' '
| | 2.431 kali dibaca

Inilah Pengakuan Ev, Korban Trafiking Ibu Kandungnya

Ev (baju hijau celana panjang belang) ketika melaporkan penganiayaan dan trafiking oleh ibu kandungnya, Janiyah ke Mapolresta Tanjungpinang.

Ev (baju hijau celana panjang belang) ketika melaporkan penganiayaan dan trafiking oleh ibu kandungnya, Janiyah ke Mapolresta Tanjungpinang pada 29 Januari 2014 lalu.

Tanjungpinang, Radar Kepri-Demi mencari keadilan Ev (17) korban traficking ibu kandungnya Janiyah.  Ev mendatangi dapur redaksi Radar Kepri, dengan membawa sebuah buku berisi catatan hidupnya berikut serangkain siksaan yang dihadapinya,  Minggu (27/04).

Berikut isi catatan tulisan tangan yang ditanda tanganinya sendiri. Pada hari ini. Minggu (27/04) saya menulis surat pernyataan saya. Nama Ev, sebelum kedua orang tua saya bercerai hidup, saya tinggal bersama mereka di Sei Jang Kecamatan Bukit Bestari.

Namun setelah mereka bercerai, hidup saya sangat menderita. Ibu saya, Janiah orang yang sangat kejam, saya sering dipukul dan di aniaya layaknya seperti binantang.

Terkadang, tanpa alasan yang jelas, ibu saya, Janiah langsung memukul saya dengan tali pinggang, apa-pun yang ada ditanganya, bahkan saya pernah di kejar pakai pisau dapur. Ketika itu saya masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) berumur sekitar 10 tahun, hampir setiap hari saya dianiaya, bahkan sampai takut pulang kerumah.

Ev memperilihatkan bukti penganiyaan usai melaporkan ke Mapolresta Tanjungpinang.

Ev memperilihatkan bukti penganiyaan usai melaporkan Janiyah ke Mapolresta Tanjungpinang.

Apabila ada bapak saya, barulah saya berani pulang kerumah dengan ketakutan. Memang ibu saya Janiah suka mengkosumsi minuman beralcohol, hampir setiap malam ibu saya pergi ketempat hiburan malam, bahkan saya sering menjemput ibu ke tempat hiburan malam.

Ibu saya, Janiah sangat jahat, belum pernah saya melihat orang sekejam itu. Hampir setiap hari bapak bertengkar dengan ibu.

Karena tidak tahan, akhirnya bapak saya dan ibu bercerai. Setelah mereka bercerai, saya dibawa tinggal bersama ibu di Jl Meranti batu dua. Semenjak perceraian mereka, sayalah menjadi tulang punggung keluarga, untuk mencari nafkah dengan bernyanyi di tempat-tempat hiburan. Angpau (Amplop) yang saya dapat dari tamu-tamu, selalu diambil oleh ibu saya.

Ketika saya membutuhkan uang, ibu saya selalu belaku kasar dengan memukul saya. Jadi setiap saya bernyanyi, saya selalu menyembuyikan uang, paling yang bisa saya sembunyikan Rp 100 hingga 200 ribu.

Jika saya tidak mau bernyanyi, saya dipaksa dan dipukuli seperti binatang, saya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu saya. Jangankan mendapat kasih sayang, bahkan saya dijual kelelaki hidung belang yang bernama Hendi. Kemudian saya selalu dipaksa melayani tamu-tamu hidung belang, karena saya tidak tahan.

Janiyah (baju merah jambu) ibu kandung Ev yang menganiaya dan diduga menjual anak kandungnya.

Janiyah (baju merah jambu) ibu kandung Ev yang menganiaya dan diduga menjual anak kandungnya.

Saya bertemu dengan Kismin alias Ahau, suami saya sekarang. Saya meraya aman dan mendapat perlakuan kasih sayang dengan suami saya Ahau. Dan Ahau tidak memperkosa dan mencabuli saya, kejadian ini atas dasar suka sama suka. Karena ibu saya tidak senang, ibu saya Janiah dan paman saya Sujarman melaporkan Ahau kepolisi.

Kini suami saya masih mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) menunggu putusan Pengadilan, karena saya dipaksa pulang kerumah ibu, saya sempat khilaf, mau bunuh diri dengan cara meloncat dari lantai dua di rumah mertua saya, Ernawati di kawasan Potong Lembu.

Sebelumya saya juga sudah pernah melaporkan kasus ini ke Kantor Polisi Batu Lima atas. Namun laporan saya tidak ditanggapi, kemudian saya melaporkan ke Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Bunga Rampai, saya di sambut baik olek ketua RPSA Ibu Anita.

Saya langsung dibawa ke Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri untuk bertemu dengan ibu, karena ibu mau bunuh diri. Pihak KPPAD menyuruh saya untuk pulang kerumah, namun saya tetap tidak mau, karena saya mendapat informasi dari teman saya, ibu saya baru pulang dari tempat suami saya Ahau.

