia. Dan sungguh bahagia.

Namun, dalam kebahagiaanku bersama isteriku yang sangat mencintaiku itu, aku belum sepenuhnya bisa melupakan Anida. Senyumnya terus membayang dalam benakku. Ngarai hatiku  belum bisa melepaskan bayangan Anida. Matanya yang bening dan hitam malam masih terekam dengan jelas di sudut relung hatiku yang paling dalam. Duhai, Tuhan. Bagaimana aku harus menghadapi ini?

Mazra’ah yang sering melihatku termenung berusaha menghibur. Dia sudah banyak tahu tentang masa laluku. Ketika kuliah dulu, dia sudah kenal dekat aku. Hanya saja ketika dia tahu aku sudah menjalin komitmen cinta dengan Anida, dia dengan teratur mengundurkan diri. Aku tahu dia juga menaruh hati kepadaku. Tapi aku tidak bisa membuka hatiku untuk dirinya. Hatiku hanya untuk Anida. Hanya untuk Anida. Tidak ada sedikitpun sudut hatiku tersisa untuk gadis lain. Termasuk untuk Mazra’ah.

Dia tahu aku sekarang sering termenung karena aku teringat ihwal kenangan masa laluku dengan Anida.

“Sudahlah, sayang. Relakan Anida kembali ke pangkuan Ilahi. Doakan agar dia tenang di alam sana. Aku juga akan mencintaimu sepenuh hatiku, sebagaimana dulu Anida mencintaimu.”

Duhai, Tuhan. Betapa mulianya hati isteriku. Di saat-saat aku sedang sedih mengingat masa lalu, dia bahkan ikut menghibur aku. Bukannya kecemburuan yang ditampakkan. Tapi, justeru kata lembut, halus dan berima cinta yang dihembuskan ke lorong telingaku yang sudah mulai beku terbalut kesedihan.

Aku tahu, di balik kata-katanya yang sedikitpun tidak menunjukkan bahwa dia cemburu, tersimpan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Yang pasti, aku melihat dia menyimpan perasaan yang dia sendiri tidak mau mengungkapkannya kepadaku dengan jujur.

Dari ke hari, aku sering melihat isteriku balik termenung. Bermuram durja. Puteri kami yang masih berumur enam tahun sering tidak mendapatkan kasih sayang yang biasa dia terima sebelumnya. Beberapa hari kemudian isteriku jatuh sakit. Sakit parah. Dan akhirnya isteriku dijemput Tuhan untuk kembali ke pangkuan-Nya.

Duhai, Tuhan. Cobaan-Mu kembali menimpa diriku. Ampuni aku atas segala kealpaanku selama ini. Aku telah berusaha untuk mencintai isteriku yang sangat mencintaiku ini. Tapi aku tidak mampu melupakan kekasihku, Anida. Di mana dia sekarang, Tuhan? Mazra’ah, maaf  aku telah mengecewakan dirimu. Aku doakan semoga dirimu bahagia di alam sana.

***

Ya. Itu sudah lama sekali. Sudah seribu tahun yang lalu. Sekarang aku tidak tahu lagi di mana dia sekarang. Mazra’ah di mana dirimu? Di mana puteri kita? Di mana cucu kita? Tidakkah kamu ingin bertemu denganku yang sekarang telah menjadi kusut dan lusuh ini? Maafkan aku, Mazra’ah. Mudah-mudahan kamu bahagia di sini. Tidak seperti aku yang didera sengsara tak berkesudahaan.

Anida, di mana dirimu sekarang? Adakah kamu seperti Laila yang sudah masuk surga? Tidakkah kamu ingin bertemu denganku? Kalau kamu bertemu denganku mungkin kamu tidak akan mengenaliku lagi. Aku sudah tidak seperti dulu. Aku sekarang lebih mirip dengan setan daripada manusia. Rambutku panjang dan menguning. Sudahlah. Aku tidak perlu mendeskripsikan secara utuh tentang diriku sekarang. Nanti kamu akan ketakutan hanya dengan membayangkan saja. Apalagi kalau kamu melihatku. Pasti kamu pingsan. Tidak. Tidak. Aku tidak perlu menceritakan diriku lagi. Sungguh tidak layak untuk diceritakan. Memang tidak layak.

“Basyir…Cepat ke sini… Ada yang menunggumu…”

Suara petugas yang tadinya kasar dan keras, tiba-tiba menjadi lembut, mengalun seperti suara Abdul Halim Hafizh, penyanyi dari Timur Tengah. Betul. Abdul Halim Hafizh itu penyanyi dari Timur Tengah. Ingatanku sudah mulai pulih sekarang. Aku mulai ingat semuanya.

“Bang Basyir… Ke sinilah…”

Suara penjaga itu berubah wujud jadi suara seorang perempuan yang sudah sangat kukenal. Ya. Benar sekali. Suara seorang perempuan.

“Bang Basyir… Ke sinilah, sayang. Aku sudah lama menunggumu.”

Suara itu semakin dekat.

Aku semakin penasaran.

“Ke sinilah, sayang.”

Suara itu semakin dekat dari tempatku berdiri mematung selama seribu tahun, sampai tanahnya cekung.

