'
| | 965 kali dibaca

Forphil Kembali Demo LAM dan Pemerintah

Forum Pemuda Hinterland Lingga (Forphil) kembali menggelar unjuk rasa digedung pemerintahan kabupaten Lingga

Forum Pemuda Hinterland Lingga (Forphil) kembali menggelar unjuk rasa digedung pemerintahan kabupaten Lingga, Rabu (10/12).

Lingga, Kepri Info-Merasa tak digubris aspriasinya dan tak puas dengan sikap pemerintah Lingga terhadap ormas LAM Lingga, Forum Pemuda Hinterland Lingga (Forphil) kembali menggelar unjuk rasa digedung pemerintahan kabupaten Lingga. Puluhan masa dengan spanduk berorasi mendatangi sejumlah kantor dinas yang ada di Daik, Ibukota kabupaten Lingga, Rabu (10/12).

Masa beraksi mulai pukul 10.00 Wib, puluhan masa yang tergabung dalam Forphil Lingga mendatangi kantor Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD), Kantor dinas Pekerjaan Umum (PU), dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut), dan DPRD Lingga. Disana penjagaan dari Polres Lingga dan Satpol PP telah bersiaga.

Siswandi, koordinator lapangan (korlip) sekaligus ketua Forphil mengatakan, yang membuat mereka kembali mengunjuk rasa terhadap pemerintah dan Lembaga Adat Melayu (LAM) adalah mempertanyakan tuntutan yang pernah mereka sampaikan sebelumnya. Diantaranya adalah menuntut ketua LAM segera di gantikan. Pasalnya, peran aktif dan fungsi LAM yang dipercayakan untuk menjaga marwah masyarakat melayu di Lingga tidak dilaksanakan semestinya.”Kita juga minta pemerintah menghentikan bantuan kepada LAM Lingga, serta segala aktifitas ormas LAM tidak mengunakan fasilitas pemerintah dan mencabut plang nama organisasi di situs istana Damnah, juga meminta Gubernur Kepulauan Riau menghentikan bantuan kepada LAM Lingga.”jelasnya
Tuntutan ke BKD, banyaknya PNS yang pindah sebelum waktu 10 tahun masa kerja setelah diangkat juga disoroti Forphil. Selain itu, kedisiplinan PNS Lingga selama ini, menurut Siswandi juga perlu menjadi catatan. Kebiasaan kepala dinas yang tidak pernah ada dikantor juga menjad kendala pembangunan yang lamban di Lingga.
Selanjutnya, masa melanjutkan lagi unjuk rasa ke kantor PU. Disana masa disambut perwakilan, Diki Kristianto, kasi Bina Marga tentang banyaknya proyek pengerjaan yang gagal menurut Siswandi. Banyaknya jalan-jalan yang dibangun malah rusak, seperti yang terjadi di desa Pekaka. Selain itu, Forphil juga meminta PU menjelaskan apakah pemerataan pembangunan di Lingga berjalan semstinya. Sebab, ketimpangan di lapangan pembangunan di Senayang menurut Siswandi seperti diabaikan pemkab Lingga. Siswandi juga mempertanyakan, keberadaan kepala dinas PU.
Kemudian, masa melanjutkan lagi ke kantor Distanhut Lingga, disana, masa disambut langsung, Rusli, Kadis Distanhut.”Kami disini mau mempertanyakan peran pengawasan Distanhut, kayu-kayu hutan kita banyak yang dicuri dan dibacking para oknum bersenjata, selama ini dibiarkan saja. Kami juga minta, aktifitas dapur arang yang mengolah bakau (mangrove) dihentikan.”tegasnya.
Tak ada sama sekali kesejahteraan pekerja dapur arang.”Bakau kita, penahan ombak juga habis punah ranah.”ungkap Siswandi. Dalam itu, Rusli menaggapi baik maksud pengunjuk rasa yang ingin mengajak pemerintah dalam hal ini bekerjasama memerangi ilegal loging yang ada di Lingga. Namun soal pengolahan hutan bakau, dimana terdapat 25 dapur arang menurut Rusli, Izin pengelolaan hutan bakau tidak dikeluarkan dari dinasnya. Melainkan dari kementrian pusat.”Kami mau, penegak hukum jangan masuk angin. Kalau mau, kami siap tujukkan tempatnya, tangkap pencuri kayu, kapan mau turun?. Selama ini tidak ada tindakan, dengan berbagai alasan. Kami mau daerah otonomi ini, pemerintah punya prinsip. Jangan plin-plan dan tak jelas.”ungkapnya.
Siswandi juga berpesan kepada seluruh Polisi yang menjaga jalannya unjuk rasa agar menunjukkan sikapnya. Menjadi penegak hukum di Lingga menurutnya tak perlu takut menghadapi backing-backing pencurian kayu. Ia juga meminta dinas mensosialisasikan fungsi dan penjagaan hutan kepada masyarakat, agar respon langsung masyarakat dalam pelaporan pencurian kayu lebih aktif.

Usai dari sana, masa melanjutkan untuk rasa ke kantor DPRD. Namun di DPRD Lingga, tidak ada seorang anggota dewan-pun yang dapat ditemui. Kemudian masa yang tergabung dalam Forphil melajutkan unjuk rasa dan memasang sepanduk di depan kantor LAM yang baru dibangun dengan spanduk bertuliskan.”Turunkan ketua LAM”.

Setelah itu, masa kemudian melanjutkan lagi ke situs Istana Damnah yang dipugar dan semenisasi. Sebagai ikon dan juga merupakan Kawasan Setrategis Nasional (KSN) yang dipugar Batu Sangkar 2013 lalu. Siswandi mengatakan, seharusnya LAM yang diberikan peran penuh memperjuangkan marwah terlebih kepada peninggalan sejarah.”LAM sudah diberi amanah, malah melakukan pembiaran. Menjadi budak pemerintah, bukannya memperjuangkan apa yang menjadi tugas dan fungsi mereka. Jadi kami minta segera ganti ketua LAM. Peran dan fungsi harus jelas.”tegas Siswandi.
Setelah melakukan aksinya dan mengunjungi situs Istana Damnah, pengunjuk rasa akhirnya membubarkan diri. Namun, Siswandi berjanji akan kembali menggelar unjuk rasa kembali pada Sabtu (14/12) mendatang jika apa yang menjadi tuntutan mereka tidak juga digubris pemerintah kabupaten Lingga.(amin)

Ditulis Oleh Pada Rab 10 Des 2014. Kategory Lingga, Terkini. Anda dapat mengikuti respon untuk tulisan ini melalui RSS 2.0. Anda juga dapat memberikan komentar untuk tulisan melalui form di bawah ini

Komentar Anda

Radar Kepri Indek