Kemudian hari saya menyuruh Bapak kandung saya yang bernama Hang Nguang ke RPSA, saya ceritakan semua siksaan yang saya alami. Setelah saya ceritakan, barulah bapak kandung saya mengetahuinya, selang tiga hari kemudian saya disuruh bu Rita ke KPPAD Kepri bersama kak Fitri, membawa saya ke KPPAD. Disitu juga ada Ibu saya Janiah, Sujarman dan bapak saya Hang Nguang serta pak Rudi Cua termasuk bu Reni dan Pak Frengki. Pengacara, bu Rosnawati, mereka semua memaksa saya untuk pulang ke rumah ibu untuk menggugurkan kandungan saya.

Setelah mereka membaca surat yang saya tulis, Paman saya Sujarman mengaku akan menggugurkan kandungan saya, mereka juga bergegas pulang pulang menyuruh Bapak saya datang. Ketika ditanya mau ikut siapa, saya memilih ikut bapak kandung saya ke rumahnya di SeiJjang.

Setelah saya ikut bapak, ibu juga sering datang untuk mengganggu saya, bapak saya menyerahkan saya tinggal di rumah mamak mertua saya di Potong Lembu, karena dirumah mertua saya, saya dapat perlakuan baik, kasih sayang, saya tinggal di rumah mertua saya mulai dari tanggal 29 Januari 2014 hingga sekarang.

Pernah juga ada Petugas yang mengaku dari Polda Batam,datang kerumah mertua saya dan langsung masuk dengan mendobrak pintu, sehingga bapak mertua saya jatuh pingsan. Seharusnya seorang petugas kepolisian selaku peelindung pengayom dan pelayan masyarakat tidak bertindak arogan, sehingga membuat bapak mertua pingsan. Tapi saat ini kami sudah menikah, dan suami saya Kismi alias Ahau cukup bertanggung jawab terhadap saya, termasuk kedua mertua saya, menjaga saya melebihi dari menjaga anak kandungya sendiri.

Saya juga pernah melaporkan kasus ini ke kantor Polresta Tanjungpinang batu lima, namun tidak ditanggapi, dan saya juga pernah ceritakan kepada petugas Polda, namun juga tidak ditanggapi, begitu juga dengan KPPAD kepri, tidak ditanggapi.

Saya berharap kepada penegak hukum dikota Tanjuungpinang umumnya Provinsi Kepulauan Riau, bertindak seadil-adilnya. Jia seperti ini, kami dari masyarakat kecil kemana mau mengadu.

Itulah tulisan tangan Ev yang diterima Radar Kepri pada Minggu (27/04).

Hingga berita ini dimuat, media ini belum berhasil menjumpai Janiyah guna konfirmasi dan klarifikasi terkait pengakuan Ev, anak kandungnya itu,

Pihak kepolisian, sampai hari tak kunjung menangkap Janiah yang dilaporkan anaknya (Ev) telah menganiaya dan menjualnya pada lelaki hidung belang. Tidak jelas alasan polisi membiarkan kasus ini ibu jual anak jadi Pekerja Seks Komersial (PSK) ini dibiarkan tanpa kepastian hukum.(aliasar)

Ditulis Oleh Pada Ming 27 Apr 2014. Kategory Tanjungpinang, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

3 Comments for “Inilah Pengakuan Ev, Korban Trafiking Ibu Kandungnya”

  1. chelsi ifitriani

    buat eva yg sabar ya, tetap berdoa.
    orang yg benar itu akaan selalu menang.
    jangn heran dengan polisi, khusus nya tanjung pinang, da uang baru mereeka mau mau kerja. kalaw nggak ada mna mau mereka kerja.
    mkya polisi di tanjung pinang itu perut nya buncit semua, makan uang HARAM semua nyaaa…!!!!!!!!!!

  2. syafrida noviati

    Buat Eva …
    sabar ya sayang…
    kamu anak yang baik, seharusnya Ibu mu sangat beruntung sekali telah melahirkannmu..
    kamu termasuk anak yang sangat kuat menghadapi situasi spt ini
    kamu terus tetap berdoa dan minta petunjuk kepada yg diatas, langkah apa yang terbaik buat kamu.
    tapi Alhamdulillah masih ada orang yang menyayangimu spt anaknya sendiri dan suami yang sangat pengertian dan melidungimu.
    Dari jauh…
    Saya selalu mendoakanmu semoga permasalahan ini cepat selesai dan kamu menjadi tenang lahir dan bathin…Amin 3x…

  3. kismin Alias ahao

    Saya kismin alias ahao
    Cerit itu rekayasa semua saya yang merasakan itu semua dpenjara tapi ingat saya akan bebas dan dendam ku akan ku bls lebih skt yang aku rasakan!!!

Komentar Anda

Radar Kepri Indek