Tiba-tiba wajah yang sangat aku kenal itu, hadir di depanku, dengan menyibak barisan sekelompok manusia beragam bentuk yang sedang mengantri. Benar sekali. Dia adalah perempuan cantik yang pernah kukenal kurang lebih seribu tahun yang lalu. Dia adalah Anida. Dia cantik sekali. Bahkan lebih cantik dari sebelumnya. Hatiku berbunga-bunga. Tubuhku serasa melayang. Terbang ke awan putih, berarak menuju langit ke tujuh. Anida menyentuh bajuku yang sudah lusuh. Tiba-tiba bajuku yang lusuh itu berubah menjadi jubah sutra India yang indah. Lalu Anida membelai tanganku yang berkuku panjang melengkung. Sekejap mata kuku panjang melengkung itu menghilang tanpa bekas. Kemudian Anida menyentuh kakiku yang sudah tak berbulu karena rontok, lalu jari kakiku yang sudah pecah-pecah. Sekejapan kaki dan jari-jari kakiku kembali ke bentuk semula. Kakiku kembali berbulu lebat. Jari kakiku tidak lagi pecah-pecah karena terik mentari.

Anida membelai rambutku yang panjang dan menguning. Dalam hitung detik, rambutku kembali hitam dan rapi seperti usai dipangkas di sebuah salon terkenal. Wangi lagi. Kumis dan jenggotku ikut pulih seperti semula menyusul rambut. Tanpa disentuh pun ia ikut pulih karena kumis dan jenggotku termasuk kelompok rambut. Hanya letaknya saja berbeda tempat.

Kehadiran Anida di hadapanku membawa keajaiban. Aku telah berubah total. Dua menit lalu, aku begitu menakutkan. Tapi sekarang, aku kembali pulih seperti dulu. Dan, lebih muda.

Aku tidak lagi merasakan rasa panas yang tiada tara seperti yang aku alami selama seribu tahun lalu. Anida hadir memayungi diriku dengan cintanya. Dia memandikan hatiku dengan senyumannya. Sejuk sekali, Tuhan. Sahara yang gersang itu tiba-tiba berubah menjadi taman bunga yang indah tiada tara. Sebelum ini, aku belum pernah melihat taman bunga seindah itu. Film India yang pernah aku tonton sampai mataku tidak bisa dibuka karena didera kantuk, banyak juga mengeksplorasi keindahan taman bunga. Tapi, sungguh, taman bunga yang terhampar di hadapanku sekarang lebih indah dari taman bunga manapun.

Anida terus tersenyum kepadaku.

“Aku sudah lama menunggu kehadiranmu. Beratus-ratus tahun aku hanya duduk sendiri di taman bunga ini. Tanpa ada satu pun yang menemani. Aku tidak rela, taman bunga yang diberikan kepadaku ini diinjak-injak oleh orang lain selain dirimu, sayang. Coba lihat ke arah sana. Di sana terbentang taman bunga yang lebih luas dari taman bunga yang sedang menyentuh lembut di kulit kaki yang beralaskan sepatu kristal ini. Taman bunga seluas itu, semuanya untuk kita, sayang.”

Anida terus mengukir kata yang begitu indah terdengar di telingaku.

Betapa mulia hati Anida. Aku yang sudah membuat dirinya menderita, justeru dialah yang mengakhiri penderitaanku di sini. Duhai, Tuhan. Terima kasih.

“Anida, sayang. Maafkan segala kesalahan dan kekhilafanku seribu tahun yang lalu.”

“Tidak ada yang harus aku maafkan, sayang. Itu semua terjadi atas kehendak Tuhan. Kita hanya menjalani garis kehidupan yang telah Dia buat untuk kita. Kita tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Semua itu tidak akan pernah terjadi kecuali semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Kalau kita menyesalinya, berarti kita menyesali Tuhan. Cuma, terkadang, kita tidak ikhlas dengan segala keputusan yang telah dibuat-Nya. Ikhlas itu butuh proses. Dan perlu diusahakan, agar kita selalu ikhlas dalam menjalani hidup. Sudahlah, sayang. Sesuai dengan janjiku, aku akan menunggumu sampai kapanpun. Dan sekarang aku sudah menemukan kembali kekasihku. Mari kita isi hari-hari ini dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tidak ada lagi yang akan memisahkan kita. Kita akan hidup selamanya di sini. Di sini kita tidak akan merasakan lagi betapa melelahkan menunggu panggilan dari petugas mizan untuk menimbang amal kita.”

“Terima kasih, sayang. Betapa mulia hatimu. Aku jadi malu.”

“Sudahlah, sayang. Kini bukan saatnya untuk menyesali masa lalu. Itu sudah seribu tahun lalu. Biarlah ia berlalu bersama waktu yang terus berpacu.”

“Terima kasih, cintaku.”

Aku bersujud mensyukuri apa yang aku terima saat ini.

“Allahu akbar.. Allahu Akbar…”

Tiba-tiba azan subuh membahana menembus tembok-tembok rumah di perkampunganku. Membangunkan hati kaum muslimin yang benar-benar hidup karena cahaya iman.

Aku terbangun.

“Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihinnusyur.”

Ditulis Oleh Pada Jum 19 Jul 2013. Kategory Cerpen/Opini, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda